[Transkrip Indonesia] Pentingnya Insya Allah – Nouman Ali Khan


Masa Depan Itu Mengejutkan
The Future is Shocking! Nouman Ali Khan

Alhamdulillah, alhamdulillahi khaaliqil wujuudi minal ‘adam, wa jaa’ilinnuuri minadzzulam, wa mukhrijissabri minal alam, wa mulqittaubati ‘alannadam.

Fanasykuruhu ‘alalmashaaibi kama nasykuruhu ‘alanni’am, wa nushalli ‘ala rasulihil akram, lisyarafilasyam wannuuril atam walkitaabil muhkam, wa kamalinnabiyyiina wal khatam, syayidi waladi adam.

Alladzi basyara bihi ‘isyabnu maryam, wa da’a li bi’tsatihi ibrahiimu ‘alaihissalaam, hiina kaana yarfa’u qawa’ida baitillaahil muharram, fasalallahu ‘alaihi wa sallam, wa ‘ala atba’ihi khairil ‘umam.

Allaadziina barakallahu bihim kaafatannasil ‘araba minhum wal ajam. Alhamdulillahilladzi lam yattakhiz waladan, wa lam yaqul lahu syariikun fil mulk, wa lam yaqul lahu waliyyun minadzdzulli wa kabirhu takbiira.

Walhamdulillah, alladzii anzala ‘ala ‘abdihilkitaaba walam yaj’al lahu ‘iwajaa. Walhamdulillah, alladzii nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh, wa nu’minu bihi wa natawakkalu ‘alaihi, wa na’udzubuhi min syururi anfusina wa min syayyiati ‘a’maalina. Man yahdihillahu fala mudhillalah, wa man yudhlil fala hadiyalah. Wa nasyhadu an la ilaaha illallahu, wahdahu laa syarikalah. Wa nasyhadu anna muhammadan ‘abdullahi warasuluh, arsalahullahu ta’ala bil hudaa wa diinil haq, liyudzhirahu ‘aladdiini kullihi, wa kafaa billaahi syahiidaa.

Fasalallahu ‘alaihi wasallama tasliman katsiran katsiraa, tsumma ‘amma ba’d, fainna asdaqal haditsi kitabullah, wa khairal hadyi hadyu muhammadin salallahu ‘alaihi wasallam, wa inna syyarral umuuri muhdatsatuha, wa inna kulla muhdatsatin bid’ah, wa kulla bid’atin dhalalah, wa kulla dhalalatin finnaar.

Yaquulu subhanahu wa ta’ala fi kitabihil kariim, ba’da an aqula ‘audzubillahi minasyyaitaanirrajiim. Wa laa taquulanna lisyai’in innii faa’ilun dzaalika ghodaa. Illaa an yasyaa-a’ alloh, wadzkur robbaka idzaa nasiit, wa qul ‘asaa an yahdiyani robbii li ‘aqroba min haadzaa rosyadaa.

Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul uqdatam mil lisaanii, yafqohuu qoulii. Aamiin yaa rabbal ‘alamiin, tsumma ‘amma ba’d.

Menyikapi Kecelakaan Crane Musim Haji 2015

Dalam khutbah hari ini, saya ingin… sebelum masuk kepada topik khutbah sedikit mengomentari tragedi yang sudah didengar oleh sebagian besar Anda yang terjadi di rumah Allah di Haram. Kecelakaan crane yang menyebabkan banyak orang yang datang ke Haram untuk berhaji sudah menjadi syuhada. Banyak yang sudah wafat di sana sebagai akibat tragedi itu. Saya ingin menggunakan beberapa menit untuk mengingatkan saya dan Anda semua tentang beberapa hal dalam tragedi itu, dan jika tragedi serupa terulang.

Pertama kewajiban dan hal kita sebagai muslim terhadap sesama, mendoakan mereka yang waktunya telah tiba, waktu yang tak bisa dicepatkan dan tidak bisa dilambatkan. Ini adalah cara dan waktu bagi mereka untuk meninggalkan bumi ini, seperti kita semua punya waktu tersendiri untuk meninggalkan bumi ini. Karenanya, ini adalah ketentuan Allah terhadap mereka. Dan ini adalah, “Qaddarallahu ma sya’a fa’al.

Allah menentukan, dan apa yang Dia putuskan Dia lakukan.

Pada saat yang sama kita berdoa untuk mereka agar mereka diampuni khususnya doa untuk keluarga mereka dan mereka yang mereka tinggalkan saat mengunjungi rumah Allah. Sekarang mereka semua ada di rumah yang lebih baik yang dibuat Allah ‘azza wa jalla, mereka semua syuhada.

‘Inda robbihim yurzaquun.” (QS Ali Imran ayat 169)

Mereka bersama Rabb mereka, dan dicukupi kebutuhannya. Allah ‘azza wa jalla berkata,

Wa laa taquuluu liman yuqtalu fii sabiilillaahil amwaat.” (QS Al Baqarah ayat 154)

Jangan katakan bahwa mereka yang terbunuh di jalan Allah itu mati.

