[Transkrip Indonesia] Waspadalah Terhadap Anjing Yang Terengah-Engah – Nouman Ali Khan

Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul uqdatam mil lisaanii, yafqohuu qoulii. Allaahumma tsabbitnaa ‘indalmautii bi laa ilaaha illallaah, allaahummaj’alnaa minalladziinaa aamanuu wa ‘amilushaalihaat, wa tawaashau bil haq, wa tawaashau bishshabri shabri. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.

Allah azza wa jalla di dalam surat Al-A’raf yakni surat ke-7 Quran, dan salah satu surat Makkiyah terpanjang menjelang bagian pertengahan surat menyebutkan bahwa Dia sendiri menjelaskan ayat. Seringkali Allah mewahyukan ayat kadang Dia juga mengatakan, “Wa kadzaalika nufashshilul-aayaat.” (QS Al-A’raf ayat 174) Begitulah bagaimana Kami sendiri menjelaskan tanda-tanda.

“Al-aayaat” bukan hanya rujukan terhadap wahyu namun juga rujukan terhadap kenyataan. Allah menjelaskan segala sesuatu di sekitar Anda dan setiap Dia menjelaskan sesuatu pasti ada sebuah maksud. Jadi tujuan yang disebutkan dalam ayat ini tidak lazim.

Dia berkata, “La’allahum yarji’uun.” (QS Al-A’raf ayat 174)

Agar mereka bisa kembali.

Apa yang akan dibicarakan Allah selanjutnya adalah Dia akan menjelaskan suatu fenomena dengan tujuan untuk bicara kepada mereka yang sudah terlalu jauh dari Allah dan membawa mereka kembali. Begitu maksudnya.

Dia berkata, “La’allahum yarji’uun.” (QS Al-A’raf ayat 174)

Sehingga mereka bisa kembali.

Dia mengisahkan cerita yang aneh ini, – seringkali dalam Quran Allah menceritakan sebuah kisah tapi Dia tidak akan menceritakan nama karakternya, detilnya, lokasi geografis, tanggal, atau.. intrik sejarah yang terlibat di dalamnya, dengan maksud agar kita memahami gambaran utuhnya. Ini sangat berbeda dengan buku sejarah manapun.

Dalam kenyataannya bahasa yang digunakan sangat umum sehingga bisa digunakan untuk siapa saja. Namun Allah azza wa jalla juga membuatnya sangat spesifik dan berkata, “Watlu ‘alaihim naba’a alladzii aatainahuu aayaatinaa.” (QS Al-A’raf ayat 175).

Bacakan kepada mereka kabar atau peristiwa tentang seseorang yang kepadanya telah Kami berikan mukjizat Kami.

Mereka-Mereka Yang Diberi Petunjuk

Siapakah dia yang sudah diberi Allah mukjizat? Hal pertama yang harus dicatat di sini adalah kata, “watlu”. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam diturunkan kepada penduduk Makkah yang buta huruf. Beliau sendiri juga seorang “nabiyyalummiy”, Rasul yang buta huruf.

Maka para ulama datang dan bagaimana dia membacakan kepada mereka. Intinya adalah sebuah kisah dan kisah lain yang serupa. Ketika Allah menyebutkan kata, “watlu”, Dia sesungguhnya mengatakan penduduk Makkah dan secara keseluruhan adalah kita semua. Bahwa Dia akan mengajari kita sesuatu yang belum kita ketahui dan sesuatu yang harus diulangi terus menerus karena relevansinya selalu diperbaharui.

Ini bukan hanya sebuah cerita masa lalu, namun juga sesuatu yang relevan dengan Anda dan saya saat ini, Sebuah naskah yang hidup, sebuah akun yang aktif. Karenanya menjaganya sebagai sesuatu yang umum adalah sangat penting. Sudah saya katakan tadi bahwa Allah tidak menyebutkan nama karakternya secara spesifik yang terlibat dalam hal ini, orang yang akan dibicarakan Allah. Mengapa? Karena ini adalah sebuah “archetype”, artinya bisa saja salah satu dari Anda atau saya.

Ini mungkin saja kisah kita sendiri. Perhatikan dengan baik dan lihat apakah relevan dengan Anda. Saya juga akan memperhatikan dan melihat apakah relevan dengan saya.

