[Transkrip Indonesia] 1 Kata Bersama Ustadz Adam Jamal – Kafaru – Surat Al Baqarah Ayat 89

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu ‘alaikum. Saya Adam Jamal.

Selamat datang dalam seri “Satu Kata”, di mana kita akan mendiskusikan satu kata dan pengaruhnya dalam Quran. Kata yang akan saya bahas hari ini adalah surat Al-Baqarah. Dalam surat Al-Baqarah, Allah berfirman tentang orang-orang Yahudi Madinah.

Allah berfirman tentang orang-orang Yahudi Madinah dalam surat Al-Baqarah. Seperti yang Anda tahu bahwa akan ada Nabi yang datang dan kitab yang akan dibawa pasti menunjukkan bahwa jalanmu salah. Dan Allah berfirman, ”Wa lammaa jaaa’ahum kitaabum min ‘indillaahi mushoddiqul limaa ma’ahum.” (QS Al Baqarah ayat 89)

Lalu ketika kitab itu akhirnya datang, ”Wa kaanuu ming qoblu yastaftihuuna ‘alallaziina kafaruu, falammaa jaaa’ahum maa ‘arofuu kafaruu bih.” (QS Al Baqarah ayat 89)

Dan ketika akhirnya datang, ketika kitab itu akhirnya datang kepada mereka, apa yang mereka lakukan? Mereka mengingkarinya, “Kafaruu bih.” Mereka mengingkari kitab itu.

Fala’natullohi ‘alal-kaafiriin.” (QS Al Baqarah ayat 89)

Dan Allah melaknat orang-orang yang ingkar.

Kata yang saya ingin fokuskan di sini adalah kata “Kafaro”. “Kafaro” biasanya diterjemahkan sebagai kafir. Sekarang berpikir tentang “Kafaro” adalah makna asli dari kata tersebut. Orang Arab menggunakan kata ini untuk menggambarkan seorang petani yang menanam sebuah benih. Jadi petani itu, ia membuat lubang di tanah lalu ia menanam benih dan menutupinya. Jadi “Kafaro” secara harfiah adalah maksud menutupi sesuatu. Benih itu di dalam tanah dan Anda menutupi benihnya.

Sekarang pada kasus orang-orang yang kafir ini, ini bukan hanya seseorang yang mengingkari melainkan seseorang yang mengingkari sementara tahu kebenarannya. Dan selanjutnya ketika Allah berfirman, berkata tentang orang ini. Allah berfirman, “Falammaa ‘arofuu kafaruu bih.

Setelah (Al-Quran) datang pada mereka, mereka mengingkari sementara tahu kebenarannya.

Jadi apa yang kita harus berhati-hati dalam kehidupan adalah, kita harus berhati-hati untuk tidak sombong dan mengingkari dan berpikir sementara tahu bahwa mereka (Al-Qur’an & Nabi) adalah benar.

Dan kita memohon pada Allah supaya menghilangkan kesombongan dari hati kita. Dan kita memohon pada Allah agar membuat kita menjadi penganut yang taat. Dan kita memohon pada Allah subhanahu wa ta’ala supaya memperdalam apresiasi dan pemahaman kita terhadap kata dalam Quran.

Jazakumullah khairan. Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s