[Transkrip Indonesia] Sa’id bin Zaid (#Pelayanan) – Omar Suleiman – Quran Weekly

Assalaamualaikum wa rahmatullah wabarakatuhu, Quran Weekly. Kembali lagi di serial Superstars. Masih bersama saya Omar Suleiman.

Judul Asli: Saeed ibn Zaid (#Servitude) – Omar Suleiman – Quran Weekly
Video Asli: https://youtu.be/lc-G-DG7aNA

Insya Allah taala hari ini kita akan mulai dengan seorang sahabat yang sangat istimewa, yang ayahnya juga merupakan seorang yang sangat istimewa. Ayah dari Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Seorang pria yang mengerti sejak awal bahwa ada sesuatu salah dengan dengan penduduk Mekah dan kaum Quraisy. Terutama terkait penyembahan berhala dan hal-hal seputar itu. Dia adalah seseorang yang menolak kesyirikan sejak usia dini dan sering berargumen dengan kaumnya. Dia adalah keponakan dari al-Khattab, ayah ‘Umar ibn al-Khattab (radhiyallahu taala ‘anhu). Dan ia secara konsisten menentang orang-orang sampai al-Khattab sendiri menganiayanya dan memukulnya. Dan Zaid (radhiyallahu taala ‘anhu) mencoba pergi ke tempat lain untuk mencari dan menemukan kebenaran.

Sekarang, Zaid meninggal sebelum Nabi (shallallahu alaihi wasallam) menerima wahyu. Jadi Sa’id bin Zaid, ia bertanya kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam), “Anda kenal dengan ayah saya dan Anda tahu apa yang terjadi dengan dia. Bagaimana keadaannya sekarang?

Dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) berkata, “Saya telah melihat pada Hari Kiamat bahwa ketika setiap bangsa berdiri di belakang Nabinya tapi Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail (radhiyallahu taala ‘anhu) akan berdiri sendirian.

Sekarang, Sa’id sendiri juga seorang yang sangat istimewa. Dia langsung menerima Islam sejak usia 19 tahun. Bahkan, para ulama mengatakan ia menerima Islam bahkan sebelum pertemuan di Darul-Arqam. Gurunya adalah Khabbab bin al-Aratt (radhiyallahu taala ‘anhu). Dan ia menikahi Fatimah binti al-Khattab, adik ‘Umar ibn al-Khattab (radhiyallahu taala ‘anhu). Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha) menurut banyak ulama, adalah wanita kedua yang menerima Islam setelah Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha).

Sekarang apa yang membuat sahabat ini begitu istimewa? Sa’id (radhiyallahu taala ‘anhu) adalah seseorang yang sangat suka melayani. Dia suka melayani dengan Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Dia menyukai perasaan perjuangan dan perasaan ketika ada debu dan pasir di wajahnya. Bahkan, dia (radhiyallahu taala ‘anhu) berkata bahwa menyaksikan pertempuran bersama Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dan kemudian ada kotoran yang menempel di wajah Anda dan berada di panas terik pertempuran lebih dia cintai daripada berbuat baik seumur hidup walaupun selama umur Nabi Nuh (‘alaihissalam).

Jadi dia selalu ikut dalam setiap pertempuran bersama Nabi (shallallahu alaihi wasallam) kecuali satu perang, dan itu perang Badar. Sekarang Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa ia tidak ikut perang Badr jika ia menerima Islam, bahkan sebelum Darul-Arqam di Mekkah. Jawabannya adalah karena ia dan Thalhah bin ‘Ubaidillah dikirim ke Syam (Damaskus) untuk memata-matai di mana pasukan Quraisy akan menyerang dan ketika mereka kembali perang Badr telah berakhir. Tapi Rasululallah (shallallahu alaihi wasallam) masih menganggap Thalhah dan Sa’id (radhiyallahu taala ‘anhuma) adalah salah satu prajurit Badar, para veteran Badar. Jadi dia ikut dalam setiap pertempuran bersama Nabi (shallallahu alaihi wasallam).

Bahkan, ia juga memiliki reputasi, bahkan ketika zaman Abu Bakar dan Umar. Sa’id (radhiyallahu taala ‘anhu) dikenal sebagai orang yang akan selalu menyerang pertama dalam setiap pertempuran. Dia adalah “Kepala Para Ksatria” di sebagian besar pertempuran. Jadi dia adalah orang yang selalu menyerang duluan.