Alladzii aatainahuu aayaatinaa.” (QS Al-A’raf ayat 175)

Mereka yang kepadanya Kami berikan ayat Kami, wahyu Kami. Dengan kata lain ini adalah seseorang yang diberikan oleh Allah akses kepada petunjukNya. Beberapa cendekia yang mempelajari Quran dan perkataan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan sejarah agama kita serta hukum syariah yang agung selama 50 tahun sudah diberi ayat oleh Allah.

Tapi juga seseorang yang duduk di Perpustakaan Umum, dan membuka terjemahan quran, membaca beberapa halaman lalu menjadi muslim, dia juga sudah diberi ayat. Jadi Allah tidak mengatakan bahwa Dia bicara tentang seseorang dengan beasiswa terbaik dibandingkan dengan seseorang yang cuma tahu sedikit tentang Islam. Ini meliputi semua orang karena Allah sudah memberikan sebagian ayatNya kepada setiap kita. Kenyataannya khususnya kepada mereka yang duduk di sini mendengarkan khutbah Jum’at, Anda semua termasuk saya sudah diberi ayat Allah.

Pada tingkat tertentu atau lainnya, hal ini relevan dengan kita semua.

Aatainahuu aayaatinaa.” (QS Al-A’raf ayat 175)

Karena meski Anda cuma tahu sedikit dari Quran sedikit tentang petunjuk Allah, bahkan jika hanya satu kata pertama Fatihah atau yang Anda tahu cuma, “Bismillaahir-rohmaanir-rohiim.

Semua ini masih dari ayat Allah, sesuatu yang diberi Allah kepada Anda. Jadi pemberian Allah, “Imtinaan” Allah dalam ayat ini ada pada setiap orang yang mendengarkan. Ini tidak bicara tentang seseorang yang jauh Anda atau saya.

Aatainahuu aayaatinaa.” (QS Al-A’raf ayat 175)

Perumpamaan Seekor Ular Yang Berganti Kulit

Lalu Dia gambarkan masalahnya. Berita tentang orang ini, akan saya ceritakan catatan tentangnya dia yang sudah diberi petunjuk atau wahyu. Kami telah mengajarinya sesuatu tentang keyakinan ini. Allah berkata Dia sendiri yang memfasilitasi pengajaran itu. Lalu Dia berkata, “Fansalakho min-haa.” (QS Al-A’raf ayat 175)

Al-insilakh: khuruuju jasadil hayawaan min jildihi, mistlil hayya.” (ustadz NAK menjelaskan arti “fansalakho” -red)

Dalam bahasa Arab kata “insilaakh” digunakan ketika seekor hewan berganti kulit. Contoh populernya adalah seekor ular, ular berganti kulit. Jadi hanya kulit bagian depan yang ditinggalkan, ular besar sering mengalami ini, dan yang tinggal hanya kulit bagian depan. Meski ini adalah gambaran seekor ular, Allah tidak hanya bicara tentang seekor ular, tapi tentang seorang manusia yang diajarkan Allah agama. Allah mengajarinya tentang agamaNya, Dia memberinya beberapa ayat.

Jadi apa hubungannya dengan ular yang berganti kulit? Allah sebenarnya melukiskan gambaran seseorang yang menjaga agama pada permukaan, tapi melata (menjauh) darinya dari dalam, dia melepaskannya dari dalam. Jadi agama hanyalah sesuatu yang dipakainya sebagaimana menggunakan samaran. Jadi tidak mempengaruhi bagian dalamnya, meski jika mereka melakukan praktek beragama seperti shalat, atau memakan makanan halal, atau mengucapkan salam, atau berpakaian sepatutnya, itu semua pada permukaannya. Tapi di dalamnya sudah ditinggalkan. Tak ada jiwa yang tertinggal di dalamnya, yang tertambat pada keyakinan ini. Ini hanya ungkapan artifisial dari agama, bagaikan cangkang tanpa telur, Anda paham?

Jadi Allah berkata, Aku ingin kamu mendengar kisah tentang seseorang yang sudah Kami beri akses pada agama Kami, mereka belajar tentang keyakinan Kami, namun mereka hanya memilikinya di permukaan, mereka menjauh darinya. Jadi ini memberi kesan bahwa mereka berada dalam Islam, bahwa mereka tulus, melaksanakan praktek beragama, mempelajari, dan seterusnya, tapi di dalamnya tak satupun yang tertinggal. Betapa ini sebuah gambaran yang menakutkan, “Fansalakho min-haa.” (QS Al-A’raf ayat 175)

