[Transkrip Indonesia] Tuli, Bodoh dan Buta – Eksklusif Ramadan – NAK

Ada dua kelompok yang ingin saya bicarakan, saat kita mengartikan contoh ini. Ada kelompok Yahudi di Madinah yang telah menunggu nabi selama hampir enam abad. Ada juga para ahli Bahasa Arab, masyarakat Mekah, mereka adalah para ahli Bahasa Arab, bukan? Ini adalah kebanggaan mereka. Mereka bisa mengetahui sejauh apa kemampuan bahasa mereka ini.

Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wassalam datang dengan Al-Qur’an. Saat beliau datang dengan Al-Qur’an, beliau temukan dua kelompok yang paling keras kepala. Kelompok pertama berada pada tingkat tertinggi masyarakat Arab. Mereka adalah yang pertama menyadari bahwa Al-Qur’an bukan buatan manusia. Kelompok yang paling mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah, keangkuhan menghalangi mereka untuk menerimanya. Anda bisa menemukan narasi dari Akhnas bin Syariq dan Abu Sufyan, juga Abu Jahl. Mereka sering mendatangi dan bersembunyi di balik dinding rumah Nabi Shallallahu `Alaihi Wassalam di malam hari. Mereka ketagihan mendengarkan Al-Qur’an di saat beliau sedang shalat tahajud, tetapi mereka tak beri tahu siapa pun di pagi harinya.

Mereka saling berjumpa suatu malam,

Sedang apa kau di sini?

Kau sedang apa di sini?

Mereka tak bisa menahan diri untuk mendengarkan Al-Qur’an. Mereka bersumpah untuk tidak kembali lagi, tetapi mereka tertangkap basah di malam-malam berikutnya. Lalu mereka dengan serius berkata, “Jika para pemuda Mekah mengetahui ini, bahwa kita ketagihan mendengarkan Al-Qur’an di malam hari dan menghinanya di siang hari, kita akan kehilangan kredibilitas kita, kita tidak akan kembali lagi.

Abu Sufyan menarasikan ini setelah dia menjadi seorang muslim. “Inilah yang dulu kami lakukan.

Apa maksudnya?

Walid bin Mughirah, saya ingin bacakan pada Anda apa yang dikatakannya. Apa yang dikatakannya membuat tercengang. Dia datangi Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wassalam untuk mendengarkan Al-Qur’an karena dia pujangga terbaik mereka. Dia berkata, “Aku bisa menangani ini. Kalian tak bisa mengkritik Al-Qur’an? Akan kutunjukkan pada kalian.

Dia pergi untuk mendengar Al-Qur’an dan kembali dengan diam. Dia tak berkata apa pun. Semua menunggu dan berkata, “Ceritakan pada kami. Setelah mendengarnya, kritik apa yang akan kau ajarkan kepada kami untuk melawan Al-Quran.

Berikut ini adalah perkataannya,Fa wallahi ma fikum min rajulin a’lam bil ‘asyar minni.

Demi Tuhan, tak seorang pun di antara kalian yang lebih mengenal syair daripada aku.

Wa la a’lamu birajazihi wa la bi qashidihi wa laa bi ‘asyari jin minni.

Dia berkata, “Tak seorang pun tahu ukuran yang tepat untuk menempatkan irama di silabel tertentu. Tak ada yang memahami itu. Panjangnya sajak atau qasidah. Tak ada yang tahu itu. Bahkan tak seorang pun mengenal syair para jin lebih daripada aku.

Dia ingin katakan bahwa dia seorang ahli dalam bidang ini.

Kalian sebaiknya dengar apa yang akan kukatakan.

Wallahi ma yusbihu ladzi yaqullu syai’an min hadza.

Demi Tuhan, apa yang dikatakannya berbeda dari semua ini.

Demi Tuhan, yang kudengar darinya tidak seperti syair mana pun yang pernah kudengar.

Wallahi inna liqaulihi alladzi ya qulu halawatan, wa inna alaihi lathalawatan.

Demi Tuhan, perkataan yang diucapkannya itu mempunyai keindahan. Ada kemegahan yang menguasainya.

Innahu lamutsmirun a’laahu.

Bagian tingginya penuh dengan hikmah. Aku mendengarnya dan itu kesan yang kudapatkan.

Wa mughdiqun asfaluhu.

Bagian rendahnya penuh dengan kekayaan yang melimpah.

Wa innahu la ya’lu wa ma yu’la.

Perkataan ini akan berkuasa dan tidak akan terkuasai.

Ini bukan seorang muslim yang berbicara. Dia adalah musuh besar Islam saat itu, Walid bin Mughirah. Ini reaksinya terhadap Al-Qur’an.

Wa innahu layahthimu ma tahtahu.

Ia akan menghancurkan semua yang ada di bawahnya.

Qala la yardha anka qaumuk hatta taquluu fihi.

Mereka berkata, “Kaum kau tidak akan senang kecuali jika kau mengkritiknya.

Ini bukan sebuah kritik, kami mengharapkan sesuatu yang sedikit…

Kami tidak bisa tayangkan ini di saluran televisi Fox.

Kami membutuhkan sesuatu yang lebih baik dari…

Kau harus beri kami komentar yang lain.

