[Transkrip Islami] Tuhanmu Tiada Meninggalkan Kamu – Nouman Ali Khan

Sekarang, “Ad Duha“, kita mulai dengan izin Allah Ta’ala dengan studi mengenai Surat itu sendiri. Konteks turunnya ayat ini adalah “Yudzkaru annahu inqothoal wahyu ayyaaman.

Disebutkan bahwa turunnya wahyu terputus selama beberapa hari.

Fa hazanar Rasulu shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka Rasulullah ‘alaihi shalatu wassalam merasa depresi dan sedih karena wahyu berhenti. Beliau sangat bersedih.

Lidzalik hazanan syadidan hatta qoola qosamun min musyrikiin ma nawaa robbuka illa wadda’ak wa qolaak.

(Karena itu Beliau sangat sedih, sampai sekelompok kaum musyrikin bersumpah “Tuhanmu tidak berkehendak kecuali meninggalkanmu dan membencimu.“)

Rasulullah benar-benar bersedih karena wahyu berhenti turun selama beberapa waktu. Fathrah (terputusnya wahyu) ini sampai-sampai sekelompok kaum musyrikin sebagaimana yang disebut oleh Ibnu Katsir rahimahullah, di antaranya istri Abu Lahab yang memulai melemparkan komentar bernada mengejek.

Yang intinya mengatakan, “Kami melihat bahwa Tuhanmu mengucapkan selamat tinggal padamu.

Wadda’aka.” (QS Ad Duha ayat 3)

Tuhanmu akan mengucapkan selamat tinggal dan menelantarkanmu. Dan Dia tidak senang padamu.

Wa qolaa ka.

Wadda’aka bima’na taraka wa qolaaka bima’na abghadhaka wa tarakaka.

Wadda’a” berarti menelantarkanmu dan meninggalkanmu. Dan “Qolaa” yang juga muncul di ayat ini, berarti tidak senang padamu. Jadi sebagian ahli tafsir mengatakan, ayat ini turun untuk menanggapi komentar yang tajam dari kaum musyrikin ini. Sebelum kita melanjutkan lebih jauh, kita pahami dulu skenario sejarah dibaliknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan ini. Dan Beliau benar-benar memperhatikan keadaan umat ini. Kita harus menghargai beratnya beban yang ditanggung oleh Beliau (shallallahu ‘alaihi wa sallam) dipundaknya. Dan saya sengaja menyebutkan ini karena di Surat selanjutnya, Allah menyebutkan tentang beban ini. Allah Azza wa Jalla akan menyebutan tentang “wizr” (QS Al Insyirah ayat 2).

Wizr” berarti beban di atas pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiada Nabi lagi datang (sesudah Beliau). Jadi jika Beliau tidak menyampaikan ajaran ini dengan baik. Tidak hanya kaum Quraisy yang dimusnahkan, tapi keseluruhan umat manusia turut dimusnahkan. Ini adalah tekanan teramat berat yang harus ditanggung Rasulullah ‘alaihi shalatu wassalam.

Jadi ketika Beliau (alaihi shalatu wassalam) menyampaikan ajaran ini dan orang-orang tidak menerimanya. Bukannya Beliau mengeluhkan tentang orang-orang yang tidak mau menerima ini, justru Beliau mengkhawatirkan apakah dirinya sudah berbuat benar. “Mungkinkah ada yang salah dengan cara dakwahku?

Jadi Beliau hampir-hampir saja menyalahkan dirinya sendiri. Dan Allah Azza wa Jalla terus mengatakan padanya, “Ini bukan salahmu, kamu tidak perlu khawatir, orang-orang ini merekalah yang salah.

Jadi Allah terus menenangkan Rasul-Nya, tetapi kaum musyrik menggunakan kesempatan ini, ketika beberapa minggu atau beberapa hari wahyu tidak turun. Dan mereka berkata, “Oh, tidak ada ayat baru hari ini? Tidak ada Surat baru hari ini?

Oh, aku kira Tuhanmu sudah tidak suka lagi padamu.

Dan mereka tertawa terkikik satu sama lain. Mereka pikir itu lucu dan mereka membuat penyataan yang mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang Rasulullah ‘alaihi shalatu wassalam bukan hanya kata-kata mereka memberatkannya tetapi juga menimbulkan pikiran yang menghantui benak Beliau (alaihi shalatu wassalam) bahwa mungkin, mungkin saja memang aku melakukan suatu kesalahan. Mungkin itulah sebabnya mengapa wahyu tak lagi turun. Mungkin itulah sebabnya mengapa wahyu tak lagi datang.

Salah satu manfaat mengetahui makna sumpah di ayat pertama Surat ini (Adh Dhuha/Demi waktu Dhuha). Allah bersumpah demi waktu matahari sepenggalahan naik (waktu Dhuha). Waktu Dhuha adalah waktu di mana ada aktivitas. Waktu fajar (Al-Fajr) adalah waktu pagi buta di mana orang baru mulai bangun tidur. Waktu Dhuha adalah masa penuh hiruk pikuk kesibukan. Jam macet di jalan raya. Semuanya bergerak. Di masa inilah kehidupan penuh kesibukan, aktivitas dan segala macam pergerakan. Itulah waktu Dhuha.

