[Transkrip Indonesia] Ali bin Abi Thalib (#Tawakal) – Omar Suleiman – Quran Weekly

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, Quran Weekly. Kembali lagi di serial Superstar.

Hari ini kita akan berbicara tentang sahabat yang Imam Ahmad rahimahullah katakan
memiliki banyak kebajikan yang diriwayatkan tentang dia dibandingkan Sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang lain.

Dan itu tidak lain adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu taala ‘anhu. Menantu Nabi shallallahu alaihi wasallam dan sepupu Nabi shallallahu alaihi wasallam dan khalifah keempat orang beriman (khulafaur rasyidin -red).

Ali radhiyallahu taala ‘anhu menunjukkan kepada kita banyak kualitas sebagaimana para Sahabat lain. Tetapi jika ada satu hal yang dapat saya tunjukkan tentang Ali radhiyallahu taala ‘anhu adalah Tawakalnya yang sangat luar biasa dan ketergantungannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sekarang bayangkan, dia hidup dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam sejak usia 9 tahun. Dan ia berkata, saya akan mendukung Anda, ketika tidak ada orang lain mendukung Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Dan semua keluarga Nabi shallallahu alaihi wasallam telah meninggalkanya. Jadi Ali radhiyallahu taala ‘anhu memiliki rasa cinta terhadap agama. Dan keinginan untuk melindungi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan untuk melayani Nabi shallallahu alaihi wasallam, pada usia yang masih sangat muda seperti banyak pemuda lainnya dari para Sahabat.

Tapi Ali radhiyallahu taala ‘anhu memiliki sifat tawakal yang sangat menakjubkan. Dan itu mungkin kejadian yang paling menunjukkan sifat ini adalah pada saat Nabi shallallahu alaihi wasallam akan berhijrah. Di mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam perintahkan Ali untuk tidur di tempat tidurnya (tempat tidur rasulullah -red).

Dan dia tahu bahwa kaum musyrikin akan datang ke rumah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan membawa 7 orang dari berbagai suku untuk membunuh Nabi shallallahu alaihi wasallam supaya mereka tidak bisa menyalahkan satu suku atau satu kelompok orang atas kematiannya.

Jadi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menempatkan Ali dalam posisi itu. Dan berapa umur Ali saat itu? 18 tahun.

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam memintanya menggantikan tidur di tempat tidurnya. Anda bertanya dalam hati, mengapa Nabi shallallahu alaihi wasallam melakukan itu? Karena, seandainyapun Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak ada di rumah karena dia tahu rencana mereka, apa gunanya ada orang lain yang menggantikan di tempat tidur itu? Jadi mungkin Anda berpikir, apa maksud dan tujuan dari semua ini?

Hal kedua adalah bahwa kita tahu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melihat kaum musyrikin, musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala di luar rumahnya. Dan Allah subhanahu wa ta’ala menyebabkan mereka menjadi lumpuh dan tidak mampu berbuat apa-apa kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Sebenarnya, yang Nabi shallallahu alaihi wasallam lakukan adalah beliau mengambil pasir lalu melemparkannya di wajah mereka dan berkata, “شاهة الوجوه” [syaahatul wujuuh] – wajah-wajah dipermalukan.

Jadi, mengapa Ali radhiyallahu taala ‘anhu diminta untuk menggantikan di tempat tidur Nabi shallallahu alaihi wasallam? Dan jawaban sebagian ulama adalah bahwa ini adalah ujian iman bagi Ali, bukan ujian bagi Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Jadi Ali radhiyallahu taala ‘anhu malam itu pergi tidur di tempat tidur ini dan tahu bahwa ia akan diserang oleh sekelompok orang. Tapi Ali radhiyallahu taala ‘anhu apa yang dia katakan malam itu?

Dia berkata, “Saya tidur sepanjang malam dan bahkan waktu itu adalah tidur terbaik yang pernah saya rasakan dalam hidup saya.

Dia pergi tidur malam itu dan ketika orang-orang masuk dan menerobos ke dalam rumah dan mereka hanya menemukan Ali radhiyallahu taala ‘anhu dan ketika mereka melihat bahwa itu adalah Ali, bukan Nabi shallallahu alaihi wasallam mereka semua berhenti dan tidak melakukan apapun padanya.

