[Transkrip Indonesia] Abdurrahman bin Auf (#Dermawan) – Omar Suleiman – Quran Weekly

Bismillah. Masya Allah. Assalaamualaikum Quran Weekly.

Aku tahu apa yang kalian pikirkan seorang Imam dengan lima puluh dolar di tangannya. Terdengar gila, ya kan? InsyaAllah Ta’ala hari ini kita akan berbicara tentang sahabat berikutnya dalam lineup (daftar) Superstar kita. Namanya sebenarnya Abdil ‘Amr, budak ‘Amr sebelum Islam. Apakah Anda ingin menebak siapa dia?

Dia adalah pria yang dikenal sebagai Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu. Seorang sahabat yang juga masuk di daftar ini. Dia juga seorang mualaf (masuk Islam) lewat Abu Bakar as-Siddiq radhiyallahu taala ‘anhu. Dia menerima Islam pada usia yang sangat muda, umur 21 tahun. Ia sudah memiliki hubungan kerabat dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam karena ibunya Ashifa adalah wanita yang mengurus kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Jadi, Abdurrahman bin Auf tidak memiliki kesulitan untuk menerima Islam. Ia sudah menjadi orang yang dikenal karena kemurniannya. Dia adalah orang yang dikenal karena kemurahan hatinya Dia adalah orang yang dikenal karena selalu tersenyum, karena selalu turun ke tengah masyarakat dan selalu membangun hubungan yang baik dengan semua orang di masyarakat.

Abdurrahman bin Auf terkenal karena satu hal di kalangan umat Islam dan itu adalah bahwa dia sangat kaya. Tapi ada tanggung jawab yang datang dengan kekayaan itu. SubhanAllah, kita bisa mendapati bahwa ia tidak kaya secara kebetulan sehingga orang bisa berkata bahwa kekayannya karena warisan.

Faktanya, sumber mengatakan bahwa ia lahir dari keluarga yang sangat miskin. Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu memiliki mentalitas kaya. Bahwa setiap kali dia pergi bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk hijrah, dan bermigrasi ke al-Madinah. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memasangkan sahabat Ansar dengan sahabat Muhajirin.

Beliau shallallahu alaihi wasallam memasangkan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu dengan seorang pria dengan nama Sa’ad bin Rabi’. Sa’ad bin Rabi’ adalah Sahabat Ansar yang sangat murah hati. Dia berkata kepada Abdurrahman bin Auf,

Lihat, saya salah satu sahabat terkaya di antara para Ansar. Jadi di sini, Anda dapat mengambil setengah dari uang saya. Anda dapat mengambil setengah dari rumah saya. Anda dapat mengambil setengah dari properti saya. Dan bahkan saya punya dua istri, Anda dapat mengambil salah satu dari mereka. Katakan padaku mana yang Anda inginkan, dan aku akan menceraikannya sehingga Anda dapat menikahinya.

Tapi, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu bukan seorang yang senang menumpang. Ia adalah seorang pencari nafkah. Jadi ia berkata kepada Sa’ad radhiyallahu taala ‘anhu,

“بارك الله في أهلك ومالك” (barak Allahu fiii Ahli wa Maalik)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi keluarga Anda, dan memberkahi kekayaan Anda.

“لا حاجة لي بذلك”. (Laa ‘haajata bidhaalik).

Dia berkata, “Aku tidak membutuhkan semua itu.

Dan dia membuat sebuah pernyataan terkenal,

“دلني على السوق” (Dullanii ‘alas-suuq)

Tunjukkan kepadaku dimana letak pasar.

Di Madinah saat itu, tidak mudah bagi Anda untuk berjualan di pasar dan mencari keuntungan karena سوق pada waktu itu, pasar saat itu, didominasi oleh Bani Quraydhah. Dan mereka tidak akan membiarkan sembarang orang asing datang dan mulai mencari keuntungan.

Tapi entah bagaimana, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu bisa masuk ke سوق. Dan menjadi seorang pengusaha sukses. Tidak dalam hitungan tahun, tidak dalam hitungan bulan, tapi hanya dalam hitungan hari. Dia dikenal radhiyallahu taala ‘anhu sebagai orang yang bisa membalikkan batu dan menemukan $50. Atau malah sebenarnya emas, bukan lima puluh dolar.

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu suatu hari menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam, hanya beberapa hari setelah dia pergi ke pasar, dan dia sudah berpakaian rapi. Ia sudah memiliki beberapa pakaian bagus.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihatnya dan berkata,

“مهيم” (mahyam) – “مهيم” (mahyam) adalah seperti ungkapan “Wow, apa yang terjadi….

Abdurrahman apa yang terjadi?

Dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu yang baru saja meninggalkan semuanya di Mekah dan hanya selang beberapa hari di Madinah, dengan uang yang telah ia peroleh dia berkata, “Ya Rasulullah saya telah menikah.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Anda telah menikah? Dengan apa?

Dia berkata, “Saya memberi emas sebesar batu bata sebagai mahar.