Sekarang mari kita bicarakan pada berbagai level. Seperti saya bicarakan tadi, ini bisa terjadi pada seseorang yang cuma tahu sedikit tentang Islam, dan relevan dengan orang yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mempelajari agama. Mereka yang minimal ilmunya tentang keyakinan ini, dan mereka yang merupakan cendekia agama ini. Ini bisa terjadi pada satu titik atau lainnya, “Al-insilaakh al-ibti’ad kadzalik.” (Al-insilaakh juga berarti Al-ibti’ad (menjauh) -red)

Mereka berkata; untuk menjauhkan seseorang mereka kehilangan rasa kepada apa yang sudah diberikan Allah kepadanya. Jika seseorang kehilangan rasa terhadap apa yang diberikan Allah, terhadap wahyu yang sudah diberikan Allah kepada Anda, tak peduli berapa banyak pengetahuan yang sudah kita peroleh dalam kehidupan, tak peduli berapa banyak Anda sudah membaca, mempelajari, beribadah, Inti dari agama atau wahyu ini, bahwa Anda tak bisa hanya memperolehnya dan berpegang kepadanya tanpa usaha.

Anda bisa berkata saya menamatkan Quran 2 tahun yang lalu, dan sekarang saya tahu apa yang dikatakannya, ini sudah cukup. Anda tak bisa berkata begitu. Allah berkata kepada Bani Israil,

Khudzuumaa aatainakum biquwwatin, …” (ayat ini ada di Al A’raf ayat 171 dan Al Baqarah ayat 93 -red)

Wadzkuruuma fiihi.” (QS Al A’raf ayat 171)

Di tempat yang berbeda, “Wasma’uu.” (QS Al-Baqarah ayat 93)

Berpeganglah kepada apa yang Kami berikan kepadamu dengan sangat teguh. Anda harus berpegang sangat teguh kepada buku (kitab Quran) ini, dan selalu mengingat apa yang ada di dalamnya. Dan di ayat lain Dia berkata; tetaplah mendengarkan. Anda harus menempatkan diri Anda dalam lingkungan di mana Anda tak hanya memberi nasehat, tapi juga menerima nasehat. Anda tak hanya – aku sudah paham hal ini -.

Anda harus mempelajari kembali hal ini. Anda harus menghubungkan diri Anda dengan agama berulang-ulang. Jika tidak, dari luar Anda masih berilmu dari permukaan Anda masih bisa mengutip ayat, dari luar Anda sepertinya masih menjalankan agama, tapi dari dalam hati Anda sudah terpisahkan dari perkataan Allah, dari ayat yang diberikan kepada Anda.

Syaithan Senantiasa Mengikuti Mereka Yang Hatinya Mulai Menjauh Dari Petunjuk Allah

Jadi Dia berkata, “Fansalakho min-haa.” (QS Al-A’raf ayat 175)

Orang ini pada dasarnya, di dalamnya, secara emosional, secara spiritual menjauhkan diri dari petunjuk. Jadi bagian luar berbeda dengan bagian dalam. Jika hal ini terjadi, “Fa athba’ahusy-syaithoon.” (QS ayat Al-A’raf: 175)

Syaitan segera berada di belakangnya, dan mulai mengejarnya sepenuh hati. Konsep tentang “tabi’a” dalam bahasa Arab berarti mengikuti seseorang, tapi jika dikatakan “athba’a”, sebenarnya ini menjadi semacam “mubalaghah” dia mengikutinya 100%. Tak sedetikpun syaithan akan meninggalkannya sendiri.

Sekarang kita mempelajari sesuatu yang sangat menarik tentang syaithan. Kita pelajari bahwa orang-orang yang mendekati Allah yakni mereka yang sudah diberi Allah petunjuk, saat mereka mulai melenceng, syaithan mengambil kesempatan. Dia masuk ke dalam urusan Anda seakan Anda adalah proyek utamanya. Dia tinggalkan berbagai gangguan lain, dia khusus menempeli Anda, “Fa athba’ahusy-syaithoon.” (QS ayat Al-A’raf: 175)

Anda paham? Maka syaithan akan senantiasa menyodoknya dan tentu akan memberinya saran yang berlawanan dengan apa yang diberikan Allah. Allah sudah mengajarkan orang ini, lelaki atau wanita, beda antara benar dan salah, beda antara menjadi sopan, peduli, jujur, dan dermawan dengan menjadi egois, merasa benar, dan terpedaya. Dengan semua ini syaithan akan datang dan mengambil apa yang dia inginkan untuk Anda ikuti dan ketidakpatuhan kepada Allah mulai menjadi terasa indah.

