[Transkrip Indonesia] Thalhah bin Ubaidillah (#Kesempurnaan) – Omar Suleiman – Quran Weekly


Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, Quran Weekly. Masih bersama saya Omar Suleiman dan kami terus sekarang dengan Superstars Series. Sekarang, ketika kita melihat ke dalam Sirah Nabi shallallahu alaihi wasallam, ada dua nama yang sering dikaitkan bersama-sama dan bahkan Anda dapat berpendapat bahwa mereka selalu bersama-sama.

Mereka adalah Thalhah bin Ubaidillah dan Az Zubair bin Awwam radhiyallahu taala ‘anhuma. Kedua sahabat ini memiliki tempat yang sangat khusus bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Bahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata tentang Thalhah dan Az-Zubair bahwa mereka adalah berdua tetangga saya di Jannah. Mereka akan menjadi tetangga saya di surga.

Jadi mari kita coba melihat bagaimana kehidupan Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu dan apa kualitas khusus yang bisa kita ambil dari hidupnya. Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu, dia bercerita tentang bagaimana dia mengenal Islam. Dia berasal dari suku yang sama dengan Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu taala ‘anhu, suku Tamim. Dia adalah seorang pedagang.

Jadi ia mengatakan bahwa ia berada di Suriah ketika ia melihat bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam telah meninggalkan As Syam. Dan seorang biksu telah memberitahu Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah Rasulullah.

Jadi Thalhah berjalan kembali ke Makkah dan ia bertanya kepada masyarakat, “Apa yang terjadi selama aku pergi?

Jadi mereka berkata, “Muhammad shallallahu alaihi wasallam mengaku sebagai Nabi.

Jadi Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu pergi menemui kerabatnya, Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu taala ‘anhu. Dan dia berkata, “Apakah Anda mendengar tentang apa yang dikatakan oleh Muhammad shallallahu alaihi wasallam?

Dan dia berkata, “Ya.

Dan Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu taala ‘anhu berkata, “Dia mengajak kepada kebenaran, dan Anda harus mengikutinya juga.

Jadi Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu berkata, “Kalau begitu, sekarang juga saya menjadi seorang Muslim.

Sekarang Thalhah dan Abu Bakar adalah laki-laki yang punya kedudukan tinggi dalam masyarakat. Hanya saja Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu lebih muda; dia baru berumur delapan belas tahun saat itu. Namun keduanya juga tetap disiksa.

Dan cara Quraisy menyiksa orang-orang yang berkedudukan tinggi dalam masyarakat adalah bahwa mereka tidak akan menyiksa mereka di depan umum. Tetapi mereka akan menentukan salah seorang dalam keluarga mereka untuk menyiksanya.

Jadi orang yang bertanggung jawab atas Abu Bakar dan Thalhah adalah Naufal bin Khuwailid, saudara Khadijah radhiyallahu taala ‘anha. Yang kemudian mengikat Thalhah dan Abu Bakar dan menyiksa mereka setiap hari.

Bahkan Thalhah dan Abu Bakar, semoga Allah ridha dengan mereka, mendapat julukan, al-Qarinayn, dua Qariins, dua teman dekat, orang yang diikat bersama-sama. Karena mereka terikat bersama-sama setiap kali mereka akan disiksa oleh Naufal. Sekarang jika kita melihat kehidupan mereka dan jika kita melihat kehidupan Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu khususnya.

Karakteristik tertentu, sifat khusus yang selalu menonjol darinya adalah sifat ihsan, keunggulan/kesempurnaan/excelence. Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu selalu berusaha unggul dalam segala sesuatu yang dia lakukan.

Dia dikenal karena kemurahan hatinya, bahkan hingga Sa’id bin Zaid, salah satu dari 10 orang dijamin masuk surga. Dia radhiyallahu taala ‘anhu berkata bahwa, “Saya pernah melakukan perjalanan dengan Thalhah dan saya belum pernah melihat orang yang lebih murah hati dari dia baik dalam hal makanan, air, dan pakaian.

Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu bahkan diberikan tiga julukan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam karena amal yang sering dilakukannya. Dan bagaimana ia selalu menonjol dan dia akan selalu menjadi orang yang unggul (dalam setiap perbuatannya).

Rasulullah menamainya Talhatul-Khair, Talhatul-Juud, Talhatul-Fayyad. Ketiganya memiliki makna yang hampir sama.

Talhatul Thair – Thalhah yang sangat baik.

Talhatul Juud – Thalhah yang suka berbuat kebajikan.

