[Transkrip Indonesia] Temukan Identitasmu – Nouman Ali Khan

Wa idzaa an’amnaa ‘alal-insaani a’radho wa na’aa bijaanibihii, wa idzaa massahusy-syarru kaana ya’uusaa.” (QS Al Isra’ ayat 83)

Qul kulluy ya’malu ‘alaa syaakilatih, farobbukum a’lamu biman huwa ahdaa sabiilaa.” (QS Al Isra’ ayat 84)

Wa yas’aluunaka ‘anir-ruuh, qulir-ruuhu min amri robbii, wa maaa uutiitum minal-‘ilmi illaa qoliilaa.” (QS Al Isra’ ayat 85)

Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul uqdatan min lisaanii, yafqohuu qoulii. Alhamdulillaah wash-shalatu was-sallaamu ‘alaa Rasuulillaah, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Insya Allah dalam ceramah ini saya akan berbagi dengan Anda semua refleksi tentang 3 ayat surat Al Isra, surat ke-17.
Tiga ayat tersebut adalah ayat 83, 84, dan 85.

Allah azza wa jalla berfirman, “Wa idzaa an’amnaa ‘alal-insaan.” (QS Al Isra’ ayat 83)

Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia …

A’radh,” dia berpaling.

Manusia itu berpaling, sengaja berpaling. Dinyatakan di sini, bahwa ketika manusia
diberi banyak hadiah kesenangan oleh Allah, manusia mulai salah mengira bahwa
mereka pantas mendapatkannya, atau berhak atas itu. Dan meyakini itu terjadi berkat usahanya sendiri, berkat pencapaian sendiri, atas kemampuan sendiri.

Jadi mereka sepenuhnya mengabaikan fakta bahwa ini adalah pertolongan Allah. Mereka malah mulai berpikir mereka memiliki kesenangan itu. Mereka merasa berjasa atas tercapainya kesenangan itu.

Wa na’aa bijaanibihii,” dan dia berpaling ke samping. Dengan kata lain, ini seperti, saya akan gambarkan dalam bahasa Inggrisnya orang Amerika. Terjemahan dari “Na’aa bijaanibihii.

Huhhh …

Itulah “na’aa bijaanibihii,” ok?

Jadi ketika diberitahu “Allah memberimu pertolongan”, dia malah berpaling. Ini makna harfiah dari kalimat ini. Ok? Itulah yang mereka lakukan. Jadi dia berpaling atas hal yang Allah telah berikan padanya. Dia abaikan fakta bahwa ini semua pemberian dari Allah.

Wa idzaa massahusy-syarr.” (QS Al Isra’ ayat 83)

Dan jika kesulitan menimpanya, ketika kesulitan terjadi. “Kaana ya’uusaa.” (QS Al Isra’ ayat 83)

Dia menjadi sangat putus asa, penuh kesedihan.

Allah yang telah melakukan ini padaku.

Mengapa Allah lakukan ini padaku? Apa salahku?

Ketika hal baik terjadi. “Oh, aku pantas mendapatkannya.

Itu prestasiku.

Tapi ketika hal buruk terjadi, “Ini bukan salahku. Ini Allah yang melakukannya.

Allah yang melakukan ini padaku.

Kaana ya’uusaa.” (QS Al Isra’ ayat 83)

Pola pikir yang salah. Di sisi lain, yang sangat menarik tentang ayat ini adalah
ada pelajaran penting tentang Adab. Pelajaran etika tentang bagaimana kita berpikir tentang Allah, juga bagaimana kita bicara tentang Allah. Dan seperti kita tahu, bahwa tutur kata, cara seseorang bicara adalah perwujudan dari bagaimana cara dia berpikir. Benar? Jadi ketika disebutkan tentang pertolongan.

Wa idzaa an’amnaa ‘alal-insaan.” (QS Al Isra’ ayat 83)

Ini adalah kata kerja lampau, “an’amnaa“. Siapa yang melakukannya? Apa subjeknya (fa’il)? Kata ganti yang tersembunyi biasanya dia (huwa), tapi di sini pakai Kami (Nahnu). Itulah Allah. Kami-lah yang memberikan pertolongan itu. Disebutkan di sini, “wa idzaa massahusy-syarru“.

Ketika pertolongan “diberikan” maka pelakunya, subjek dari kata kerja tersebut adalah Allah. Ketika Kami memberikan mereka pertolongan. Ketika kesulitan menimpanya, Allah sebutkan “massa“. Siapa yang menimpakan? (huwa massa?) Dan pihak luar yang melakukannya, subjeknya (fa’il), “Asy-syarru,” ketika kesulitan menimpanya, ketika kesulitan menyentuhnya.

