[Subtitle Indonesia] Tragedi Umat Manusia – Nouman Ali Khan


Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul uqdatam mil lisaanii, yafqohuu qoulii. Allaahumma tsabbitnaa ‘indalmautii bi laa ilaaha illallaah, allaahummaj’alnaa minalladziinaa aamanuu wa ‘amilushaalihaat, wa tawaashau bil haq, wa tawaashau bishshabri shabri, aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.

Tujuan saya pada khutbah terakhir di bulan Ramadhan ini adalah untuk berbagi dengan Anda makna dari bagian terakhir surat Hajj. Surat Hajj memiliki banyak kualitas unik, salah satu yang paling unik adalah kesimpulannya. Di dalam surat ini sedikit banyak Allah azza wa jalla menggambarkan tragedi sejarah umat manusia dalam dua baris saja. Dari sudut pandang Allah bagaimana manusia berlaku mulai dari awal penciptaan manusia hingga datangnya nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Sebuah Perumpamaan Bagi Manusia

Namun sebelumnya Dia memberi manusia sebuah perumpamaan. Dia berkata kepada semua manusia,

Yaaa ayyuhan-naasu dhuriba matsal.” (QS Al Hajj ayat 73)

Hai manusia sebuah perumpamaan telah diberikan. Beberapa orang berpendapat bahwa bagian ini adalah bagian Makkiyah atau Madaniyyah – yang kelihatannya masuk akal karena ungkapan – “Yaaa ayyuhan-naas” – biasanya ditujukan pada komunitas yang lebih besar di mana mayoritasnya tidak beriman kepada pesan ini.

Saat Allah berbicara kepada ahli kitab, Dia berkata, “Yaaa ahlil kitaab.” Saat bicara kepada kaum muslimin Dia berkata, “Yaaa ayyuhalladziina aamanu.” Saat Dia bicara kepada manusia umumnya tanpa memandang kepercayaannya, bisa saja para musyrikun, termasuk muslim, juga ahli kitab dan semua lainnya, maka Dia berkata, “Yaaa ayyuhan-naas.

Jadi ini adalah pembukaan yang sangat luas, pernyataan kepada seluruh umat manusia. Ini juga ditujukan kepada mereka yang belum pernah mendengar tentang Islam sebelumnya. Mungkin saja ini pertama kalinya mereka mendengarnya dari Allah.

Yaaa ayyuhan-naasu dhuriba matsal.” (QS Al Hajj ayat 73)

Sebuah perumpamaan akan diberikan, atau sebuah perumpamaan diberikan. Konsep dari – sebuah perumpamaan diberikan – dibandingkan dengan Allah menyebutkan Diri-Nya sendiri, seperti – “Dhoroballohu lakum matsalan.” (QS Ar Rum ayat 28)

Allah memberi perumpamaan untuk kebaikanmu atau Dia akan memberi perumpamaan untuk kebaikanmu. Tidak…

Dia membalikkan kalimatnya menjadi pasif seakan menyatakan – sesuatu akan dikatakan, dengarkan saja, jangan pusingkan siapa yang bicara, tapi pikirkan saja apa yang dibicarakan -. Dan ini adalah pertimbangan yang sangat penting dalam komunikasi.

Seringkali bahkan sebelum saya bicara, hanya dengan memandang saya Anda lancarkan berbagai anggapan apakah Anda akan mendengarkan atau tidak, tanpa peduli apakah yang saya sampaikan bermanfaat untuk didengarkan atau tidak. Kita seringkali melakukan ini dalam berbagai komunikasi. Kita nilai pembicaranya sebelum menilai apa yang dibicarakannya.

Dalam ayat ini Allah azza wa jalla sesungguhnya tidak menempatkan diriNya sebagai pembicara. Dia tidak menyebutkan diriNya, hanya menyatakan sebuah perumpamaan akan diberikan. Dengan kata lain Dia menyeru manusia untuk memberikan perhatian tanpa bias. Untuk sesaat tidak berpikir tentang kenyataan bahwa ini quran, atau ini Islam, atau pesan ini mencoba mengkhotbahimu, renungkan saja sendiri untuk sesaat.

Apapun Yang Diseru Selain Allah (Berbagai Bentuk Berhala) Bahkan Tak Mampu Menciptakan Seekor Lalat

Dan perumpamaan apa yang diberikanNya? Sebuah perumpamaan yang aneh. Sebelum diberiNya perumpamaan ini, “Fastami’uu lahuu.” (QS Al A’raf ayat 204 dan Al Hajj ayat 73).

Dengarkanlah dengan seksama.

Innalladziina tad’uuna min duunillah.” (QS Al Hajj ayat 73)

Tak diragukan lagi mereka yang kamu seru, apapun selain Allah. Apapun yang kamu seru selain Allah, tak ada keraguan tentangnya, “Lay yakhluquu dzubaaban.” (QS Al Hajj ayat 73)

Mereka takkan pernah bisa menciptakan seekor lalat. Mereka takkan bisa menciptakan seekor lalat.