Jalan Allah adalah mereka yang berperang di jalan Allah, yang hijrah ke jalan Allah, dan hijrah mana yang lebih indah dari memenuhi sunnah Ibrahim ‘alaihissalam. Dan salah satu kewajiban tertinggi di agama kita untuk hijrah ke rumah Allah, meninggalkan segalanya. Secara harfiah pakaian orang yang berhaji adalah pakaian pertanda mereka siap untuk menjumpai Allah.

Dengan pakaian itulah mereka pergi. Dan tak seorang pun yang lebih siap menemui Allah dari mereka yang datang ke rumah-Nya meninggalkan seluruh dunia di belakangnya. Semuanya ditinggalkan, sehingga seharusnya kita iri dengan mereka yang beriman ini, yang dipanggil Allah ke rumah-Nya, dan dari sana dipanggil-Nya mereka ke surga-Nya. Semoga Allah ‘azza wa jalla menerima mereka semua di syurga dan memberi keluarganya surga sebagai balasan kesabaran mereka.

Satu komentar terakhir tentang tragedi ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam Qur’an untuk setiap orang yang datang ke Haram,

Wa man dakholahuu kaana aaminaa.” (QS Ali Imran ayat 97)

Siapa pun yang memasukinya sudah berada dalam kedamaian, siapa pun yang memasuki Haram dia selamat. Dan seseorang bertanya, “Selamat yang bagaimana? Sebuah crane jatuh menimpa mereka, mereka mati mengenaskan! Bagaimana bisa disebut selamat?

Saat ayat “Wa man dakholahuu kaana aaminaa.” (QS Ali Imran ayat 97) turun, yang adalah ayat Makkiyyah atau ayat Madani awal, bagi beberapa orang. Dalam ayat itu, yang terjadi di Haram, saat muslim dipukuli, bahkan pada saat itu.

Aman yang bagaimana ketika semua berhala berada di sekitar Haram? Apa yang dimaksud Allah dengan, yang memasukinya selamat?

Karena jelas bukan begitu kejadiannya, bukan hanya sebuah kecelakaan, bahkan setiap tahun orang wafat saat berhaji. Seseorang terinjak, yang lain kena serangan jantung, ada yang kena darah tinggi atau sengatan cuaca panas.

Ini terjadi tiap tahun, jadi apa maksud Allah, siapa yang memasukinya memasuki kedamaian? Kita paham bahwa kedamaian dan keselamatan sebagiannya berada di dunia dan sebagian yang lain di akhirat. Dan mereka yang ke sana datang untuk menyelamatkan akhirat mereka. Tak seorang pun datang ke Haram untuk dunia.

Haram bukan tempat berlibur, bukan tempat dengan cuaca yang cocok untuk berlibur. Anda tidak datang ke Makkah untuk menikmati pemandangannya. Makkah bukan tempat yang indah. Allah memilih salah satu tempat terkeras untuk menempatkan rumah-Nya.

Jika Haram berada di Hawaii atau California, Anda akan punya alasan lain untuk datang ke sana, melakukan tawaf dan menikmati pemandangan laut.. Tidak! Kamu harus pergi ke Makkah.

Satu-satunya alasan tempat ini bertahan karena Allah secara ajaib mengeluarkan air dari tempat itu. Jika tidak, “Biwaadin ghoiri dzii zar’in.” (QS Ibrahim ayat 37)

Lembah tanpa kehidupan. Dan tak ada alasan bagi manusia datang ke sana kecuali jika mereka ingin menyelamatkan akhirat mereka. Jadi yang datang ke sana dengan niat yang benar. Allah menawarkan keselamatan padanya. Artinya Allah menawarkan jalan keselamatan menuju surga. Itu adalah jaminan dari Allah dan janji Rasul shallallahu alaihi wasallam, bahwa jika haji diterima, semua dosa yang berlalu akan diampuni. Kenapa?

Karena jika Anda memasuki keselamatan dari Allah. Semoga Allah ‘azza wa jalla menolong kita memahaminya dan menghormati mereka yang telah dipanggil Allah ke rumah terakhir-Nya.

Esensi Dari Illaa An Yasyaa-a’ Alloh

Kembali kepada topik khutbah, yang agak terkait dengan masalah ini, namun saya benar-benar ingin bicara tentang ayat ini meskipun saya sudah membicarakannya berulang kali, tapi saya kira tidak di masjid ini.

Allah ‘azza wa jalla berkata, “Wa laa taquulanna lisyai’in innii faa’ilun dzaalika ghodaa.” (QS Al Kahfi ayat 23)

Ini satu ayat. Kata Allah, jangan kamu berani berkata bahwa saya pasti akan melakukannya besok.

Dia tak hanya berkata, jangan berkata, “Laa taqul.” (Jangan katakan -red)

Dia berkata, “Laa taquulanna.” (Jangan PERNAH katakan -red)

Jangan pernah berani berkata (selamanya) tentang apapun bahwa saya pasti akan melakukannya besok.

