Cerita Bertemu Dengan Ustadz Nouman Ali Khan


Seminggu yang lalu (18/11), aku dan Hain terbang ke Malaysia untuk ikut kajian Ustad Nouman Ali Khan (selanjutnya ustad NAK) di Putrajaya. Keinginan ikut kajian Ustad NAK langsung sudah ada dari tahun kemarin, apalagi tahun kemarin ustad membuka kelas tafsir Quran selama sebulan pada bulan puasa di Malaysia. Aku pikir Ramadan 2016 kali ini juga, ternyata Ustad nggak kemana-mana. Sampai akhirnya ada info tentang rentetan tour Asia di bulan Oktober dan November, membuat aku eagerly kepingin join di kajiannya. Cari teman bareng akhirnya ada Hain yang mau menemani. Thank you, Hain.

nak-bayyinah

Info tour Asianya pun aku dapat dari group NAK Indonesia di Whatsapp. Ngomong-ngomong saat ada info itu, aku baru saja beberapa minggu bergabung dengan NAK Indonesia, yang sebelumnya hanya bisa kepo-in tumblrnya. Dan Alhamdulillah selain info yang aku dapat, ada juga member group NAK Indonesia yang menjapri (jalur pribadi/private message) nggak keberatan mau ngebantu aku untuk beli tiket kajian, seharga 100 RM sekitar 325.000 IDR, maklum nggak punya cc (kartu kredit) dan paypal. Terima kasih, mbak Nurul. Amazed, kita baru kenal beberapa minggu sudah sangat percaya aku bisa amanah untuk menggantikan biaya tiket masuk kajiannya. Semoga Allah tambahkan kebaikan di kehidupan Mbak Nurul, ya. Aamiin.

Aku sudah mempersiapkan semua pengeluaran soal tiket kajian, tiket pesawat sampai penginapan itu sebulan sebelum acara. Aku kepingin semua berjalan lancar, karena menjadi salah satu murid Ustad NAK adalah mimpi yang sempat aku pinta saat bulan Ramadan. Dan yang kali ini harus terlaksana. Hehe.

Sampai akhirnya ada berita AQL yang dipimpin Ustad Bachtiar Nasir mengundang Ustad NAK ke Jakarta di tengah-tengah rangkaian tournya di Malaysia. Wow, berita itu seperti hujan di siang bolong, anginnya memunculkan wangian yang khas. Hehe lebay. Aku senang banget, apalagi aku sudah bergabung dengan NAK Indonesia, setidaknya aku punya komunitas yang bisa membawa aku lebih dekat dengan Ustad NAK atau Bayyinah, biarpun NAK Indonesia sendiri bukan panitia acara. Dan kami di group mempersiapkan beberapa hadiah untuk cinderamata yang akan diberikan ke Ustad NAK di acara yang tadinya dijadwalkan pada 5 November 2016.

Awalnya aku sempat komentar ke mama, “Ma, Ustad NAK yang teteh mau samper ke Malaysia mau ke Jakarta. Gratis lagi acaranya. Kalau gitu kan nggak perlu jauh-jauh.

Mama hanya balas, “Asal kamu nggak jiping aja. Ngaji Kuping. Karena sudah mahal-mahal ke Malaysia.

Tapi ternyata Allah memang Perencana Paling Baik. Karena keadaan Jakarta yang sehari sebelum acara Ustad NAK di Jakarta sedang diselenggarakan aksi damai (bisa dibilang seperti demonstrasi), membuat Ustad NAK tidak dapat izin ke Jakarta dari Malaysia dengan alasan faktor keamanan.

Kami di group NAK langsung berpikiran untuk menitipkan hadiah-hadiah yang sudah terlanjur dibuat kepada aku yang menjadi satu-satunya member yang akan hadir di kajian Ustad NAK pada 18 November 2016. Aku dikenalkan dengan salah satu panitia yang MashaAllah ternyata Manager Humas Program Dream untuk Bayyinah Malaysia, ini sungguh kehormatan besar bisa in touch dengan panitia Bayyinah Malaysia. Awalnya aku hanya berekspektasi dikenalkan dengan panitia acara bukan penanggung jawab semacam ini. Dan Alhamdulillah Pak Dali yang menjadi penyambung NAK Indonesia dengan Ustad NAK juga kooperatif dan sangat tidak keberatan membantuku menyampaikan hadiah-hadiah itu.

