[Transkrip Indonesia] Khadijah binti Khuwailid (#Kesetiaan) – Omar Suleiman

Assalaamualaikum wa rahmatullah wabarakatuhu, Quran Weekly. Masih bersama saya Omar Suleiman. Selamat datang kembali ke superstar Series. Nabi (shallallahu alaihi wasallam) mengatakan bahwa tidak ada keraguan bahwa Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha) adalah wanita terbaik di masanya. Dan dia, bersama dengan putrinya, adalah satu di antara empat wanita yang memiliki iman yang sempurna. SubhanAllah! Jadi pikirkan tentang itu. Wanita ini, Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha) sebelum adanya wahyu tentang sholat, sebelum turunnya perintah puasa, sebelum turunnya perintah zakat atau haji, sebelum turunnya sebagian besar aturan dalam Islam. Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha) telah berhasil menyempurnakan imannya. Dan Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana mungkin?

Judul Asli: Khadijah bint Khuwaylid (#Loyalty) – Omar Suleiman – Quran Weekly
Video Asli: https://youtu.be/IKASMwUWV9c

Karena Nabi (shallallahu alaihi wasallam) adalah orang yang mengatakan kepada kita bahwa “ أكمل المؤمنين إيماناً” [‘akmal al mukminin iimaanan] – orang yang paling sempurna dalam iman mereka adalah orang-orang yang “أحسنهم أخلاقا” [‘ahsanahum akhlaaq] adalah orang-orang yang memiliki karakter terbaik. Dan Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha) bahkan sebelum Islam, sudah dikenal sebagai “الطاهرة” [at-thaahirah] – wanita yang suci. Dan Subhanallah Anda melihat pernikahan antara dirinya dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam).

Dia adalah putri dari 2 orang ternama, Khuwailid dan Fatimah. Dan dia adalah seorang wanita kaya, wanita bisnis yang sangat kaya. Dia telah menikah sebelumnya dengan beberapa pemimpin Quraisy, tapi dia menjanda dua kali. Dan Subhanallah dia ingin menikahi Nabi (shallallahu alaihi wasallam) yang 15 tahun lebih muda dari dia. Mengapa?

Karena dia sering bertanya-tanya tentang karakternya. Dia bertanya kepada Maisarah, dia bertanya kepada Nafisah. Dia ingin tahu seperti apa karakter Nabi (shallallahu alaihi wasallam) karena dia telah melihat begitu banyak kejujuran dan kebenaran datang darinya. Dan itu alasan kenapa dia mengejarnya dan sesuai dengan perintah yang akan datang nantinya [idzaa ataaka man tardhow diinahuu wa khuluqaho fazawwijuuh, fa in lam taf’al…] tapi ini dibagian akhirnya jika seseorang datang kepada Anda dengan agama dan karakter yang baik, maka nikahilah orang itu dan jangan menolak lamarannya. Dan Subhanallah, padahal pada saat itu mereka belum diturunkan wahyu, Anda hanya memiliki karakter yang baik.

Dan itu sebabnya Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dilamar oleh Khadijah dan itu sebabnya Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) menerima pinangan dari wanita ini walaupun berusia 15 tahun lebih tua dari dia dan pernah menjanda 2 kali dan juga memiliki seorang putra, Handab ibn Abi Hala, dan semua ini justru biasanya menjadi sebab orang tidak mau menikahi janda di masa ini. Tapi Subhanallah mereka berkumpul bersama-sama karena karakter dan itu sebabnya tidak ada satupun riwayat tentang perkelahian ataupun adu argumen antara Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dan Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha). Malah pernikahan mereka selalu dipuji oleh semua orang-orang Mekah.