Dengan kata lain, Allah tidak mengasosiasikan dirinya dengan kesulitan. Ok? Jadi Allah tidak berkata, “Ketika Kami membuat kesulitan menimpanya.

Atau, “Kami menyebabkan ia terkena kesulitan.

Dia tidak begitu. Dia tidak mengasosiasikan diriNya dengan kesulitan. Dan ini sebenarnya mengajarkan kita sesuatu, sebuah konsep yang sangat dalam di agama kita. Tentang kesulitan dan kemudahan di dunia ini. Pada akhirnya, apa yang kita yakini? Semua berasal dari Allah.

Ketika seseorang sakit, itu dari Allah. Ketika seseorang sembuh, itu juga dari Allah. Itulah yang kita yakini. Tidak ada yang terjadi, kecuali atas izin Allah. Tapi, itu tidak berarti kita jadi boleh membicarakan hal ini begitu saja. Meskipun itu kenyataannya, tapi tetap harus ada penghormatan.

Mengapa begitu? Kalau memang seperti itu, katakan saja apa adanya. Kenapa harus dibungkus dengan kiasan? Ini juga pelajaran yang penting. Allah mengajarkan kita, dengan cara yang cocok dengan semua manusia.

Anda tahu, murid yang sudah dewasa, manusia beriman yang dewasa. Mereka tahu, jika hal baik terjadi, ada kebaikan di dalamnya. Dan jika hal buruk terjadi, juga ada kebaikan di dalamnya. Dan ini semua adalah ujian. Inilah manusia beriman yang dewasa.

Tapi orang masih sulit untuk menjadi dewasa. Orang-orang tidak sedewasa itu dalam agamanya. Ketika hal buruk terjadi, mereka katakan “ini dari Allah”. Bagaimana mereka memikirkannya? Ya secara harfiah, bahwa Allah memang memberi hal buruk,
dan Dia memang bermaksud buruk. Tapi mereka tidak bisa memahami hikmah yang lebih mendalam daripada itu. Benar?

Jadi Allah gunakan bahasa yang bagi orang yang akan merenungkannya secara mendalam, akan menjadi paham. Tapi juga bagi orang yang hanya melihat permukaannya saja, masih dapat memahaminya, dan tidak mendapat kesimpulan yang salah.

Kesulitan menimpanya.

Allah tidak berkata, “Allah menimpakan kesulitan pada mereka.

Allah tidak berkata begitu. Karena bagi orang beriman yang belum cukup dewasa,
hanya dengan mendengar kalimat ini saja, mereka bisa langsung kacau. Dan Allah juga sekaligus mengoreksi orang beriman yang belum dewasa ini dengan mengatakan,
Wa idzaa massahusy-syarru kaana ya’uusaa.” (QS Al Isra’ ayat 83)

Ketika kesulitan menimpanya, dia menjadi sangat putus asa.

Dia menjadi tertekan, “ya’uusaa” sebenarnya berupa “fauul,” berasal dari kata “yais,” bermakna sangat kuat (mubalaghah), berarti “sangat tertekan”.

Ada sebagian orang yang sangat terbiasa sukses. Mereka terbiasa mendapat banyak,
mereka terbiasa menang berbagai lomba, mereka memenangkan semua permainan, mereka terbiasa jadi nomor satu dalam segala hal, mereka terbiasa dimanja oleh orang tuanya, dan lain lain. Dan suatu ketika, mereka tidak berhasil.

Apa yang akan terjadi pada orang-orang seperti ini? Mereka adalah orang-orang yang sulit menghadapi kegagalan, atau berhadapan dengan hukum, atau tantangan. Orang yang selalu dibela, seperti anak keempat atau kelima, semuanya selalu baik-baik saja untuknya. Atau anak bungsu, Anda tahu kan anak bungsu? Saya khawatir dengan adik bungsu saya, karena dia bebas melakukan apa saja. Ketika sudah ada anak bungsu, Anda tahu, untuk alasan tertentu, aturan dari orang tua Anda, sudah entah kemana hilangnya. Seperti yang saya sampaikan ke orang tua saya tentang adik bungsu saya. Orang tua kami cukup tegas pada kami, tapi terlalu lembut pada adik bungsu kami.

Ma, ada apa? Mengapa begini?

Ini bukan kebiasaan keluarga kita.

Bagaimana dia bisa bebas melakukan itu?

Tidak apa-apa, yang lembutlah padanya.

… dia masih kecil.

Dia bukan anak kecil.

Jadi, apa yang terjadi pada mereka? Mereka jadi manja. Pertolongan dapat membuat orang malah jadi manja. Jadi ketika ada sebagian yang diambil, mereka menjadi sangat tertekan. Sangat tertekan.