Jika Anda lakukan itu, berhenti pada ayat ini, akan terjadi masalah. Karena bos Anda menyuruh menyelesaikan tugas besok, Anda jawab, “Tentu. Ya, saya kerjakan besok, tentu, insya Allah.

Kadang Anda sebut insya Allah, kadang tidak. Namun orang-orang membuat janji pasti setiap saat.

Kamu datang ke undangan?

Ya, saya pasti datang.

Hai, kamu datang ke jum’atan?

Ya, tentu.

Kita mengucapkan kepastian ini setiap saat.

Pada ayat berikutnya Allah melengkapi topik ini, Dia berkata, ”Illaa an yasyaa-a’ alloh.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Dengan pengecualian bahwa kamu berkata, jika Allah mengijinkan.

Pengecualiannya hanya, saya bermaksud benar-benar melakukannya kecuali jika Allah menghendaki, artinya. Inilah mengapa dalam budaya muslim, jika kita bicara tentang masa depan, kita menggunakan kata insya Allah, jika Allah mengijinkan.

Saya akan menemuimu besok jam 3, insya Allah, artinya jika Allah memutuskan saya tak bisa menemuimu adalah di luar kuasa saya, niat saya sudah ada tapi rencana Allah bisa berbeda dengan rencana saya. Sejauh rencana saya, saya sudah berkomitmen. Tapi jika ada hujan badai, gempa, atau mobil saya mogok, saya tak tahu. Allah bisa memutuskan segalanya antara hari ini dan besok, masa depan tidak di tangan saya, maka saya harus membuat klaim jaminan itu dan mengatakan itu di tangan Allah karena itu berada di masa depan. Muslim memahami bahwa masa depan tidak di tangan mereka.

Di sini kita harus memahami aspek yang hebat dari keseimbangan. Subhanallah, jika muslim menjauh dari buku Allah bahkan pelajaran indah dari agama kita berubah jadi buruk. Kelihatan bagus di permukaannya, namun jika tidak selalu terhubung dengan buku Allah, tidak terhubung dengan sunnah Rasul shallallahu alaihi wasallam. Keduanya yang sebenarnya bagus akan berubah menjadi buruk. Banyak dari kita bersalah karena ini.

Kita berkata insya Allah yang berarti mungkin tidak, itu yang kita lakukan sekarang.

Hai, kamu datang?

Ya… insya Allah…

Artinya…. saya tidak yakin… Jadi insya Allah menjadi cara bagi kita untuk menghindari komitmen. Ayat ini bukan tentang melarikan diri dari komitmen, akan tetapi…

Innii faa’ilun dzaalika ghodaa.” (QS Al Kahfi ayat 23)

Kalimat yang keras, “Sungguh, aku pasti akan melakukannya besok.

Membuat pernyataan jaminan dan membuat janji. Berkomitmen bahwa Anda pasti akan melakukannya bukan masalahnya. Bahkan itulah yang seharusnya Anda lakukan, Anda seharusnya membuat komitmen yang kuat. Anda tak bisa dengan santainya berkata, “Ok.

Jika tidak bisa melakukan sesuatu, katakan saya tidak bisa. Jika Anda tak bisa ke sana, katakan Anda tidak bisa. Tapi jika Anda berjanji, tepatilah, lalu tambahkan, satu-satunya cara bahwa hal ini takkan bisa saya lakukan adalah jika Allah menentukan sesuatu di luar kuasa saya. Itulah ”Illaa an yasyaa-a’ alloh.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Illaa an yasyaa-a’ alloh.” tidak berarti jika saya terlambat bangun, saya takkan datang, atau jika saya tidak mood. Tidak boleh menggunakan insya Allah begitu. Itu adalah penggunaan yang keliru bagi frasa yang keras ini. Anda mengakui bahwa tidak semuanya di bawah kendali Anda. Allah memberi Anda kemampuan untuk membuat komitmen dan kemampuan untuk memenuhi komitmen Anda. Namun meski Anda memiliki sedikit kemampuan, Allah adalah “Huwa ‘alaa kulli syai’in qodiir.” (Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. -red)

Dia bisa menghentikan Anda dalam prosesnya dari semua niat Anda. Inilah esensi frasa ”Illaa an yasyaa-a’ alloh.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Lalu Allah menambahkan, “Wadzkur robbaka idzaa nasiit.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Sebut Rabbmu saat kamu lupa. Menarik bahwa Allah tidak menyebut “in nasiit,” jika kamu lupa.

Kata-Nya saat kamu lupa, ada perbedaan besar antara “jika” dan “saat”. Jika berarti dapat atau tidak dapat terjadi.

Tapi jika disebut “idzaa nasiit,” saat kamu lupa. Allah memberi jaminan, Allah bisa memberi jaminan, saya tidak. Allah menjamin bahwa Anda dan saya akan lupa. Akan tiba saatnya ketika kita berjanji untuk masa datang dan kita tak ingat mengucapkan insya Allah.

Kita akan membuat rencana di otak kita, kadang Anda tidak menyatakan sesuatu, atau “qaul” dalam bahasa Arab.