Wa zayyana lahumusy-syaithoonu ‘a’maalahum.” (QS An-Naml ayat 24)

Syaitan membaguskan amalan mereka di mata mereka.

Jadi ketika mereka mulai melakukan hal ini Allah berkata, “Fa kaana minal-ghoowiin.” (QS Al-A’raf ayat 175).

Lalu dia menjadi salah satu dari mereka yang keluar jalur. “Ghawaa” dalam bahasa Arab berarti orang yang berjalan sesuai jalur, lalu berbelok, sehingga keluar jalur. “Ghaawiin” artinya mengambil jalan keluar yang salah dari jalan raya sehingga tidak bisa kembali ke jalur semula. Itulah “ghaawiin”.

Allah menggambarkan sebuah fenomena yang menakutkan di sini. Proyek syaitan dalam kisah ini, bukanlah orang yang sudah melupakan Allah dan tidak percaya kepadaNya. Dia tidak bercerita tentang mereka itu, tapi bicara tentang orang-orang yang baik. Mereka yang memiliki ayat-ayat Allah dan entah bagaimana mulai menjauh darinya. Mereka menjauhkan diri, lalu syaithan menangkap mereka. Jika syaithan benar-benar telah menguasai Anda, dia akan membuat Anda melakukan hal-hal yang bahkan mereka yang tidak terlalu agamis tidak melakukannya. Ini adalah orang dengan keyakinan, mereka yang agamis, dia bisa jatuh ke tingkatan seperti itu. Dia bisa melakukan tindakan yang tidak dinyana bisa dilakukan seorang non-muslim. Dia bisa jatuh hingga ke tingkat itu.

Asfala saafiliin.” (QS At-Tin ayat 5)

Tingkatan terendah.

Seraya berlanjutnya kisah orang ini yang menjauh dari ayat Allah dan syaithan menangkapnya, Allah menyebutkan sebuah tragedi, Dia berkata, “Walau syi’naa larofa’naahu bihaa.” (QS Al-A’raf ayat 176)

Jika Kami menginginkan, akan Kami tinggikan dia karena pengetahuan yang sudah Kami berikan kepadanya. Karena ayat yang sudah Kami berikan kepadanya, “bihaa”, “ya’ni bisababihaa”.

Jadi Allah mengatakan bahwa ayat yang Allah berikan kepada Anda tujuannya adalah untuk meninggikan derajat Anda. Konsep dari meninggikan sebenarnya adalah bagian dari gambaran Quran. Di ayat lain di dalam Quran seperti surat Nuur, Allah menggambarkan tiga jenis makhluk di atas bumi. Ada manusia yang berdiri tegak, ada juga, “Yamsyii ‘alaaa arba’.” (QS An Nur ayat 45) Hewan yang berjalan dengan empat kaki.

Yamsyii ‘alaa bathnih.” (QS An Nuur ayat 45)

Yang berjalan dengan perutnya seperti ular.

Di sini Anda perhatikan gambaran seekor ular disebutkan. Dan ular adalah makhluk yang paling dekat dengan tanah. Dan manusia, menilik wajahnya, matanya, tubuhnya, adalah yang paling jauh dari tanah, satu-satunya yang menyentuh tanah adalah kaki kita. Hewan lain yang berjalan dengan empat kali, selalu melihat ke bawah, Anda perhatikan? Karena desain tubuhnya, mereka selalu melihat ke bawah. Jadi yang paling rendah di antara hewan adalah ular. Dan sekarang Allah menggambarkan, jika Kami inginkan, bisa saja yang terendah itu adalah manusia yang berdiri tegak, “Larofa’naahu bihaa.” (QS Al-A’raf ayat 176)

Sebagaimana Allah telah menciptakan manusia. Ngomong-ngomong jika manusia melihat ke atas, mereka akan melihat langit. Mereka memiliki tujuan yang lebih tinggi. Kita bercita-cita menginginkan sesuatu yang datang dari syurga. Dibandingkan dengan hewan yang hanya mencari sesuatu di permukaan tanah, mereka hanya melihat ke bawah, sedangkan kita melihat ke atas. Mereka tidak melihat ke depan.

A fa may yamsyii mukibban ‘alsa waj-hihiii ahdaa, am may yamsyii sawiyyan ‘alaa shirootin mustaqiim,” seperti dalam surat Mulk (ayat 22).

