[Transkrip] Islam Dan Difabilitas – Muhammad Zulfiqar Rahmat

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahilladzi nahmaduhu wa nastaiinauhu wa nastaghfiru wa naudzubillahi min shurrori anfusina wan sayyiaati amalina mai-yahdillahu fala mudhilala; Wa mai-yudhlil fala haadi-ala wa ashhadu alla ilaha ilaha illallah wahdahu la syariikalah wa ashhadu anna sayyidina wa habibina wa maulana Muhammadan Shallallahu Alayhi wala aali wasalam.

Rabbisyrahli shadri wa yassirlii amri wahlul uqdatam millisani yafqahu qauli.

Saudara-saudariku, Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Saya awali dengan memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah berikan kita kesempatan untuk berkumpul di sini pada hari ini. Saya juga awali dengan bershalawat kepada Rasul terakhir Muhammad Shallallahu Alayhi Wassalam.

Judul Asli: Islam and Disability: Br. Muhammad Zulfiqar Rahmat
Video Asli: https://youtu.be/QUY5cL4W_3U

Rasulullah SAW bersabda barangsiapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, maka tidak bersyukur kepada Allah.

Rasa syukur saya takkan sempurna tanpa terima kasih saya kepada Anda sekalian yang hadir hari ini. Saya juga berterima kasih kepada Northampton Islamic Society yang telah menyelenggarakan acara penting namun terabaikan ini. Saya diminta untuk membicarakan tentang Islam dan difabilitas yang dikaitkan dengan pengalaman pribadi saya.

Sebelum mulai, saya akan bercerita sedikit tentang diri saya. Saya berasal dari Indonesia. Saya lahir dengan difabilitas pada kemampuan kedua tangan dan bicara saya. Saat melahirkan saya, ibu saya harus melalui operasi yang disebut dengan Asfiksia Neonatal, berkaitan dengan paru-parunya.

Saat saya lahir, saya tidak menangis. Saya harus melalui beberapa macam operasi dan setelah 21 hari akhirnya saya menangis. Berbagai operasi itu berpengaruh kepada kedua tangan dan kemampuan bicara saya. Saya tak mampu untuk gunakan kedua tangan saya untuk lakukan aktivitas terutama yang berhubungan dengan gerak mobilitas diri, seperti menulis, makan, atau mengangkat benda kecil.

Hal tersebut sulit untuk saya. Dalam kehidupan, saya telah berhadapan dengan berbagai tantangan berkaitan dengan difabilitas saya, seperti ditolak di sekolah dan sebagainya.

Misalnya, kedua orang tua saya ingin menyekolahkan saya di Sekolah Islam Al Azhar, salah satu pendidikan islam bergengsi di negara saya. Pada awalnya saya tidak diterima, jadi kami harus melalui prosedur yang terpisah, kami harus mendatangi kotamadya. Kami mendatangi kantor gubernur untuk mendorong mereka agar saya bisa belajar bersama para teman tanpa difabilitas.

Pada saat itu belum ada organisasi di negara saya yang mengatur difabilitas. Semua teman saya mulai sekolah di bulan Juni dan saya mulai di bulan Desember. Semua karena saya harus melalui 12 tes yang berbeda untuk buktikan bahwa saya mampu belajar bersama teman tanpa difabilitas.

Alhamdulillah, dengan kemurahan hati Allah, saya berhasil masuk sekolah itu dan terima kasih kepada orang tua saya atas perjuangan mereka, saat saya tak tahu cara untuk membela hak saya dan Alhamdulillah saya belajar pendidikan islam dasar saya disana selama 9 tahun.

Setelah selesai tahun 9, saya berkesempatan untuk pindah ke Qatar untuk meneruskan SMU saya, dan hal yang sama terjadi. Qatar adalah negara kecil. Satu hari saja kita bisa menjelajahi seluruh negaranya. Kami datangi tiap sekolah dan hanya satu yang siap terima saya.

Masalahnya ada pada tangan saya. Saya tak mampu menulis dengan tangan saya dan itu masalah besar untuk mereka. Di sekolah kita banyak menulis, untuk mereka ini masalah besar. Hanya ada satu sekolah yang menerima saya.

Alhamdulillah saya bisa belajar di sana hingga lulus SMU pada tahun 2010. Saya mendapatkan beasiswa untuk belajar di Universitas Qatar di mana saya belajar Hubungan Internasional berfokus pada Politik Timur Tengah. Saya lulus dalam 3 tahun, yaitu tahun lalu. Saat ini saya sedang menyelesaikan program magister saya di Universitas Manchester.