Talhatul-Fayyad – Thalhah yang sangat murah hati.

Jadi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengakui sifat-sifat khusus dari Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu seperti yang dilakukan Sahabat, semoga Allah (subhanahu wa ta’ala) menjadi ridho dengan mereka semua.

Tapi ada satu peristiwa, yang bisa Anda lihat dari Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu untuk benar-benar memahami keunggulannya dan ihsannya, dan ia selalu berusaha dan selalu maksimal dalam menyenangkan Allah (subhanahu wa ta’ala) adalah pada Hari Uhud.

Hari di mana Nabi shallallahu alaihi wasallam terluka, dipukuli, bahkan hingga bagian helmnya terdorong ke pipinya. Dan gigi depannya (Nabi shallallahu alaihi wasallam) patah.

Ketika itu, Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu mendengar bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang diserang. Ia langsung berlari menuju Nabi shallallahu alaihi wasallam dan melindungi Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian berkata (ketika perang sudah berakhir),
Kalian seharusnya melihat saya di hari Uhud.

Di sebelah kanan saya adalah Jibril alaihissalam dan di sebelah kiri saya adalah Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu.

Dan sebenarnya Thalhah, semoga Allah (subhanahu wa ta’ala) ridha dengannya. Ketika ia sedang berlari menuju Nabi shallallahu alaihi wasallam, ketika itu Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang diserang, sebuah panah ditembakan ke arah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu mengulurkan tangannya. Dan membiarkan panah itu mengenai tangannya. Karena itu, tangannya kemudian menjadi lumpuh.

Dia kemudian mengambil lengannya yang lain dan ia menempatkan Nabi shallallahu alaihi wasallam di atas bahunya. Lalu ia melindungi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mencoba meloloskan diri dari tempat di mana Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang diserang.

Putrinya, berkata bahwa, “Ayah saya pada hari itu menderita dua puluh empat luka pada tubuhnya.

Ketika Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu akhirnya sudah membawa Nabi shallallahu alaihi wasallam ke tempat yang aman, ia menurunkan Nabi shallallahu alaihi wasallam ke bawah lalu dia jatuh pingsan karena kehilangan darah.

Abu Bakar dan Sa’ad, semoga Allah (subhanahu wa ta’ala) akan ridho dengan mereka, berkata,
Kami berlari menuju Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Nabi shallallahu alaihi wasallam menyuruh kami untuk mengurusi Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu.

Nabi shallallahu alaihi wasallam ada di sana dan beliau hanya menatap Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu. Dan beliau kagum atas upaya yang Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu lakukan. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mengatakan sesuatu yang sangat khusus tentang Thalhah. Dia mengatakan saat itu juga,

Barang siapa ingin melihat bagaimana seorang syahid, seorang syahid yang masih hidup dan masih berjalan dengan dua kakinya, biarkan mereka melihat Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu dan mengaguminya.

Jadi Subhanallah, dapat Anda bayangkan bahwa ia sudah punya julukan sendiri dan dia juga dapat julukan baru, “Walking Syahiid“, “Syuhada Berjalan“. (syuhada yang masih hidup -red)

Dan Abu Bakar radhiyallahu taala ‘anhu, ketika ia terkenang pada Hari Uhud dan mengevaluasi dirinya pada hari Uhud, ia berkata, “Hari Uhud adalah harinya Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu.

Karena betapa besar pengorbanan Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu pada hari itu. Jadi Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu, sebagaimana sahabat yang lain, ia selalu ikut bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam setiap pertempuran kecuali perang Badr.

Karena saat itu, dia bersama Sa’id bin Zaid radhiyallahu taala ‘anhuma sedang memata-matai perkemahan di daerah As-Syam. Dan pada saat itu Perang Badar berlangsung dan ketika mereka kembali, pertempuran sudah selesai.

Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu kemudian bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam,
Apakah saya mendapatkan bagian, ya Rasullullah?

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata, “Ya, Anda juga mendapat bagian.

Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu saat itu bukan memikirkan tentang rampasan perang, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam seolah menyebutkan tentang rampasan perang. Sedangkan Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu adalah seorang yang ihsan. Dia memikirkan sesuatu yang sama sekali berbeda.

Ia berkata, “Dan balasan saya di akhirat nanti, ya Nabi Allah?

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Dan juga bagian pahalanya.