Nabi shallallahu alaihi wasallam terkejut bahwa ia bisa datang dan membuat uang dengan cepat, radhiyallahu taala ‘anhu. Jadi Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya bahwa ia harus menyelenggarakan Walimah, ia harus mengadakan sebuah pesta. Dan hanya dalam beberapa hari umat Islam bermigrasi ke Madinah, mereka mengadakan pesta. Karena Abdurrahman bin Auf sudah mampu menetap, tidak lagi menumpang dari siapapun.

Jadi mari kita lihat orang ini, radiallahu ta’ala ‘anhu dan mari benar-benar kita pikirkan tentang hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam.

“اليد العليا خير من اليد السفلى” (al-Yaddul-‘ulyaa khayrun min al-Yaddul suflaa)

Tangan yang di atas, tangan yang suka memberi selalu lebih baik daripada tangan yang lebih rendah,” yang merupakan tangan peminta.

Sekarang, ketika Abdurrahman menjadi kaya, apakah lantas kemudian dia tidak ikut dalam pertempuran?

Dan dia bilang, “Kau tahu, aku akan duduk menunggu saja di sini, dan aku akan menyumbang dana $10.000, tapi kalian saja yang berperang, saya tidak usah.

Sama sekali tidak. Abdurrahman radhiyallahu taala ‘anhu selalu ikut dalam setiap pertempuran bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Memang ada masanya dia hanya memberikan bantuan banyak uang dan itulah yang diakui dari dia dalam pertempuran.

Misalnya di Perang Tabuk, ia dikenal sebagai orang yang datang dengan dua puluh pound emas. Tapi ada juga saat-saat ia menderita luka. Bahkan, bukan hanya ia memberikan dua puluh pound (emas) di Perang Tabuk. Di Perang Uhud, ia adalah salah satu dari orang-orang yang tidak lari dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan yang mendapat dua puluh luka di badannya. Dan karena itu, ia mengalami kelumpuhan selama sisa hidupnya.

Abdurrahman bin Auf adalah seseorang yang sangat tinggi statusnya di mata Nabi shallallahu alaihi wasallam Bahkan, ia memiliki keunikan, bahwa selain Abu Bakar radhiyallahu taala ‘anhu, ia adalah satu-satunya orang yang pernah mengimami shalat Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam kembali dari perjalanan, dan beliau shallallahu alaihi wasallam shalat di belakang Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu. Para Sahabat terkejut, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dan Nabi shallallahu alaihi wasallam memuji aksi mereka karena meneruskan shalat tersebut. Abdurrahman tidak tahu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam datang.

Dan ini adalah pertama kalinya Nabi shallallahu alaihi wasallam shalat di belakang orang. Tapi, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lewat kejadian ini mengajarkan kita tentang fiqih, bagaimana mengganti rakaat yang ketinggalan dalam sholat.

Kita melihat sebuah contoh yang indah dan kita melihat bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam benar-benar mencintai Abdurrahman bin Auf. Beliau shallallahu alaihi wasallam mengangkatnya dalam standar yang tinggi, jelas, memasukkannya sebagai “العشر المبشرين” (al ‘Ashr al-mubashireen) – 10 orang yang dijanjikan surga.

Kecintaan ini, hubungan ini terus berlanjut bahkan setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam meninggal. Karena Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu adalah orang yang mengajukan diri untuk menanggung kebutuhan istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dia membayar semuanya untuk mereka.

Bahkan, jika istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam ada yang ingin berangkat Haji. Abdurrahman radhiyallahu taala ‘anhu adalah orang yang memfasilitasi seluruh biaya Haji. Aisyah radhiyallahu taala ‘anha biasa berdo’a untuk Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu dan mengatakan semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberinya minuman dari Salsabil, dari air mancur surga.

Jadi kita lihat bahwa orang ini, radiallahu anhu, terus bermurah hati kepada siapa saja. Dan akan terus menerima dan memberi, menerima dan memberi, menerima dan memberi. Inilah yang membuatnya terkenal, karena sedekah. Rasulullahu shallallahu alaihi wasallam setiap kali bertanya siapa yang akan berderma, Abdurrahman bin Auf selalu datang pertama.

Setiap kali Abu Bakar butuh uang, Abdurrahman selalu menerimanya. Ketika Umar butuh uang, Abdurrahman juga selalu menerimanya, radhiyallahu taala ‘anhu. Bahkan, kaum musyrikin sering mengejek Abdurrahman bin Auf di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Mereka mengatakan Abdurrahman adalah “عظيم في الرياء” ( ‘aziim fil-riya’a), dia itu pembohong, dia suka pamer.

Kemudian Allah sendiri yang menurunkan ayat untuk membela dirinya. Anda ingin tahu ayat apa itu? Tunggu sampai akhir video insyaAllah. (QS At Taubah ayat 79 -red)

Jadi kita lihat hidupnya, radiallahu anhu bahkan setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam tiada, kita tetap dapat melihat kemurahan hatinya. Dan Aisyah radhiyallahu taala ‘anha menceritakan sebuah kejadian menarik.