Ini seperti mimpi yang keterlaluan bisa kesampaian. Karena saat bulan Ramadan aku hanya berdoa, jadikan aku salah satu murid Ustad NAK ya Allah. Dan kali ini, aku dikasih lebih, aku bisa bertemu langsung dengan Ustad. Saat dapat kontak Pak Dali dan beliau yang mengontak pertama kali ke WhatsApp-ku saja aku senang bukan main, apalagi kalau bisa say hello langsung dengan Ustad NAK. Sungguh Allah terlalu Baik dan skenarionya terlalu diluar dugaan. Aku bersyukur.

Klipping NAK Indonesia
Klipping NAK Indonesia
decoupage-nak-indonesia
Decoupage NAK Indonesia

Aku berangkat ke Malaysia dengan membawa hadiah untuk Ustad NAK, berupa decoupage dan scrapbook kumpulan quotes Ustad yang sudah di-posting di akun sosmednya NAK Indonesia. Kebetulan acara diselenggarakan pada Hari Jumat jam 6 sore, jadi aku dan Hain berangkat dari Jakarta jam 11 siang.

Kami sampai di bandara KLIA2 sekitar pukul 1 siang, kami mengantri cukup lama di bagian migrasi. Karena acara masih cukup lama, kami mampir dulu di Masjid Putra di kawasan Putrajaya. Kami takut tidak bisa lagi jalan-jalan di kawasan pemerintahan Malaysia itu, jadi kami sempatkan sholat Ashar di Masjid Putra. Sebenarnya aku diminta Pak Dali untuk datang lebih awal, karena 30 menit sebelum acara dimulai, akan ada book signing. Dan bisa jadi kesempatan aku untuk handover hadiah-hadiah yang sudah dibawa.

Tapi ternyata aku sampai venue pun mepet jam 6 sore. Di lokasi PICC (Putrajaya International Convention Center) juga sedang diadakan acara musik jadi saat itu venue padat manusia. Dan Alhamdulillah saat kita datang Ustadnya pun baru sampai. Jadi tidak begitu ketinggalan dan book signing pun dibatalkan. Karena kami mepet hadir di venue jadi posisi duduk kami jauh banget dari stage.

Sebelum memulai acara yang bertajuk “The Story Night: Accused” di mana Ustad menceritakan detil dari kisah pengkhianatan yang berkaitan dengan Aisyah radhiyallahu anha, Ustad NAK senang menghampiri jamaah ikhwan dan mengobrol sebentar-sebentar. Aku mencari Pak Dali karena sudah janji jika sampai aku akan hubungi dia, karena sudah melihat tampangnya di profile WhatsApp dan Pak Dali pun salah satu panitia yang sibuk mondar-mandir, aku samperin saja.

Setelah memperkenalkan diri dan making sure kalau aku membawa hadiah-hadiah untuk Ustad NAK, Pak Dali merespon, “I will arrange time for you to meet ustad, maybe in first break, sholat Maghrib. I will call you later.

Dan dia berlalu lagi, sibuk. Beberapa kali aku bilang ke Hain saat melihat Ustad yang asik chit chat dengan jamaah ikhwan, “Hain ustadnya di sana, kita jauh. Kita samper aja atau gimana?

Tapi Hain mengingatkan, “Tenang Pak Dali tadi bilang will arrange, jadi dia akan kasih waktu khusus.

Benar saja, setelah sholat Maghrib handphone-ku dapat banyak WhatsApp dari Pak Dali, “Where are you, please hurry in front of stage now.

Ustadz NAK melihat klipping
Ustadz NAK melihat klipping

Aku jalan buru-buru ke depan panggung dan diantar Pak Dali ke backstage dan Wallahi, my dream was coming true. Di belakang panggung, Ustad dan kedua putrinya sedang asik mengobrol lalu aku datang menghampiri.

I was shaking, percaya ini bukan mimpi tapi ini bagian dari mimpi. Aku memperkenalkan diri kalau aku perwakilan dari NAK Indonesia yang komunitasnya khusus mentranslate kajian Ustad lewat Youtube dan beliau sering membalas dengan, “Wow, MashaAllah, it’s such an honor. This is amazing. Thank you.