Sekarang ketika Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) telah diberikan rasa cinta untuk mengasingkan diri dan menjauh dari kegaduhan dunia. Dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) mulai pergi ke Hira dan mulai merenung. Dan Subhanallah bagi siapa saja yang telah berkunjung ke Mekkah Anda dapat melihat bahwa Hira adalah pendakian yang butuh setidaknya sekitar satu jam dan tanpa tangga dan hal-hal semacam itu seperti saat ini. Tapi bayangkan bagaimana rasanya bagi Nabi (shallallahu alaihi wasallam) pada waktu itu untuk naik ke sana. Dan Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha), dia tidak mengatakan kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam),

Mengapa Anda tinggal jauh dari rumah?

Kenapa kau menghabiskan akhir pekan di sana? Dan kadang-kadang lebih dari satu bulan?

Bahkan, dia mendukung Nabi (shallallahu alaihi wasallam) yang berusaha mencari bimbingan dan mencoba untuk menemukan jawaban-jawaban. Dan dia sendiri (radhiyallahu taala ‘anha)… coba kita bayangkan.

Pada saat Nabi (shallallahu alaihi wasallam) berumur 40 tahun, dia sudah 55 tahun saat itu. Dan dia mendaki gunung untuk mengantar makanan untuk Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dan menghibur Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Dan kemudian ketika Nabi (shallallahu alaihi wasallam) turun dari Hira dan dia datang ke Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha) dengan kata-kata yang sangat terkenal [zammiluunii] – peluk saya, lindungi saya.

Beliau mencoba mencari kenyamanan kepada Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha) dan dia tidak mengatakan kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam),

Mungkin engkau tidak harus pergi di luar sana begitu lama.

Mungkin engkau harus lebih sering tinggal di rumah.

Harusnya dari awal engkau tidak seharusnya berada di sana.

Atau, dia tidak berkata kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam), “Kau tahu, saya rasa engkau mulai sedikit gila dalam hal ini.

Dia tidak mengatakan, “Sepertinya, engkau kerasukan setan atau semacamnya.

Sebaliknya, ia malah meyakinkan Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Dia mendukung dia secara emosional dan agama di sini.

Pikirkan tentang ini. Dia mengatakan kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam), “والله لا يخزيك الله أبدا” [Wallahi la yukhziik Allah ‘abada] – Allah (subhanahu wa ta’ala) tidak akan pernah mempermalukan engkau.

Mengapa ia mengatakan bahwa Allah tidak akan pernah mempermalukan engkau? Dan ia mulai menyebutkan karena engkau menjunjung tinggi ikatan kekerabatan, engkau berlaku baik dengan tetangga, dan murah hati kepada mereka, engkau memperlakukan anak yatim dengan baik, engkau melindungi orang yang dizhalimi.

Pada dasarnya apa yang dia katakan kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam)? Dia mengatakan Allah (subhanahu wa ta’ala) mencintai beliau untuk alasan yang sama bahwa dia mencintai beliau dan alasan yang sama bahwa saya meminta beliau untuk menikahinya. Sekali lagi, “khuluq” yang baik adalah iman yang baik. Karakter yang baik adalah iman yang baik. Dia mengakui hal-hal yang ada pada diri Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dan perhatikan bagaimana cara seorang istri berbicara tentang suaminya. Sungguh kata-kata yang sangat indah dari seorang istri yang berbicara tentang suaminya atau pasangan yang berbicara tentang pasangannya dengan cara yang sangat indah. Ini adalah bagaimana saya melihatmu.

Dan tidak hanya dia mendukung dia secara emosional di sini, ia berkata kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam), “Mari kita pergi ke Waraqah bin Naufal, mari kita tanya ke sepupu saya yang adalah seorang sarjana Alkitab dan mari kita dengar apa yang akan dia katakan.”

Dia adalah orang yang menyakinkan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dan membawanya ke Waraqah yang kemudian mengungkapkan kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam) bahwa ini adalah pertemuan pertamanya dengan Jibril (alayhi Alsalam). Pikirkan tentang hal ini.