Pelajaran yang Allah ajarkan ini, tentang pertolongan, juga tentang kesulitan yang menimpamu. Kita semua di dunia ini telah mendapat nikmat dalam jumlah terbatas,
juga kesempatan yang terbatas.

Di sisi lain, Allah telah menetapkan rezeki kita. Rezeki kita, yang disediakan untuk kita, termasuk uang, juga termasuk teman kita, hidup kita, dan keluarga kita,
pengetahuan kita juga termasuk rezeki kita, orang yang mendidik kita juga termasuk rezeki kita, orang yang belajar pada kita adalah rezeki, anak kita juga rezeki. Semuanya, semua hal baik yang kita miliki dalam hidup, pada dasarnya adalah rezeki.

Dan jumlahnya terbatas, bukan tak terbatas. Di mana Anda bisa dapat dengan jumlah tak terbatas? Anda akan mendapatkannya di surga. Di sini (dunia) jumlah yang Anda dapat terbatas. Sudah digariskan untukmu.

Di atas itu semua, ada sejumlah tantangan yang akan kita hadapi. Allah tidak akan melebihkan atau mengurangi apa yang sudah digariskan untukmu. Itu saja. Sudah digariskan, inilah jatahmu dalam hidup.

Jika Anda merenungkan ini, tantangan Anda dan kesempatan Anda, kita menyebutnya demikian. Tantangan dan kesempatan Anda, tidak sama dengan tantangan dan kesempatan saya. Ok? Tidak sama.

Kadang Allah membuka pintu kesempatan, tapi Anda yang menolak untuk memasukinya.
Dia membukanya, Anda bisa meraup banyak pahala dari jalan itu. Tapi Anda memilih tidak memasukinya, dan Anda berakhir sengsara.

Dan Anda jadi menyalahkan Tuhan. Jadi sekarang, inilah kondisinya, semua orang punya jatah berbeda dalam hidupnya. semua orang punya tantangan berbeda, kesempatan berbeda.

Pertanyaannya, mengapa kita semua tidak mendapat jatah yang sama? Mengapa kita semua tidak mendapat tantangan yang sama? Mengapa tidak dibuat konsisten? Ayat selanjutnya menjawab pertanyaan itu, Allah berfirman,

Qul kulluy ya’malu ‘alaa syaakilatih.” (QS Al Isra’ ayat 84)

Katakanlah, setiap orang bekerja,” setiap orang harus bekerja.

Qul kulluy ya’malu,” sebenarnya berarti semua orang harus mencoba bekerja. Ketika kata kerja lampau (mudhari’) berubah menjadi kata sifat (shifah). Sebenarnya mengandung makna “berusaha melakukan sesuatu”. Semua orang harus mencoba bekerja,
sesuai “syaakilah“-nya masing-masing.

Apa “syaakilah” itu? “Syakl” dalam bahasa Arab artinya bentuk. “Syakl” adalah tampilan bentuk dari sesuatu. Atau cetakan bentuk dari sesuatu. Ok? Anda juga bisa menyebut bentuk luar dari sesuatu, sebagai “syaakilah“.

Sebagai gambaran, Anda bisa menyebutnya, saya gunakan perspektif psikologi, kecenderungan kuat dalam diri Anda. Anda sudah lebih dulu diprogram dengan cara tertentu. Anda tahu, sebagian orang humoris, sebagian orang sangat serius, sebagian orang berminat pada sains, sebagian pada literatur, sebagian lagi berjiwa seni tinggi.

Anda tahu, sebagian masih bingung menentukan siapa dirinya, tapi tetap tahu bagaimana caranya bersenang-senang. Semua orang punya kepribadian berbeda, “syaakilaat” yang berbeda.

Allah mengatakan, setiap orang, pertama kali akan mengenal apa yang telah Allah berikan kepadamu, kepribadian seperti apa yang Allah berikan kepadamu, lalu bekerja sesuai dengan itu semua.

Dengan kata lain, “syaakilah“, Anda melihat “ta marbuuthah” di akhir katanya?
Membuatnya menjadi “marro,” bermakna sesuatu yang sangat unik, yang hanya ada satu-satunya. Tidak ada dua orang yang memiliki “syaakilah” yang sama.

Allah menciptakan kepribadian sangat, sangat, sangat berbeda satu sama lain. Dan setiap orang harus berusaha mencari tahu, bagaimana kepribadian mereka, sejelas mungkin.