Apalagi ketika aku dan Hain perlihatkan hadiah yang kami bawa. Beliau ditanya tentang NAK Indonesia, awalnya bilang tidak tahu tapi jadi tahu karena ini.

[Subtitle Indonesia] 26 Detik Bersama Ustadz Nouman Ali Khan . Alhamdulillah NAK Indonesia akhirnya menemui langsung ustadz Nouman Ali Khan walau kami harus terbang ke Malaysia . Terima kasih kepada AQL dan Bayyinah Malaysia yang telah banyak membantu. Ustadz NAK sangat sibuk, sehingga Bayyinah Malaysia harus mencari cara agar kami dapat memberikan cinderamata ke ustadz NAK . Walau hanya memiliki waktu 5 menit, kami sudah sangat senang. Ada hal-hal yang tidak terekam di video 26 detik ini, seperti momen ustadz NAK diberitahu bahwa ketika acara 5 November 2016 lalu kami sudah sangat menantikan kehadiran beliau . Ustadz NAK hanya bilang, yeaah you know dengan gayanya 😝 . Ustadz NAK berharap tahun depan dapat ke Indonesia . YouTube: https://youtu.be/Pswysg91Gkc Facebook: https://www.facebook.com/NoumanAliKhanIndonesia/videos/1821214701425795/

A post shared by NAK Indonesia (@nakindonesia) on

Selama 5 menit ada di ruangan bersama Ustad, nggak banyak hal yang aku sampaikan selain mengenalkan NAK Indonesia, melihat kekagumannya dengan decoupage dan scrapbook yang kami bawa dan memberikan ucapan di buku yang kami beli di acara itu. Lalu beliau meminta kontakku. Aku sempat merekam kejadiannya di sini. Barulah kami berfoto bersama, Pak Dali pun memperkenalkan bahwa NAK Indonesia sangat aktif di Facebook dan Instagram. Ketika aku bertanya, “Is there anything you want to say to jamaah in Indonesia?

Dia hanya membalas, “Apa ya yang harus saya katakan.

Lalu kami meminta untuk Ustad berbicara di depan kamera ponsel kami, hanya saja karena waktu istirahat hampir habis, jadi Pak Dali menjawab, “Mungkin nanti ustad akan membuat video greetings lewat YouTube untuk jamaah di Indonesia.

Well, aku sangat berharap sekali Ustad memberikan ucapan terima kasih secara langsung via video kepada NAK Indonesia, tapi sayang sampai sekarang masih belum ada. Dan saat aku singgung tentang kedatangannya yang dinanti-nanti, beliau bilang, “Next year InshaAllah.

Semoga di tahun depan memang menjadi tahun kami para murid Ustad NAK di Indonesia bisa mendapat ilmu darinya secara langsung.

Pertemuan aku dengan ustad NAK yang hanya beberapa menit tapi sampai sekarang masih susah untuk dilupakan. Dan foto ini diambil Husna, anak Ustad NAK yang kebetulan ikut dalam tournya.

Selama kajian Ustad NAK sering menambahkan dialog yang sangat ekspresif dengan gaya khasnya. Beberapa kali jamaah dibuatnya tertawa sampai geleng-geleng. Ustad NAK tahu bagaimana menghidupkan suasana, apalagi kajian kali ini seperti sedang didongengi kisah, jadi pasti banyak dari jamaah yang menahan kantuk. Sepanjang kajian dari jam 6 sampai jam 10 malam, kami hanya diberi break sholat Maghrib 25 menit dan break kedua 7 menit pada jam 8-an. Ustad NAK MashaAllah banget memaparkan kisahnya, beliau non-stop cerita dan mengambil hikmah dari kejadian bersejarah itu.

Satu yang saya suka dari Ustad NAK, beliau kalau menyampaikan kajian selalu membawa Quran/Tafsir, pada malam itu dia bawa di tabletnya, sesekali dia melihat tablet dan lalu mondar mandir ke kanan kiri panggung sambil asik bercerita. Bahkan selama itu saya tidak melihat Ustad minum air putih lho. Amazing, karena passion-nya beliau luwes sekali menyampaikan materi. Untuk isi kajian kalian bisa dengar di sini, dan akan aku tuliskan summary-nya kemudian.

