Nouman Ali Khan: Siapakah Muttaqien?

Surah Al Baqarah diturunkan di Madinah. Di Madinah, adalah permulaan kehidupan baru bagi Nabi SAW dan kaum muslim yang datang dari Mekkah. Situasi di Madinah berbeda dengan di Mekkah. Di Madinah ada kelompok Yahudi dan Nasrani yang memiliki kitab suci.

Mereka mengerti tentang wahyu dan kenabian. Di kelompok-kelompok Yahudi dan Nasrani itu terdapat banyak ilmuwan, scholars, orang yang ahli dan mengerti kitab sucinya. Sementara di Mekkah tidak seperti itu. Orang-orang di Mekkah tidak tahu-menahu tentang wahyu. Mereka sangat bangga dengan kemahiran literaturnya dan melihat Al Quran sebagai “puisi” atau perkataan yang tidak bisa mereka tandingi.

Jadi, ketika di Mekkah, kondisi Nabi SAW yang ummi merupakan suatu kebanggaan, karena bisa membuat “sastra” yang tak tertandingi. Sedangkan di Madinah, berhadapan dengan para ilmuwan dan ahli kitab suci, kondisi Nabi SAW yang ummi itu menjadi bahan penghinaan. Sehingga, ketika Nabi SAW mengucapkan …

Ayat 1 Al Baqarah الم

al baqarah 1

Alif Laam Miim!

1. Ini adalah huruf Arab (Hijaiyah)! Dan huruf cuma diketahui oleh orang-orang yang diajarkan membaca dan menulis. Ilmuwan ahli kitab bingung, siapakah yang mengajarkan Nabi SAW huruf?

2. Bangsa Arab adalah bangsa yang sangat bangga dengan sastra (literatur) mereka. Tidak ada bangsa lain saat itu yang bisa berkomunikasi dengan seindah yang mereka lakukan. Tetapi, Al Quran yang diucapkan oleh Nabi SAW memiliki gaya yang sangat berbeda. Alif Laam Miim ini adalah salah satu contohnya. Apa maksudnya ini?

3. Di Al Quran, setiap kali huruf-huruf Arab (Hijaiyah) disebutkan, selalu diikuti dengan penjelasan tentang Al Quran. Tetapi, apa artinya Alif Laam Miim?

4. Alif Laam Miim, menurut para ulama, adalah sebuah “pengkondisian”.

– Alif laam Miim memiliki makna yang tak satu manusia pun yang tahu.

– Menunjukkan kalau manusia tidak tahu apa-apa, selain apa yang telah dijelaskan oleh Allah SWT

– Dengan Alif Laam Miim ini, Allah SWT mengajarkan kepada kita apa yang harus ditanyakan dan apa yang sebaiknya tidak ditanyakan. Agar kita merasa OK dengan tidak mengetahui sesuatu.

– Bahwa kita mesti membaca Al Quran dengan kerendahan hati untuk mencari petunjuk. Bukan hanya sebagai bahan diskusi dan debat kusir. Dengan Al Quran, banyak orang mendapatkan petunjuk dalam hidupnya. Dengan Al Quran pula, jika kita hanya ingin berdebat dan bersikap sombong, banyak orang yang justru tidak mendapatkan apa-apa selain kebingungan.

Ayat 2 Al Baqarah ذَٰلِكَ الْكِتَابُ

al baqarah 2

1. الْكِتَابُ

Kenapa disebut “kitab”? Padahal orang-orang Madinah mendengarkan Nabi SAW mengucapkannya. Yang berarti “ucapan/perkataan”.

Kitab” di saat itu adalah sesuatu yang telah ditulis. Tak bisa diubah lagi, karena mereka menulis di atas batu, pelepah kurma, kulit pohon. “Kitab” adalah sesuatu yang diukir.

2. ذَٰلِكَ

Dan kenapa “itu”? Bukan “ini”? Bukankah Nabi SAW harusnya mengatakan sesuatu yang “dekat”, sehingga menggunakan “ini”, daripada “itu”?

3. الْ

Itu adalah The Kitab. Dalam bahasa Arab, salah satu makna “alif lam” di kata benda sama dengan makna “the” dalam bahasa Inggris. Yaitu, benda yang telah jelas identitasnya. Seperti “house” yang berarti “rumah”, sementara “the house” berarti “rumah yang itu”.

Jadi, “itu adalah the kitab” atau “kitab yang itu”. Kitab yang sudah jelas identitasnya. Yang telah ditulis. Takkan berubah seperti halnya kitab-kitab terdahulu. Kitab yang selama ini ditunggu oleh ilmuwan ahli kitab Yahudi dan Nasrani!