Dia berkata, Fada’ni hatta ufakir.

Baiklah, biarkan aku berpikir.

Falama fakar.

Saat dia memikirkannya.

Qalaa hadza sihr yu’tsar.

Katakan kepada mereka bahwa ini adalah sihir. Mereka yang mendengar akan terkena sihir itu.

Banyak yang terhipnotis karenanya.

Kenapa dia mengatakan itu sihir? Maksud dia mengatakan ini sihir… Anda tahu saat seseorang melakukan sihir? Anda tak bisa menjelaskannya. Tidak ada penjelasan rasional. Dia tahu tidak penjelasan rasional bahwa ini adalah syair atau dikarang. Satu-satunya cara agar orang lain bisa menerima ini adalah dengan meminta mereka untuk mempercayai hal yang ghaib. Ini karena percaya kepada Allah adalah percaya pada keghaiban, begitu juga percaya kepada sihir.

Paling tidak buat mereka mempercayai keghaiban yang salah.

Beri mereka itu. Tetapi, mereka pasti akan percaya bahwa itu supernatural. Aku tak bisa membantumu soal itu.

Memang ajaib. Subhanallah.

Pembicaraan mereka ini, kita pelajari di kemudian hari. Tetapi saat mereka membicarakannya, apakah mereka muncul dan mengatakan bahwa Al-Qur’an itu indah? Tidak, mereka tidak pernah mengatakannya di depan publik. Anda tahu kenapa? Ini agar Anda paham.

Di satu sisi, mereka menolak untuk mendengarkan Al-Qur’an. Anda ingat shummun? Mereka tuli. Kritik selanjutnya sungguh aneh, bukmun mereka bahkan tidak bicara. Apa yang tak mereka bicarakan? Apa yang ada di dalam hati mereka. Yang ada di dalam hati mereka adalah “Inilah firman Allah.”

Inilah kebenaran. Tunggu, aku tak bisa mengatakan ini.

Di dalam pertemuan pribadi bisa kukatakan, tetapi di luar itu aku ‘abkam.

Aku tak akan bicara, tak akan mengatakan apa pun.

Aku harus tutup mulut.

Lalu “’umyun, mereka buta. Buta. Urutan ini harus dimengerti. Jika Anda mendengarkan firman Allah, Anda akan tertarik untuk mempelajarinya. Untuk mempelajarinya, seseorang datang dan bertanya.Fas’alu ahla dzikri in kuntum ta’lamun.

Anda memulai belajar dengan bertanya, berinteraksi dengan Nabi Shallallahu `Alaihi Wassalam. Apakah para sahabat selalu bertanya, ya atau tidak? Tentang sebuah kata di dalam Al-Qur’an. Wa maa hadza?

Mereka selalu bertanya.

Pertama, Anda mendengar kemudian berbicara dengan tujuan belajar. Pendengaran mereka terhalangi, “shummun”. Ucapan mereka terhalangi, umyun”. Tetapi, jika Anda sungguh mendengar, bicara dan belajar, itu akan mengubah cara Anda melihat sesuatu. Itu akan memberikan Anda bashira”. Tetapi, kini mereka buta, umyun tak heran mereka juga menjadi buta. Shummun bukmun ‘umyun…(QS. Al-Baqarah ayat 18)

Bagian terindah setelah itu adalah …fahum laa yarji’uun“. (QS. Al-Baqarah ayat 18)

Mereka tidak akan kembali, kembali kepada apa? Kembali kepada fitrah sama yang telah Allah ciptakan untuk mereka.

Sebenarnya saat Anda kembali dan belajar, Allah berfirman… Apa yang pertama kali Allah hilangkan dari diri mereka? Cahaya mereka. Ruh yang ada di dalam diri manusia, yang ditiupkan ke dalam diri manusia saat masih menjadi janin. Ruh itu juga disebut nur”.

Awwalu ma khalaqallahu nuuri.

Rasul Shallallahu `Alaihi Wassalam bersabda, “Ruh pertama yang diciptakan adalah ruhku.”  Beliau memilih menggunakan kata nur”. Yang ada di dalam tubuh kita ini adalah nur”. Hidup di dalam diri kita. Al-Quran sendiri adalah nur”. Kita berdoa kepada Allah, Allahumma nawwir qulubana bi nuril qur’an.

Penuhi hati kita dengan apa? Penuh dengan cahaya.

Perumpamaan dalam surat An-Nur adalah hati penuh dengan cahaya. Dalam perumpamaan ini, Allah berfirman akan menghilangkan cahaya mereka. Allah sebenarnya berfirman bahwa Allah telah memberi mereka cahaya. Cahaya yang ada dalam hati mereka cukup untuk bisa mengenali cahaya wahyu. Mereka menolak itu, keangkuhan mereka menutupi cahaya itu. Lalu cahaya itu muncul. Tetapi karena mereka tak mau cahaya itu muncul, Allah memutuskan untuk mengambilnya.

Kalian tak mau cahaya? Kalian tak mau fitrah kalian itu? Aku akan menghilangkannya dari kalian. Jika Anda tidak mempraktekkan apa yang Allah berikan kepada Anda, maka akan diambil kembali. Itulah prinsip dari ciptaan Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s