Setelah selesai kajian, sekitar jam 10 malam. Lagi-lagi ustad mempersilahkan jamaah untuk chit chat dengannya di tangga panggung. Dan saat sebelum beliau tutup acaranya, beliau berpesan, “Saya akan duduk di sini, kalau kalian ingin mengambil gambar saya silahkan, tapi tidak meminta saya untuk selfie bersama, tidak! Kalau ingin diam-diam selfie, terserah.

Alhasil banyak jamaah, khususnya jamaah akhwat yang selfie dari kejauhan seperti kami.

nak-selfie

Setelah pamit dengan Pak Dali karena aku dan Hain harus segera ke Kuala Lumpur sebelum jam 12 malam, Pak Dali bilang kalau InshaAllah beliau akan mengontakku setelah acara ini, dan akan mengontak Mas Fathur dari AQL untuk acara di Jakarta yang sempat tertunda. Aku berharap dan semua jamaah di Indonesia yang senang mendengar kajian Ustad NAK berharap Ustad bisa hadir di Indonesia, membuat serangkaian tour dengan topik kajian yang beragam. Aamiin.

Tapi sebelum itu, yang sangat aku harapkan yaitu greetings dari Ustad NAK untuk NAK Indonesia dan jamaah Indonesia yang sempat dikatakan saat aku bertemu dengannya, “Mungkin nanti Ustad akan say something lewat YouTube.

Aku sangat menunggu itu.

Dengan kejadian bertemu dengan Ustad NAK, aku jadi makin yakin kalau good thing takes time, dan Allah yang paling tahu kapan waktu yang pas. Selain itu aku jadi makin yakin, kalau kita menginginkan sesuatu dan yakin Allah akan mengabulkannya maka tunggu saja, Allah bahkan akan memberi lebih kalau kita bersabar dan terus berusaha. We do the best and Allah will do the rest. Beberapa kali aku bilang ke teman-teman, “Aku minta ke Allah nggak sejauh ini lho, tapi Allah kasih lebih.

Dan teman-temanku menjawab, “Ini sudah jalannya.

Terima kasih ya Allah, semoga kami bisa terus mendapat benefit dari khutbah yang disampaikan ustad NAK, dan kami semakin nggak ada celah untuk membuang-buang waktu. Semoga kami bisa menjadi personal yang bisa mudah mempelajari dan mengamalkan Quran-Mu. Aamiin.

Sampai jumpa di kajian Ustad NAK selanjutnya, di Jakarta tentunya. Aamiin.

Tulisan cerita perjalanan ini ditulis juga di sini

Advertisements

5 thoughts on “Cerita Bertemu Dengan Ustadz Nouman Ali Khan

  1. Maasyaa Allah,Luar biasa,,,
    Sebuah nikmat yg tak terhingga rasanya saat bertemu dengan orang yg kita kagumi dan kita cintai,
    Cerita yg sngat mmbuat sya iri hari, sudah lama sya mngagumi sosok bliau, dn ingin bertemu dngan bliau, nmun krna ksmpatan yg blum mngizinkan, kita hnya bertemu dlam majlis youtube saja, smoga suatu saat nanti Allah jga mmberi ksempatan kpda Indonesia dngan knjungan Seorang yg Mulia dan brilmu ini ke indonesia, dan mmpertmukan kita dngan bliau dngan rncana yg tak terduga.
    Terima kasih atas kisahnya, bsar kcil tlisan ini tlah mnambah kecintaan sya kpda sosok yg mulia ini

    Like

  2. Whoaa.. perkenalkan saya ella.. saya juga sangat ingin menjadi murid NAK.. >.<
    Saya suka mendengar kajian2 ustadz via youtube.
    Kmarin ketika NAK mau ke indonesia 5 November 2016, saya sudah pesan tiket pp ke jogja-jakarta.
    Bisa kah saya bergabung dgn group NAK indonesia? Saya akan sangat senang sekali jika bisa belajar,,berkontribusi dan mendapat semangat dari anggota yang lain, apalagi jika ada event2 NAK ke indonesia atau Malaysia di lain waktu.
    Terima Kasih.. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s