4. ذَٰلِكَ الْكِتَابُ

Kenapa tidak seharusnya: ھذا القران Yang berarti “ucapan/perkataan/recitation ini”?

Kalimat ini menyatakan bahwa apa yang diucapkan oleh Nabi SAW merupakan sesuatu yang telah tertulis. Oleh karena itu, disebut sebagai “kitab”. Dan kitab ini terletak jauh di Lauhul Mahfudz sana. Oleh karena itu, disebut “itu”. Kitab itu adalah sesuatu yang telah tertulis. Tidak bisa diubah.

Ayat 2 Al Baqarah ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

al baqarah 3

0. لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ

Tidak ada sedikit pun ruang keraguan di dalam kitab ini.

1. رَيْبَ

Adalah keraguan yang ada di dalam hati dan sangat mengganggu. Ada juga keraguan lain yang tidak mengganggu, seperti saya ragu apakah Perancis bisa juara Eropa 2016. Keraguan seperti ریب akan hilang jika kita telah melihat keajaiban.

Keajaiban dari para nabi yang lain adalah keajaiban untuk dilihat mata, juga tanpa usaha. Tipe keajaiban seperti ini cuma bisa dirasakan oleh mata yang melihat. Generasi selanjutnya yang tidak melihat, hanya akan mendengar cerita.

Keajaiban Al Quran ini adalah keajaiban untuk telinga. Yang mau memikirkan, merefleksikan, mendalami. Bukan untuk sembarang telinga (hanya untuk yang mau berusaha). Ketika kita telah mendalaminya dengan baik, Insya Allah tidak akan ditemukan sedikitpun keraguan dan kontradiksi.

2. هُدًى

Petunjuk (hidayah). Memiliki akar kata yang sama dengan ھدىة (hadiah). Hal ini menunjukkan bahwa petunjuk (hidayah) adalah pemberian (hadiah) dari Allah SWT

3. لِّلْمُتَّقِينَ

3A. “Taqwa” secara bahasa berarti mencari perlindungan, kehati-hatian, menghindari apa yang tidak diinginkan. Dalam ungkapan Arab kuno, seekor kuda yang berjalan tanpa memiliki sepatu kuda akan berjalan dengan sangat hati- hati. Kuda tersebut tidak akan melangkah ke tanah yang ada batunya atau sesuatu yang dapat menyakitinya. Kuda tersebut diungkapkan sebagai kuda yang memiliki “taqwa”. Demikianlah seharusnya kita menjalani segala aspek kehidupan ini. Selalu berhati-hati agar tetap terlindungi.

3B. Tetapi, kenapa bukan مؤمنین atau مسلمین? Kenapa متقین? Kenapa petunjuk itu bukan untuk orang (yang hanya mengaku) muslim atau mu’min? Karena yang akan mendapatkan manfaat dari petunjuk yang diberikan oleh Allah SWT ini adalah orang-orang yang memang mengambil pelajaran dari Al Quran dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, agar ia terlindungi.

Dan kata “muttaqiin” ini sendiri adalah kata benda, yang berarti tidak terikat oleh waktu. Berarti, akan selalu ada orang-orang yang hidup dengan hati-hati agar mendapatkan perlindungan.

4. ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Kitab (yang telah jelas identitasnya dan telah tertulis) itu, tidak memiliki ruang keraguan sedikitpun padanya, merupakan petunjuk (yang diberikan oleh Allah SWT) kepada orang-orang yang menjalani kehidupannya dengan sangat hati-hati agar selalu terlindungi.”

Quran selalu diungkapkan seperti air. Quran diturunkan dari langit, air pun diturunkan dari langit. Dengan Quran, hati manusia dihidupkan. Dengan air, tumbuhan (dan kehidupan) dihidupkan. Udah seyogyanya lah kita selalu mencari (membaca, memahami, melaksanakan isi) Al Quran sebagaimana kita selalu mencari air di dalam kehidupan kita. Cobalah, setidaknya, setiap kali kita menghadapi masalah, berdoalah kepada Allah agar ditunjukkan jalan. Dengan segala kejujuran dan kerendahan hati. Dan bukalah Al Quran. Insya Allah, jawabannya ada di sana.

Siapa sebenarnya orang yang bertaqwa atau orang yang berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini agar tetap terlindungi dan terhindarkan dari hal-hal yang jelek?

Al Baqarah ayat 3 الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

al baqarah 4

0. يُؤْمِنُونَ

Adalah mereka yang beriman kepada hal-hal yang ghaib.