Dan berkaitan dengan itu, juga harus mencari tahu, apa yang paling mungkin mereka ciptakan dari kesempatan mereka, apa yang paling bisa mereka lakukan, apa tantangan yang muncul dari kepribadian mereka, apa sisi lemah mereka, dan bagaimana mereka menyiasatinya.

Ini sebenarnya konsep yang sangat kuat pada tataran individu, tapi begitu penting dan kuat sehingga Allah menempatkannya di Quran. Bahkan juga menjelaskan tentang ini pada tataran negara/bangsa. Anda tahu apa sebutan untuk bangsa dalam Quran?

Wa ja’alnaakum syu’uuban wa qobaaa’ila lita’aarofuu.” (QS Al Hujurat ayat 13)

Syu’uuban” berasal dari kata “sya’b,” atau “syu’bah,” dalam bahasa Arab klasik,
yang sebenarnya berarti cacat atau retak di dinding. Sebuah ketidaksempurnaan, itulah “sya’b.

Sebuah ketidaksempurnaan. Digambarkan, bahwa setiap bangsa punya kualitas yang baik, sekaligus juga punya kebiasaan yang aneh. Dan setiap bangsa harus saling mengenal satu sama lain. Mereka perlu belajar dari kekuatan satu sama lain. Karena kekuatan pada satu bangsa adalah kelemahan pada bangsa lain, begitu juga, kelemahan pada satu bangsa adalah kekuatan pada bangsa lain.

Dalam budaya saya, ada kebiasaan yang buruk, saya perlu belajar dari bangsa lain. Seperti saya Desi (keturunan Asia Selatan), pola makan yang umum di sana, sangat tidak sehat. Jadi mungkin saya harus belajar dari bangsa lain yang pola makannya lebih sehat, di mana penduduk usia 70 tahun pergi olahraga, sementara penduduk usia 40 tahun di sini sudah pakai tongkat. Mungkin memang ada yang salah dengan budaya kita, sehingga kita justru perlu belajar dari bangsa lain. Itu pada tataran bangsa.

Tapi bahkan cocok pada tataran individu sekali pun, jika seseorang berhasil mengenali kelemahan dirinya, maka dia bisa membuat hubungan, menjalin pertemanan. Dia menempatkan diri di antara orang-orang yang bisa menutupi kelemahan dia. Orang ini mengenali kelemahan dirinya, dan mereka menutupi kelemahannya. Jika Anda mengelilingi diri Anda dengan orang-orang yang memiliki kelemahan yang sama dengan Anda, dengan masalah yang sama dengan Anda.

Misalnya Anda punya selera humor yang buruk, Anda tidak punya batasan dalam selera humor Anda, dan Anda berteman dengan orang-orang yang juga tidak segan-segan dalam bercanda, maka bukan hal-hal terbaik yang bisa dihasilkan dari relasi tersebut. Mungkin seseorang dalam relasi ini harus punya kepekaan untuk mengatakan, “Ok, ok, ini sudah cukup, kawan.

Ayo kita sudahi saja.

Anda paham yang saya contohkan? Harus ada orang yang berperan seperti itu. Lagipula, jika semua orang sangat serius, Anda orangnya serius, semua teman Anda juga serius,
itu hidup yang sangat membosankan. Anda perlu orang yang bisa menceriakan suasana.

Qul kulluy ya’malu ‘alaa syaakilatih.” (QS Al Isra’ ayat 84)

Dalam ranah agama, dalam konteks, apa yang Allah ingin untuk Anda lakukan dalam hidup Anda. Semua orang, seharusnya, daripada mengeluh atau daripada merasa senang hanya jika keadaan sedang baik atau jadi sangat tertekan jika hal buruk terjadi.

Kenyataannya adalah, setiap diri Anda akan punya jatah hal hal baik dan buruk di dunia ini. Dan Anda perlu berhasil melalui semua itu, sesuai dengan modal kepribadian Anda. Sesuai dengan “syaakilah” Anda.

Farobbukum a’lamu biman huwa ahdaa sabiilaa.” (QS Al Isra’ ayat 84)

Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar (terpandu) dalam jalannya.

Dan Dia tidak mengatakan, “assabiilaa,” melainkan “sabiilaan.

Ini menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah “sebuah jalan”. Ini menunjukkan bahwa setiap orang akan punya jalan hidupnya sendiri tergantung pada “syaakilah” kita. Dan ini mengantarkan kita ke pertanyaan lain. Dari mana asalnya kepribadian yang unik dan berbeda ini? Bagaimana kita jadi bisa memilikinya sebagai pribadi?

