[Transkrip Indonesia] Get To Know – Episode 8 – Surah Ya Sin – NAK – Quran Weekly

A’uudzu billahi minasy-syaithonir-rojiim, bismillaahir-rohmaanir-rohiim.

Ya siin. Wal-qura’nil-hakiim.” (QS Ya Sin ayat 1-2)
Innaka laminal-mursaliin.” (QS Ya Sin ayat 3)
‘Alaa shirootin mustaqiim.” (QS Ya Sin ayat 4)

Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul uqdatan min lisaanii, yafqohuu qoulii. Alhamdulillaah wash-shalatu was-sallaamu ‘alaa Rasuulillaah, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin. Tsumma ‘amma ba’du.

Sekali lagi semua, assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mari kita mencoba mengenal surat Ya Sin. Salah satu surat yang paling terkenal dan sering dibaca di antara surat Makkiyyah. Sebuah surat yang sangat indah, saya coba memberi Anda gambaran dengan membaginya menjadi enam bagian yang berbeda. Ini mungkin salah satu cara yang paling baik untuk mengingat apa yang tercantum dalam surat ini.

Qur’an Adalah Petunjuk

Bagian pertama surat ini menekankan bagaimana Qur’an tidak lain adalah wahyu. Dan bagaimana Qur’an memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali hati. Ini inti dari bagian pertama, bahwa Nabi diberikan bacaan ini untuk bicara kepada kaum yang sudah tidak peduli dari generasi ke generasi. Dan mereka perlu untuk memahami keagungan, kekuatan dan kebijaksanaan dari Qur’an yang luar biasa ini. Ini adalah kesimpulan bagian pertama.

Sebuah Pelajaran Dari Sejarah

Bagian kedua surat ini, adalah kisah yang panjang. Sebuah kisah panjang dan unik, yang tidak diceritakan di bagian lain Qur’an, tentang sebuah bangsa yang tidak hanya menerima satu, tapi tiga Nabi.

Fa ‘azzaznaa bitsaalisin fa qooluuu innaaa ilaikum mursaluun.” (QS Ya Sin ayat 14)

Allah menguatkan mereka dengan tiga orang Nabi, yang akan menasehati mereka, dan mereka masih tidak mau mendengar, masih mengolok-olok. Hingga titik di mana seseorang datang, dari ujung lain kota. Dia datang berlari dan bicara pada mereka, “Kalian harus mengikuti Nabi ini.

Yang mengagumkan tentang kisah ini, banyak sekali keunikannya. Pertama tidak umum bahwa dikirim tiga Nabi ke satu kota. Kedua, ketiga Nabi itu dibicarakan selintas saja di dalam Qur’an, dan para pengikutnya, mereka yang beriman yang sekarang adalah golongan yang beriman dengan teguh, sahabat, atau pengikut, dia lebih banyak dibicarakan di dalam Qur’an, lebih dari ketiga Nabi tersebut digabungkan.

Ini cukup mencengangkan. Kita mungkin berpendapat bahwa para ada Nabi di sana, jadi dia cukup ikut mendengarkan saja, tidak perlu ikut bicara. Dengarkan saja mereka, saya tak usah ikut bicara. Tapi dia tahu bahwa Nabi/para Rasul punya tugas sendiri, dan saya juga punya tugas sendiri, saya juga berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran. Dan dia tidak membebaskan dirinya dari tanggung jawab tersebut, dengan mengatakan, “Para Nabi sudah ada di sini, mereka akan melaksanakan tugas mereka.

Ini adalah satu hal yang ditekankan Allah dalam kisah yang luar biasa ini. Sebuah pelajaran yang dalam dari sejarah. Dan begitulah saya ingin menamai bagian kedua ini: sebuah pelajaran dari sejarah.

Lihatlah Sekelilingmu!

Bagian ketiga sebenarnya adalah tentang tanda-tanda beberapa tempat penting di dalam Qur’an. Di mana Allah meminta manusia untuk setidaknya merenungkan. Baiklah jika kalian tidak mau memikirkan wahyu, dan tidak mau belajar dari sejarah, setidaknya amatilah sekeliling kalian, lihatlah…

Renungkanlah dunia yang telah diciptakan disekelilingmu. Sudahkah kamu berpikir tentang bumi yang dulunya mati lalu dihidupkan? Sudahkah kamu merenungkan kapal yang berlayar di laut? Sudahkah kamu merenungkan hal-hal seperti ini? Ini yang ditekankan oleh Allah. Dan sudahkah kamu merenungkan tentang anak-anakmu? Yang melakukan perjalanan untuk mencari kesejahteraan?