Dan Anda bisa bayangkan, subhanallah, ketika umat Islam berperang, biasanya mereka selalu kalah jumlah, entah 3 lawan 1 atau 4 lawan 1 atau 5 lawan 1. Dan ketika seseorang dalam situasi yang terpojok butuh berapa besar keberanian untuk menyerang duluan. Dan Sa’id (radhiyallahu taala ‘anhu) punya cerita khusus ketika Perang Yarmuk di bawah pimpinan Khalid ibn al-Walid (radhiyallahu taala ‘anhu) yang merupakan salah satu pertempuran paling hebat yang pernah dilewati pasukan Muslim.

Khalid (radhiyallahu taala ‘anhu) menunjuk Sa’id sebagai “Pusat” tentara di Yarmuk. Dan Sa’id (radhiyallahu taala ‘anhu) pada hari itu, melakukan sesuatu yang sangat luar biasa. Dia memanggil Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah dan berkata, “Oh, Abu ‘Ubaidah.

“اني قد عزمت على الشهادة”

Aku telah beritikad untuk syahid hari ini.

Dan dia temui Abu ‘Ubaidah dan bertanya, “Apa yang ingin kamu katakan kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam) jika saya bertemu dengannya hari ini?

Jadi Abu ‘Ubaidah berkata kepada Sa’id, “Jika Engkau bertemu Nabi (shallallahu alaihi wasallam), sampaikan salam saya pada Beliau dan salam dari umat Islam kepadanya.

“‘وقل له يا رسول الله”

Dan katakan padanya, Ya Rasulullah.

“جزاك الله عنا خيرا”

Semoga Allah (subhanahu wa ta’ala) memberikan pahala kepadamu atas nama kami.

“وإنا قد وجدنا ما وعدنا ربنا حقا”

Dan kami bersaksi bahwa janji Allah itu benar.

SubhanAllah, kami telah bersaksi bahwa janji Allah itu benar. Dan yang dia maksud adalah tersebarnya Islam di seluruh dunia. Dan Sa’id (radhiyallahu taala ‘anhu) berkata, “Saat itu, rasa takut seolah dicabut dari hati saya dan setelah hari itu, saya tidak pernah merasa takut lagi.

Dan subhanallah, meskipun ia bertekad pada hari itu untuk syahid, tapi Allah (subhanahu wa ta’ala) mengizinkan dia untuk hidup dan memenangkan Perang Yarmuk. Dan bahkan dia adalah penanggung jawab atas tentara yang berangkat ke Damaskus. Dan kemudian ‘Umar ibn al-Khattab menunjuk Sa’id sebagai gubernur Damaskus, gubernur Syam.

Sekarang saya ingin Anda berpikir tentang hal ini sejenak. Orang seperti Sa’id bin Zaid yang telah melayani sepanjang hidupnya. Seorang pria yang biasa terkena tanah dan biasa berada di medan pertempuran. Bagaimana perasaannya berada di Damaskus saat itu? Dan Damaskus, dan kita juga berdo’a kepada Allah (subhanahu wa ta’ala) untuk mengembalikan kejayaannya, Allaahumma aamiin.

Damaskus pada waktu itu adalah kota yang paling berkembang di dunia. Mereka punya bangunan tinggi dan taman yang indah dan dikenal dengan kemajuan dan kemakmurannya. Dan Sa’id tinggal di istana Caesar. Sa’id yang biasanya dan selalu berada di medan perang. Sa’id yang biasanya selalu kotor dan berpasir. Sa’id (radhiyallahu taala ‘anhu) kemudian berjalan keluar setiap hari melewati balkon istana itu. Dan ia melakukan itu selama 3 bulan lalu ia akan berkata kepada dirinya sendiri.

Aku tidak berjuang untuk ini. Saya tidak butuh semua ini.

Subhanallah. Ini bukan perbuatan yang saya sukai.

Saya suka melayani. Saya suka berada di jalan Allah (subhanahu wa ta’ala).