Anda tahu, dalam studi psikologi, mereka mempelajari kembar genetik. Yang satu suka warna biru, sementara kembarannya suka warna ungu. Mereka bingung apa penyebabnya, padahal kembar ini sama secara genetik. Sebagian berpendapat, kepribadian adalah
produk genetik kita, juga lingkungan sekitar kita.Seperti “nature” (alami) dan “nurture” (pengasuhan).

Tapi, mereka tidak bisa menemukan mengapa pada kasus ini, secara alami mereka sama,
secara genetik mereka sama, dan mereka dibesarkan di rumah yang sama. “Nature” (alami) mereka sama, “Nurture” (pengasuhan) mereka juga sama. Tapi orang yang ini suka sepeda, dan yang satu lagi suka perahu. Yang satu suka olahraga, dan yang satu lagi suka catur. Mereka tidak bisa menemukan apa sebabnya. Kembar genetik, tapi mengapa bisa berbeda?

Allah azza wa jalla sebenarnya menjawab pertanyaan ini. Dia menjelaskan bahwa ada misteri tentang dirimu dan dengan apa yang terjadi dalam dirimu. Ayat berikutnya adalah “Wa yas’aluunaka ‘anir-ruuh, qulir-ruuhu min amri robbii.” (QS Al Isra’ ayat 85)

Mereka bertanya padamu tentang ruh, inti dari manusia.

Ruuh” sendiri adalah kata yang menarik dalam bahasa Arab berasosiasi dengan “rouh,” seperti “Farouhun wa roihaan.” (QS Al Waqi’ah ayat 89) (mendapatkan ketentraman dan ketenangan rezeki yang baik). Kebahagiaan, kesenangan, merasa terpenuhi, kepuasan.
Ada sesuatu dalam diri kita yang menjadi sumber kebahagiaan. Sumber dari perasaan terpenuhi.

Dan ini sangat unik dan berbeda pada diri kita masing-masing. Kita hanya tahu sedikit saja tentang itu. Allah berfirman, “Mereka bertanya padamu tentang ruh.

Katakanlah, “Ruh termasuk urusan Tuhanku.”

Qulir-ruuhu min amri robbii.” (QS Al Isra’ ayat 85)

Anda tahu, Syaikh Waliyu Dahilmi rahimullaah berpendapat bahwa ada dua dunia yang Allah atur. Ada “‘aalamul khalq” dan “‘aalamul amr“. “‘Aalamul khalq” adalah dunia penciptaan. “‘Aalamul amr” adalah dunia dengan aturan/perintah.

Yang dimaksud di sini adalah Allah menciptakan dunia ini, semesta fisik, yang di dalamnya terdapat hukum tertentu yang mengaturnya. Ini semua diatur oleh waktu, sebagai contohnya. Ketika kita menanam benih di tanah, tidak tiba-tiba besar menjadi pohon. Benar kan? Ada proses yang dilalui. Untuk benih tumbuh menjadi pohon.

Bayi tidak tiba-tiba berubah menjadi laki-laki dewasa dalam 1 malam, atau wanita dewasa, dalam 1 malam. Ada proses, butuh waktu dan inilah dunia “khalq“. Allah menciptakan segala sesuatu dengan “tadarruj” (berangsur-angsur) dalam dunia “khalq“. Ada proses dan progress (kemajuan/perkembangan) dalam dunia “khalq“.

Tapi ada juga “‘aalamul amr“. Ada dunia “amr“. Ketika Allah memberi sebuah perintah
dan langsung jadi, bentuknya sempurna. Kapan? Saat itu juga. Seperti malaikat yang berasal dari “‘aalamul amr“. Ruh berasal dari mana? “‘aalamul amr.” Al Qur’an berasal darimana? “‘aalamul amr“.

Jadi ada dunia yang tidak bisa dilihat, di mana semua diciptakan, di sana tidak terbatas waktu, sebagaimana kita mempersepsi waktu, tidak terbatas jarak, sebagaimana kita mempersepsi jarak, tidak terbatas proses, sebagaimana kita mempersepsi proses. Ini entitas yang sepenuhnya berbeda. Dunia “al amr,” “amr”-nya Allah. Itulah sebabnya ketika “amr” disebutkan.

Innamaaa amruhuuu idzaaa arooda syai’an an yaquula lahuu kun fayakuun.” (QS Ya Sin ayat 82)

Ketika Dia berkata, “amr,” Dia memberi “amr,” maka yang diciptakan itu langsung terwujud seketika. Terjadi seketika, itulah yang terjadi di dunia “amr“- nya Allah.

Dua dunia yang berbeda ini, tampaknya selalu terpisah hampir sepanjang waktu. Pada diri kita sebagai manusia, pertumbuhan fisik kita berasal dari “‘aalamul khalq“.
Dan entitas spiritual kita berasal dari “‘aalam al amr“.