Qoola yaquulu dalam bahasa Arab tidak hanya bicara dengan mulut, tapi bahkan bicara kepada diri sendiri. Dalam bahasa Inggris, saya katakan pada diri saya… demikian.

Hanya sebuah pikiran, kadang Anda berpikir saya pasti akan melakukan ini, itu, atau lainnya. Bahkan pikiran tersebut harus diiringi dengan insya Allah. Tapi terkadang tidak, kadang hanya muncul di kepala saya, minggu ini yang ini, minggu depan ini, besok penerbangan ini… lalu rapat ini, ok saya tahu… saya tahu apa yang akan dilakukan sekarang, tapi pikiran insya Allah tidak muncul di kepala Anda, padahal itu harus.

Kadang Anda menelpon seseorang dan berjanji untuk nanti, “Ok, sampai ketemu pada makan malam… sampai ketemu… assalaamualaikum.

Telepon Anda matikan sebelum mengucapkan insya allah.

Ini bukan berarti Anda harus menelponnya kembali hanya untuk berkata insya Allah. Atau meninggalkan voice mail insya Allah, jangan lakukan itu. Mereka tak perlu mendengar insya Allah, tapi Allah ‘azza wa jalla yang ingin mendengar Anda mengatakannya.

Keseimbangan Antara Komitmen Berusaha Dan Kepercayaan Mutlak Kepada Allah

Anda mengatakannya kepada Rabb Anda, “Wadzkur robbaka idzaa nasiit.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Sebut Rabbmu saat kamu lupa, ini bahasa yang sangat indah,

Illaa an yasyaa-a’ alloh, Wadzkur robbaka idzaa nasiit.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Ingat Dia saat kamu lupa, Allah tidak berkata begitu.

Dia berkata, ingat Rabbmu. Perhatikan bahwa Allah sudah disebutkan dalam ayat ini, ”Illaa an yasyaa-a’ alloh.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Saat Allah sudah disebutkan, saat seseorang disebutkan dengan namanya, selanjutnya dia akan disebutkan dengan kata ganti.

Contoh untuk memudahkan memahaminya, katakan jika Allah berkehendak dan ingat Dia saat berikutnya.

Ingat Dia saat kamu lupa, kata Dia mengacu kepada Allah. Tapi sebenarnya Allah tidak menggunakan kata Dia, Dia tidak menggunakan kata ganti.

Dia berkata, “Robbak(a).” (QS Al Kahfi ayat 24)

Ini sebenarnya menguatkan pernyataan bahwa Anda hampir seperti memperkenalkan diri kepada konsep Rabb kepada Allah. Bahwa Allah menguasai masa depan Anda, Dia Rabb dan sepenuhnya Tuhan Anda dan Anda tak bisa menyangkal-Nya. Ini bagian dari kekuasaan Allah terhadap Anda, bahwa masa depan anda ditangan-Nya. Jadi Allah secara khusus menyatakan “Robbaka idzaa nasiit.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Jika kita membuat komitmen tentang masa depan, bahwa itu memang di tangan Allah. Ini adalah ayat yang menakjubkan tentang keseimbangan, karena di satu sisi Anda membuat jaminan terkuat,

Innii faa’ilun dzaalika ghodaa.” (QS Al Kahfi ayat 23)

Bahkan bukan “Innii saaf’al” bagi yang familiar dengan bahasa Arab bukan kata kerja, tapi komitmen dengan kata benda, ism fa’il.

Saya pasti melakukannya besok. Tapi di sisi lain, Anda juga punya kepercayaan mutlak kepada Allah. Jadi kita akan membicarakan keseimbangan ini sebelum berlanjut. Ada sekelompok orang di dunia ini yang mengira bisa melakukan segalanya sendiri. Saya sangat pintar, saya punya mobil yang bagus, sopir yang baik, saya tahu jalan terbaik ke sana sebelum terlambat.

Saya, saya, saya, sepenuhnya bergantung kepada diri saya sendiri. Bisnis saya sukses karena saya punya strategi bisnis yang sangat baik. Pekerjaan saya bagus karena sekolah saya bagus, IPK saya tinggi dan saya punya resume yang bagus. Jadi sepenuhnya bergantung pada diri Anda sendiri.

Lalu ada industri ratusan juta dolar tentang menolong dan memotivasi diri sendiri, yang mulai dari awal sampai akhir tentang, Anda bisa melakukan segalanya. Anda menakjubkan, Anda bahkan tak menyadari kekuatan dan potensi Anda. Orang membayar ribuan dolar di akhir minggu untuk mendengar mereka berkata, “Anda bisa menggosok gigi Anda sendiri, Anda bisa membawa piring Anda sendiri, atau apa saja.

Dan pesertanya menjadi terpacu semangatnya karena ada konsep kekuatan diri sendiri yang valid untuk beberapa hal.