Bagaimana seseorang yang wajahnya terbenam dalam tanah dibandingkan dengan seseorang yang berdiri tegak? Ini adalah gambaran Quran dalam ayat ini. Jadi Dia berkata; jika Kami inginkan Kami bisa meninggikan dia. dengan kata lain Kami bisa membuatnya semakin baik dan bertambah baik, Anda cuma tahu sedikit tentang agama, tapi karena hal yang sedikit itu, Allah bisa menaikkan Anda ke tingkat berikutnya. Dan dari sana ke tingkat yang lebih tinggi, dan seterusnya. Tak masalah jika Anda tidak setara dengan seorang imam, atau tidak setara dengan cendekia terhebat atau orang tersholeh. Anda sendiri sedang dalam perjalanan untuk menjadi lebih baik dan semakin baik. Karena sesuatu yang sedikit yang dibekali oleh Allah, petunjuk yang sudah diberi Allah kepada Anda.

Wa laakinnahuuu akhlada ilal-ardhi.” (QS ayat Al-A’raf 176)

Namun dia menjadi benar-benar condong ke tanah. “Akhlada” berasal dari kata “khuluud”. Di sini yang menarik adalah kata “ikhlaad”, yang artinya membuat sesuatu menjadi permanen, bukan menjadi sesuatu yang permanen.

Ya’ni akhlada nafsahu ilal ardh.

Akhlada hawaahu ilal ardh.

Akhlada hammahu ilal ardh.

Dia membuat segala yang diinginkannya sekarang menjadi sesuatu yang berhubungan dengan dunia ini. Ini adalah seseorang yang mengerti tentang jannah, bertemu dengan Allah, memahami tentang hari pembalasan, namun dengan mereka menjauhkan diri, satu-satunya yang mereka pikirkan, satu-satunya yang mereka cintai, satu-satunya prioritas mereka adalah hal-hal yang bisa mereka peroleh di dunia ini. Hasrat apapun yang mereka inginkan, menyangkut uang, kekayaan, ketenaran, syahwat. Hanya itu yang bisa mereka pikirkan, mereka tak bisa memikirkan hal lain, atau mengontrol dirinya, tak ada kepedulian bahwa suatu ketika mereka akan berdiri di hadapan Allah.

Betapa ini adalah sebuah tragedi, seseorang yang paham tentang petunjuk, yang tahu bahwa mereka seharusnya punya prioritas yang lebih baik dalam hidup, namun yang bisa mereka pikirkan sekarang cuma ini, “Akhlada ilal-ardhi.” (QS ayat Al-A’raf 176)

Perumpamaan Seekor Anjing Yang Terengah-engah

Sejalan dengan Allah menyimpulkan perbandingan ini, Dia berkata, ”Fa matsaluhu.” (QS Al A’raf ayat 176)

Bagaimana menggambarkan orang ini? Pertama orang ini bersikap seperti ular, dan sekarang Allah akan memberi contoh yang paling buruk. Dia berkata, “Fa matsaluhu kamatsalil-kalb.” (QS Al-A’raf ayat 176)

Gambarannya adalah seperti seekor anjing. Ini sudah cukup menghina, karena seekor anjing adalah makhluk yang pada satu sisi punya kesetiaan, tapi Allah sebenarnya bicara tentang seekor anjing rabies atau anjing liar, kita bisa melihatnya dari bahasanya. Anjing yang digambarkan Allah ini – di dalam Quran Anda bisa menemukan gambaran orang lain yang dibandingkan dengan hewan, seperti Bani Israil yang tidak menjalankan kitabnya dibandingkan dengan keledai –

Kamatsalil-himaari yahmilu asfaaroo.” (QS Al-Jumu’ah ayat 5)

Dibandingkan dengan keledai. Namun orang ini jauh lebih buruk, mereka dibandingkan dengan anjing.

Apa yang dikatakanNya tentang anjing ini? Dia berkata, “In tahmil ‘alaihi yal-hats.” (QS Al-A’raf ayat 176)

Jika kamu meletakkan sesuatu pada anjing ini, jika kamu ingin membebani anjing ini, mengikatnya kepada sebuah beban dan dia harus menariknya, dia disuruh bekerja, atau membawa sesuatu, “yal-hats”, dia akan mulai terengah-engah, “imtidaadullisaan ma’a syiddatittanaffus (menjulurkan lidah dengan sulit bernafas -red)” istilahnya.