Di mana satu waktu ketika orang-orang berada di rumah, mereka mendengar kota Madinah bergetar. Dan itu bukan gempa bumi. Ternyata itu adalah 700 unta yang dibawa Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu beserta rombongan, semuanya bermuatan penuh, dan semuanya disedekahkan fii sabiilillah.

SubhanAllah, jadi ini dia seorang pria yang selalu menerima dan memberi. Menerima dan memberi. Sekarang Anda mungkin berpikir, wow Subhanallah, ini pasti ada cara-cara haram. Dia pasti memiliki semacam trik tertentu.

Namun pada kenyataannya, kata Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu tentang dirinya sendiri, ia berkata,

“تركنا نصف الحلال” (tarakna nisful-halal),

Kami meninggalkan setengah dari pendapatan halal.

“مخافة الربا” (makhafat-al-riba) — “Karena kami takut dengan riba.

Kami takut terlibat bunga (riba -red). Jadi dia adalah orang yang mencari penghasilan dengan cara halal. Dan saya ingin Anda benar-benar memikirkan tentang hal ini sejenak. Seberapa halal penghasilan Anda? Dan apa yang Anda lakukan dengan penghasilan Anda?

Karena pesan Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda,

Pada hari kiamat yang akan ditanya tentang, “عن ماله” (‘an maalihi) — tentang uang Anda,

“من أين اكتسبه” (min ayna-ktasabahu) — darimana diperolehnya, halal atau tidak?

“وفي ما أنفقه” (wa fii ma anfaqahu) — dan kemana ia dihabiskan?

Dan kita selalu melihat Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu selalu terdepan dalam fii sabilillah Bahkan, Talhah radhiyallahu taala ‘anhu, ia berkata tentang Abdurrahman.

Ia mengatakan bahwa orang-orang Madinah banyak yang hidup dari Abdurrahman radhiyallahu taala ‘anhu. Sepertiganya memiliki utang untuk dibayar, dan Abdurrahman radhiyallahu taala ‘anhu membayar utang mereka.Sepertiganya lagi meminjam dari Abdurrahman, dan Abdurrahman tidak pernah meminta uangnya kembali. Sepertiga sisanya hanya mengambil sedekah dari dia, hanya murni mengharap belas kasih dari dia.

Jadi Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu mensponsori seluruh penduduk Madinah. Dan kau tahu apa? Rasulullahu shallallahu alaihi wasallam telah menyebutkan kepada kita bahwa beberapa orang akan bersaksi baik untuk Anda atau untuk melawan Anda pada hari kiamat.

Abdurrahman radhiyallahu taala ‘anhu menjelang akhir hidupnya, dia jatuh pingsan dan ia bermimpi. Dalam mimpi itu, ia melihat bahwa seluruh umat ada di belakangnya. Kemudian dia terbangun, dan hari berikutnya ia meninggal.

Ali radhiyallahu taala ‘anhu ia menjelaskan lokasi jenazah Abdurrahman bin Auf. Bayangkan ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang terbaik dari kalian adalah seseorang yang paling bermanfaat. Semua orang-orang ini, berdoa untuk Abdurrahman bin Auf radhiyallahu taala ‘anhu. Orang-orang datang dari mana-mana untuk berdoa padanya karena bagaimana mereka merasa sangat tertolong.

Dan Ali radhiyallahu taala ‘anhu berkata tentang Abdurrahman,

“وجبت له الجنة” (wajabat lahul-jannah) – “Surga telah wajib bagi orang ini, yang secara konsisten memberi untuk fii sabilillah.

Bahkan, Abdurrahman radhiyallahu taala ‘anhu ketika ia meninggal. Saya ingin Anda melihat pendapatan yang ia miliki, menjadi kaya itu tidak masalah selama itu melalui cara yang halal dan ketika Anda memberi untuk fii sabilillah.

Abdurrahman radhiyallahu taala ‘anhu ketika ia meninggal, memiliki 46 warisan. Masing-masing dari warisan itu setara dengan 80.000 dirham Anda dapat menghitungnya sendiri, tapi mari kita coba untuk menerapkan kualitas dari pendapatan halal. Anda tahu, Anda bekerja, Anda memperoleh penghasilan dan Anda tidak bergantung pada orang lain kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. tapi kemudian Anda menghabiskan untuk fii sabilillah, dan istiqomah dengan itu.

Bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala dapat memberikan Anda spiritualitas murni jika penghasilan Anda, yang berarti mata pencaharian Anda adalah sesuatu yang haram. Dan Anda juga tidak menghabiskan di jalan-Nya.

Kita berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk memurnikan kekayaan kita dan juga memurnikan hati kita. Allaahumma aamiin. Kita berjumpa lagi minggu depan insyaAllah. Jazakumullahu khairan. Wassalaamualaikum wa rahmatullah wabarakatuhu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s