Tapi di pihak lain ada orang-orang yang berkata, saya tak bisa melakukan apa-apa, saya hanya seorang miskin, saya seorang hamba Allah, siapa saya yang tak seberharga debu di kaki seseorang. Saya bukan siapa-siapa, saya terbuat dari turaab (tanah), saya terbuat dari nutfah (mani), seperti saat Allah menggambarkan makhluk hina dan menyedihkan ini.

Sehingga saya tak bisa melakukan apa-apa sama sekali. Mereka tak punya percaya diri sama sekali, mereka berkata, Allah melakukan segalanya, saya tak bisa melakukan apa-apa. Apakah yang akhirnya terjadi pada mereka yang tak melakukan apapun dalam hidupnya ini? Saat tak ada yang terjadi mereka berkata, Allah memutuskan tak ada yang terjadi. Jadi mereka menyalahkan semua kepada Allah.

Di satu sisi Anda punya orang-orang yang bergantung sepenuhnya pada diri sendiri. Dan di sisi lain bergantung sepenuhnya pada Allah sehingga tak melakukan apapun. Ayat ini di antara banyak ayat Qur’an adalah tentang keseimbangan. Anda harus membuat komitmen, melakukan sesuatu,

Innii faa’ilun dzaalika ghodaa.” (QS Al Kahfi ayat 23)

Namun Anda harus paham bahwa komitmen Anda, usaha dan kemampuan Anda di tangan Rabb Anda. Dan Dia hanya akan memberikan jika Anda berusaha ke arah itu, jika Anda berusaha sungguh-sungguh.

Kadang rencana Anda dan Allah sama, kadang Anda memutuskan untuk pergi ke suatu tempat dan Allah memutuskan Anda bisa pergi. Kadang Anda memutuskan masuk sebuah universitas, dan Allah memutuskan yang sama. Anda putuskan tamat cepat, dan Allah membiarkan Anda tamat cepat. Sehingga semua berlangsung seperti rencana Anda. Sebenarnya maksudnya rencana Anda dan Allah sama untuk satu hal itu.

Tapi kadang rencana Anda dan Allah tidak sama. Kadang Anda ingin kerja 10 tahun, tapi di PHK setelah 6 bulan. Kadang Anda melamar ke sebuah sekolah dengan lamaran terbaik tapi masih tidak lulus, sedang orang dengan lamaran tak sebaik Anda lulus. Ini terjadi, kadang rencana Anda dan Allah tak sama. Ayat ini menyatakan bahwa tak semua hal berjalan sesuai rencana saya.

Tapi saya masih tetap harus membuat rencana, saya masih tetap harus berusaha, tapi pada akhirnya Allah yang memutuskan apakah rencana ini akan berjalan atau tidak. Inilah “Wadzkur robbaka idzaa nasiit.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Muslim Harus Optimis Akan Masa Depannya

Lalu bagian yang paling kuat dari ayat ini yang ingin saya bahas lebih dalam, karena merupakan salah satu pelajaran terindah dalam Qur’an. Menurut saya jika muslim paham ini, hidup mereka akan mudah.

Wa qul ‘asaa an yahdiyani robbii li ‘aqroba min haadzaa rosyadaa.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Kalimat ini merupakan sebuah doa, lebih dari itu juga merupakan pernyataan optimisme, mari kita anggap demikian. Anda berpikir tentang masa depan hanya karena ada kata “‘asaa,” yang merupakan harfuttarajji dalam bahasa Arab, sebuah kata atau fi’luttarajji, kata kerja untuk menyatakan harapan.

Allah mengajarkan kita dalam ayat ini bahwa muslim harus punya harapan di masa depan. Iman saya membuat saya optimis tentang masa depan. Saya tak peduli apa yang diberitakan, saya tak peduli apa yang terjadi kemarin dan hari-hari sebelumnya. Saya takkan menjadi muslim semacam itu, yang duduk di meja dan berkata kondisi umat ini semakin memburuk.

Ya Tuhanku keadaan akan semakin parah, akan terjadi tragedi lain, saya jamin, lihat saja.

Jika Anda pikir 11 September itu buruk? 11 September belum apa-apa! Lihat saja apa yang telah dan sedang terjadi pada umat ini. Sikap tersebut secara langsung menentang ayat ini, hanya pada kata “‘asaa”.

Memperoleh Petunjuk Allah

Anda seharusnya penuh optimisme dan harapan bahwa Allah akan memperbaiki kondisi ini bagi Anda dan semua orang di sekitar Anda, untuk umat manusia. Anda seharusnya punya sikap itu. Lalu Dia berkata, apa yang seharusnya Anda katakan tentang masa depan Anda?

‘Asaa an yahdiyani robbii.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Mungkin Tuhanku akan memberiku petunjuk. Hal teroptimis apa yang bisa Anda peroleh di masa depan? Setiap orang ingin pekerjaan yang lebih baik, kondisi keuangan yang lebih baik, kondisi keluarga atau kesehatan yang lebih baik. Kita menginginkan semua ini, tapi hal yang paling mendasar yang paling kita perlukan lebih penting dari oksigen yang kita hirup adalah petunjuk dari Allah.