Pertanyaan yang mungkin muncul adalah apa peduli saya apakah mereka bisa menciptakan lalat atau tidak. Dan siapa mereka, orang-orang yang menyeru selain Allah. Perhatikan seluruh keberagaman di hadapan kita, ada yang menyembah berhala seperti musyrik Makkah, mereka menyeru berhala, Tuhan yang mereka lambangkan melalui berhala-berhala tersebut, selain Allah. Ada juga yang menganggap Allah azza wa jalla memiliki anak-anak perempuan berwujud malaikat, atau anak lelaki yakni Isa alaihissalam. “Ma’adzallah.” (Aku mohon perlindungan kepada Allah -red)

Dan orang-orang ini menyeru mereka, selain Allah. Ada juga yang percaya kepada para santo, atau mengkuduskan orang, mereka merasa sangat malu untuk menyeru Allah secara langsung. Namun mereka ini (santo) yang sangat memuja Tuhan dan sangat dekat dengan Tuhan, jika saja kita kita termasuk dalam catatan baik mereka, mereka akan mengatakan hal-hal baik tentang kita kepada Allah. “Syufaauna ‘indallah.” (yang dekat/menyerupai -red)

Mereka akan menjadi wakil kita kepada Allah karena kita sendiri terlalu kotor untuk menghadap Allah.

Ada lagi – jika kita kembali ke zaman kita sekarang – mereka yang tidak menyembah apapun, atau mereka menyembah ilmu pengetahuan. Saya sudah melihat para ilmuwan bicara tentang keajaiban alam semesta seakan mereka kagum kepadanya seperti kepada Tuhan. Mereka memuja bentuk ilmu pengetahuan ini, dan semua orang harus tunduk kepada ideologi ini.

Anda ingat pada zaman dahulu manusia biasa menyembah patung fisik-material, nama-nama atau orang-orang yang nyata, selain Allah. Namun pada masa kita, ada ‘isme’ yang dipuja. Benar bukan? Apakah itu materialisme, agnostisisme, atau isme lainnya. Manusia dengan mudah mempercayai sebuah ide dan mengandalkan konsep tersebut, selain mengandalkan Allah. Dan keseluruhan pandangannya terhadap dunia dipengaruhi oleh isme tersebut. Bagaikan sebuah berhala, berhala yang akan mengurus segalanya. Jadi saat ini ada suatu ide yang akan mengurus semua masalah kita. Kita tak butuh Tuhan lagi dalam persamaan itu.

Jadi, pernyataan ini masih relevan. Mereka yang kamu seru selain Allah masih saja tidak mampu menciptakan seekor lalat, “Lay yakhluquu dzubaaban.” (QS Al Hajj ayat 73)

Mereka tidak bisa menciptakan seekor lalat.

Wa lawijtama’u lahuu.” (QS Al Hajj ayat 73)

Meskipun mereka semua berkumpul, semua Tuhanmu dari berbagai agama, semua idemu yang beragam, dan semua isme, semua filosofi dan pemahaman. Bahkan jika semua otak terjenius bersatu guna menciptakan seekor lalat dari yang tiada, “Wa lawijtama’u lahuu.” (QS Al Hajj ayat 73). Mereka takkan mampu melakukannya.

Tapi tidak usahlah kita melangkah terlalu jauh. Dan mengapa diumpamakan seekor lalat? Karena lalat selalu berada di sekitar manusia. Lalu Allah melangkah selangkah lebih jauh dan berkata, “Wa iy yaslub-humudz-dzubaabu syai’an.” (QS Al Hajj ayat 73)

Jika seekor akan lalat mencuri sesuatu dari mereka, – Anda sedang duduk di sana makan sandwich, seekor lalat muncul hinggap di makanan Anda untuk beberapa detik, lalu terbang menjauh -. Anda tak bisa melihat ada sesuatu berkurang, tapi memang ada, karena nyatanya lalat itu telah makan. Dengan cepat dia bekerja, mengambil makanan dan terbang menjauh.

Ada lalat buah, ada… jika Anda makan di luar, barbeque atau semacamnya. Dan tentunya makan di luar adalah hal yang umum pada zaman dahulu. Jadi Anda akan selalu punya masalah dengan lalat yang hinggap di makanan. Makanya saat ini makanan kita menjadi sangat artifisial bahkan lalat pun tidak tertarik. Namun konsep tentang makanan alami adalah makanan yang tentunya menarik bagi lalat, mereka akan datang dan berkumpul di sekitarnya.

Secara khusus saya ingin menggarisbawahi bahwa agama memiliki sejarah pagan, agama yang menyembah berhala. Meskipun ini lebih luas, agama yang menyembah berhala kadang memiliki upacara di mana mereka meletakkan makanan di depan berhala tersebut. Mereka memberkati makanan dengan ritual tertentu, dan meletakkannya di hadapan berhala, orang-orang akan membawa berbagai benda dan meletakkannya di hadapan patung tersebut.