Mengapa mereka tidak melakukan sesuatu padanya? Mengapa tidak Allah subhanahu wa ta’ala izinkan mereka untuk membunuh Ali? Padahal mereka ini adalah orang-orang yang brutal. Jika mereka tidak mendapati Nabi shallallahu alaihi wasallam, bisa saja mereka membunuh anak iparnya sebagai pesan kepadanya dan kepada para sahabatnya dan juga keluarga besar Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Tapi Allah subhanahu wa ta’ala menghargai tawakalnya dan kepercayaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan kemenangan di saat itu. Dan begitu Ali radhiyallahu taala ‘anhu meninggalkan rumah itu, ia tersenyum tanpa sedikitpun merasakan efek dari serangan itu karena ia memiliki keyakinan kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang memungkinkan dia untuk menang atas lawan-lawannya.

Kita melihat ini di seluruh pertempuran yang diikuti Ali bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Kita lihat bahwa Ali selalu ikut, baik dalam perang Badar dan Uhud dan semua perang lainnya. Bahkan, dalam Pertempuran Khandaq, ada sesuatu yang sangat menarik terjadi. Ada seorang pria dari kaum musyrikin dengan nama ‘Aamir bin Abdi-Wud.

‘Aamir bin Abdi-Wud itu adalah Bogeyman-nya orang Quraisy. (Bogeyman – semacam istilah untuk monster atau hantu di budaya barat, red.)

Dia orang yang berbadan besar dan dia adalah seseorang yang begitu menakutkan dan dia juga prajurit yang sangat menakutkan sehingga bahkan orang-orang biasa menakut-nakuti anak-anaknya dengan ‘Aamir bin Abdi-Wud. Ini tidak seperti monster kue di dalam lemari, monster kue di dalam lemarimu. Monster kue sebenarnya tidak menakutkan.

Tapi, “‘Aamir bin Abdi-Wud ada di lemarimu, dia ada di bawah tempat tidurmu. Jadi, sebaiknya kamu hati-hati…

Mereka biasa menakut-nakuti orang dengan ‘Aamir bin Abdi-Wud. Jadi dia adalah seorang penunggang kuda yang tangguh. Dan ia keluar menemui kaum muslimin selama Pertempuran Khandaq. Dan ia mengejek orang-orang mukmin dari belakang parit dan berkata,

Siapa di antara kalian yang akan keluar dan melawan saya agar saya dapat mengirimnya ke Jannah yang ia yakini?

Kalian percaya Surga? Mari saya kirim Anda ke surga. Aku akan antar kalian ke sana dengan cepat.

Dan pasukan Muslim hening…

Lalu Ali radhiyallahu taala ‘anhu berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Ya Rasulullah izinkan aku pergi!

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata, “Tunggu sebentar wahai Ali.

Dan ‘Aamir bin Abdi-Wud terus memanggil hingga akhirnya Nabi shallallahu alaihi wasallam mengizinkan Ali radhiyallahu taala ‘anhu untuk pergi. Dan ketika Ali berjalan menuju pria besar ini.

Orang ini benar-benar orang yang menakutkan dan memiliki begitu banyak pelindung di badannya (armor – semacam pakaian pelindung perang -red) sehingga akan butuh waktu lama untuk melukainya.

Lalu Ali radhiyallahu taala ‘anhu berjalan ke arahnya dan orang itu, ‘Aamir bin Abdi-Wud melihat dia dan berkata,

“يا إبن أخي لا أريد أن أقتلك” [yaa ibnu akhi, laa uriidu an ‘aqtulak] “Wahai keponakanku, aku tidak ingin membunuhmu.

Maksud saya, saya ingin membunuh salah satu pemimpin besar umat Islam, sedangkan kau hanya anak-anak. Kau anak dari saudaraku Abu Thalib. Dan Ali radhiyallahu taala ‘anhu berkata, “Tidak, tapi Anda tak mengerti. Saya sangat ingin membunuhmu.