Begitu Anda memperolehnya, semua yang lainnya akan berjalan baik. Jika Anda tak memperolehnya, tapi memperoleh semua yang lain, Anda masih tak punya apa-apa. Jadi dalam ayat ini ada optimisme bahwa Allah akan menunjuki saya,

‘Asaa an yahdiyani robbii.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Bahwa Rabb-ku akan menunjukiku, Tuhan-ku takkan melupakanku. Saya mengingat-Nya sehubungan dengan masa depan, Dia akan mengingat saya sehubungan dengan masa depan. Saat saya mengucapkan insya Allah, saya mengingat-Nya. Karena saya mengingatnya sehubungan dengan masa depan, Dia akan mengingat saya.

Fadzkuruunii adzkurkum.” (QS Al Baqarah ayat 152)

Ingat Aku akan Ku-ingat kamu, sebut Aku akan kusebut kamu.

Sekarang Allah menjamin petunjuk bagi Anda, ini penting untuk dipahami muslim.

Petunjuk Mana Yang Benar?

Saat ini banyak sekali orang di seluruh dunia yang saya temui memiliki pertanyaan yang sama, wallahil ‘adziim. Tidak masalah ke bagian bumi mana Anda pergi, orang-orang bingung tentang hal yang sama, selalu ada pertanyaan yang sama. Salah satu pertanyaan yang paling sering saya dengar adalah…

Ada banyak versi Islam yang berbeda, banyak video yang berbeda tentang makna Qur’an atau makna hadits. Beberapa orang percaya dengan yang ini, yang lain dengan yang itu. Syekh ini memberi fatwa ini, syekh itu memberi fatwa lain. Apakah saya harus mengikuti yang ini atau yang itu? Seseorang berkata ini halal, yang lain bilang haram, saya tak tahu lagi, semuanya membingungkan. Terlalu banyak variasi.

Bagaimana caranya saya memperoleh petunjuk? Bagaimana saya tahu bahwa saya sudah mengikuti yang benar? Bagaimana caranya saya tahu? Terlalu banyak informasi untuk ditelaah.

Dan saya setuju kita hidup di dunia yang kebanjiran informasi. Kita dihantam dengan begitu banyak perspektif meskipun di dalam Islam. Lihat saja hadirin yang duduk di aula ini, meski sebagian besar kita berasal dari daerah ini, cara Anda mempelajari Islam sangat berbeda dengan orang di sebelah Anda. Guru, orang-orang yang Anda kenal, pelajaran yang Anda peroleh, semua berbeda antara orang yang satu dengan yang lain.

Jadi ada banyak variasi bagaimana kita terekspos kepada Islam. Dan ada satu orang yang kelabakan, bagaimana saya tahu saya mengikuti yang benar? Ayat ini adalah jawabannya.

Saya tidak bisa menjamin petunjuk dan YouTube juga tidak, dan Google juga tidak menjamin petunjuk, dan orang-orang juga tidak menjamin petunjuk. Adalah harapan kita agar Allah sendiri yang memberi saya petunjuk. Petunjuk takkan datang dari tempat lainnya. Apakah Anda tak punya informasi atau kelebihan informasi, itu tidak masalah.

Bahwa Allah akan menunjukimu ke jalan yang benar tergantung kepada seberapa banyak Anda memohon kepada Allah, bukan orang lain. Dan setelah Anda memohon kepada Allah, Anda tak perlu gugup lagi. Karena Anda memiliki kepastian yang mutlak bahwa Allah akan memberimu petunjuk, Dia takkan menolak siapapun.

Memperoleh petunjuk dari Allah tidaklah sulit. Allah sudah membuka pintu petunjuk selebar-lebarnya bagi yang mencarinya. Kita hanya harus menjadi orang-orang yang mencari petunjuk, itu saja. Maksud saya, ayat ini termasuk surat Al Kahfi, dan saya takkan pernah selesai membicarakan surat Al Kahfi seperti terbukti pada khutbah ini.

Para ashabul kahf, para penghuni gua ini, yang kita baca setiap Jum’at. Mereka tak punya nabi, tak ada orang ‘alim, tak ada syekh, tak ada sahabat di antara mereka, mereka sendirian. Dan mereka tinggal di kampung di mana semua orang menyembah berhala. Dan mereka sampai pada kesimpulan bahwa hanya ada satu Tuhan. Mereka bahkan tak bisa mengatakannya, hanya kita tak bisa menyembah benda ini,

Lan nad’uwa min duunihii ilaahan.” (QS Al Kahfi ayat 14)

Kita tak bisa menyembah Tuhan yang lain. Dan itu sudah cukup bagi Allah untuk menunjuki mereka, meski tanpa ilmu, meski tanpa wahyu, tanpa apapun. Itu cukup bagi Allah untuk menunjuki mereka, bahkan sangat cukup. Sehingga sekarang mereka yang mempelajari agama bertahun-tahun mempelajari tafsir tentang para pemuda yang tak tahu apa-apa dibandingkan dengan para ‘ulama yang belajar dari mereka. Karena mereka memperoleh petunjuk Allah. Karena Allah memberi mereka petunjuk, tak peduli betapa kelamnya kondisi Anda, tak peduli betapa putus asanya, jika Anda diberi harapan oleh Allah itu sudah cukup.