1. يُؤْمِنُونَ

يُؤْمِنُونَ merupakan bentuk masa kini. Jika masa lampau, bentuknya امنو

Bentuk masa kini ini mengacu pada hal yang terus menerus dilakukan. Hal ini berarti bahwa “iman” ini adalah sesuatu yang terus-menerus dijaga. Orang yang bertaqwa memiliki iman yang naik dan turun, dan harus terus-menerus dijaga.

2. لْغَيْبِ

Ghaib” adalah sesuatu yang tidak terlihat (unseen). Ada banyak hal tak terlihat dan tak terdefinisikan secara ilmu pengetahuan. Contohnya adalah cinta, sastra, musik, emosi, dll. Semuanya ini bersifat abstrak. Apa yang dirasakan orang lain belum tentu sama seperti yang kita rasakan. Bahkan sesuatu seperti energi, inti atom, dan luasnya alam raya ini sampai saat ini masih merupakan hal yang ghaib bagi kita.

3. الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

Dalam konteks kehati-hatian dalam menjalani hidup (taqwa), apa sebenarnya maksud beriman kepada hal-hal yang ghaib? Hal ini berarti kita beriman kepada kenyataan di balik dunia yang kasat mata. Berarti kita beriman akan adanya Sang Pencipta (Allah), malaikat, kitab-kitab, para Nabi, hari akhir, surga, neraka.

Apa dampak dari keimanan kita ini? Contoh sederhananya adalah:

* Sabar di saat kita menghadapi segala sesuatu, bahwa ada hikmah (pelajaran) di baliknya
* Percaya kepada janji-janji Allah akan surga dan ancaman Allah akan neraka. Karena ini, maka kita seharusnya:

– Menyibukkan diri dengan belajar dan mengajarkan Al Quran dan apapun yang dapat meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT
– Menyibukkan diri dengan melakukan apapun yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT
– Tidak mengambil apapun yang bukan milik kita
– Tidak membicarakan orang lain (apalagi kejelekan orang lain). Padahal kita mengetahui bahwa Allah akan menutupi kejelekan kita jika kita menutupi kejelekan orang lain
– Menurunkan pandangan dari yang bukan haknya.
– Dst

Pertanyaan sekarang, bagaimana cara menguatkan keimanan kepada hal-hal yang ghaib tersebut?

Al Baqarah ayat 3 وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

al baqarah 5

1. وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ

Dengan mendirikan sholat! Kenapa tidak hanya dengan mengerjakan sholat (یوصلون)

Karena mendirikan sholat berarti kita mengutamakan sholat. Sholat dianggap sebagai pilar penopang kehidupan kita.

Pilar penopang bangunan sangat penting bagi tegaknya rumah kita. Pilar penopang ini tidak boleh diganggu/digeser sesuka hati. Seluruh perabot rumah tangga yang lain bisa digeser/diatur agar pas, sedangkan pilar tidak. Maka, aktivitas kita yang lain lah yang harus disesuaikan terhadap pilar sholat ini. Menghadirkan hati dan pikiran selama melaksanakan sholat (tidak hanya tubuh) juga termasuk bagian dari mendirikan sholat.

2. مِمَّا

مما berarti dari apapun, seperti uang, waktu, tenaga, pikiran, ilmu pengetahuan, ketrampilan, dll

3. وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ

Dari apa pun yang telah Kami berikan kepada mereka

Bentuk kata (رزقنھم) adalah di masa lalu, yang berarti telah terjadi. Jika masa kini, maka bentuknya seperti نرزقھم.

Bentuk masa lalu digunakan untuk menyatakan bahwa semua ini telah diberikan kepadamu. Sekarang tugasmu adalah memberikan / mengeluarkan / membelanjakan / menggunakan / membagikannya.

Yang telah Kami berikan” juga merupakan pernyataan yang jelas bahwa pada dasarnya kita tidak memiliki apapun.

4. يُنفِقُونَ

ینفقون berarti mengeluarkan, membelanjakan, menggunakan, membagikan. Berasal dari asal kata yang sama dengan نفق yang berarti lubang cicak (lizard holes). Lubang cicak ini ada dua, di depan dan di belakang, sehingga cicak tersebut bisa lari ke luar jika salah satu lubangnya didatangi musuh (tidak aman baginya).

Kata ini juga berhubungan dengan kata “munafiq” (منفق) yang berarti bahwa orang munafiq selalu punya dua pilihan untuk berpijak, tergantung yang mana yang lebih menguntungkan. Dalam konteks ini, apapun yang kita keluarkan / gunakan / belanjakan / bagikan di dunia ini untuk mendapat ridho Allah SWT akan mengeluarkan balasan untuk kita di hari akhir nanti. Investasi, untuk lebih tepatnya. Tidak disebutkan kepada siapa harus diberikan, oleh karena itu diberikan kepada siapa saja yang memerlukan. Dengan niat melaksanakan perintah Allah ini.

5. وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

Yang mendirikan (menjaga dan mengutamakan) sholat (dari hal apa pun) dan membagikan sebagian dari apapun (baik itu uang, waktu, tenaga, pikiran, ilmu, ketrampilan, dll) yang telah Kami berikan (kepada siapa pun yang memerlukan)

Al Baqarah ayat 4 وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

al baqarah 6

Yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Nabi SAW), dan apa yang diturunkan sebelum kamu (Nabi SAW), dan mereka yakin akan hari akhir.

1. إِلَيْكَ

Kepadamu (Nabi SAW)

2. قَبْلِكَ

Sebelum kamu (Nabi SAW)

Di sini tidak diperinci kepada siapa saja. Kenapa? Karena apa yang telah diturunkan sebelumnya tidak bisa dibuktikan kesahihan periwayatannya dan keotentikan isinya. Di dalam Al Quran dijelaskan bahwa yang diturunkan kepada Musa AS adalah:

– Hari akhir akan datang
– Beberapa tanda hari akhir akan diberikan, termasuk di antaranya adalah kedatangan nabi terakhir, sebagai
permulaan tanda dimulainya hari akhir.
– Setiap orang akan diberikan balasan sesuai dengan apa yang mereka usahakan.

Ternyata, isi tentang “hari akhir” ini telah dihilangkan (oleh satu aliran Yahudi) atau dikurangi artinya menjadi hari akhir bagi seluruh bangsa (oleh aliran lain).

3. وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

Keimanan kepada Nabi SAW dan juga pada Nabi Musa AS tentunya secara langsung membuat kita beriman kepada hari akhir. Karena konsep ini adalah apa yang kita pelajari dari nabi2 tersebut. Tetapi, kenapa mesti disebutkan di sini?

Ntah kenapa konsep tentang hari akhir ini telah dilupakan oleh kaum Yahudi. Mungkin sengaja dihapus karena aktivitas para rabi mereka yang menjual ayat (akan dijelaskan di ayat-ayat selanjutnya). Sehingga, karena surat ini turun di tengah-tengah komunitas Madinah yang juga terdiri dari kaum Yahudi, yang telah melupakan konsep hari akhir, maka “keyakinan akan hari akhir” di sini lebih ditekankan!

Jika berdasarkan kronologi, bukannya seharusnya beriman kepada yang turun sebelum engkau, kepada yang turun kepada engkau, dan yakin kepada hari akhir. Kenapa tidak seperti itu? Orang-orang ahli kitab percaya bahwa kitab mereka adalah sumber utama. Dengan kedatangan Nabi SAW, maka Quran adalah sumber utama. Yang datang sebelum ini harus diperiksa kesahihan beritanya menurut Quran. Demikianlah kenapa urutannya seperti itu.

Ayat ini juga sebagai dalil bahwa tidak akan ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad SAW! Jika memang ada, seharusnya redaksi ayat tersebut ditambah dengan “apa yang diturunkan setelah engkau”.

Al Baqarah ayat 5 أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

al baqarah 7

Mereka lah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

1. هُدً

Tanwin di sini membuat kata “huda” menjadi sesuatu yang sangat besar dan penting. Bahwa “huda” atau petunjuk ini adalah suatu pemberian yang sangat besar dan penting dari Tuhannya.

2. الْمُفْلِحُونَ

Berasal dari akar kata فلح yang berarti petani yang menuai hasil panennya setelah bekerja keras selama periode tertentu. Juga berarti “selalu berhasil”.

Secara keseluruhan dapat diartikan sebagai “mereka itulah orang yang berhasil dengan bekerja keras (dengan keimanannya) selama hidup di dunia dan oleh karenanya, kehidupannya Insya Allah akan selalu berhasil (di dunia dan di akhirat nanti)

Sampai di sini, dapat kita lihat siapakah orang yang “muttaqien

al baqarah 8

لَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ – (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib
وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ – yang mendirikan shalat
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ – dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka

يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ – dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu
وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ – dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu
وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ – serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

Mereka semua ini diberikan petunjuk oleh Allah SWT

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ

Tulisan ini dari ZAP
Sumber: Ramadhan Exclusive Al Baqarah

Lampiran PDF Siapakah Muttaqien? Download.

Advertisements

One thought on “Nouman Ali Khan: Siapakah Muttaqien?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s