[Transkrip Indonesia] Get To Know – Episode 4 – Surah Yusuf – NAK – Quran Weekly


Alhamdulillah, wash-shalatu was-sallaamu ‘alaa Rasuulillaah, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin. Tsumma ‘amma ba’du. Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh semua.

Saya sangat bersemangat untuk membantu Anda dan saya sendiri untuk kembali mengenal surat Yusuf. Salah satu surat yang besar, indah, dan unik dari Al-Qur’an di mana seluruh riwayatnya ditujukan untuk satu kisah. Qur’an biasanya punya banyak kisah atau potongan kisah dalam surat-suratnya. Namun kali ini percakapannya dari awal sampai akhir tersusun dalam urutan kronologis ditujukan untuk satu orang yakni Yusuf alaihissalaam bersama saudara-saudaranya.

Ini adalah surat di mana Anda bisa menghabiskan tahunan untuk memahami satu bagiannya. Berapa banyak mutiara kebijaksanaan yang tersimpan di dalamnya. Harfiahnya ayat demi ayat frasa demi frasa sangat berlimpah dan dalam ajarannya yang memiliki kedalaman makna yang luar biasa.

Pertama yang ingin saya bicarakan mengenai surat ini dari sudut pandang kontemporer adalah bahwa ini adalah surat di mana khususnya pelajar ilmu psikologi dan Anda yang tertarik dengan psikologi dan sosiologi harus sangat memperhatikan surat ini. Ada riwayat yang terkenal mengenai surat ini yang ingin saya sampaikan yakni yang pada umumnya kurang dihargai. Ini tentang seorang lelaki yang datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Aqri’ni”, katakan padaku apa yang harus aku baca, beritahukan kepadaku sesuatu untuk kubaca.

Surat Yusuf Melembutkan Hati

Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya membaca surat yang memiliki “alif-lam-ra” di dalamnya. Mengapa beliau menyuruhnya demikian? Dalam riwayat ini diceritakan bahwa dia, lelaki itu, memiliki masalah. Saya semakin tua, “kaburat sinnii,” dan “ghaluzha lisaanii,” “isytadda qalbii,” “wa ghaluzha lisaanii,” umurku semakin tua dan lidahku menjadi keras, aku sangat kejam saat bicara dan hati saya mengeras, saya tidak sensitif lagi.

Dan beliau (Nabi) merekomendasikan surat dengan “alif-lam-ra”. Ini penting karena sekarang kita tahu bahwa surat ini memiliki pengaruh yang dalam bagi seseorang, membuat Anda lebih sensitif, melembutkan Anda. Jadi ini adalah salah satu manfaat dari surat yang luar biasa ini.

Yang ingin saya bagi dengan Anda tentang surat ini adalah beberapa hal, saya sepenuhnya terpesona olehnya. Saya tak puas-puasnya mempelajari surat ini, setiap saya menggalinya saya temukan banyak hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Dan sungguh semuanya seperti sebuah pelajaran tersendiri. Tapi saya ingin mulai dengan sebuah topik mendasar. Saya pasti takkan bisa meliputi semuanya, tapi beberapa topik unik mengenai Allah dan bagaimana kita berpikir tentang Allah sendiri, yang muncul di surat ini, lalu akan saya bahas sesuatu yang muncul dari kisah ini.

Saya kira Anda semua familiar dengan kisah ini, tentang seorang anak yang sangat disayangi ayahnya, dan saudara-saudaranya sangat cemburu dengan hubungan mereka. Dan hasilnya mereka menculiknya, mereka membuat seluruh rencana mereka sudah hampir membunuhnya, tapi akhirnya mereka menculiknya mereka memasukkannya ke dalam sumur, dan dari sana dia diambil oleh serombongan karavan yang secara ilegal menjualnya sebagai budak dan sebagai pembantu, sehingga dia menjadi seorang pelayan di sebuah istana di Mesir, dan menjalani hidupnya sebagai seorang pembantu.