Yal-hats” secara harfiah artinya terengah-engah dan menjulurkan lidah. Itulah yang dilakukan anjing. Saat seekor hewan menjulurkan lidahnya dan sangat terengah-engah, artinya dia kelelahan. Jadi Allah mengatakan dengan bahasa yang sangat spesifik. KataNya jika kamu memberinya beban dia akan mulai terengah-engah.

Au tatruk-hu.” (QS Al A’raf ayat 176)

Jika kamu meninggalkannya sendiri… “Yal-hats.” (QS Al-Araf ayat 176)

Dia tetap akan terengah-engah menjulurkan lidahnya dan berliur. Apa maksudnya semua itu? Apa hubungannya dengan Anda, saya, dan orang yang memperoleh petunjuk? Bahwa Allah memberi gambaran aneh tentang seekor anjing yang dibebani banyak pekerjaan dan dia terengah-engah, atau dibiarkan sendiri tapi masih tetap terengah-engah.

Konsep dari “lahats”, terengah-engah sebenarnya sejenis gangguan. Suatu makhluk, seorang manusia, hewan apapun takkan terengah-engah sampai mereka terganggu, kewalahan, tak puas, haus. Ini adalah gambaran dari seseorang yang tidak terpuaskan.

Maka para ulama kita berkomentar panjang lebar tentang penggunaan kata “hamal”, untuk membebani, memberi tanggung jawab, digunakan di dalam Quran untuk petunjuk. Orang ini menjadi seperti anjing. Saat mereka mendengar tentang agama sekarang, mereka merasa terganggu. Ini adalah orang yang agamis, ini adalah orang yang tahu agama, tapi setelah dia menjauh darinya, sekarang bahkan saat dia mendengar peringatan tentang benar dan salah dalam keyakinannya. Secara internal mereka tidak menyukainya lagi, mereka merasa terganggu. Mereka bahkan tak bisa menemukan kedamaian dalam shalat, dan pertemuan para muslim, dan pengajaran. Mereka tak bisa. Jadi mereka ingin menjauh dari perkumpulan ini, dan merapat kepada perkumpulan-perkumpulan yang ‘gelap‘, atau lingkungan yang tidak baik. Namun saat mereka kesana, mereka masih tetap merasa terganggu. Mereka berharap dapat meninggalkan tempat ini untuk mencari kedamaian di tempat lain. Tapi mereka tak menemukan kedamaian.

Yang lain berkata ini ada hubungannya dengan dahaganya yang tak terpuaskan, saat mereka terpaku pada dunia maka Allah azza wa jalla membuat dahaganya kepada dunia tak berkesudahan. Syaithan berada di belakang mereka, mereka biarkan syaithan berada di belakang mereka. Sekarang pada dasarnya syaithan membuat mereka ingin terus mengkonsumsi, meskipun tak ada lagi yang bisa dikonsumsi. Apa maksudnya itu? Contohnya seseorang yang terobsesi dengan uang, mereka terobsesi dengan syahwat, mereka terobsesi dengan makanan. Mereka terobsesi dengan benda-benda, mereka berpikir tentang makanan saat lapar, dan saat tidak lapar. Hanya itu yang bisa mereka pikirkan. Mereka muntah saat makan siang, tapi mereka khawatir tentang makan malam. Mereka terobsesi dengan kebendaan. Mereka terlilit hutang, tapi berpikir tentang apa yang bisa dibeli dengan kartu kreditnya sekarang. Apa lagi yang bisa saya peroleh? Mereka larut dalam hal-hal yang tidak sehat, tanpa bisa berhenti. Seperti anjing yang tak bisa berhenti terengah-engah, meski ada alasan atau tidak, meski butuh atau tidak, meski wajar atau tidak.

Dengan hampir berakhirnya gambaran mengerikan ini, Allah azza wa jalla berkata,

Dzaalika matsalul-qoum, alladziina kadzdzabuu bi’aayaatinaa.” (QS Al-A’raf ayat 176)

Itulah perumpamaan dari mereka yang menganggap mukjizat Kami adalah kebohongan. Frasa “alladziina kadzdzabuu bi’aayaatinaa” (QS Al-A’raf ayat 176) di dalam Quran digunakan untuk mereka yang tidak beriman.