Rasulullah ‘alaihi shalatu wassalam membimbing kita, semua manusia. Tapi bimbingan ini datang dari mana? “‘aalamul amr.

Dan mukjizat yang Allah berikan, mematahkan hukum alam di “‘aalamul khalq“. Karena mukjizat itu berasal dari “‘aalamul amr“. Seperti api yang berhenti membakar Ibrahim ‘alaihissalam itu berasal dari “‘aalamul amr“. Allah berfirman bahwa ruh adalah sesuatu dalam dirimu dan itu berasal dari “‘aalamul amr“.

Qulir-ruuhu min amri robbii.” (QS Al Isra’ ayat 85)

Itu berasal dari “amr“-nya Allah. Berapa banyak yang kita tahu tentang malaikat Seberapa jauh kita benar-benar mengetahuinya? Mengenai dunia “amr“? Tidak banyak.

Kita bisa memahami hal-hal yang memang Allah beri tahukan kepada kita. Selain itu, maka yang lainnya benar-benar tak terlihat dan tidak kita pahami. Jadi yang sebenarnya kita pelajari di sini adalah ada sesuatu dalam diri kita, dalam diri Anda, dalam diri saya, yang merupakan esensi kepribadian kita dan tetap kita sendiri hanya paham sedikit saja.

Wa maaa uutiitum minal-‘ilmi illaa qoliilaa.” (QS Al Isra’ ayat 85)

Kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.

Pengetahuan, yang hanya sedikit sekali yang kita mampu pahami. Ada sesuatu dalam diri kita yang sangat kuat, yang kita sendiri tidak tahu apa-apa tentang itu. Mari kita pikirkan ini berdasarkan apa yang sudah kita lalui.

Anda tahu, otak manusia secara fisik. Ini bukan ruh, ini hanya “gray matter” (jaringan penghubung abu-abu pada otak). Dan sinyal elektrik yang bergerak di antara sel sel mikroskopis di sini. Benda ini, berapa banyak yang manusia -para ahli otak- tahu tentang otak ini? Setelah begitu banyak penelitian, mereka melihat ternyata mereka tidak tahu apa-apa.

Kami baru memulai penelitian yang panjang ini.

Dan ini baru tentang otak, masih di ranah “‘aalamul khalq“. Kalau begitu, bagaimana mungkin kita bisa memahami ranahnya “‘aalamul amr“? “Ruuh“.

Yang Allah ajarkan kemudian adalah kita harus menempuh perjalanannya. Ketika Anda bekerja dengan kecenderungan minat Anda, Anda akan semakin mengenal diri Anda sendiri. Anda tidak akan mengenal diri Anda yang sejati sampai Anda menempatkan diri dalam aktivitas kerja dan ini pelajaran yang saya ingin Anda pahami.

Para pemuda di zaman sekarang ini, mereka berkata, “Saya tidak tahu bidang apa yang harus saya kerjakan.

Jadi katakanlah apa yang harus saya lakukan …

Jurusan apa yang sebaiknya saya pilih?

Pekerjaan seperti apa yang mestinya saya kerjakan?

Dan lalu mereka tidak melakukan apa-apa. Dan mereka dapat sedikit saran dari orang lain, lalu mereka bertemu orang yang lain, dan dapat saran lagi, lalu mereka pergi lagi bertemu orang lain, dan dapat saran lagi. Setelah mendengar semua saran dari semua orang, mereka berkata, “Mmm, saya bertanya pada 100 orang. Dan saya mendapat 100 saran berbeda.

Ya, itu karena Anda bertanya pada 100 orang. Dan Anda mendapat 100 saran yang berbeda. Karena manusia itu mahluk yang memikirkan diri sendiri. Mereka akan memberikanmu saran yang sesuai dengan dirinya sendiri. Sampai Anda sendiri yang menempatkan diri dalam aktivitas kerja. Anda tidak akan pernah mengenal diri Anda dengan cukup baik. Anda tidak akan tahu kekuatan Anda, juga kelemahan Anda.

Berhentilah takut untuk bekerja. Berhentilah takut untuk langsung terjun bekerja. Cobalah sesuatu dan merasakan gagal. Kegagalan itu ada baiknya untukmu. Ini menunjukkan lubang/retak di dinding tadi. Ini menunjukkan apa yang perlu diperbaiki. Ini juga menunjukkan apa yang kuat dari dirimu dan sebaiknya kau perkuat terus menerus. Tapi ini tidak akan terjadi, sampai Anda bekerja keras di dalamnya. Sampai Anda terjun langsung ke tengah aktivitas ini.