‘Asaa an yahdiyani robbii li ‘aqroba min haadzaa rosyadaa.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Sukses Di Mata Allah Bukan Mencapai Kesempurnaan, Tapi Selalu Berusaha Menjadi Lebih Dekat Kepada Allah

Sekarang ekspresi yang terakhir dan yang saya anggap paling indah. Mungkin Allah akan menunjuki saya, menunjuki kepada apa? Dia berkata,

Li ‘aqroba min haadzaa rosyadaa.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Bahasanya sangat dalam, dalam khutbah saya tak bisa memberi pelajaran tata bahasa karena Anda akan sakit kepala. Jadi akan saya buat menjadi sesederhana mungkin. Dalam bahasa Arab kadang Anda berkata, “Ke sana.”

Kadang, “Sepanjang perjalanan ke sana.

Saat Anda berkata, “Sepanjang perjalanan ke sana.”

Artinya saya menuntun Anda ke tujuan Anda.

Jika Anda berkata, “Ke sana.

Mungkin Anda bisa ke sana lalu ke tempat lain-lainnya.

Tapi jika saya berkata, “Sepanjang perjalanan ke sana.

Maka saya sudah mengatakan ke arah sana kamu harus pergi kamu tak perlu pergi lebih jauh dari itu.

Saat lam digunakan, “‘Asaa an yahdiyani robbii li ‘aqroba.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Sebuah “Lam”. Apa yang diacu oleh “Lam” ini? Ini Al Muntaha, tak ada hal yang lebih tinggi yang bisa diminta di dunia ini. Jika Anda memperoleh ini, tak ada yang lebih baik yang bisa diminta. Jika kata-kata “Ilaa” digunakan, maka Anda akan sampai ke sana, lalu menuju yang lain-lainnya.

Jadi dalam ayat ini, saya memohon kepada Allah, dan apa yang diminta kepada Allah dalam ayat ini adalah untuk sesuatu yang jika Anda peroleh maka tak ada hal lain yang lebih baik, itu sesuatu akhir yang terbaik. Apa akhir yang terbaik itu?

Kata-Nya, “Li ‘aqroba min haadzaa.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Lebih dekat dari ini, saya harap Allah menunjuki saya (sepanjang perjalanan) lebih dekat dari ini. Apa arti kata “ini”? Ini berarti di mana saya berada sekarang.

Sekarang mari kita pahami apa maksudnya dalam bahasa sederhana. Kita semua, alhamdulillah, tsumma alhamdulillah memperoleh petunjuk dalam berbagai tingkat.

Kenyataan bahwa kita duduk di rumah Allah untuk shalat Jumat menunjukkan Allah sudah memberi kita petunjuk. Untuk beberapa orang Allah memberi lebih banyak petunjuk, beberapa yang lain diberi lebih sedikit petunjuk. Beberapa punya ilmu lebih, beberapa ilmunya kurang. Beberapa punya perhatian lebih saat shalat, beberapa yang lain kurang. Kita semua tidak berada pada tingkat yang sama, itu kenyataan.

Tapi tahukah Anda apa yang dimaksudkan oleh doa ini? Tujuan akhir saya adalah untuk menjadi lebih dekat kepada Allah daripada saat ini. Saya tidak berada di sini untuk membandingkan diri saya dengan orang lain.

Saya di sini hanya untuk membandingkan diri saya dengan diri saya yang sekarang. Jika saya bisa berusaha untuk menjadi lebih baik dari diri saya sekarang, itulah sukses terbesar di mata Allah. Tak ada kesuksesan yang lebih dari itu. Anda takkan bisa jadi sempurna, begitu juga saya. Yang bisa kita lakukan adalah menjadi sedikit lebih baik, lalu sedkit lebih baik, dan seterusnya. Menjadi sedikit demi sedikit lebih dekat dengan Allah, dan jika dalam perjalanan itu dia meninggal maka dia sudah sukses.

Yang banyak dilakukan orang adalah membandingkan dirinya dengan orang lain. Orang ini sudah menghafal seluruh Qur’an, lihat bagaimana dia membacanya, mereka di masjid setiap hari, sudah di sana bahkan sebelum adzan, mereka lebih banyak beribadah (kepada) Allah, mereka lebih berilmu, mereka paham bahasa Arab, mereka paham tafsir, mengerti ini itu, atau sebagai muslim mereka berpakaian lebih baik dari saya.

Jangan bandingkan diri Anda dengan orang lain, bukan itu yang diinginkan Allah. Allah takkan menempatkanmu di sebelah orang lain lalu membandingkan. Dia bahkan tak mau membandingkan dirimu dengan orang lain bahkan di dunia.