Annaa hamalnaa dzurriyyatahum fil-fulkil-masy-huun.” (QS Ya Sin ayat 41)

Mereka naikkan anak-anak mereka ke atas kapal, seperti seseorang melepas anak-anak mereka naik pesawat pergi untuk kuliah di tempat lain, atau karena mereka mendapat pekerjaan baru dan sebangsanya.

Jadi ini tentang orang-orang yang bepergian untuk mencari kesejahteraan. Sudahkah kamu memikirkan hal ini, bagaimana Aku mengijinkan semua ini terjadi, dan bagaimana Aku memberimu rahmat? Agar kamu bisa hidup dengan baik dan berkembang di dunia ini. Itu adalah bagian ketiga.

Jika saya ulangi lagi; pertama kebijaksanaan Qur’an yang abadi, kedua pelajaran dari sejarah, dan ketiga adalah lihatlah dunia disekelilingmu.

Yang Keras Kepala Dan Buta

Bagian keempat adalah kebalikan dari yang ketiga, bagian pendek dengan tiga ayat, di mana pada dasarnya Allah bicara tentang sejumlah orang yang menolak untuk melihat. Apapun yang Anda perlihatkan kepada mereka, mereka tak mau mendengarnya. Mereka buta terhadap kebenaran, jadi ini adalah mereka yang menolak untuk merenungkan apa yang di depan mereka, dan apa yang di belakang mereka. Ini adalah frasa yang menarik.

Ittaquu maa baina aidiikum wa maa kholfakum la’allakum tur-hamuun.” (QS Ya Sin ayat 45)

Waspadalah terhadap apa yang ada di depanmu dan yang di belakangmu, agar kamu diberi rahmat. Ini adalah cara yang sangat ringkas untuk mengatakan mengapa kamu tidak melihat apa yang tepat didepanmu yakni hal-hal untuk direfleksikan, kamu bisa melihatnya dan yang dibelakangmu adalah sejarah, yakni bagian yang sudah dibicarakan sebelumnya.

Karena sejauh ini Qur’an bicara tentang dirinya sendiri, tentang sejarah dan dunia di sekeliling kita. Dan sekarang dia bicara tentang sejumlah orang yang menolak untuk melihat dunia yang di hadapan mereka, dan juga menolak untuk mencermati sejarah. Dan mereka tetap keras kepala apapun yang kamu katakan, mereka takkan merubah perilakunya. Ini adalah bagian yang keempat: mereka yang keras kepala dan buta.

Hari Pembalasan

Dari sini kita menuju konsekuensi dari keras kepala dan buta tersebut, Allah akan bicara tentang bagian kelima, yakni Hari Pembalasan, Berbangkit, Interograsi, bahkan tentang orang-orang yang dilemparkan ke api neraka, dan gambaran mengerikan tentang Hari Pembalasan dan Berbangkit di mana sangat sedikit perhatian diberikan kepada mereka yang diselamatkan, dan pada sebagian besarnya Allah menekankan kepada mereka yang tidak selamat dan tidak diselamatkan.

Jadi bagian yang mengerikan tentang api neraka dan Hari Berbangkit lebih ditekankan di surat Ya Sin, dibanding mereka yang diselamatkan. Menarik bahwa di dalam bagian ini yakni bagian kelima, ayat yang berada di tengah surat ini adalah tentang penghuni syurga yang dikelilingi penghuni neraka. Luar biasa, jadi ini adalah bagian kelima.

Kesombongan Terhadap Qur‘an

Dan pada akhirnya, bagian terakhir yakni bagian keenam dari surat ini, kembali bicara tentang Qur’an. Seperti bagian awal yang bicara tentang Qur’an, demikian juga bagian akhir. Tapi kali ini Allah tak hanya bicara tentang syair. Pertama Dia bicara bahwa Qur’an penuh hikmah, sekarang Dia katakan,

Wa maa ‘allamnaahusy-syi’ro.” (QS Ya Sin ayat 69) Kami tidak mengajarinya syair.

Wa maa yambaghii lah.” (QS Ya Sin ayat 69) Itu juga tidak cocok buatnya.

Tidak pas bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau hanya membuat syair dan menghibur masyarakat. Wahyu ini tidak diberikan untuk menghibur kalian.

Dan bertolak belakang dengan bagian pertama, -di bagian pertama Allah berkata bahwa Qur’an ditujukan untuk menunjuki mereka yang tidak peduli, yang sama sekali tak tahu-. Di bagian ini Dia menekankan mereka yang diciptakan Allah dari setetas cairan, dari sesuatu yang tidak berharga, tapi mereka bertingkah seperti mampu menantang Allah, Mereka sombong di hadapan Qur’an.