Dan ada lagi kemudian tentang ‘Ali (radhiyallahu taala ‘anhu). yang dibesarkan di rumah tangga seperti itu, di mana beliau ingat malam di mana Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) bangun dan sholat Dan Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha) juga bangun dan berdiri tepat di sebelah Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dan juga mendirikan sholat.

Maksudku, itu luar biasa… Dia tidak mengatakan kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam), “Saya tidak tahu apa apa yang engkau lakukan saat ini, tapi aku tidak mau berdiri dan sholat bersamamu, aku akan membiarkanmu berdiri dan sholat sendirian.

Tetapi tidak, yang terjadi adalah dia berdiri dan sholat bersamanya (shallallahu alaihi wasallam). Jadi dia memberinya dukungan emosional. Dia memberinya dukungan agama.

Ketika Nabi (shallallahu alaihi wasallam) berdakwah untuk umat-Nya dan orang-orang menolaknya, dia tidak berkata, “Kami sudah berbuat baik di masyarakat, kami memiliki status yang tinggi, dan sekarang reputasi kami ternoda.

Karena dia adalah “wanita yang suci” dan dia adalah “yang paling dapat dipercaya” (shallallahu alaihi wasallam). Dia berdiri di sampingnya dan menyakinkan dia dan mengatakan kepadanya, “Tenanglah, Allah (subhanahu wa ta’ala) akan memberikan kemenangan untukmu.

Dan Allah (subhanahu wa ta’ala) juga yang akan mengangkat derajatmu.

Dan kemudian dia bahkan rela memberikan dukungan finansial untuk dakwah dan misi serta tujuan Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Dan wanita ini yang dulunya hidup seperti ratu, tetap mendukung Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dengan segala sesuatu yang dia punya.

Dan Subhanallah bahkan ketika waktu begitu sulit di masa pemboikotan pada Bani Hasyim dan Bani Muthalib dan wanita yang seluruh hidupnya selalu tinggal dalam kemewahan sekarang bahkan tidak bisa makan. Dan dia sudah berumur 60 tahun. SubhanAllah… Dan satu-satunya yang memberinya makanan adalah Hakeem bin Hizaam (radhiyallahu taala ‘anhu) keponakan Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha). Dia akan menyelinap untuk memberikan makanan kepada dirinya, dan untuk Khadijah dan untuk Nabi (shallallahu alaihi wasallam).

Dan suatu ketika Abu Jahal menangkapnya dan menutup jalan itu. Dan wanita ini tetap tidak pernah mengatakan kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam), “Lihatlah di mana kita berada? Lihatlah apa yang terjadi pada kita?

Tapi dia tetap berdiri dengan semua loyalitas dan dia mengatakan kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam) bahwa dia selalu berada di sisinya sepanjang waktu. Dan itulah mengapa ketika Nabi (shallallahu alaihi wasallam) kehilangan dia, karena tidak dapat makan dan minum dengan baik, wanita ini hanya makan daun (radhiyallahu taala ‘anha). Dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) kehilangan dia. Beberapa sumber mengatakan 3 hari, yang lain bilang 3 minggu, dan hanya dalam hitungan minggu setelah ia kehilangan pamannya Abu Thalib. Ketika Nabi (shallallahu alaihi wasallam) kehilangan dia, dia sangat terpukul (shallallahu alaihi wasallam). Dia sudah berusia 65 tahun ketika dia meninggal. Dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) masih memiliki wajah muda meskipun berusia 50 tahun. Beliau masih bisa menikahi banyak wanita muda karena sekarang sudah menduda kan? Tapi Nabi (shallallahu alaihi wasallam) selalu ingat loyalitas Khadijah dan dia Nabi (shallallahu alaihi wasallam) menunjukkan kesetiaan yang terbesar.

Dan itulah mengapa Aisyah (radhiyallahu taala ‘anha) suatu ketika berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada semua istri Nabi (shallallahu alaihi wasallam) kecuali Khadijah. Dan saya bahkan belum pernah bertemu dengannya. Saya belum pernah bertemu Khadijah (radiyaAllah ta’ala ‘anha) sebelumnya.