Dan tentu saja mereka menyembahnya, dan makanan ini dianggap suci merupakan persembahan, mungkin mereka akan mengadakan upacara setelah makanan diberkahi namun sebelumnya, makanan ini, susu coklat ini, atau apapun yang diletakkan di hadapan berhala tidak boleh disentuh.

Masalahnya para pemuja yang duduk di sana berkonsentrasi kepada berhalanya, tidak mampu mencegah lalat untuk datang ke kuil dan mencicipi sedikit susu coklat tersebut, atau mencoba apapun makanan yang ada di sana. Mereka tak mampu, dan mereka selalu berusaha mengusirnya karena akan menjadi penghinaan terhadap tuhan-tuhan ini. Bahwa si lalat akan mengotori kuil itu. Jika seorang manusia masuk ke kuil itu, mengambil gelas itu dan meminumnya, dia akan terbunuh. Tapi lalat selalu melakukannya, lalat selalu menghina tuhannya dia duduk di hidung patung itu menunggu untuk meminum susu lalu melakukannya.

Dengan kata lain, ketidakmampuan tuhan-tuhan ini mereka bukan hanya tak mampu menciptakan seekor lalat, bukan hanya sangat jauh dari mampu untuk menciptakan lalat ini lalat ini bahkan bisa menentang agama mereka dan menghina tuhan mereka, dan tuhan ini tak mampu membalas bahkan terhadap seekor lalat.

Itulah intinya: bukan hanya tak mampu menciptakannya, bahkan mengendalikannya, meskipun mereka sudah menghinamu.

Wa iy yaslub-humudz-dzubaabu syai’al laa yastanqidzuuhu minhu.” (QS Al Hajj ayat 73)

Mereka bahkan tak bisa mencoba mengambil darinya, ini menarik… karena jika seekor lalat mengambil darimu, dan kamu berkata – kembalikan aku sudah membayarnya dan kamu seenaknya mengambilnya -. Anda bahkan tidak tahu mau mulai dari mana. Apa yang akan Anda lakukan? Sebagai manusia, Anda bahkan tak bisa menangkapnya.

Lebih jauh lagi, bukankah ini juga berlaku pada berhala-berhala ini? Yang duduk di sana, mereka bahkan tidak merasa terganggu. Setidaknya Anda bisa melakukan ini (mengibaskan tangan)… Berhala-berhala itu tak mampu. Kecuali jika diciptakan berhala mekanik yang bisa melakukan ini (mengibaskan tangan) setiap saat. Mereka tak mampu, mereka tak berdaya dan ketidakberdayaan mereka sehingga mereka tak bisa mengungkapkan keinginan atau hasratnya sehingga mustahil bisa mengembalikan apa yang diambil dari mereka.

Laa yastanqidzuuhu minhu.” (QS Al Hajj ayat 73)

Hasrat Manusia Itu Lemah

Dalam memberi perumpamaan Allah berikan di akhir ayat sebuah aksioma, sebuah pernyataan yang sangat bertenaga. Ini adalah kebenaran yang melingkupi semua pengalaman hidup kita. Dan pernyataan itu adalah “Dho’ufath-thoolibu wal-mathluub.” (QS Al Hajj ayat 73)

Para pencari dan yang dicari, yang butuh atau yang ingin disebut “thoolib”. Sesuatu yang diinginkan disebut “mathluub”. Dia mengatakan keduanya pada dasarnya lemah. Ini menarik karena kata, “dho’ufa” tidak seperti, “dhu’ifa”. (Dho’ufa menunjukkan memiliki sifat lemah secara alamiah, sementara dhu’ifa fi’il majhul (pasif) menunjukkan kelemahan yang dibuat/dilemahkan -red)

Dengan kata lain sudah dibuat lemah. Tapi, secara alamiah lemah sudah merupakan sifatnya. Adalah bagaimana Anda diciptakan, Anda diciptakan lemah. Seperti yang dikatakan Allah, “Wa khuliqol-insaanu dho’iifaa.” (QS An Nisaa ayat 28)

Namun di sini Allah azza wa jalla menyatakan bahwa kita selalu dalam pencarian. Kita selalu menginginkan sesuatu. Setiap orang menginginkan sesuatu di dalam hidupnya. Seorang pemuda ingin menikahi seorang wanita. Seseorang ingin lulus kuliah, yang lain ingin punya rumah. Yang lain ingin punya kartu hijau/kewarganegaraan (Green Card, kewarganegaraan Amerika Serikat -red). Seseorang ingin pindah dari apartemen ke rumah yang lebih bagus. Seseorang ingin punya mobil yang lebih bagus. Ada banyak keinginan, kita ingin anak-anak kita lebih baik di sekolah. Ada daftar keinginan dalam kehidupan kita.