Jadi ada dua perilaku buruk terhadap Qur’an, kebodohan dan ketidakpedulian seperti yang ada di bagian pertama, serta kesombongan dan keangkuhan terhadap Qur’an pada bagian akhir. Namun kedua bagian ini merupakan refleksi terhadap Qur’an.

Yang ingin saya bicarakan adalah garis besarnya, ada enam bagian. Kembali saya sebutkan topik ringkasnya, sehingga Anda bisa mengingatnya di luar kepala.

Yang pertama tentang Qur’an dan mereka yang tak peduli padanya. lalu Allah membahas pelajaran yang bisa diambil dari sejarah. Kemudian Dia bicara tentang penciptaan di sekeliling kita. Lalu Dia bicara tentang Si Buta yang menolak untuk melihat ciptaan Allah di sekitarnya, dan menolak untuk berpikir tentang masa lalu. Selanjutnya Dia bicara tentang Hari Pembalasan dan apa yang akan terjadi kepada para penjahat, dan mereka yang tidak membutakan diri. Dan pada akhirnya Dia bicara tentang Qur’an, dan bagaimana mereka yang sombong tidak memberi respon seperti seharusnya.

Simetri Dalam Surat Yasin

Ini adalah penataan (Qur’an) yang menakjubkan, karena jika kita pikirkan, ini dimulai dan diakhiri dengan kalimat Allah yang abadi, jadi bagian awal dan akhir memiliki kesamaan bahwa keduanya tentang Qur’an, tentang keabadiannya, dan menekankan perilaku yang tak pantas ditujukan seseorang terhadap Qur’an.

Jika Anda lihat apa yang ada di empat bagian tengah, keempatnya tersusun secara kronologis, dengan kata lain ada sejarah, lalu melihat dunia di sekeliling kita sebagai kondisi saat ini, dan mereka yang tidak melihat dunia sekelilingnya sebagai kondisi saat ini, lalu ada Hari Pembalasan yang merupakan masa depan.

Jadi di bagian tengah ini ada masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Ini cukup menakjubkan. Dan jika Anda melihatnya dengan cara lain, bagian pertama dan keenam keduanya tentang Qur’an, bagian kedua tentang masa lalu, dan bagian kedua terakhir tentang masa depan, keduanya bertolak belakang. Dan dua bagian yang di tengah adalah mencermati sekeliling Anda, mengapa kalian sangat buta, ini juga bertolak belakang satu sama lain.

Jadi ini membentuk sebuah simetri yang sempurna dalam surat ini, InshaAllah di antara Anda yang punya kesempatan untuk melihat detil ceramah mengenai Surat Ya Sin. Saya sudah menggambarkan bagaimana sesungguhnya surat ini tak hanya sempurna secara tatanan tematik dan struktur (simetris), setiap bagian yang ada, masing-masingnya juga simetris. Setiap bagian dari surat ini punya bentuk simetri tersendiri yang unik.

Sebagai contoh, bagaimana satu bagian dimulai dan diakhiri, ada pembahasan tentang Qur’an di bagian pertama, ini yang dibicarakan Allah pertama, dan pada bagian akhir Dia berkata,

Wa kulla syai’in ahshoinaahu fiii imaaamin mubiin.” (QS Ya Sin ayat 12)

Jadi Dia memulainya dengan dokumen yang agung ini dan mengakhirinya dengan hal yang sama. Pada bagian akhir Dia mengatakan; Kami tidak mengajarinya bersyair. Ini adalah bagian pertama yang dikatakanNya tentang bagian terakhir; Kami tidak mengajarinya bersyair. Dan ayat terakhir,

Innamaa amruhuuu idzaaa arooda syai’an an yaquula kun fa yakuun.” (QS Ya Sin ayat 82)

Dia berkata; jika Allah ingin melakukan sesuatu maka Dia berkata jadilah, maka jadilah. Jadi di sini dimulai dengan kata-kata Allah bahwa hal tersebut bukan syair, lalu diakhiri dengan kata-kata Allah, “Kun fa yakuun.

Jadi ada paralelisme seperti itu di seluruh bagian surat. Jadi tak hanya keenam bagian tersebut secara keseluruhan adalah simetri, setiap masing-masing bagiannya membentuk simetri, ini sungguh menakjubkan, bagaimana hebatnya surat ini dan begitu indahnya dia menangani setiap topiknya.

