[Transkrip Indonesia] 1 Kata Bersama Ustadz Adam Jamal – Ashorruu – Surat Nuh Ayat 7

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Selamat datang kembali dalam episode lain seri “Satu Kata”. Di mana kita akan melihat pengaruh satu kata dalam ayat Quran. Hari ini, ayatnya berasal dari Surat Nuh ayat ke-7.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “Wa innii kullamaa da’autuhum litaghfiro lahum ja’aluuu ashoobi’ahum fiii aadzaanihim wastaghsyau tsiyaabahum wa ashorruu wastakbarustikbaaroo.” (QS Nuh ayat 7)

Dalam ayat ini, Nuh alaihis salam mengeluh kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas semua usaha yang telah ia lakukan dalam menyampaikan pesan Islam pada kaumnya. Dan semua penolakan mereka berikan padanya.

Jadi ia mengatakan bahwa setiap kali aku memanggil mereka, setiap kali aku mengundang mereka pada pesan-Mu, pengampunan-Mu, Allah. Mereka akan meletakkan jarinya ke telinga, menyembunyikan wajah di balik pakaian mereka.

Mereka keras kepala. “Wa ashorruu”. Jadi “ashorruu” diterjemahkan sebagai, mereka keras kepala. Hari ini saya akan menitikberatkan pada “ashorruu”. “Ashorruu” diibaratkan seperti sebuah cerita. Cerita sebuah benih. Petani mengambil benih dan menanamnya ke dalam tanah.

Sekarang apa yang dibutuhkan benih tersebut? Benih membutuhkan takaran air yang tepat. Jadi jika Anda menyiraminya terlalu banyak air, benih itu tidak akan tumbuh dengan baik. Dan jika terlalu sedikit maka akan sangat tidak baik. Butuh sinar matahari juga, jika terlalu sering terkena sinar matahari maka tanamannya akan mati. Jika terlalu sedikit pun maka tidak cukup untuk tumbuh. Itu juga butuh tanah yang cukup. Tanaman yang tumbuh di Afrika tidak akan tumbuh dengan cara yang sama seperti di Amerika Utara.

Jadi “ashorruu” menceritakan kepada kita kisah tentang benih dan petani yang memberikan segala sesuatu yang benih perlukan. Takaran air yang tepat, sinar matahari dan tanah yang cukup.

Benih ini seperti benih yang keras kepala, menolak untuk tumbuh. Seperti misalnya saat Nabi Nuh alaihis salam menggunakan metodologi kenabian untuk menyampaikan pesan. Ia melakukan semuanya dengan benar, ia mengecek semuanya. Tapi kaumnya menolak, keras kepala. Mereka terjebak pada cara mereka, mereka menolak percaya pada pesan tersebut. Inilah mengapa Nuh mengeluh kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Jadi terjemahan sebenarnya dari ayat ini adalah setiap kali aku sampaikan perintah Allah pada orang-orang ini, pada pengampunan-Mu. Mereka akan meletakkan jarinya ke telinga, menutup dan menyembunyikan wajah dibalik pakaian mereka. “Wa ashorruu”, mereka keras kepala meskipun diserukan dengan cara kenabian dalam menyampaikan pesan tersebut.

Wastakbarustikbaaroo” dan mereka sangat sombong. Dari sini kita belajar bahwa jika mendapat nasihat, kita harus berusaha yang terbaik untuk tidak menjadi keras kepala dan mencoba menerapkan nasihat ini dalam hidup kita.

Saya memohon pada Allah untuk menolong kita agar tidak keras kepala, menghapus kesombongan dari hati kita dan membantu kita untuk menghargai dan mengerti setiap kata dari Quran.

Jazakumullah khairan. Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s