Anda tahu, saya ingin Anda berpikir bahwa meskipun ruh itu berasal dari “‘aalamul amr“, tapi hidup ini, yang Allah berikan pada kita di sini, di mana kita bisa menempatkan diri kita untuk bekerja dengan baik, dan mengenali diri kita sendiri, bukanlah hidup yang tak terbatas, kan?

Jadi di antara waktu untuk bertumbuh dewasa, dan waktu untuk tidur, dan waktu untuk masa tua, di mana biasanya kita jadi pikun, maka sebenarnya kita tidak punya banyak waktu (tahun) untuk benar benar mengenal diri kita sendiri, untuk menempatkan diri kita dalam aktivitas bekerja. Jadi, janganlah takut untuk mencoba berbagai hal. Allah sudah memberi kita perjalanan hidup yang luar biasa di dunia. Janganlah takut untuk mencoba apapun.

Maksud saya, fakta bahwa Anda di sini belajar bahasa Arab. Itu bagus. Tapi ini baru awalnya saja. Cobalah berbisnis. Cobalah hal-hal dalam bidang pendidikan Anda. Cobalah berbagai macam pekerjaan. Cobalah berbagai hal. Dan jika Anda menjalani hidup Anda dengan rasa takut/khawatir.

Saya tidak yakin ini akan lancar atau tidak.

Saya tidak yakin apa saya akan sukses di sini atau tidak.

Inilah orang-orang yang hanya duduk di pinggiran, tidak berbuat apa-apa. Anda tahu, Anda harus berhenti merasa takut gagal. Anda harus bekerja sesuai dengan “syaakilah” Anda. Anda hanya harus melepaskan hal-hal yang menahan itu. Sekali Anda melakukannya, hal-hal luar biasa akan terjadi dalam hidup Anda. Ketika Anda berhenti merasa tertekan atas kegagalan.

Salah satu murid favorit yang saya ajar. Di program Dream Bayyinah, dia sudah masuk tahun kelima. Ini tahunnya yang kelima. Dia salah satu murid favorit saya, saya tidak akan menyebut namanya di sini. Anda tahu apa masalah dia? Saya menyebutnya, “Allah menciptakan dia bukan untuk belajar bahasa Arab.

Itu yang saya katakan tentang dia. Dia salah satu murid favorit saya. Saya sangat menyayanginya. Orang ini, tak peduli seberapa keras pun dia belajar, dia belajar lebih giat daripada murid lain yang saya kenal. Hari berganti hari, dia duduk di kelas. Ketika istirahat, murid lain bermain ping pong atau ngobrol dengan temannya. Dia tetap belajar. Orang lain makan siang, dia belajar.

Dia tenggelam dalam catatan-catatannya. Dia tenggelam dalam review, dia rajin bertanya, belajar, belajar, belajar. Dia punya banyak tumpukan buku tulis, yang penuh dengan catatannya. Dia mencatat lagi, dan lagi, dan lagi. Jari tangannya mulai sakit.

Tidak, saya tidak mau pakai laptop. Itu hanya untuk yang malas.

Saya mau belajar.

Dan dia salah satu teman dekat saya. Kami sering pergi keluar bersama, dulu.

Hei, bagaimana kalau kau keluar bersamaku?

Ok, saya mau.

Dan dia langsung ikut. Dan sekarang di tengah tahun ajaran, saya meneleponnya, “Hei, kau mau ikut keluar, beli pizza atau apa saja?

Tidak, kawan. Saya mau belajar.

Saya gurunya selama siang hari. Dan ketika malam hari, saya mengajaknya keluar, “Tidak, kawan. Saya mau belajar.

Terima kasih ajakannya.

Klik.

Dan dia, dalam banyak ujian, gagal dengan nilai yang buruk, gagal dengan nilai buruk. Tapi saya sama sekali tidak merasa dia gagal. Itulah ikhtiar yang layak diperjuangkan.

Dan ada orang-orang yang tidak berusaha sama sekali, dan begitu mudah menyerah. Pertama-tama, saya merasa waktu yang mereka gunakan jadi tidak sepadan. Untuk pendidikan yang mereka terima. Dan saya tidak menghargai yang mereka lakukan. Tapi saya menghargai yang dia (teman saya) lakukan. “Saya akan mencoba sesuatu dan saya akan lakukan yang terbaik.”

Saya tidak akan lari ketika menemui kesulitan pertama.

Saya tidak akan pergi begitu saja dan mengerjakan hal lainnya.