Ini adalah kisah yang sangat menyedihkan tentang seorang anak yang diculik lalu diperbudak. Jika Anda melihatnya diberitakan saat ini, Anda akan merasa terganggu lalu mengganti saluran TV. Sebagai orang tua sulit untuk menyaksikan itu, tapi sekarang kita mendengarkan dan membacanya (dalam Al-Qur’an) cerita yang hebat ini, yang sangat nyata tentang penderitaan seorang anak jauh dari ayah yang mencintainya. Dan penderitaan seorang ayah tidak mengetahui apa yang terjadi pada anaknya, Ini semua adalah penderitaan yang tidak terlukiskan.

Allah Itu Ghalib Dan Lathif

Kemudian, nama Allah dalam surat ini -benar-benar memikat-, Allah berkata sebagai contoh; “Wallohu ghoolibun ‘alaaa amrihii.” (QS Yusuf ayat 21)

Ini pertama kalinya di dalam Al-Qur’an Allah menggunakan nama ini untuk diriNya sendiri.

Wallohu ghoolibun ‘alaaa amrihii.” (QS Yusuf ayat 21)

Dan Allah itu dominan (berkuasa).

Melebihi semua urusanNya, “‘alaaa amrihiii”.

Apapun yang terjadi pada Yusuf, Allah mendominasi semuanya, layaknya Allah mengamati segala sesuatunya, dan Dia mengontrol dengan sempurna segalanya. Dan nama Allah ini – “ghoolib, gholaba” = mendominasi, mengatasi, menguasai-, digunakan.

Tapi lalu kita berpikir, di mana Tuhan saat dia diculik, di mana Dia saat anak itu dilempar ke sumur? Di mana Dia saat anak itu dijual, di mana Dia saat dia difitnah? Bahkan saat kemurniannya dibuktikan, dia masih dicampakkan ke penjara. Di mana Dia saat Yusuf minta pertolongan dari beberapa orang agar dibebaskan dari penjara dan mereka lupa? Di mana Tuhan di semua kejadian ini?

Tapi Allah mengatakan bahwa Dia adalah “ghoolib”. Lalu diseimbangkanNya hal ini dengan salah satu namaNya yang sangat halus, yang sangat jarang digunakan dalam Qur’an, di dalam surat ini.

Inna robbii lathiifun limaa yasyaaa’.” (QS Yusuf ayat 100)

Tuhanku halus dalam segala perbuatanNya. Dengan apapun yang Dia urus, Dia halus. Dia Maha Kuat dan dominan (berkuasa), tapi caraNya mengurusi sesuatu, dan caraNya mendominasi (menguasai) dan mengontrol keadaan hampir tak terlihat, sangat halus.

Lathiif” dan “luthf” dalam bahasa Arab tidak hanya berarti kebaikan, tapi sebenarnya kehalusan di mana sesuatu luput dari perhatian Anda. Makanya dalam surat Al-Kahfi ketika seorang pemuda harus menyelinap ke dalam kota dan tak seorangpun boleh melihatnya, maka dia harus, “Walyatalaththof.” (QS Al-Kahfi ayat 19) Dia harus sangat halus untuk tidak menarik perhatian.

Artinya cara Allah melakukan sesuatu takkan menarik perhatian Anda, Dia tidak melakukan sesuatu setelah mengumumkannya kepada Anda. RencanaNya selalu berjalan di latar belakang, dan Anda bahkan tak menyadarinya.

Lathiifun limaa yasyaaa’.” (QS Yusuf ayat 100)

Jadi dominansiNya sekarang digabung dengan kerahasiaanNya.

Allah Itu ‘Aliim Dan Hakiim

Bagaimana Dia menjalankan rencananya secara rahasia. Jika Anda ambil kedua topik tersebut, maka Anda sadari seseorang bisa saja dominan dan halus, tanpa kita tahu, lalu bagaimana kita bisa memahami rencana mereka? Ada dua nama Allah lain yang muncul di surat ini, terletak sangat indah dan sangat strategis. Nama ini kerap muncul di dalam Al-Qur’an, tapi caranya digunakan dalam surat ini sangat mencengangkan.

Nama-nama itu adalah “aliimun hakiim”, Yang Mengetahui dan Yang Memiliki Kebijaksanaan. Meskipun Anda berkuasa bukan berarti Anda bertindak dengan kebijaksanaan. Meskipun Anda halus tidak berarti Anda tahu segalanya sebelum bertindak. Tapi dua nama ini menyeimbangkan dua nama lainnya, dominansi Allah dan kehalusanNya digabungkan setiap saat, selalu muncul dengan pengetahuan Allah tentang segala sesuatu dan kebijaksanaan Allah.