Yang ingin saya bicarakan hari ini adalah saya pikir kaum difabilitas menghadapi banyak tantangan dan banyak orang dengan difabel menemukan inspirasi dimana-mana, dari membaca buku mengenai kaum difabilitas atau apa saja. Sayangnya, mereka yang menulis buku dan sadar akan difabilitas adalah non-muslim. Tapi untuk saya, orang tua saya telah menanamkan Islam sebagai inspirasi saya.

Saya ingin berbagi dengan Anda tentang inspirasi saya, yaitu Islam. Apa yang ditawarkan Islam bagi kaum difabilitas? Mari kita mulai dengan istilah difabilitas atau dalam bahasa Arab disebut ‘mu’awaqoon’ datang dari buku Eropa dan Amerika, bukan Islam.

Jika Anda melihat karya terbaru Islam, mereka mulai gunakan kata ‘mu’awaqoon’ yang diadopsi dari ilmuwan Amerika atau Eropa. Ilmuwan Islam generasi awal, mereka gunakan kata ‘ahlul balaa’, kaum dengan kemalangan atau ‘dhurool isthiaja al fasas’ kaum berkebutuhan khusus. Mereka tak gunakan kata difabilitas. Belakangan ini, saat Eropa mendominasi dunia, mereka gunakan kata yang sama.

Secara tekstual, tak ada buku spesifik ditulis tentang kaum difabilitas hingga abad ke-11. Karya itu ditulis Imam Al-Ghazali dan satu bab tentang ‘Ahkaam’ berkaitan dengan kebutaan – hukum berkenaan dengan kebutaan. Namun, harus kita pahami bahwa dalam mayoritas buku fikih dan yurisprudensi. Akan selalu ada bagian bagi orang yang diberikan pengecualian. Misalnya, pada buku panduan shalat ada bagian untuk mereka yang tak bisa berdiri atau tak bisa duduk, ada cara untuk mereka lakukan shalat dan tentang wudhu, juga ada bagian tentang mereka yang tak bisa terkena air. Jadi, kaum difabilitas tidak diabaikan dalam Islam.

Kita lanjut ke pandangan Islam pada difabilitas. Pertama, harus dipahami bahwa Allah SWT menciptakan kita dalam dua bentuk berbeda: eksternal dan internal.

Eksternal adalah tubuh kita, internal jiwa kita. Kita mungkin memiliki perbedaan pada tubuh kita juga difabilitas. Sebagian tanpa difabilitas. Sebagian berkulit gelap, lainnya berkulit terang. Tapi, jiwa kita setara, kita diciptakan setara. Tak ada istilah jiwa yang difabel, tak ada jiwa hitam.

Melalui jiwa kita Allah ingin ajarkan kita kesetaraan dan melalui tubuh kita Allah ingin ajarkan perbedaan. Melalui semua ini Allah ingin kita saling menghormati, saling mencintai. Oleh karena itu, Allah SWT menguji ketakwaan kita, apa yang ada di dalam, bukan tubuh kita secara fisik.

Yaa ayyuhan-naasuttaquu rabbakumulladzii khalaqakum min nafsin waahidatin wa khalaqa min-haa zawjahaa wa batstsa min-humaa rijaalan katsiiran wa nisaa’aa, wattaqullaahalladzii tasaa’aluuna bihii wal-ar-haama, innallaaha kaana ‘alaykum raqiibaa.” (QS An Nisaa ayat 1)

Allah SWT menciptakan kita dari satu jiwa, lalu menjadi berpasangan, kemudian Dia menciptakan lelaki dan wanita, dan yang terbaik di antara kalian adalah yang bertakwa.

Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT tidak melihat seseorang dari fisiknya tapi dari hatinya. Pada akhirnya tubuhmu akan membusuk. Saat kau meninggal dikuburkan, tubuhmu akan membusuk. Yang penting adalah jiwa kita, yang datang kepada Allah adalah jiwa kita. Perlu dipahami bahwa iman dari kaum difabel tak kurang dari mereka yang mampu. Ini adalah pemikiran Jahiliyyah bahwa kaum difabel memiliki iman yang kurang atau semacamnya.

Fa innahaa laa taa’mal-abshaaru wa laakin taa’mal-quluubullatii fiish-shuduur(i).” (QS Al Hajj ayat 46)

Bahwa Allah SWT berfirman kebutaan ada bukan di mata, tapi di hati. Keindahan Al Qur’an adalah ia dapat dilihat dari aspek dan sudut pandang yang berbeda. Allah berfirman di ayat ini secara khusus tentang mereka dengan kebutaan.

Kita harus melihat ayat ini dari perspektif yang lebih luas bahwa difabilitas bukan di tubuh kita. Allah beritahu kita bahwa difabilitas yang sebenarnya ada dalam hati kita. Sangat penting dipahami bahwa difabilitas bukan hukuman. Lagi-lagi, ini adalah pemikiran mundur, pemikiran kaum jahiliyah, pemikiran pra-Islam.