Dan ketika kita menginginkan semua ini maka kita harus pergi kepada mereka yang memilikinya. Dan konsep dari – kita berpaling kepada Allah adalah bahwa Allah adalah Ar-Razaak -. Dialah yang memiliki segalanya, Dia memiliki kunci ke semua hal, apa yang Anda inginkan mintalah kepadaNya. Sama juga dengan agama lainnya, semua orang meminta kepada penguasa yang lebih tinggi, sebentuk Tuhan, sebentuk ide. Ada yang hanya meminta uang, satu-satunya yang dikejar adalah uang.

Dan Allah mengatakan dalam ayat ini bahwa segala sesuatu selain Allah, Tuhan apapun tempat Anda berpaling selain Allah pada dasarnya lemah. Tapi nyatanya apapun yang Anda cari, meski satu sama lain meski Anda hanya menginginkan pertolongan dari sesama, dan apapun hasrat Anda, “mathluub” itu menarik karena mengacu kepada Tuhan namun juga mengacu kepada hasrat Anda, hasrat Anda yang juga lemah. Anda lemah, dan apa yang Anda inginkan juga lemah. Itulah realita Anda.

Apa yang sangat Anda inginkan? Mobil? Ok, Anda sudah lama berpikir tentang mobil ini, Anda tonton trailer dan videonya, oh ada trailer baru, dan ini Anda tonton juga. Anda pesan katalog online, mereka kirimkan pada Anda Anda buka halamannya setiap saat. Salah satu dari mobil itu lewat dan dunia seakan terhenti bagi Anda… Tapi bagaimana setelah Anda memperolehnya? Andaikan saja Anda sudah memperolehnya… Anda akan gila dengan mobil itu selama seminggu, 2 minggu, setahun? Takkan lama lagi Anda akan melihat sampah dalam mobil itu, dan orang akan menaiki mobil itu dan berkata,

Ya Tuhan, kamu tak peduli?

Ya, sudah lama saya belum sempat ke tempat cuci mobil.

Mobil yang sama yang dulu membuat Anda gila. Anda tidak menghargainya lagi, dalam waktu yang sangat singkat… Hasrat yang dulu menguasainya Anda sangatlah lemah, sekarang dia sudah hilang. Hilang disapu angin, tak ada lagi… Yang suatu saat pernah menguasai seluruh pikiran Anda. Itulah kelemahan manusia, “Dho’ufath-thoolibu wal-mathluub.” (QS Al Hajj ayat 73)

Dan setelah membuat pernyataan ini, jika berpikir tentang diri kita sendiri dan hal-hal yang kita kejar. Seperti saat Anda puasa, yang Anda pikirkan cuma makanan. Tapi sesaat setelah Anda selesai makan atau pada sebagian besar Anda kebanyakan makan Anda bahkan tak mampu lagi melihat makanan yang sama. Makanan yang sama yang telah menyerbu Anda. Pikiran tentang makanan itu telah menguasai hati dan jiwa Anda, dan sekarang bahkan untuk melihatnya saja sudah tak mau, apalagi memakannya. Seseorang menawarkan Anda makanan dan Anda menolaknya… Sebegitu lemahnya hasrat Anda, “Dho’ufath-thoolibu wal-mathluub.” (QS Al Hajj ayat 73)

Tragedi Umat Manusia

Sekarang Allah membuat pernyataan yang kuat, “Maa qodarulloha haqqo qodrih.” (QS Al Hajj ayat 74)

Mereka tidak menghargai Allah selayaknya. Dengan kata lain, jika Anda baru saja belajar untuk mencari Allah, jika Anda baru saja belajar untuk membuatNya senang, jika Anda bisa, semua hasrat Anda ada di sana… Namun jika Anda bisa menempatkanNya di atas segala hasrat itu dan hanya ingin membuatNya senang dalam hidup Anda, maka Anda akan menyadari satu-satunya hal yang akan memberi Anda kekuatan. Allah azza wa jalla menggambarkan dirinya dalam ayat ini,

Innalloha laqowwiyyun ‘aziiz.” (QS Al Hajj ayat 74) (Juga terdapat di QS Al Hajj ayat 40 dan Al Hadid ayat 25 -red)

Allah pada intinya bersamamu. Yang memiliki segala kekuasaan. Mengapa Dia menggambarkan diriNya seperti ini? Ini sebenarnya berlawanan dengan ayat sebelumnya di mana Dia menggambarkan diri saya dan segala yang saya kejar, dan semua berhala-berhala yang saya sembah lemah. Kelemahan mereka kontras dengan kekuatanNya. Manusia takkan menemukan kekuatan hingga mereka belajar mencari Allah. Jika tidak mereka akan tetap lemah tak peduli berapa berotot dan sejahteranya Anda, tak peduli berapa besar pengaruh sosial dan politik Anda, Anda tetap lemah.