Jadi pertempuran terjadi antara dua orang ini. Dan keadaannya saat itu adalah tak satu pun dari umat Islam bisa melihat apa-apa karena mereka bertempur di dalam parit. Dan yang bisa mereka dengar adalah suara pedang dan suara pakaian perang (armor).

Dan mereka melihat debu beterbangan dan orang-orang bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Ali radhiyallahu taala ‘anhu. Apa hasil dari pertempuran ini? Sampai mereka melihat setelah itu bahwa Ali radhiyallahu taala ‘anhu menang atas ‘Aamir bin’ Abdi-Wud dengan diteriakannya, “Allahu Akbar!

Dan ketika ia kembali ke pasukan Islam, Umar bin Al-Khattab radhiyallahu taala ‘anhu bertanya kepada Ali radhiyallahu taala ‘anhu.

Kenapa kau tidak mengambil pakaian pelindung perangnya (armor)?

Dia memiliki pakaian perang (armor), kenapa kau tidak mengambilnya?

Dan ia (Ali) berkata, “Karena setiap kali aku memukulnya, auratnya terbuka.

Dan aku terlalu malu untuk mengambil pakaian perangnya (yang membuat auratnya akan terlihat -red).

Subhanallah! Jadi dia meninggalkannya dalam situasi itu. Dan ini menunjukkan ketawakalan orang ini, dan juga keberaniannya.

“أنا الذي سمته أم حيدر” [ana-lladzii samathu ummu Haydar] – “Akulah yang diberi nama oleh ibuku sang singa.

Dan Subhanallah dia benar-benar menunjukkan bahwa dalam banyak hal. Itu sebabnya Nabi shallallahu alaihi wasallam memujinya pada begitu banyak kesempatan di antara banyak kebajikan lainnya.

Di Madinah, ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam memasangkan tiap sahabat dan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Pada saat itu, Ali radhiyallahu taala ‘anhu melihat semua orang sudah dipasangkan. Jadi Ali merasa sedih (karena tidak mendapat pasangan -red).

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Ali,

‘أنت أخي في الدنيا والآخرة’ [anta akhi fid-dunya wal akhirah]

Kamu adalah saudaraku, oh Ali, (baik) di dunia ini dan juga di akhirat.

Dalam pertempuran Khaybar. Ketika pertempuran sengit ini terjadi antara umat Muslim dan Banu Quraizhah. Dan Subhanallah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sudah mengirim beberapa sahabat untuk melalui beberapa pertempuran Khaybar. Tapi mereka masih belum mampu mengalahkan Bani Quraizhah.

Dan akhirnya suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, “Besok aku akan mempercayakan bendera ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dan dia juga dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam.

Jadi para Sahabat, mereka semua mulai menunjukkan kepala mereka kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan terus menunjukkan diri dihadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan harapan bahwa orang itu adalah mereka.

Tapi kemudian, di hari berikutnya Nabi shallallahu alaihi wasallam mempercayakan bendera itu kepada Ali radhiyallahu taala ‘anhu. Tapi Ali pada hari itu sedang sakit, ia terkena infeksi di matanya, jadi dia tidak bisa melihat dari salah satu matanya.

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam kemudian mengambil air liurnya dan menggosokannya pada mata Ali radhiyallahu taala ‘anhu. Dan Ali radhiyallahu taala ‘anhu pun sembuh. Dan dia berjuang dengan gagah berani di Khaybar. Bahkan dia sampai memegang sebuah pintu (gerbang) dalam Pertempuran Khaybar dengan satu tangan sementara ia bertarung dengan tangan yang lain.

Setelah ia menjatuhkan pintu (gerbang) itu, butuh 10 orang, butuh 10 orang untuk bisa mengangkat pintu itu dari tanah. Jadi Subhanallah, tawakal kepada Allah ini membuat dia untuk memiliki kekuatan yang di luar batas manusia.

Jadi ini adalah pelajaran yang bisa kita ambil. Pertama, bahwa kekuatan itu berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala.