Difabilitas adalah ujian, sama seperti yang lainnya, dengan atau tanpa difabilitas, kita semua diuji, diberikan ujian. Allah SWT berfirman “Apa kamu pikir kamu menyatakan ‘Aku mukmin’, beriman lalu tak diuji?

Allah SWT berfirman bahwa semua akan diuji. Dan Nabi SAW bersabda jika Allah menginginkan kebaikan untuk hamba-Nya, Allah akan menguji hamba-Nya ini. Dan sangatlah penting untuk dipahami bahwa Allah adalah Al-Wadud, Yang Maha Mencintai. Jadi, setiap saat Allah SWT menciptakan kita, Allah menciptakan kita dengan cinta.

Walaupun Anda mempunyai difabilitas, anak-anak Anda mempunyai difabilitas, Allah mencintai. Allah menciptakan mereka dengan cinta. Difabilitas dapat diubah menjadi keberkahan. Ini yang Ayah saya katakan sejak saya masih kecil. Bahwa dengan difabilitas dapat diubah menjadi keberkahan. Bagaimana? Pertama, dengan kesabaran kita bisa mendapat pahala darinya.

Innallaaha ma’ash-shabiriin(a).” (QS Al Baqarah ayat 153 dan Al Anfaal ayat 46)

Allah bersama mereka yang sabar dan sebagai contohnya Rasulullah SAW bersabda, mereka dengan kebutaan.

Barangsiapa Allah uji dengan kebutaan lalu ia bersabar maka akan diberikan surga.

Jadi, ada pahala untuk kesabaran, kemudian ampunan dosa. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim tertusuk duri melainkan dosanya akan dihapuskan, tak satupun musibah menimpa seorang muslim atau muslimun melainkan akan dihapus kesalahannya.

Ketahuilah bahwa bagi setiap difabilitas yang Anda miliki, Allah akan mengampuni dosa-dosamu. Maha Suci Allah. Kedua, saat berbicara tentang ampunan dosa, Allah SWT berfirman bahwa mereka yang dihukum di dunia, tidak akan dihukum di akhirat.

Jadi, saat saya bertanya pada teman-teman saya buta dan semacamnya, “Apakah kau bahagia dengan keadaanmu?

Demi Allah, jika mereka paham Islam sepantasnya, mereka akan menjawab, “Saya bahagia.

Kita akan berjumpa dengan Allah SWT dengan kebahagiaan kita, bertanggung jawab dengan penglihatan kita. Maha Suci Allah. Oleh karena itu, jika Anda memiliki tantangan. Jika, Anda difabel, bersabarlah dan Insya Allah, kita akan jumpa Allah SWT tanpa dosa.

Hal lainnya adalah tentang kata ‘shukr’. Kita harus bersyukur atas segala yang kita miliki. Allah berfirman bahwa,

La’in syakartum la’aziidannakum.” (QS Ibraahiim ayat 7)

Bagi mereka yang bersyukur kepada Allah, Allah akan berikan lebih. Maha Suci Allah. Cara agar kita bersyukur kepada Allah adalah dengan melihat mereka yang kekurangan. Sebagai contoh, saya memiliki difabilitas, tetapi hanya pada tangan. Bagaimana jika Allah berikan difabilitas saya pada mata, telinga dan semuanya. Maha Suci Allah.

Salah satu teman saya yang buta mengirim pesan pada saya, “Demi Allah, jika saya lihat orang lain dengan keadaan yang lebih buruk, saya tidak merasa difabel.” Maha Suci Allah.

Apa yang harus kita lakukan adalah berbuat lebih dengan segala keterbatasan, daripada mereka yang memiliki lebih tapi sedikit dalam berbuat. Yang terakhir ingin saya katakan adalah Allah Maha Al-Hakam Al-Hakim dan apa pun yang Dia ciptakan adalah yang terbaik untuk kita. Allah berfirman dalam Al Qur’an bahwa apa yang kita pikir baik untuk kita sebenarnya buruk atau sebaliknya. Allah juga berfirman,

Laa nukallifu nafsan ‘illaa wus’ahaa.” (ada 3 ayat dengan kalimat ini, salah satunya QS Al A’raaf ayat 42)

Allah SWT tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Dengan segala difabilitas yang kita miliki, Allah telah ciptakan, Allah telah berikan kemampuan lebih untuk mengatasinya. Lalu, selama studi saya, saya mengalami banyak kesulitan di sekolah. Saya selalu diganggu. Saya takut pergi ke sekolah karena saya tak punya teman.