Tentang Matahari Dan Bulan

Saya ingin meninggalkan Anda dengan sebuah wawasan dari surat ini yang mempesona saya. Ini adalah sesuatu yang menarik tentang bahasa Qur’an, kata-kata “yambaghii” muncul dua kali dalam surat ini. Kata-kata “yambaghii” berarti sesuatu yang pantas, yang cocok dengan seseorang. Begitulah yang dimaksud dengan kata “yambaghii”.

Dan kata ini muncul dalam dua konteks yang sama sekali tidak berhubungan. Dan inilah yang dimaksud dengan jangkar di dalam Qur’an. Allah akan menggunakan kata yang sama untuk hal yang kelihatannya sama sekali tidak terkait, tapi sebenarnya berhubungan.

Saya perlihatkan bagaimana penggunaannya, sungguh menakjubkan. Pertama Allah bicara tentang matahari dan bulan,

Lasy-syamsu yambaghii lahaaa an tudrikal-qomar, wa lal-lailu saaabiqun-nahaar.” (QS Ya Sin ayat 40)

Tidaklah pantas bagi matahari untuk mencapai bulan, atau mendahului bulan.

Wa kullun fii falakin yasbahuun.” (QS Ya Sin ayat 40)

Mereka semua bergerak dalam orbitnya. Matahari dan bulan seharusnya tidak menempati posisi yang lainnya, tidak bertabrakan, atau tidak saling mendahului satu sama lain. Tidak pantas bagi mereka, masing-masing punya posisi dan perannya. Ini pertama kalinya “yambaghii” digunakan.

Pada bagian akhir surat Allah berkata, “Wa maa ‘allamnaahusy-syi’ro wa maa yambaghii lah.” (QS Yasin ayat 69)

Kami tidak mengajarinya bersyair, dan itu juga tidak cocok buatnya. Tidak cocok untuk Nabi. Jadi kata “yambaghii” digunakan untuk matahari dan untuk Nabi. Ini cukup keren karena di tempat lainnya dalam Qur’an Allah menggambarkan Nabi -jika Anda ingin memikirkan bagaimana Nabi itu-, Allah gambarkan seperti matahari. Mengapa?

Wa daa’iyan ilalloohi bi’idznihii wa siroojan muniiroo.” (QS Al Ahzab ayat 46)

Kamu adalah penyeru kepada Allah atas izinNya, dan kamu adalah lampu/matahari yang bersinar terang.

Sekarang jika Nabi diumpamakan seperti matahari, lalu matahari memberikan sinarnya kepada bulan, dan bulan hanya memiliki cahaya karena adanya matahari. Begitu bukan? Bulan tergantung kepada matahari. Dan matahari tidak memiliki fase-fase, dia selalu bersinar terang. Tapi bulan memiliki fase, dia berfluktuasi. kadang bulan penuh dan terang, kadang sinarnya lemah, kadang,

Hatta ‘aada kal-‘urjuunil-qodiim.” (QS Ya Sin ayat 39)

-begitu kata surat ini-, sampai dia menjadi seperti tandan pohon palem. Dia menjadi tandan tua yang kering dari pohon palem, sangat tipis, begitulah…

Tahukah Anda maknanya? Bahwa matahari adalah gambaran kreatif dari peran seorang Nabi. Selalu memancarkan cahaya. Dan kita umatnya, yang beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah laksana bulan, yang melalui fase-fase, dan semua kebaikan yang kita miliki adalah refleksi kebaikan yang diberikannya pada kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengapa hal ini penting? Anda ingat kisah yang saya ceritakan di bagian kedua? Ada tiga Nabi yang datang dan yang keempat datang seorang beriman? Dan Allah menekankan tentang orang beriman ini melebihi para Nabi? Luar biasa. Seakan dia paham, saya punya tugas untuk dilakukan, dan keberadaan para Nabi tidak membebaskan saya dari tanggung jawab saya.

Sama halnya dengan matahari memiliki orbitnya sendiri, dan bulan punya garis edarnya sendiri pula. Mereka punya tugasnya masing-masing.

Lasy-syamsu yambaghii lahaaa an tudrikal-qomar, wa lal-lailu saaabiqun-nahaar, Wa kullun fii falakin yasbahuun.” (QS Ya Sin ayat 40)

Sebenarnya seluruh wujud surgawi yang diciptakan Allah, semuanya memiliki peran untuk dilaksanakan. Sama seperti para Nabi punya peran untuk dimainkan, dan bangsanya/umat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki peran untuk dimainkan, dan satu sama lain tidak saling membebaskan peran. Dari penggunaan kata yang sangat mahir di dalam Qur’an ini, kita memperoleh pengetahuan yang dalam.

Barakallaahu lii wa lakum fil quraanil hakiim, wa nafa’ni wa iyyakum bil aayaati wa dzikril hakiim. Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s