Allah tahu bahwa pertemuan kembali akan terjadi pada akhirnya, Allah tahu bahwa semua ini penting buatnya (Yusuf) untuk dilalui. Allah tahu bahwa ini akan menjadi inspirasi yang sangat hebat bagi Rasul Allah yang terakhir shalallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika, yang juga akan diasingkan oleh saudara-saudaranya. Karena pada saat itulah surat ini diturunkan, saat Nabi diasingkan oleh orang-orangnya sendiri. Dia menemukan harapan dari surat ini, yang diturunkan pada tahun-tahun duka cita.

‘Aliimun Hakim Dan Optimisme

Yang juga menarik adalah nama Yusuf yang meskipun bukan nama Arab, tapi dekat hubungannya dengan istilah Arab “asaf” yang berarti kesedihan. Dan dalam surat ini seraya Anda ikuti, ada masa-masa kesedihan yang dalam. Perhatikan ini; di awal surat, Yusuf menceritakan mimpi kepada ayahnya, dan ayahnya menjadi penuh harapan. Dan dia menyatakan bahwa Allah akan mengabulkan keinginannya (Yusuf);

Yajtabiika robbuka wa yu’allimuka min ta’wilil-ahaadiitsi wa yutimmu ni’matahuu ‘alaika.” (QS Yusuf ayat 6)

Ya Tuhanku, Allah telah memilihmu, Dia akan menepati kebaikanNya atasmu, dan Dia akan menepati kebaikanNya atas keluarga Ya’qub (dia bicara tentang dirinya sendiri) seperti yang dilakukanNya terhadap leluhurmu Ibrahim dan Ishaaq,

Tuhanmu adalah Yang ‘Aliim dan Hakiim, “Inna robbaka ‘aliimun hakiim.” (QS Yusuf ayat 6)

Tuhanmu Maha Mengetahui artinya Allah Maha Mengetahui, dan Allah memiliki semua kebijaksanaan. Maksudnya, “Wow! Allah akan memberkati anak ini dengan pengetahuan, Dia akan memberinya kebijaksanaan.

Kedua nama itu digunakan untuk menggambarkan optimisme akan masa depan anak ini. Jadi ingatlah, “aliimun hakiim” pertama muncul dalam konsep optimisme.

‘Aliimul Hakim Dan Percaya Terhadap Kebijaksanaan Allah

Kedua, “Qaala bal sawwalat lakum anfusukum amroo, fa shobrun jamiil, ‘asallohu an ya’tiyanii bihim jamii’an, innahuu huwal-‘aliimul hakiim.” (QS Yusuf ayat 83)

Kedua kalinya; banyak sekali hal buruk yang telah terjadi, dia diculik, dia telah pergi bertahun-tahun, kekeringan, mereka bahkan tak punya makanan, anak-anak lelaki Ya’qub pergi sampai ke Mesir mencari makanan, mereka bahkan tak tahu bahwa menteri kepada siapa mereka bicara adalah saudaranya sendiri. Menteri itu sebenarnya menjebak salah satu di antara mereka yang termuda yakni Bunyamin sehingga ditahan untuk alasan yang berbeda. Sekarang para saudara ini kembali ke ayahnya dengan tangan kosong, bahkan tanpa salah satu anaknya.

Pertama mereka mengambil Yusuf, sekarang mengambil Bunyamin, dan pulang dengan tangan hampa. Jadi ayah ini telah menerima satu demi satu berita buruk, ingat pertama kali dia mengatakan “aliimul hakiim”, dia optimis tentang masa depan yang baik. Sekarang banyak sekali kejadian buruk telah terjadi, dan di atas semua kesedihan itu seorang anak lagi telah pergi. Jadi dia berkata apapun yang mudah menurut kalian, kalian kerjakan.

Allah hanya kepadaNya pertolongan dapat dicari, Allah mengetahui segalanya, Dia Maha Bijaksana. Dengan kata lain dia percaya kepada Allah dalam kondisi terburuk, Allah punya kebijaksanaan dalam melakukan sesuatu. Aku tak bisa melihat bagaimana Dia mengerjakan sesuatu, aku tak paham rencanaNya, tapi Dia punya rencana karena Dia bijak, dan aku tahu yang aku tahu tapi banyak yang aku tak tahu dan hanya Allah yang tahu, maka aku akan tenang saja dan mempercayakannya kepada Allah.