Ada sebuah kekosongan dalam diri Anda yang hanya bisa dipenuhi jika Anda mencari kesenangan Allah azza wa jalla. Ini menjadi cara memandang kehidupan bahwa Anda dalam sebuah perjalanan, dan perjalanan itu berakhir dengan, “Wa anna ilaa robbikal-muntaha.” (QS An Najm ayat 42)

Perjalanan yang berakhir dengan pertemuan Anda dengan pencipta Anda. Dan Anda bersiap-siap untuk pertemuan itu. Sama seperti saat Anda mempersiapkan sebuah presentasi di kantor dan Anda ingin membuat bos Anda senang, maka sebelumnya Anda akan terus bekerja keras karena Anda ingin memberi kesan baik pada presentasi itu. Kita semua sedang bersiap-siap menghadapi presentasi di hadapan Allah. Hidup kita terus berlanjut, terus bergerak.

Kaadihun ilaa robbika kad-han fa mulaaqiih.” (QS Al Insyiqaq ayat 6)

Kamu terus bergerak menuju Tuhanmu, dan kamu akan bertemu denganNya. Dan sebaiknya kamu berada dalam perburuan mencari kesenanganNya, jika kamu bisa melakukannya, semua hal yang membuatmu lemah akan menempati urutan terakhir. Dan kamu akan menemukan kekuatan yang tak pernah kau temui sebelumnya.

Jika ini benar-benar menjadi pola pikir Anda, apa yang akan terjadi? Semua godaan terhadap Anda, para pemuda tergoda oleh narkoba, yang lain oleh alkohol, atau oleh lawan jenis, yang lain oleh teman yang buruk. Ini semua adalah godaan yang sangat kuat, namun jika Anda bisa menggantikannya dengan saya punya tujuan yang lebih tinggi, maka Anda akan menyadari betapa lemahnya godaan itu. Godaan itu takkan mempengaruhi Anda lagi, Anda takkan selemah dulu lagi sehingga terjerat olehnya, oleh kekuatan yang menarik itu seperti dulu. Karena ada sesuatu yang lebih kuat menarik Anda menuju diriNya, itulah Allah azza wa jalla sangat jauh lebih kuat.

Ini, “Innalloha laqowwiyyun ‘aziiz.” (QS Al Hajj ayat 74) (Juga terdapat di QS Al Hajj ayat 40 dan Al Hadid ayat 25 -red)

Tapi dalam pernyataan ini Allah juga menggambarkan tragedi manusia, sebagian besar manusia tidak mampu untuk mereka tak mampu untuk menghargai Allah, mereka terjebak dalam hal-hal yang lemah ini. Mereka melupakan fakta bahwa mereka ditempatkan di bumi ini untuk berusaha menuju pertemuan, sebuah pertemuan yang sukses dengan Allah sekali lagi. Perhatian mereka terbagi dan itu adalah tragedi umat manusia, yang tidak menghargai kenyataan bahwa bahkan di kehidupan ini, – bukan hanya bertemu denganNya di akhirat -, bahkan di kehidupan ini jika kita sudah menjadikan Allah prioritas kehidupan ini akan menjadi lebih baik.

Bahkan kepada Bani Israil dikatakan, “Walau annahum aqoomut-tauroota wal-injiil.” (QS Al Maidah ayat 66)

Jika mereka mampu untuk menjalankan Taurat dan Injil jika mereka mampu hidup berdasarkan apa yang telah diberikan Allah kepada mereka.

La’akaluu min fauqihim wa min tahti arjulihim.” (QS Al Maidah ayat 66)

Maka mereka akan memperoleh makanan dari atas dan dari bawah. Allah akan selalu menjaga mereka dalam kehidupan ini. Mereka akan memiliki kehidupan yang baik di dunia. Akan tetapi… – apa yang ditawarkan Allah kepada Anda?- Dia menawarkan untuk memberi segala yang Anda inginkan. Tapi meski semua itu sudah di tangan Anda, semua itu takkan ada di hati Anda. Karena Allah akan selalu menjadi “mathluub” bagi Anda. Dengan kata lain memberi Anda rezeki tidaklah sulit.

Jika Anda cermati di dalam sirah nabi shalallahu alaihi wasallam masalah terbesar adalah mengendalikan wilayah. Jika itu adalah masalah terbesar, seperti jika kita menguasai Makkah kita bisa membersihkan berhala-berhala.

Jadi jika kita menguasai sebuah wilayah, maka segalanya akan lancar. Bagaimana Allah menggambarkan penguasaan wilayah?

Wa ukhroo lam taqdiruu ‘alaihaa qod ahaathollaahu bihaa.” (QS Al Fath ayat 21)

Wa ukhroo tuhibbuunahaaa nasrun minallohi wa fat-hun qoriib.” (QS Ash Shaff ayat 13)

Wilayah lain yang bukan prioritas yang belum kamu kuasai, Allah sudah mengatasinya. Pertolongan Allah yang datang bukanlah prioritasmu, mengapa? Karena ini dunia, bukan sesuatu yang penting. Pertolongan itu akan datang juga. Anda punya tujuan yang lebih besar, yakni,

Tijaarotin tunjiikum min ‘adzaabin aliim.” (QS Ash Shaf ayat 10)

Itulah yang lebih besar, sebuah prioritas, perniagaan yang akan Anda lakukan dengan Allah, yang akan menyelamatkan Anda dari hukuman yang sangat menyakitkan.