Laa tatamannau maa fadhdholalloohu biihii ba’dhokum ‘alaa ba’dh.” (QS An Nisaa ayat 32)

Jangan mengharapkan apa yang dimiliki orang lain, apa yang dilebihkan oleh Allah kepada orang lain. Jangan lakukan itu pada dirimu sendiri.

Jadi apa yang kita pelajari? Kita belajar bahwa jika Anda mulai belajar bagaimana membaca Qur’an hari ini. Anda berumur 35 tahun dan belum pernah membuka Qur’an selama 30 tahun, lalu Anda memutuskan untuk mulai belajar Qur’an hari ini.

Anda tak bisa membaca “Bismillah,” bahkan tidak tahu bagaimana bentuk huruf “Ba” lagi, Anda harus belajar seperti anak-anak lagi. Ada orang seumuran Anda yang bisa membaca seperti orang dewasa, tapi Anda harus membaca seperti anak kecil, tapi tak apa.

Saat Anda mempelajari “Alif” atau “Ba” itu, dan Anda berjuang lebih untuk lebih dekat dengan Allah, dan Anda meninggal dalam kondisi tersebut, Anda mungkin lebih baik dari seorang ‘alim, mungkin Anda lebih baik dari seorang hafidz Qur’an yang hafal seluruh Qur’an tapi tidak menghargainya, dan tidak menjadikan mereka orang yang lebih baik. Karena yang membuat seseorang itu lebih baik ada dalam hati, dan Allah tahu itu. Jadi jangan kecilkan arti di mana Anda berada terhadap Allah. Orang bisa meremehkan Anda, tapi Allah tidak.

Orang-orang memberikan impresi bahwa petunjuk Allah itu sulit, mahal, dan tak mudah diperoleh. Padahal Allah membuka pintu petunjuk-Nya lebar-lebar. Dia hanya meminta Anda dan saya untuk memeluknya dan memohon, “Ya Allah tunjukilah saya, bawa saya sedikit lebih dekat kepada-Mu.

Li ‘aqroba min haadzaa rosyadaa.” (QS Al Kahfi ayat 24)

Dalam hal kelurusan, dalam hal petunjuk. Kata terakhir dalam ayat ini, “Rosyadaa(n),” sebenarnya mengakui kenyataan bahwa saat ini Anda berdoa. Artinya Anda sudah memperoleh sedikit petunjuk, bahwa Anda tidak boleh mengatakan saya sesat.

Kata itu menyatakan bahwa dengan Allah memampukan Anda berdoa ini saja adalah sebuah hadiah petunjuk dari-Nya. Dan Allah akan memberi lagi dan lagi. Ini optimisme muslim. Ketika petunjuk datang di dunia ini lalu tuma’ninah datang, itminan datang, hati menjadi tenang,

‘Alaa bidzikrillaahi tathma’innul-quluub.” (QS Ar Ra’d ayat 28)

Mencapai Kedamaian Dengan Memohon Petunjuk Allah

Dan dengan ini saya ingin menyimpulkan, jika hati menjadi tenang, damai, maka orang-orang di sekitar orang itu juga tenang. Kedamaian itu, iman itu menular. Kedamaian akan menyebar dalam keluarga, di antara teman-teman, kedamaian menyebar dalam masyarakat jika petunjuk datang.

Jika masalah dunia adalah konflik, kebencian, jika masalah dunia adalah perang, maka solusinya bukanlah kebijakan lain yang lebih cepat dampaknya, bukan itu solusinya, bukan sanksi ekonomi. Yang dibutuhkan manusia adalah petunjuk. Karena tanpa petunjuk Anda tak bisa memperoleh kedamaian, tidak bisa.

Fa ayyul-fariiqoini ahaqqu bil-amni, in kuntum ta’lamuun.” (QS Al-An’am ayat 81)

Alladziina aamanuu.

Siapa yang butuh lebih banyak kedamaian? Mereka yang percaya, yang beriman. Ini yang kita mohonkan kepada Allah ‘azza wa jalla. Anda dan saya berdoa untuk kedamaian di dunia, kedamaian bagi negeri muslim, kedamaian bagi yang teraniaya. Saat kita berdoa demikian, kita secara langsung memohon agar Allah meningkatkan kedamaian kita dan dunia di sekitar kita.

Semoga Allah ‘azza wa jalla menambah petunjuk bagi kita, dan menjadikan kita bagian orang-orang yang optimis tentang masa depannya sendiri, masa depan anak-anaknya, umat ini, dan masa depan dunia. Kita harus peduli dengan seluruh dunia ini, tak hanya umat kita sendiri, tapi seluruh dunia.

Kita adalah millah Ibrahim ‘alaihissalam. Ibrahim ‘alaihissalam selalu peduli terhadap seluruh manusia, itu adalah warisan yang kita warisi darinya. Jadi kita harus optimis tentang seluruh dunia. Semoga Allah ‘azza wa jalla menjadikan kita demikian dan membuat generasi penerus kita contoh yang berkilau tentang makna hidup dengan tuntunan yang indah dari Qur’an dan sunnah.

Barakallahuli walakum. Assalaamualaikum wa rahmatullah wabarakatuhu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s