Kali kedua “aliimul hakiim” muncul adalah untuk mengajari kita percaya kepada Allah pada situasi yang buruk. Yang pertama tentang optimisme, kita harus optimis tentang masa depan kita. Jika sesuatu terjadi di luar kemampuan kita, kita harus percaya kepada Allah dengan kebijaksanaanNya. Dan pada akhirnya dan begitu luar biasa, reuni itu terjadi, semuanya bersama kembali, Yusuf ‘alaihissalam mendudukkan orang tuanya di tahta, lalu ada perayaan besar. Apa yang dikatakan Yusuf ‘alaihissalaam?

Inna robbii lathiifun limaa yasyaaa’, innahuu huwal-‘aliimul-hakiim.” (QS Yusuf ayat 100)

Ini kali ketiga nama itu muncul. “Tuhanku sangat halus dalam caranya melakukan sesuatu.

Dia melihat ke belakang, dengan pemahaman yang sempurna. Betapa halus dan tak terlihatnya rencana Allah selama ini? Dan betapa sangat luar biasanya -ngomong-ngomong- jika Yusuf tidak di penjara. Pikirkan ini, jika Yusuf tidak di penjara dan tidak bertemu kedua tahanan itu, maka kekeringan akan terjadi bagaimanapun. tapi takkan ada seseorang yang memberi saran seperti yang diberikan Yusuf. Ratusan ribu orang akan mati kelaparan, jika Yusuf tidak melalui apa yang dilaluinya. Dan itu termasuk keberlangsungan hidup keluarganya, saudaranya sendiri dan keluarganya, ayahnya dan ibunya akan mati kelaparan. Jika ini tidak terjadi.

Ini hanya salah satu hal yang terjadi di latar belakang, ada kebaikan yang lebih besar yang harus dicapai.

‘Aliimul Hakim Dan Ungkapan Terima Kasih Terhadap Allah

Dan ngomong-ngomong sebagai hasilnya, dia berhasil mensponsori seluruh keluarganya untuk datang ke Mesir, lalu mereka berdiam di sana. Yang berarti, Bani Israil sekarang hidup di Mesir, dan kisah orang-orang Mesir dan orang-orang Israil dimulai. Yang pada akhirnya membawa kepada kedatangan Musa ‘alaihissalaam. Semua ini bermula dengan cobaan terhadap Yusuf ‘alaihissalaam. Jika itu tidak terjadi, tak satupun dari hal ini akan terjadi, Allah Maha Tahu. Tapi Yusuf merenungkan hidupnya dan berkata Allah sudah tahu dari semula, Allah memiliki kebijaksanaan selama ini, sekarang saya paham.

Dengan kata lain kali ketiga Anda menggunakan “aliimul hakiim” adalah saat merenungkan hidup Anda dan menghargai kebijaksanaan yang pada waktu itu tidak bisa Anda hargai. Ini terjadi di kehidupan Anda dan saya setiap saat. Ada hal-hal buruk yang kita lalui dan kita bertanya mengapa ini terjadi, ketika itu kita percayakan saja kepada Allah dan berkata Allah bijaksana, ada rencanaNya dibalik semua ini. Bertahun-tahun kemudian Anda merenungkan kembali dan berkata, jika hal buruk itu tak terjadi, jika aku tidak kehilangan pekerjaanku di sana, aku takkan memperoleh pekerjaan baru ini, saya takkan pindah ke sini, saya takkan punya teman-teman ini, segala sesuatu yang baik yang terjadi dalam hidupku adalah hasil dari satu pengalaman buruk yang diberikan Allah kepadaku. Ini bisa terjadi, ini telah terjadi pada saya. Inilah konsep “aliimul hakiim” sebagai ungkapan rasa terima kasih.

Simetri Surat Yusuf

Secara singkat saya ingin berbagi dengan Anda, ini mungkin agak berlebihan, maka saya berdoa agar bisa menceritakan dengan jelas kepada Anda. Cerita ini sangat hebat, saya ingin mengantar Anda melaluinya, saya tuliskan huruf didekatnya sekedar untuk keteraturan.