Jadi ini menunjukkan mentalitas Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu. Dia tidak hanya berpikir tentang rampasan, ia lebih peduli tentang bagaimana ridha Allah (subhanahu wa ta’ala). Jadi kita bisa melihat kembali pada hari Uhud, di mana hari itu banyak orang melarikan diri dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Dan kita tahu bahwa itu adalah harinya Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu. Karena dia berdiri di dekat Nabi shallallahu alaihi wasallam, melindungi Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Ini adalah Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu, setiap kali Rasullullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan apa pun. Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu adalah orang pertama yang selalu maju sebagai relawan. Entah itu sedekah, bahkan nyawanya sendiri, atau apa pun itu. Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu adalah selalu menjadi yang pertama untuk maju. Dan berjuang di jalan Allah (subhanahu wa ta’ala).

Sayangnya menjelang akhir hidupnya, Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu menyaksikan pembunuhan Utsman radhiyallahu taala ‘anhu. Pembunuhan ini sangat menyakiti hatinya karena Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu sangat mencintai Utsman. Ia bahkan mengirim anaknya sendiri, Muhammad, untuk berdiri di pintu Utsman radhiyallahu taala ‘anhu, setiap kali rumah Utsman radhiyallahu taala ‘anhu dikepung.

Jadi, ketika Utsman radhiyallahu taala ‘anhu dibunuh, Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu adalah salah satu dari tentara Aisyah radhiyallahu taala ‘anha yang menuntut bahwa pembunuh Utsman diselidiki. Dan ketika Aisyah radhiyallahu taala ‘anha, Thalhah dan Az Zubair, semoga Allah ridho dengan mereka semua, datang untuk bertemu dengan Ali radhiyallahu taala ‘anhu dan meminta Ali untuk mencari tahu pembunuh Utsman, mereka sudah berunding dan sepakat antara satu sama lain.

Lalu, sebagaimana yang kita ketahui bahwa Abdullah bin Saba’ menyerang kedua kubu Aisyah dan kubu Ali dan karena itu terjadi pertempuran antara tentara Aisyah dan tentara Ali, semoga Allah ridho dengan mereka.

Keduanya tidak bermaksud untuk menyakiti satu sama lain atau ingin pertempuran ini terjadi, tapi keduanya berpikir bahwa mereka sedang diserang. Dan Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu hanya karena cintanya kepada Utsman. Bahkan, ini adalah bagian dari ihsan-nya.

Dia berdo’a kepada Allah, “Ya Allah ambil dari saya apapun untuk Utsman sampai Engkau ridha.

Kemudian Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu dibunuh pada hari itu,

Dan Ali radhiyallahu taala ‘anhu menuju ke Thalhah, ia mengusap wajahnya dan mulai menangis, dan ia mencium dahinya. Dan dia berkata, “Saya berdo’a kepada Allah (subhanahu wa ta’ala) untuk menjadikan Anda dan saya sebagaimana mereka yang Allah (subhanahu wa ta’ala) firmankan,

ونزعنا ما في صدورهم من غل إخوانا على سرر متقابلين (Wanaza’naa maa fii quluubihim min ghillan ikhwanan ‘ala sururin mutaqaabiliin) (QS Al Hijr ayat 47)”

Dan kami angkat dari hati mereka segala dendam, segala sesuatu yang mereka benci satu sama lain, dan Kami jadikan mereka saudara-saudara di kerajaan, duduk di sofa yang tinggi dan saling menatap satu sama lain di dalam surga.” (QS Al Hijr ayat 47)

Jadi ini adalah Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu, orang yang selalu melakukan usaha ekstra,
yang selalu ingin memastikan dia melakukan segalanya dengan ihsan. Jadi mari kita tanya, setiap kali kita melakukan sesuatu, setiap kali Anda memberikan sedekah, setiap kali Anda melakukan apa pun untuk jalan Allah (subhanahu wa ta’ala).

Seberapa serius dan tulus Anda melakukannya? Berapa banyak ihsan ada di dalamnya? Berapa banyak keunggulan yang ada di dalamnya?

Saya berdo’a kepada Allah (subhanahu wa ta’ala) untuk menjadikan kita bergabung bersama Thalhah radhiyallahu taala ‘anhu karena dia adalah tetangga dari Nabi shallallahu alaihi wasallam di Jannatul-Firdaus.

Jadi kita berdo’a kepada Allah (subhanahu wa ta’ala) untuk menjadikan kita tetangga mereka di Jannutul-Firdaus. Allaahumma aamiin.

Kita bertemu lagi minggu insya Allah masih di Superstars Series. Jazakumullahu khairan. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s