Tapi Nabi (shallallahu alaihi wasallam) selalu tergerak hatinya setiap kali nama Khadijah disebut. Jika Nabi (shallallahu alaihi wasallam) mendengar suara adiknya memanggil beliau, dia akan berkata, “Allahumma Hala. Oh Allah itu Hala!

Dan dia akan berlari karena ia teringat suara Khadijah (radiyaAllah ta’ala ‘anha). Dia mengatakan, “Nabi (shallallahu alaihi wasallam) tidak pernah menyembelih seekor kambing atau domba kecuali bahwa ia mengirim sebagiannya kepada kerabat Khadijah radiyaAllah ta’ala ‘anha.

Dan diriwayatkan pula, bahwa setiap kali nama Khadijah disebut, maka akan jelas tampak di wajah beliau (shallallahu alaihi wasallam) bahwa beliau bergetar dan ia akan mengirim hadiah ke teman-temannya, hanya karena kesetiaannya kepadanya (shallallahu alaihi wasallam).

Dan dia mengatakan, “Satu saat aku cemburu dan aku berkata kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam), ‘Bukankah Anda bisa melupakan tentang wanita Quraisy itu? Bukankah Allah (subhanahu wa ta’ala) telah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik?

Dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) menjadi sangat marah.

Dan dia bilang, ‘Aku bersumpah demi Allah, Allah tidak memberi saya sesuatu yang lebih baik daripada dia.’”

Dan beliau mulai menyebutkan semua bentuk loyalitas [al-wafa’] “آمنت بي إذ كفر بي الناس” [ ‘aamanat bi’ ithkafaran-naas] – dia percaya kepadaku ketika tidak ada orang lain percaya kepadaku.

“وصدقتني إذ كذبني الناس” [wasaddaqatnii in kadzaaban-lnaas] – dan dia membenarkanku dan menganggap saya benar ketika orang lain mendustakanku dan menolakku.

“وأنفقت بي إذ حرمني الناس” [wa ‘anfaqat bi’ haramanian-naas] – dan dia berinfaq kepadaku ketika tidak ada orang lain akan berinfaq kepadaku.

“ورزقني الله ولدها” [warazaqani Allahu waladaha] – dan Allah (subhanahu wa ta’ala) memberiku anak darinya.

“إذ حرمني أولاد النساء” [idz harraamani awlaadan-Nisaa’] – Dan Allah (subhanahu wa ta’ala) tidak memberiku anak dari orang lain.

Dan Subhanallah, sebuah kehormatan bagi Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha) adalah bahwa hanya anak-anak yang diberikan kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam) melalui dirinyalah, garis keturunan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) akan berlanjut.

SubhanAllah! Dan ketika Nabi (shallallahu alaihi wasallam) melihat bahkan di perang Badar, ketika Al-‘Ash, yang menikah dengan putri mereka, Nabi dan putri Khadijah, Zaynab (radhiyallahu taala ‘anha). Al-‘Ash menikah dengannya di masa jahiliyyah, kondisinya di sini adalah pernikahan itu terjadi sebelum Islam dan sekarang Nabi (shallallahu alaihi wasallam) menangkap anak iparnya yang datang untuk membunuhnya dan yang datang untuk melawan dan Zainab mengirimkan kalung miliknya kalung yang diberikan kepadanya oleh ibunya Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha) pada malam pernikahannya sebagai tebusan bagi Al-‘Ash, suaminya. Dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) melihat kalung itu dan membuat hati beliau (shallallahu alaihi wasallam) bergetar sangat hebat hingga berkata kepada para sahabat, “Jika kalian berkenan, kembalikan tahanan ini dan kembalikan kalung ini.

Mengapa ia mengatakan, “Jika kalian berkenan?”