Tidak digunakan untuk mereka yang beriman. Dalam ayat ini dimulai dengan seseorang yang sebenarnya beriman. Dan berkata; mereka pada titik ini tak ada bedanya menurut anggapan Allah, dengan mereka yang tidak beriman. Apa intinya? Anda diberi petunjuk agar bisa hidup selayaknya manusia bukan seperti hewan. Bukan begitu memiliki keinginan langsung mengikutinya. Jika Anda tidak bisa melakukannya, tidak bisa hidup seperti itu, lalu apa pentingnya? Apa bedanya Anda dengan orang lain? Hanya berpura-pura patuh kepada petunjuk, untuk merujuk kepada buku Allah dari luar, tapi tidak mengikuti pengajarannya dari dalam.

Alladziina kadzdzabuu bi’aayaatinaa.” (QS Al-A’raf ayat 176)

Saya tercengang dengan bagaimana Allah menyimpulkan ayat ini;

Faqshushil-qoshos, la’allahum yatafakkaruun.” (QS Al-A’raf ayat 176)

Ceritakan banyak kisah, sehingga mereka bisa berpikir, begitulah akhir ayat ini. Ceritakan banyak, “al qoshos”, plural.

Dengan kata lain fenomena ini tak hanya sekali terjadi, tapi akan terjadi berulang kali. Akan ada orang-orang di sekeliling Anda yang biasanya agamis, lalu menghilang begitu saja. Secara rahasia tidak lagi patuh kepada agama sama sekali. Akan ada kisah seperti ini yang terjadi di sekeliling Anda. Pikirkanlah itu, “la’allahum yatafakkaruun” (QS Al-A’raf ayat 176), agar mereka bisa berpikir mendalam.

Pikirkan secara mendalam, apakah saya menuju arah ini? Mengapa seseorang harus berpikir mendalam? Setiap kali Allah menyuruh Anda berpikir dalam, sebenarnya itu menyangkut diri Anda sendiri. Carilah kata “tafakkur” dalam Quran. Selalu sesungguhnya tentang diri Anda sendiri, entah bagaimana kembali kepada Anda juga.

Meyakini Kebenaran Islam = Melakukan Perubahan

Ketika ayat ini berakhir, alih-alih kita berpikir tentang cerita horor orang lain, Allah mengatakan, ceritakan kisah-kisah itu kepada mereka, agar mereka tidak menjadi kisah horor berikutnya. Agar mereka bukan yang berikutnya terjebak dalam perangkap ini. Di antara mereka yang mengutip bagaimana ayat ini diaplikasikan, saya beri Anda bahan untuk berpikir.

Ada orang yang dimudahkan Allah untuk mempelajari agama. Seperti kisah mereka pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, orang yang mempelajari Injil, mempelajari orang Arab yang mempelajari Hebrew, mempelajari agama dan menjadi lebih yakin dengan konsep satu Tuhan. Mereka setuju dengan semua itu, tapi tidak yakin dengan Muhammad Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka datang dan berkata; “Aslamtu bilhanifiyya.” (Saya ber-islam kepada agama hanif -red)

Saya tak punya masalah dengan konsep satu Tuhan ini, saya suka konsep ini, saya juga tak suka syirik. Tapi saya tidak yakin dengan kamu, saya tak yakin kamu seorang Rasul. Itu yang mereka katakan kepada Nabi ‘alaihi shalatu wassalam. Dan Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam akan menantang mereka, memperlihatkan petunjuk, memberikan bukti, pada akhirnya jelaslah bahwa mereka belajar, dan ketertarikan mereka kepada konsep agama adalah satu hal, dan pemahaman dihatinya adalah hal lain. Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebenarnya memahami hal itu dan berkata, “Apa yang ada di lidahmu tidak sama dengan yang ada di hatimu.

Ini adalah dua hal yang berbeda. Dan mereka menjadi salah satu musuh Islam yang terburuk. Ada orang-orang yang hingga saat ini menjauh dari ajaran Islam, contohnya saat saya mempelajari Islam di universitas. Kami memiliki profesor non-muslim yang mempelajari Quran puluhan tahun dan sangat mumpuni ilmunya tentang Quran. Dan mereka bahkan bersedia mengatakan Quran ini ilahiah, tak mungkin buatan manusia. Mereka sampai sejauh itu. Secara praktisnya mereka sudah muslim.

Jadi saya bertanya, “Apa yang menghalangi Anda?

Quran itu sungguh sangat luar biasa, tapi… ini sesuatu yang layak dipikirkan bukan?