Bagian pertama, bagian A adalah Yusuf ‘alaihissalaam menceritakan mimpinya kepada ayahnya.

Bagian kedua, saudara-saudaranya berkomplot merencanakan sesuatu untuknya. Rencananya adalah memasukkan dia ke sumur dan semua hal lain yang terkait.

Bagian ketiga adalah saat isteri menteri mencoba merayunya.

Dan bagian keempat, D, adalah saat usaha yang sama dilakukan para wanita Mesir, para wanita elit, aristokrasi yang diundang ke pesta dan semuanya mencoba merayu Yusuf. Lalu Yusuf di penjara, selanjutnya Sang Raja bermimpi, apa yang terjadi di penjara termasuk bagian ini. Raja bermimpi, sebuah mimpi aneh yang diceritakannya kepada orang-orangnya, lalu salah satu pelayannya berkata dia mengenal seseorang yang bisa mentakwilkan mimpi. Lalu mereka memanggil Yusuf, sehingga mimpi sang raja ditakwilkan. Lalu Yusuf dibebaskan dari penjara sebagai hasilnya, karena dia berkata aku bisa menterjemahkan, tapi takkan kulakukan hingga kemurnianku dinyatakan. Lalu dia secara resmi dibebaskan, meski dia secara sukarela tinggal di penjara. Lalu wanita-wanita Mesir itu mengakui apa yang mereka lakukan kepadanya dulu, mereka merencanakannya. Ini diikuti oleh isteri menteri yang mengakui apa yang dilakukannya.

Dan pada akhirnya semua saudara Yusuf datang dan sebuah jebakan dilakukan, dan mereka mengakui kesalahannya, dan yang terakhir mimpi Yusuf yang dulu di mana dia melihat 11 bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Sekarang Ini adalah bagian dari surat ini, yang mencengangkan ini adalah simetri yang sempurna.

Dengan kata lain bagian pertama yang saya bicarakan adalah mimpi Yusuf, dan bagian terakhir adalah mimpi Yusuf menjadi kenyataan. Mimpi itu menjadi kenyataan karena matahari, bulan dan 11 bintang bersujud kepadanya. Dan itu adalah bagian terakhir.

Jika Anda perhatikan bagian kedua adalah persekongkolan saudaranya melawannya, Bagian kedua akhir adalah saat mereka menuai dampak dari persekongkolan itu. Bagian ketiga adalah ketika isteri menteri mencoba merayunya, bagian ketiga akhir adalah isteri menteri mengakui kesalahannya. Bagian keempat adalah para wanita mencoba merayunya, bagian keempat akhir para wanita ini mengakui mereka melakukan hal itu. Bagian kelima Yusuf masuk penjara, bagian kelima akhir dia dibebaskan dari penjara.

Dan tepat di tengah Raja bermimpi dan Yusuf mentakwilkan mimpinya. Ini mengatakan kepada Anda bahwa takwil mimpi Yusuf adalah hal penting yang terjadi. Mengapa? Karena ada kehidupan yang dipertaruhkan sebagai akibatnya.

Jadi ini sebenarnya kisah yang menyatu tepat di tengah-tengah, dan bagian tengah memberi Anda apa kebaikan terbesarnya, dari semua penderitaan yang dialami satu keluarga ini. Dan betapa banyak orang yang diselamatkan dari penderitaan sebagai hasilnya. Dan Allah memungkinkan bagi mereka hingga akhirnya, dan semua orang menerima manfaat pada akhirnya, subhanallah.

Ini adalah penulisan yang sangat simetris untuk sebuah kisah lisan. Sebuah kisah lisan untuk bisa ditulis dengan sangat teratur seperti ini adalah menakjubkan. Bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala melakukannya?

Pada Akhirnya Pertolongan Allah Datang

Berikut ini adalah bagian terakhir tentang Yusuf. Jadi ini adalah pengaturan yang luar biasa, tapi satu hal yang belum saya sampaikan adalah surat ini tidak dimulai dengan sebuah kisah.