Karena akan jadi tidak adil bagi para Sahabat jika mereka harus mentaati semua aturan ini. Karena Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) melakukan pengecualian hanya karena masalah personal. Jadi dia berkata kepada sahabat, “Jika kalian semua mengizinkan… kembalikan tahanan ini, yaitu suaminya dan kembalikan kalung itu.

Dan lagi-lagi Nabi (shallallahu alaihi wasallam) terkenang akan Khadijah (radiyaAllah ta’ala ‘anha). Pikirkan tentang ini.

Karena kesetiaannya kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam), Jibril (alayhi Alsalam), makhluk yang ditugaskan untuk mengirimkan wahyu, sekarang dikirim oleh Allah (subhanahu wa ta’ala) kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam) untuk memberi salam; salam yang ditujukan bukan untuk Nabi (shallallahu alaihi wasallam) seorang. Tetapi untuk Khadijah (radiyaAllah ta’ala ‘anha). Dia mengatakan kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam) bahwa Khadijah istrimu datang mengunjungimu saat ini dan Allah (subhanahu wa ta’ala), mengirimkan salam-Nya. Dan Jibril (alayhi Alsalam) mengirimkan salam padanya. Dan berikan kabar gembira padanya tentang sebuah rumah di surga yang tanpa kebisingan dan tanpa tekanan.

SubhanAllah karena apa yang dia berikan kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dalam kehidupan ini berupa keheningan dan ketenangan dan kepuasan dan juga tidak membuat stress Nabi (shallallahu alaihi wasallam), malah ia menjadi sumber penghilang stres bagi Nabi dan ketika Nabi (shallallahu alaihi wasallam) kehilangan Khadijah (radiyaAllah ta’ala ‘anha) para ulama mengatakan, “Pada saat itulah Allah (subhanahu wa ta’ala) memberi Nabi (shallallahu alaihi wasallam) perintah shalat.

Saat itulah Allah memberi Nabi (shallallahu alaihi wasallam) (shalat) 5 waktu. Dia kehilangan dukungan emosional dari Khadijah (radiyaAllahu ‘anha) dan Rasulullah merasakan pahitnya dunia ini dan saat itulah Allah (subhanahu wa ta’ala) memberinya shalat.

SubhanAllah! Untuk menggantikan kehilangan dukungan emosional, frustasi. Dan ketika Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) kembali ke Mekkah, satu-satunya tempat yang beliau ingat setiap kali mereka bertanya kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam), “Di mana Anda ingin tinggal? Di mana kami membangunkan tendamu? Di mana anda ingin berteduh? Apakah Anda ingin tinggal di rumah orang ini atau rumah orang itu?

Nabi (shallallahu alaihi wasallam) mengatakan, “Tidak, saya ingin tinggal di Hijoon (Gunung Hajun -red), di mana Khadijah (radiyaAllah ta’ala ‘anha) dimakamkan.

Dan Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) sama seperti Khadijah percaya kepadanya. Dan (Khadijah) mendukungnya secara emosional dan finansial. Nabi (shallallahu alaihi wasallam) menanggapi setiap perasaan itu dengan doa, dan dengan cinta, dan dengan loyalitas. Dan kita belajar dari beliau (radiyaAllah ta’ala ‘anha) tentang sebuah karakter yang indah yaitu [al-wafa’] (loyalitas) dan karakter yang baik.

Kita berdo’a kepada Allah untuk menjadikan kita seperti Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dan Khadijah (radiyaAllah ta’ala ‘anha) dalam segala urusan kita khususnya dalam hal rumah tangga. Kita berdo’a kepada Allah (subhanahu wa ta’ala) untuk memberikan kita konsep loyalitas sejati dan karakter yang hebat. Dan kita berdo’a kepada Allah (subhanahu wa ta’ala) untuk memperkuat iman kita sebagai hasilnya.

Allaahumma aamiin. JazaakumAllaahu khayran. Wassalaamualaikum wa rahmatullah wabarakatuhu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s