Ini adalah pesan kepada umat manusia, dan Allah azza wa jalla ingin meminta manusia untuk menerima pesan ini. Namun jika Anda menerima pernyataan Allah ini mereka tidak menghargai Allah semestinya. Ini mungkin pernyataan kebenaran dalam sejarah dari bangsa demi bangsa dari umat manusia. Individu dan bangsa, keluarga dan suku, budaya melewati batas wilayah, pada umumnya umat manusia sepertinya adalah mereka yang tidak menghargai Allah semestinya.

Ummatan Wasathon

Dalam rangka mengembalikan umat manusia kepada kebenaran yang dilakukan Allah secara terus menerus adalah mengirimkan para rasul. Membantu mereka untuk bisa menghargai Allah semestinya. Tapi mengapa proses ini terhenti, jika Dia tetap mengirimkan rasul-rasul.

Likulli qoumin haad.” (QS Ar Ra’d ayat 7)

Setiap bangsa setidaknya punya satu rasul. Dia akan menurunkan rasul dengan bahasa dan budaya yang sama dengan penduduk tujuannya.

Mengapa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah rasul terakhir? Untuk itu pada menit terakhir khutbah ini saya ingin memberikan sesuatu untuk direnungkan. Allah azza wa jalla ingin semua manusia untuk memiliki kesempatan memperoleh petunjuk. Dia tak ingin membiarkan umat manusia di luar jangkauan petunjuk.

Bagian dari mengirimkan rasul-rasul, pada suatu titik, Allah azza wa jalla memutuskan bahwa Dia akan memilih khususnya keluarga Ibrahim alaihi wassalam dalam keluarga Ibrahim. Dia tak hanya menginginkan rasul saja untuk mewakiliNya dan memanggil manusia kepadaNya, tapi Dia ingin seluruh bangsa itu melakukannya.

Jadi dipilihNya Bani Israil agar dapat memberikan ajaran Allah kepada semua manusia sehingga tidak lagi hanya menjadi tugas seorang rasul tapi sekarang sebuah bangsa bisa menyeru bangsa lain menuju Allah. Sebuah bangsa akan menggambarkan apa artinya menjadikan Allah Al-Mathluub.

Namun mereka terus menerus gagal, hingga akhirnya Allah memberikan tanggung jawab itu kepada garis keturunan lain dari Ibrahim alaihissalam. Melalui Ismail, pesan ini sampai kepada Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Saat pesan ini di tangan beliau, ketika Quran ini diberikan kepadanya, Allah azza wa jalla juga memberikan tanggung jawab untuk memperbolehkan manusia untuk menemukan Allah dan menjadikannya “matluub”. Dan menghargaiNya semestinya. Dia memberikan tanggung jawab itu dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam kepada anak-anak Ismail pada saat itu, kepada penduduk Bakkah (Makkah), penduduk Madinah, bangsa Arab di wilayah ini.

Saat Dia memberikan tanggung jawab ini, salah satu frasa yang digunakannya adalah “Ummatan wasathon.” (QS Al Baqarah ayat 143)

Umat pertengahan, bangsa pertengahan. Ini berarti banyak hal, namun salah satu yang paling mendekati yang baru saya temukan adalah kenyataan bahwa mereka berada di tengah-tengah antara Allah dan rasulnya di satu sisi, dan seluruh umat manusia pada sisi yang lain. Merekalah umat pertengahan. Mereka seharusnya menyampaikan ajaran ini kepada seluruh manusia lain. Seperti mikrofon ini, gunanya untuk mengambil suara saya dan menyampaikannya kepada Anda semua. Orang-orang yang dipilih oleh Allah ini seharusnya menjadi mikrofon yang menyampaikan pesan Allah ke seluruh manusia.

Penerima Pesan Islam Bertanggung Jawab Untuk Menyampaikannya

Dan seraya menyampaikan pesan ini, maka siapapun yang menerima pesan ini akan menjadi bagian gerakan ini. Mereka akan ikut serta dalam gerakan ini.

Jadi pada saat nenek moyang Anda atau Anda sendiri bersyahadat, Anda ikut serta dalam misi yang sama yang diberikan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan melaluinya turun tanggung jawab itu kepada kita.

Jadi pada akhir surah ini sekaligus menutup khutbah perhatikan apa yang dibicarakan.

Liyakuunar-rosuulu syahiidan ‘alaikum wa takuunu syuhadaaa’a ‘alan-naas.” (QS Al Hajj ayat 78)

Maka Rasul bisa menjadi saksi melawanmu. Rasul shalallahu alaihi wasallam… saya kira dia menjadi saksi untuk kita, saya pikir pada hari kiamat dia akan memohon ampunan atau syafaat untuk kita, mengapa Quran menyatakan dia menjadi saksi melawan kita? Quran menyatakan ini pada berbagai kesempatan termasuk dalam kesimpulan surat Hajj.