Allah bersumpah dengan waktu ini dan ngomong-ngomong kita sudah menyebutkan tentang ini sebelumnya. Cahaya matahari bisa menghangatkan tapi juga bisa menyengat/membakar. Agak lebih siang, sinar matahari bisa lebih panas menyengat dan menyakitkan.

Tapi di waktu Dhuha matahari bersinar dengan lembut menghangatkan dan menenangkan dan memberi semangat hidup. Allah bersumpah dengan matahari yang menenangkan di waktu Dhuha dan pelajaran yang bisa kita tarik dari situ adalah…. Paralel dengan wahyu yang turun pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika wahyu turun pada Beliau, seperti cahaya matahari yang menenangkan jatuh atasnya. Penuh daya hidup.

Sekarang kita beranjak ke sumpah selanjutnya. Tapi sebelum itu mari kita melihat lagi sebuah bukti di dalam Al-Quran. bagaimana Allah berkata tentang waktu Dhuha.

Wa an yuhsyaron-naasu dhuhan.” (QS Taha ayat 59)

Manusia berkumpul di waktu Dhuha. Bahkan Al-Quran menyinggung fakta bahwa manusia sibuk dan terburu-buru di waktu Dhuha. Ada sebuah paragraf singkat Dr. Fadhil Shalih Al-Samara’i yang akan saya baca dan terjemahkan untuk Anda.

Wa qad aqsamallahu ta’ala bidh-dhuha.” (Allah telah bersumpah demi waktu Dhuha.)

Wal-laili idzaa sajaa.” (QS Ad Duha ayat 2)

Allah bersumpah demi waktu pagi yang menenangkan dan demi malam yang tenang dan tanpa kehidupan. “Wal-laili,” demi malam. “Idzaa sajaa,” ketika sunyi dan tanpa kehidupan. Kita lihat lagi apa yang dikatakannya.

Wa humaa waqtaani fii muntaharriqoh ‘alaa nafsil basyariyyah.

Dia menambahkan komentar refleksi tentang hal ini. Dia mengatakan bahwa kedua waktu ini amat penting dari sisi psikologis bagi kepribadian manusia, bagi jiwa manusia. Ishlahiy berkomentar lebih jauh tentang ini. Anda tahu, kedua waktu ini sangat bertolak belakang.

Allah menyinggung tentang kedua waktu ini untuk menggambarkan perbedaan emosi dan situasi yang dihadapi manusia. Terkadang hidup itu susah, terkadang mudah. Terkadang ada kegembiraan, terkadang ada kesedihan. Kadang ada kemudahan, kadang ada kesulitan. Kadang ada relaksasi, kadang ada rasa sakit.

Mungkin Anda akan berpikir, “Mengapa tidak selalu ada kemudahan?

Mengapa tidak selalu ada masa tenang?

Tapi jika Anda berpikir, Anda akan belajar bahwa seperti halnya malam dan siang.. Malam ketika benar-benar sunyi adalah waktu ketika binatang dan manusia dapat beristirahat dan tidur. Itu adalah bagian penting dari kehidupan untuk melewati kegelapan.

Jadi yang kita pelajari dengan menarik kesimpulan adalah melewati kesukaran hidup adalah bagian dari hidup itu sendiri. Keniscayaan hidup. Dan kita harus melewatinya karena ada sesuatu dalam kepribadian kita, ada suatu potensi/kualitas baik yang ditempatkan Allah dalam diri kita yang tidak akan tergali dan tidak akan berkembang kecuali bila ditempatkan dalam situasi sulit.

Contohnya sabar. Bila hidup selalu mudah, Anda tidak akan pernah belajar untuk bersabar. Ini adalah potensi kebaikan yang telah Allah tanam dalam diri kita. Tapi potensi itu hanya keluar, hanya bermanifestasi, dalam keadaan yang sulit. Rasa syukur. Hanya ketika sesuatu yang Anda punyai diambil baru Anda mensyukuri apa yang Anda punya. Dan ketika kau memiliki sedikit, maka kau akan tetap bersyukur dan terus mengasahnya.

Jadi bahkan dalam masa sulit sekalipun ada keberkahan. Pagi hari membawa cahaya matahari yang menenangkan, memberi kenyamanan dan rasa tenang. Malam membawa ketenangan dan mematikan, dia sunyi dari pergerakan, dan membuat depresi. Jadi keduanya punya peranan masing-masing dan punya efek tersendiri bagi manusia.

Aku berlindung pada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Demi waktu matahari sepenggalahan naik, (QS 93:1)
dan demi malam apabila telah sunyi. (QS 93:2)
Tuhanmu tiada meninggalkanmu dan tiada (pula) benci kepadamu. (QS 93:3)
dan sesungguhnya akhir itu lebih baik daripada permulaan.(QS 93:4)
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu lalu kamu menjadi puas. (QS 93:5)
Bukankah Dia mendapatimu sebagai yatim, lalu Dia melindungimu. (QS 93:6)
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. (QS 93:7)
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia mencukupimu. (QS 93:8)
Maka terhadap anak yatim, janganlah kamu sewenang-wenang.(QS 93:9)
Dan terhadap peminta-minta janganlah kamu menghardiknya. (QS 93:10)
Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (QS 93:11)

Advertisements

2 thoughts on “[Transkrip Islami] Tuhanmu Tiada Meninggalkan Kamu – Nouman Ali Khan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s