Ketika ada ide bahwa meskipun ada banyak beban kerja yang harus dikerjakan, karir yang akan Anda jalani, ikhtiar yang akan Anda buat, usaha yang akan Anda lakukan. Selama Anda merasa ini membahagiakan, Anda tetap harus melakukannya. Ketika Anda juga mengalami masa-masa membosankan. Anda mungkin berpikir, “Mestinya saya mengerjakan hal yang lain.

Saya mau pindah saja ke pekerjaan yang lain saja.

Yang benar saja? Yang benar saja? Ini kan bukan surga. Anda punya hari-hari menyenangkan, dan hari-hari yang buruk. Hidup ini memang begitu. Ketika diberikan pertolongan dan kebahagiaan. Semua bahagia.

Ini sempurna.

Inilah yang saya mau.

Dan ketika hal-hal tidak berjalan sesuai keinginan,

Kaana ya’uusaa.” (QS Al Isra’ ayat 83)

Anda jadi sangat tertekan.

Saya tidak tahu apakah ini memang untuk saya.

Saya tidak tahu apakah saya memang semestinya melakukan ini.

Ini terjadi pada murid ketika gagal di ujian pertama.

Oh tidak perlu merasa sedih, Anda dapat nilai 95 kok.

Astagfirullaahal’aazhiim, bagaimana Anda akan menghadap orangtua Anda. Siapa yang mau menikahi Anda kalau Anda hanya dapat nilai 95?

Saya tidak tahu apakah saya harus drop out sekarang karena ini semua rasanya tidak berarti lagi.

Anda serius? Ayolah, tumbuhkan kekuatan, tumbuhkan tulang kuatmu, tumbuhkan kulit tebal yang kuat. Berdedikasilah atas apapun yang sedang Anda kerjakan. Dalam pekerjaan apapun yang sedang Anda lakukan. Dan ini bukan hanya tentang studimu di program Dream (Bayyinah). Ini melampaui itu. Ini tentang hidup. Bersikaplah demikian.

Apapun bidang yang Anda terjun ke dalamnya, menyelamlah, menyelamlah sangat dalam. Mintalah saran, tapi jangan berlebihan dalam meminta saran. Jangan terus-terusan meminta saran, tanpa melakukan apa-apa. Anda tahu, ada beberapa orang dalam hidup Anda yang bisa Anda percayai.

Dan kadang ada sebagian orang yang mereka punya kebiasaaan, mereka suka meminta saran dari orang lain, mereka tahu mereka akan dapat jawaban berbeda. Mereka hidup dalam kebingungan itu. Mereka memanfaatkan kebingungan itu sebagai dalih untuk tidak berbuat apa-apa.

Dia menyarankan begini, tapi kamu menyarankan begitu.

Dan dia menunggumu mengatakan sesuatu, tapi dia berkata begini.

Kamu bisa bilang begitu sebelum aku memberi tahumu apapun.

Anda tahu? Carilah saran, tapi cari saran dengan tujuan yang jelas. Dan carilah saran dengan rasa percaya. Anda mestinya tidak bertanya ke sembarang orang, jika Anda melihat berbagai saran yang bertentangan dari banyak orang. Anda tahu apa artinya?

Pertama, Anda tidak punya rasa percaya diri. Itu nomor 1. Dan nomor 2, Anda tidak percaya orang lain. Anda tidak percaya mereka.

Mengapa Anda meminta saran mereka, jika Anda memang mau saran yang lain? Anda tidak harus mengambil pendapat semua orang. Anda tidak harus mengikuti pendapat saya, atau pendapat Syekh Omar Suleiman, atau bahkan pendapat siapa pun. Anda mempertimbangkan pendapat mereka, dan Anda mengambil keputusan sendiri.

Tapi sekali Anda membuat keputusan sendiri, sekali memilih/memutuskan, maka bertawakallah pada Allah. Percaya pada Allah, dan bergeraklah maju. Percaya pada Allah. Inilah caranya Anda menemukan diri Anda sendiri. Dan inilah sebenarnya pelajaran penting dalam hidup, yang setiap muslim harus renungkan dalam hidupnya.
Dan Insya Allah, hal-hal baik akan datang. Untuk hidup Anda, dan untuk hidup orang lain dalam hidup Anda, jika Anda mengamalkan ini.

Semoga Allah Memberkahiku dan kalian dalam Al Quran yang agung, (Barakallaahu lii wa lakum fil quraanil hakiim,) Semoga bermanfaat untuk saya dan kalian, dengan ayat dan pengingat yang agung. (wanafa’ni wa iyyakum bil aayaati wa dzikril hakiim.)

Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Donasi untuk NAK Indonesia: https://kitabisa.com/nakindonesia

Advertisements

One thought on “[Transkrip Indonesia] Temukan Identitasmu – Nouman Ali Khan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s