“إن تنصروا الله ينصركم” [in tanshurullah yanshurkum] (QS Muhammad ayat 7)

Jika Anda menolong dan berjuang di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah juga akan menolong Anda. Bila Anda memiliki sifat tawakal yang benar, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengizinkan kita untuk menghadapi segala rintangan. Berapa banyak situasi yang kita temukan dalam kehidupan kita bahwa jika saja kita hanya percaya kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana seharusnya, semua urusan kita akan dilancarkan (oleh-Nya).

Sekarang, kualitas tawakal ini hanyalah satu di antara banyak kualitas lain dari Ali radhiyallahu taala ‘anhu. Tapi saya secara khusus ingin berbicara tentang kematiannya. Bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kehormatan kepada sahabat besar ini pada saat kematiannya.

Ali radhiyallahu taala ‘anhu saat itu sedang sholat Fajr/Subuh pada hari ke-19 Ramadan. Dan setelah shalat Subuh, ia dibunuh oleh salah satu Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Al-Muljam, yang menikam Ali radhiyallahu taala ‘anhu, tapi Ali radhiyallahu taala ‘anhu kemudian masih tetap hidup untuk beberapa waktu setelah penusukan itu.

Dan kemudian Allah subhanahu wa ta’ala baru mencabut nyawanya di 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Jadi Allah mengizinkan dia untuk hidup selama 3 hari agar Ali radhiyallahu taala ‘anhu bisa mati pada saat 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Dan Ali radhiyallahu taala ‘anhu bahkan di saat itu, Anda masih bisa melihat kasih sayang sang sahabat ini kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan cinta mereka akan persatuan umat Islam. Ali radhiyallahu taala ‘anhu berkata kepada anak-anaknya dan juga kepada orang-orang,

Bahwa jika kalian bunuh (menghukum) pembunuh saya, pastikan kalian hanya membunuhnya satu kali.

Jangan menghinakannya atau memutilasinya karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bahkan melarang itu dilakukan kepada anjing.

Dan Ali radhiyallahu taala ‘anhu, dia juga memerintahkan orang untuk tetap bersatu, tidak menumpahkan darah dalam perjuangan di jalan-Nya. Tetapi untuk selalu bersama-sama dan do’a itu kemudian menjadi kenyataan. Yaitu lewat anaknya Al-Hasan radhiyallahu taala ‘anhu. Bahwa ramalan Nabi shallallahu alaihi wasallam menjadi kenyataan.

Beliau bersabda, “إن ابني هذا لسيد” [inna’ ibni haadzaa lasayyid] – Bahwa anak saya ini, Al-Hasan radhiyallahu taala ‘anhu, adalah seorang pemimpin besar.

Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala, “أن يصلح به فئتان عظيمتان من المسلمين” [an yuslah bihi fiataan ‘adziimataan min-al Muslimin] – Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan memperbaiki urusan dua tentara besar umat Islam dan akan menyatukan mereka bersama-sama di bawah bendera Islam. Karena pada akhirnya, mereka adalah orang beriman.

Kita berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengasihi Ali radhiyallahu taala ‘anhu. Dan agar menggabungkan kita dengan beliau dan para sahabat besar lainnya. Dan juga bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam di tingkat tertinggi Jannah, jannat-ul-Firdaus . Allaahumma aamiin. Kita bertemu lagi minggu depan insyaAllah Jazakumullahu khairan. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

—-
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, Quran Weekly. Kami memohon perhatian dan bantuan dari Anda sejenak. Kalau kalian merasa video ini bermanfaat. Silahkan like dan bagikan video ini di Facebook dan Twitter Anda. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan di dalam Shahih Muslim.

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا

Barang siapa yang memulai perbuatan baik, dan mengajak orang lain juga untuk melakukan hal yang sama, maka dia juga akan mendapatkan ganjaran baginya dan juga ganjaran bagi setiap orang yang mengikutinya in syaa Allah (HR. Muslim No. 1017).

Jadi jika ada orang lain yang merasakan manfaat dari video ini, Anda juga akan mendapatkan ganjaran sebagaimana presenternya in Syaa Allah, dan juga seperti produsernya. Jadi silahkan, like dan bagikan video ini. Jazakumullahu khairan. Wassalaamualaikum wa rahmatullah wabarakatuhu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s