Hanya itu, dia tidak bisa melangkah lebih jauh. Dia tak bisa melakukannya karena sudah diberikan begitu banyak ayat tapi tidak ingin membuat komitmen karena dibutuhkan perubahan. Karena jika Anda menerima hal ini, maka Anda haru membuat perubahan. Allah berkata, “Bal yuriidul-insaanu liyafjuro amaamahu.” (QS Al-Qiyamah ayat 5)

Itu alasan sebenarnya. Orang-orang hanya ingin mengerjakan apa yang ingin mereka kerjakan. Itulah alasan sebenarnya. Mereka punya sesuatu di hadapan mereka, dan mereka ingin menjadi impulsif, melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.

Jika Anda menerima agama ini, setiap Anda mengatakan sesuatu, melakukan sesuatu, setiap akan melakukan suatu aksi, saat akan membuat transaksi, Anda harus memikirkan konsekuensinya, Anda akan menghentikan diri Anda.

Wa nahan-nafsa ‘anil-hawaa.” (QS An-Nazi’at ayat 40)

Anda menghentikan diri Anda sendiri dari mengikuti apapun pikiran yang muncul di otak Anda. Itu adalah salah satu yang dilakukan agama ini, mereka tak mau melakukannya. Mereka menganggap agama itu menarik, mereka bisa mempelajarinya, dan mengutip sangat banyak darinya, mereka terpesona saat mempelajarinya, tapi hanya sampai di situ. Dan sayang sekali ini merupakan masalah pada sebagian orang bahkan muslim pada umumnya, mereka suka membaca Quran, mereka suka mendengarkan khutbah. Sudah kamu dengar khutbah yang ini? Yang itu? Aku sudah mengunduh semuanya. Anda suka mendengar sesuatu, mengutip sesuatu, Anda suka mengoleksi buku, tapi hidup sesuai dengan sesuatu (agama) itu, ahh… nanti dulu…

Mari kita lakukan “insilakh”, tinggalkan saja itu, dan menjaga prioritas kita seperti prioritas mereka yang tidak beriman.

Semoga Allah azza wa jalla menjadikan kita bagian dari mereka yang tidak secara artifisial (buatan -red) saja berkomitmen kepada keyakinan kita. Tapi baik dari luar ataupun dari dalam kita sepenuhnya berserah diri kepada Allah. Semoga Allah azza wa jalla mengabaikan kelemahan kita dan tidak menjadikan kita bagian mereka yang sudah ditunggangi syaithan, karena kita tidak bisa mencari perlindungan darinya (syaithan). Semoga Allah melindungi kita dari “waswasa” syaithan, dan saya memohon kepada Allah azza wa jalla khususnya agar para pemuda, para orang tua, para pria, para wanita, dan anak-anak kita, semoga mereka diberikan cinta yang tulus terhadap agama Allah, terhadap buku Allah, dan rasa penghargaan terhadap wahyu, yang sudah diberikan kepada setiap kita, dan kita akan menjaganya dengan taruhan nyawa.

Barakallaahu lii wa lakum fil quraanil hakiim, wanafa’ni wa iyyakum bil aayaati wa dzikril hakiim.

Alhamdulillaahi wakafaa washalaatu washalaamu ‘alaa ‘ibaadihi alladziina isthofaa,
khushuushaan ‘alaa afdhaalihim wa khaatamin nabiyyiin, muhammadinil amiin wa ‘alaa aalihi washahbihii ajma’iin.

Yaquulullaahu ‘azza wa jalla fii kitaabihil kariim ba’da ‘an aquula, a’udzubillaahi minasysyaitaanirrajiim.

Innallaaha wamalaaikatahu yushalluuna ‘alannabii, yaa ayyuhalladziina aamanuu shallu ‘alaihi wa sallimu tasliimaa.

Allaahumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘ala ‘aali muhammad, kamaa shallaita ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa ‘aali ibraahiim, fiil ‘aalamiin innaka hamiidun majiid.

Allaahumma baarik ‘alaa muhammadin wa ‘alaa ‘aali muhammad, kamaa baarakta ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa ‘aali ibraahiim, fiil ‘aalamiin innaka hamiidun majiid.

‘Ibadallaah, raahimakumullah, ittaqullah.

Innallaaha ya’muru bil’adli walihsaan, wa itaaidzilqurba wa yanha ‘anilfahsyaai wal munkar, wala dzikrullahi akbar, wallahu ya’lamu ma tasna’uun.

Aqimisshalaah, innasshalaata kaanat ‘alalmu’miniina kitaaban mauquuta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s