[Transkrip Kartun Islami] – Perbaiki Jiwamu, Ubahlah Dunia!

Sekarang, persamaan antara matahari dengan jiwa. Ingat? Kita sudah bahas tentang itu di awal Surat. Matahari…. Allah memberikan kepada jiwa kemampuan untuk bercahaya. Untuk membersihkan dirinya. Allah memberikan kecenderungan itu di dalam jiwa. Tapi bisa saja ada satu titik di mana jiwa menjadi gelap seperti malam yang tertutup kegelapan.

Tapi ketika jiwa itu bersih ia tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tapi cahayanya juga menyinari yang lain.

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.” (QS Asy-Syams 91:1).

Cahayanya menyebar. Dan tidak hanya itu, di waktu gelap pun, matahari masih bisa membawa manfaat bagi bulan. Cahayanya masih terpantul keluar. Jadi di waktu sulit pun, anda masih mendapat manfaatnya.

Terutama di masa fitnah dan kegelapan, anda tetap mendapat manfaat dari jiwa yang bersih. Karena seumpama bulan yang akan bercahaya, yang akan bercahaya dengan terang bahkan di tengah kegelapan sekalipun.

Inilah perumpamaan yang disimpulkan oleh Al-Biqa-i rahimahullah antara pernyataan di awal sumpah (“Demi matahari”-red) dengan cobaan bagi jiwa, dan kemudian kita temui kita baca pernyataan penting di ayat selanjutnya:

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

dan sungguh merugilah siapa yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams:10)

Bangsa Arab mempunyai ungkapan,

“man haaba khooba”.

Barangsiapa yang takut, maka akan ketinggalan dan akan merasa kecewa. Kalau anda mempunyai inisiatif maka kejarlah dan jangan mundur. Karena bila anda mundur, anda akan kecewa. Senada dengan itu, kita temui tafsir dari Ibnu Abbas RA.

“Khosiro man adhollahaa wa aghwaahaa”

Barangsiapa yang…

Ketika Dia berkata, ketika Al-Qur’an berkata: “Wa qod khooba man dassaahaa”.

Kita belum membahas arti kata “dassaahaa”. Yaitu seseorang yang melemparnya ke dalam debu, menutupinya, menguburnya dalam debu, dan benar-benar tidak menghiraukannya. Apa yang dimaksud dengan ‘nya’ di situ? Jiwa

Barangsiapa yang mengabaikan potensi baik dari jiwa, mengabaikan kebaikan yang telah Allah berikan kepada jiwa kita. Dan barangsiapa yang benar-benar mengabaikannya, maka telah menempatkan dirinya sendiri dalam rasa frustrasi yang besar, dalam kekecewaan yang besar. Mereka pikir mereka mengejar sesuatu yang mereka inginkan. Tapi ketika mendapatkannya, mereka baru menyadari itu bukanlah sesuatu yang mereka inginkan.

Jadi itulah makna dari kata “khooba” = bertangan hampa.

Dan kata “dassaahaa”=mengotorinya

Sekarang kita ketahui arti “khosiro man adhollahaa wa aghwaahaa”

Seseorang yang tersesat, yang tertipu, yang bingung, hanya memberi kerugian yang besar bagi dirinya sendiri.

Berkata para ahli bahasa: دَسَّاهَا berasal dari kata dassasahaa. Kata دَسَّاهَا dengan huruf alif

di akhirnya menurut morfologi berasal dari akar kata: د س س

دَسَّسَ – يُدَسِّسُ – َتدْسِسْ

Tapi karena ada taqroor atau pengulangan huruf (huruf sin disebut dua kali), kadang dalam morfologi (perubahan bentuk kata) bahasa Arab anda dapat menggabungkannya atau menggantinya dengan huruf vokal sehingga دَسَّسَ menjadi دَسَّا.

Ketika ada penggantian ini maknanya menjadi muballagha atau dengan kata lain bermakna hiperbola. Jadi seseorang itu benar-benar dan sepenuhnya mengabaikan jiwanya. Benar-benar dan sepenuhnya membunuh hati nuraninya.