Mengapa? Karena kepada kita diberitahukan bahwa kita sudah menerima sebuah tanggung jawab besar. Dan Allah akan menantang rasulnya; Apakah kamu sudah melaksanakan tugasmu? Apakah kamu sudah menyampaikannya? Dan Rasulullah menjawab saya sudah memberikan kepada mereka. Begitu dia menyatakan sudah saya berikan kepada mereka, siapa yang akan bertanggung jawab? Anda semua. Karena begitu pesan itu sampai kepada Anda dan saya, sekarang kita terkena tanggung jawab.

Dengan kata lain saat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata saya sudah menjalankan bagian saya, maka sekarang hanya tinggal interogasi Anda dan saya. Dan itu, “Syahiidan ‘alaikum.” (QS Al Hajj ayat 78). Melawan Anda.

Dan di atas semua itu sekarang tugas Anda, “Wa takuunu syuhadaaa’a ‘alan-naas.” (QS Al Hajj ayat 78)

Dan saat Allah menginterogasimu dan berkata; mari kita dengar apa yang akan kamu katakan. Anda seharusnya memperkenalkan seluruh dunia kepada Allah, Anda dijadikan saksi melawan seluruh umat manusia. Dan satu-satunya cara Anda dan saya untuk melakukannya adalah dengan mengatakan, “Ya Allah kami telah menunjukkan keindahan agamaMu, kekuatan bukuMu, dan warisan RasulMu shalallahu alaihi wasallam dalam setiap perkataan dan perbuatan yang bisa kami lakukan. Kami adalah duta dari keyakinan ini, kami bahkan tak harus membuka mulut, manusia akan melihat kami dan berkata ini adalah warisan Ibrahim alaihissalam, ini adalah orang-orang yang mengingatkanku kepada Tuhan. Jadi kami sudah melakukan tugas kami.

Dan jika kita bisa melakukan itu, maka interogasi berikutnya adalah kepada umat manusia. Jadi interogasi pertama adalah kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Yang kedua adalah kepada diri kita sendiri, dan terakhir kepada umat manusia.

Tapi tunggu dulu, Anda tak bisa masuk ke tahap terakhir jika kita tidak melaksanakan tanggung jawab kita. Mereka punya interogasi sendiri, begitu juga kita. Kita juga harus bertanggung jawab kepada Allah. Agama kita ini bukan hanya tentang menjadi orang yang lebih baik, tapi memang dimulai dari situ, merubah “mathluub” Anda kepada Allah. Merubah hasrat Anda, apa yang Anda cari, apa yang ingin Anda lakukan dalam hidup untuk semata-mata membuat Allah senang. Itu adalah sebagian dari persamaannya.

Tapi begitu hal itu terjadi, maka Anda dan saya harus menjadi pembawa keyakinan ini. Menjadi pembawa tidak berarti semuanya harus berkhotbah, turun ke jalan dan berusaha memuslimkan seseorang atau semacamnya. Tapi sesungguhnya ini berarti Anda menggambarkan diri sebagai panutan agama ini dalam cara hidup Anda. Hanya dengan bagaimana Anda membawa diri Anda menarik perhatian.

Yusuf alahissalam tidak berkhotbah dalam penjara. Tidak, dia hanya menjadi dirinya sendiri. Dan masyarakat memperhatikan, lalu datang dan memintanya untuk menafsirkan mimpi, karena menganggap dia orang yang mungkin memahaminya. Dia bahkan tak memasang plang “Penafsir Mimpi, Sel Blok 9“, tak ada iklan. Tak ada iklan atau dakwah bahwa dia bisa menafsirkan mimpi. Hanya dari caranya membawa diri bahkan para kriminal tertarik. Anda perhatikan? Bahkan para kriminal tertarik, dan ingin berbincang dengannya. Hanya dari cara kita membawa diri. Ini bukan hanya tentang imej, tapi juga tentang meninggalkan teladan setelah kita. Jadi, “Litakuunuu syuhadaaa’a ‘alan-naas.” (QS Al Baqarah ayat 143)

Mempersiapkan Pertemuan Dengan Allah

Bagaimana kita pempersiapkan diri untuk melakukan hal ini? Langkah apa yang pertama akan kita lakukan? Saya tinggalkan Anda,

Fa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaata wa’tashimuu billaah.” (QS Al Hajj ayat 78)

Secara praktis adalah menegakkan sholat, menjadikan shalat sebagai institusi dalam hidup Anda. Shalat akan memberi Anda kekuatan dan prioritas yang benar, yang akan merubah mindset Anda. Tunaikan zakat, ini menunjukkan bahwa cara Anda memperoleh dan membelanjakan uang Anda harus berubah. Jadi pada dasarnya rubahlah kehidupan spiritual dan finansial Anda.