Alif laaam roo, tilka aayaatul kitaabil-mubiin.” (QS Yusuf ayat 1)

Nahnu naqushshu ‘alaika ahsanal-qoshohsi bimaa auhainaaa ilaika hadzaal-qur’aana wa in kunta min qoblihii laminal-ghoofiliin.” (QS Yusuf ayat 3)

Nabi disapa dalam pendahuluan surat ini. Kami memberimu kisah yang sangat hebat yang kamu tidak mengetahuinya. Itu yang dikatakan kepada Nabi. Bagian terakhir dari surat ini juga ditujukan langsung kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, di mana kepada beliau dikatakan; perhatikan ada sekelompok orang yang bagaimanapun kerasnya kamu berusaha.

Walau haroshta bimu’miniin.” (QS Yusuf ayat 103)

Mereka takkan beriman.

Betapapun kerasnya kamu mencoba, jangan mencoba untuk membuat mereka terkesan. Ada orang-orang yang takkan mungkin diperbaiki. Dan kamu sama sekali tidak meminta kompensasi dari mereka,

Maa tas’aluhum ‘alaihi min ajrin.” (QS Yusuf ayat 104)

Yang harus kamu lakukan hanyalah “Ad’uuu ilallohi, ‘alaa bashiirotin.” (QS Yusuf ayat 108)

Tetaplah menyeru Allah dengan pemahaman yang utuh.

Mengapa Allah mengatakan itu kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam? Karena keadaan menjadi sangat tidak memungkinkan, Beliau menyeru semua saudara-saudara Quraisy-nya kepada Islam, mereka tidak pernah mendengarkan, mereka benar-benar sia-sia. Dan beliau mengingat kembali bahwa bahkan seorang ayah tak bisa meyakinkan anak-anaknya untuk bersatu dalam perbuatan, dalam kisah Yusuf ini. Ayah ini tak mampu, tapi pada akhirnya mereka sadar. Jadi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam diberikan harapan bahwa hal itu akan terjadi, jangan khawatir.

Pada akhirnya, “jaaa’ahum”, perhatikan kata ini, “Zhonnuuu annahum qod kudzibuu jaaa’ahum nashrunaa.” (QS Yusuf ayat 110)

Nabi-nabi yang datang sebelumnya, mereka yakin bahwa mereka telah didustakan, diingkari, lalu pertolongan Kami datang. Jadi Allah sebutkan pada akhir surat ini, jika Nabi-Nabi sendiri yakin bahwa tak ada lagi yang mempercayai mereka dan kemudian pertolongan Kami datang.

Anda tahu apa yang menakjubkan? Kapan pertolongan datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam?

Idzaa jaaa’a nashrullohi wal-fat-h. Wa ro’aitan-naasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwaajaa.” (QS An Nasr ayat 1-2)

Ketika kamu melihat orang berbondong-bondong masuk agama pada saat penaklukan Makkah, yang akan terjadi setelah bertahun-tahun, -ini surat Makkiyyah-, masih bertahun-tahun lagi… Dan baru bertahun-tahun lagi saat akhirnya pertolongan Allah datang, dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendominasi atas saudara-saudaranya. Dan mereka malu atas apa yang dilakukannya kepada beliau seperti saudara-saudara Yusuf malu terhadapnya.

Apa yang dikatakan Nabi kepada kumpulan penyembah berhala, saudara-saudaranya sendiri di Makkah? Kata beliau akan kukatakan kepada kalian hari ini apa yang dikatakan saudaraku Yusuf kepada saudara-saudaranya. Apa yang dikatakan saudaraku Yusuf kepada saudara-saudaranya?

Laa tatsriiba ‘alaikumul-yauum.” (QS Yusuf ayat 92)

Dipinjamnya ini dari surat Yusuf. Tak ada bahaya yang akan terjadi pada kalian hari ini.

Sama seperti di surat ini, Nabi disuruh untuk memberi harapan bahwa pertolongan itu datang. Saat pertolongan datang, beliau ingat surat ini, dan berkata tak ada bahaya yang akan terjadi padamu hari ini. Rekonsiliasi antara saya dengan saudara-saudara saya, subhanallah.

Semoga Allah azza wa jalla menolong kita menghargai keindahan nyata dan keindahan yang tiada berakhir dari surat Yusuf.

Jazakumullah khairan. Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s