Mereka tidak mendengarkan suara hati nurani dari kesadaran terdalam mereka. Mereka menempatkan nuraninya dalam debu. Ungkapan ‘menempatkan sesuatu dalam debu’ dalam bahasa Arab berarti mengganggap tidak bernilai sesuatu itu, tidak mengganggap itu bernilai sama sekali.

“Wa qod khooba man dassaahaa”. Ini adalah keadaan seseorang yang tidak mempunyai keseimbangan dan perhatiannya hanya tertuju pada kesenangan, dan ketamakan, dan kekayaan. Hanya hal-hal duniawi saja. Tidak ada perhatian pada dunia lain (akhirat) yang menjadi penyeimbang jiwa seperti halnya malam dan siang yang seimbang.

Seperti halnya matahari dan bulan yang seimbang. Sebagaimana yang tercantum dalam permulaan Surah. Dan bagaimana jiwa itu sendiri diciptakan dalam keadaan seimbang. Sebagaimana firman Allah:

“Dan jiwa serta penyempurnaannya” (QS Asy-Syams: 7)

Tapi orang ini telah kehilangan keseimbangan dalam segala hal secara keseluruhan.

Lalu Allah juga menyebutkan tentang ketidakseimbangan jiwa.

“Dan telah merugi yang mengotorinya” (QS Asy-Syams: 10)

Lalu subyek pada ayat setelah itu segera berganti. Tidak lagi ‘seseorang’ tapi merujuk pada sebuah negara. Yang kita pelajari di sini adalah sebuah negara yang korup terbentuk dari apa? Individu yang korup. Jadi ketika sebuah negara menjadi buruk, apa langkah pertama untuk memperbaiki negara itu? Perbaiki individu-individunya!

Anda berkata bahwa ummat ini mempunyai begitu banyak masalah, bahwa negara ini mempunyai begitu banyak masalah, negara ini sangat korup. Anda bisa merasa kewalahan terbebani dengan masalah masyarakat yang lebih berat dan ketika seseorang berkata:

Kamu tahu? Saya pikir solusinya terletak pada perubahan individu, perubahan dalam keluarga kita sendiri, perubahan pada lingkungan kita.

Anda menjawab: “Ah, kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan! Mari bicara tentang gambaran politik yang lebih besar.

Sehingga kita begitu terobsesi dengan permasalahan yang besar dan kita terlupa bahwa akar solusinya terlatak pada individu, bukan pada masyarakat kolektif.

Pencapaian Rasulullah SAW dilihat dari kacamata politik adalah capaian yang luar biasa menakjubkan. Tak tertandingi dalam sejarah umat manusia. Tidak ada seorangpun yang menyamai pencapaian Nabi Muhammad SAW di bidang sosial, politik dan ekonomi. Tapi tahukah anda apa perubahan sesungguhnya yang dibawa Rasulullah SAW?

Bukanlah dalam hal politik, sosial dan ekonomi… Perubahan sesungguhnya yang dibawa Nabi SAW adalah pada individu-individu. Dalam Surat Al-Fath, ketika Allah menjamin kemenangan Rasulullah SAW. Pada akhirnya, dia tidak berbicara tentang monumen-monumen besar atau tentang luasnya penyebaran peradaban muslim. Anda tahu apa yang dianggap pencapaian besar oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam? Para sahabatnya!

Mereka dianalogikan ibarat tanaman yang akarnya menghunjam dalam tanah.

“Tanaman itu menjadi kuat dan kokoh di atas pokoknya, padahal sebelumnya mereka adalah lemah. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir” (QS Al-Fath: 29)

Itulah analogi Para Sahabat Nabi. Sebelumnya mereka lemah, lalu menjadi tegak berdiri dan menjadi matang. Inilah kematangan individu Para Sahabat Rasulullah SAW di bawah bimbingan Beliau. Jadi, kontribusi Beliau SAW yang paling nyata adalah menghasilkan manusia yang peduli untuk membersihkan dirinya.

Judul asli: Change your ‘Nafs’, Change the World | illustrated

Video asli: https://www.youtube.com/watch?v=W1STbQcyf8c

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s