Banyak orang menertawakan saya dan yang paling parah adalah guru saya. Saya punya guru yang adalah pendidik Islam. Saya ingin menjadi guru. Saya suka berbicara dan bercerita. Suatu hari, guru saya bertanya, “Apa cita-citamu?”

Saya ingin menjadi guru. Guru saya berkata bahwa saya tak akan bisa menjadi guru.

Bagaimana kau mau menjadi guru jika menulis di papan tulis saja tak bisa?

Maha Suci Allah. Segala puji bagi Allah, saya punya orang tua yang sangat mendukung, jadi setiap saya pulang. Saat saya membuka pintu rumah, selalu akan ada kedua orang tua saya, ayah dan ibu yang akan katakan, “Kamu bisa.

Allah katakan kamu bisa!

Laa nukallifu nafsan ‘illaa wus’ahaa.” (ada 3 ayat dengan kalimat ini, salah satunya QS Al A’raaf ayat 42)

Inilah pesan saya untuk orang tua dengan anak-anak difabel dan bahwa saya belajar banyak dari orang tua saya. Para kaum difabel terkadang mengalami tantangan dan tantangan terburuk adalah saat seseorang mengatakan, “Kau tak bisa lakukan ini, kau tak bisa lakukan itu.

Jadilah orang tua yang percaya kepada Allah dan ujian kepada anaknya. Bahwa Allah telah memberikan kemampuan yang lebih kepada mereka untuk mengatasi difabilitas mereka. Lalu, saya ingin membicarakan tentang Islam dan akomodasinya kepada kaum difabel.

Pertama, Islam mengakomodasi kaum difabel dengan sangat baik. Contohnya Allah SWT berfirman, “Tak ada salah bagi mereka yang lemah, bagi mereka yang tak mampu lakukan sesuatu. Tak ada salah bagi mereka yang miskin, bagi mereka yang tak mampu memberi.

Dan Nabi SAW bersabda, “Jika kau tak mampu shalat berdiri, duduklah, jika tak mampu duduk, berbaringlah.”

Inilah salah contoh bahwa Islam mengakomodasi kaum difabel. Tapi, sayangnya kurang dipraktekkan dalam masyarakat. Contohnya, ada beberapa lelaki di Malaysia, di Universitas. Mereka memulai kampanye khutbah jum’at dengan bahasa isyarat. Ini kekurangan kita, kita lupa bahwa ada orang-orang yang membutuhkannya. Di Inggris, satu-satunya tempat yang menyediakan fasilitas ini hanya Masjid Green Lane di Birmingham.

Lalu, Islam mengajarkan kita non-diskriminasi. Banyak orang dengan difabilitas alami diskriminasi dari sekolah, pekerjaan. Saya melamar kerja baru-baru ini. Teman saya mengirim surel dan ternyata itu adalah proyek penelitian. Saya banyak melakukan penelitian, jadi saya merasa mampu melakukannya. Saya kirim surel kepada dia mengatakan saya tertarik dengan pekerjaan itu tanpa memberitahu tentang difabilitas saya, mereka setuju. Segala puji bagi Allah.

Saya beritahu ayah saya bahwa saya mendapat pekerjaan dan mereka ingin bertemu. Pekerjaan itu di Inggris. Dan ayah saya berkata, “Jangan kagetkan mereka di pertemuan pertama dengan mengatakan difabilitasmu.

Jadi saya kirimkan surel selanjutnya yang menjelaskan secara detil difabilitas saya. Pada saat bersamaan, saya beritahu mereka dan bahwa difabilitas tidak akan mempengaruhi pekerjaan saya. Sayangnya, mereka membalas surel saya dengan berkata bahwa orang lain telah mengisi lowongan pekerjaan itu. Maha Suci Allah.

Tapi, dalam Islam tak ada diskriminasi seperti ini. Sebagai contohnya, salah satu sahabat nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Umm-Maktum. Dia buta. Tapi, Nabi SAW menunjuknya sebagai muadzin. Sebagai penyeru adzan dan tidak hanya itu, saat Nabi SAW pergi untuk ekspedisi, beliau menunjuk Abdullah bin Maktub sebagai pemimpin Madinah, dua kali. Ini contoh bahwa Nabi SAW ingin mengajarkan kita untuk tidak mendiskriminasi seseorang.

Islam mengajarkan kita kesetaraan. Meskipun difabilitas kita. Kaum dengan difabilitas masih diwajibkan untuk menjalankan kewajiban agama mereka. Shalat, puasa dengan cara mereka, semampu mereka.

—-
Bio Muhammad Zulfiqar Rahmat: http://muhzulfikar.tumblr.com/post/137155541847/allah-memberikan-kesempurnaan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s