Jadi dia mengirim surat kepada ‘Umar ibn al-Khattab (radhiyallahu taala ‘anhu) dan berkata, “Oh Amir al-Mukminin, saya tidak akan membiarkan Anda atau para sahabat berjuang sementara saya duduk di istana ini. Maka, ketika Anda menerima surat ini ketahuilah bahwa saya sedang dalam perjalanan menuju Anda. Silakan kirim seseorang untuk menentukan posisi yang cocok untuk saya karena saya tidak bisa menjalani semua ini.

Jadi Sa’id (radhiyallahu taala ‘anhu) ingin tetap konstan melayani untuk Allah (subhanahu wa ta’ala). Dia tidak ingin kehidupan yang mewah atau duduk di istana itu. Dan subhanallah, kita dapat belajar sesuatu yang sangat kuat dan mendalam dari kisah ini. Sa’id (radhiyallahu taala ‘anhu) mengajarkan kita bahwa sebagai umat Islam kita harus selalu senang berada di lapangan.

Maksud saya adalah bahwa kita harus selalu senang berada di antara orang-orang yang melayani para tunawisma. Kita harus selalu senang menjadi orang-orang yang membersihkan kamar mandi. Kita harus ingin menjadi orang yang memberikan makanan, orang orang yang melakukan pekerjaan kotor, hal-hal yang orang lain tidak ingin melakukannya. Kita harus selalu senang melayani. Jadi pikirkan tentang ini untuk diri kita sendiri.

Ketika Anda sedang duduk dalam suatu majelis, ketika Anda berada di masjid, ketika Anda berada di sebuah konvensi, di manapun Anda berada, ketika Anda sedang bersama keluarga di rumah. Apakah Anda melayani atau hanya duduk manis?

Sebagai orang beriman, Anda harus sadar bahwa Anda tidak punya waktu untuk disia-siakan, supaya Anda bisa banyak berbuat baik. Dan Sa’id (radhiyallahu taala ‘anhu) melanjutkan perjuangannya sepanjang hidupnya, meskipun ia bisa saja santai dan berbicara tentang betapa besar pengorbanannya kepada para sahabat, kepada Tabi’in dan anak-anaknya. Dia memutuskan untuk melanjutkan perjuangan melayani Allah (subhanahu wa ta’ala).

Sekarang ada cerita menarik dibalik semua ini, Sa’id (radhiyallahu taala ‘anhu) pada tahun 673 (Masehi) meninggal dalam kondisi selalu melayani sepanjang hidupnya. Jadi suatu pagi Sa’id (radhiyallahu taala ‘anhu) berangkat shalat shubuh lalu pulang, dan ia kelihatan baik-baik saja. Dia kembali setelah shalat shubuh lalu meletakkan tangannya di belakang kepalanya dan ia meninggal dengan tenang saat istirahat. Sa’ad bin Abi Waqqas dan Abdullah bin ‘Umar (radhiyallahu taala ‘anhuma) adalah orang yang mengurus jenazahnya. Dan mereka berdo’a untuknya lalu memberikan sebuah komentar yang menarik.

Yaitu bahwa setiap kali mereka akan memberikan wewangian di tubuh Sa’id bin Zaid dengan Al-Hanoot- (sejenis parfum). Mereka dapati bahwa tubuhnya bahkan sudah wangi. SubhanAllah. Seolah-olah Allah (subhanahu wa ta’ala) ingin memberitahu kita dan berkata kepada Sa’id (radhiyallahu taala ‘anhu).

Perjuanganmu telah diterima, bahkan ketika Engkau tidak mati di medan perang dan Anda tidak mati dengan kotoran di wajah Anda.

Selama Anda berniat adalah berjuang di jalan Allah (subhanahu wa ta’ala), (Allah) pasti akan menerima perjuangan kita. Jadi lain kali, pastikan bahwa Anda memanfaatkan situasi. Pastikan bahwa Anda salah satu yang peduli dan berjuang di jalan Allah (subhanahu wa ta’ala). Kita berdo’a kepada Allah agar menanamkan rasa melayani dalam diri kita dan menerima semua perjuangan kita di jalan-Nya.
Allaahumma aamiin.

Sampai jumpa minggu depan insya Allah, masih dalam serial yang sama serial Superstars. Jazakumullahu khairan. Wassalaamualaikum wa rahmatullah wabarakatuhu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s