Wa’tashimuu billaah.” (QS Al Hajj ayat 78)

Dan berpeganglah teguhlah (untuk kehidupan) kepada Allah. Berpegang kepada Allah adalah mustahil tanpa berpegang kepada bukuNya. Tafsir “Wa’tashimuu billaah.” (QS Al Hajj ayat 78) ada di dalam Quran itu sendiri,

Wa’tashimuu bihablillaah.“ (QS Ali Imran ayat 103) (pada tali Allah -red)

Berpegang kepada tali Allah, menjadi orang-orang yang shalat, menjadi orang yang bersih pendapatannya dengan memberi. Dan di atas semua itu menjadi orang yang berpegang teguh kepada Quran.

Wa’tashimuu billaah, huwa maulaakum.” (QS Al Hajj ayat 78)

Dialah teman yang melindungi dan menjagamu, Dialah satu-satunya yang menjagamu, memeliharamu.

Fa ni’mal-maulaa.” (QS Al Hajj ayat 78)

Betapa Dia pelindung yang luar biasa. Dan kata-kata terakhir yang paling indah,

Wa ni’man-nashiir.” (QS Al Hajj ayat 78)

Betapa Dia adalah penolong yang luar biasa dan terus menerus.

Dengan kata lain Dia memberimu sebuah misi yang luar biasa besar. Ini bukan misi yang mudah. Ini bukan perubahan yang bisa dengan mudah diimplementasikan dalam kehidupanmu. Dan kamu bertanggung jawab, karena saya dan Anda secara bersama-sama bertanggung jawab atas beban yang sama dan dulu pernah dibebankan di pundak Muhammad Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Dari satu pundak ke semua pundak kita, dan beban itu masih terasa berat. Padahal dulu cuma pada satu pundak saja shalallahu alaihi wasallam. Tapi sekarang beban itu berada di pundak kita semua. Meskipun berada di atas pundak kita, sudah jelas kita tak mampu menanggungnya sendiri. Jadi apa yang dikatakan Allah?

Wa ni’man-nashiir.” (QS Al Hajj ayat 78)

Betapa Dia adalah penolong yang luar biasa. Anda berjalan selangkah maka Dia akan membuka pintu, Dia akan menolong Anda dan saya.

Secara pribadi dan sebagai ummat tunaikanlah kewajiban ini. Dengan sampainya kita ke akhir Ramadhan dan memperingati turunnya wahyu kita memperingati tuntutan tanggung jawab yang dibebankan kepada Anda dan saya, itulah yang akan kita peringati. Kita takkan merayakan bahwa kita tak perlu merasa lapar lagi di siang hari. Kita memperingati fakta bahwa kita dipilih oleh Allah Anda dan saya dipilih oleh Allah,

Huwajtabaakum.” (QS Al Hajj ayat 78)

Dia memilih Anda, Dia menyeleksi setiap diri Anda pantas untuk misi ini, pantas untuk tugas ini. Andalah orang-orang yang akan membawa tugas dariNya ini hingga hari pembalasan.

Semoga Allah azza wa jalla membuat kita menyadari tanggung jawab ini, melaksanakannya dengan kemampuan terbaik kita, dan meneruskan tanggung jawab ini kedepan dengan ihsan kepada generasi penerus kita. Barakallaahu lii wa lakum fil quraanil hakiim, wanafa’ni wa iyyakum bil aayaati wa dzikril hakiim.

Alhamdulillaahi wakafaa washalaatu washalaamu ‘alaa ‘ibaadihi alladzii ishthofaa, khushuushaan ‘alaa afdhaalihim wa khaatamin nabiyyiin muhammadinil amiin wa ‘alaa aalihi washahbihii ajma’iin.

Yaquulullaahu ‘azza wa jalla fii kitaabihil kariim ba’da ‘an aquula, a’udzubillaahi minasysyaitaanirrajiim.

Innallaaha wamalaaikatahu yushalluuna ‘alannabii, yaa ayyuhalladziina aamanuu shallu ‘alaihi wa sallimu tasliimaa.

Allaahumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘ala ‘aali muhammad, kamaa shallaita ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa ‘aali ibraahiim, fiil ‘aalamiin innaka hamiidun majiid. Allaahumma baarik ‘alaa muhammadin wa ‘alaa ‘aali muhammad, kamaa baarakta ‘alaa ibraahiim wa ‘alaa ‘aali ibraahiim, fiil ‘aalamiin innaka hamiidun majiid.

‘Ibadullaah, raahimakumullah, ittaqullah.

Innallaaha ya’muru bil’adli walihsaan, wa itaaidzilqurba wa yanha ‘anilfahsyaai wal munkar, wala dzikrullahi akbar wallahu yaslamuuma tasna’uun. Aqimisshalaah, innasshalaata kaanat ‘alalmu’miniina kitaaban mauquuta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s