[Transkrip Indonesia] Fatimah binti Muhammad – Pemimpin Wanita Di Surga – Omar Suleiman

Assalaamualaikum wa rahmatullah wabarakatuhu, Quran Weekly. Selamat datang kembali di Superstar Series. Masih bersama saya, Omar Suleiman. Suatu hari di masa awal-awal Islam, Nabi (shallallahu alaihi wasallam) sedang sholat di depan Kabah. Dan Abu Jahal, Uqbah bin Abi Mu’aith dan Shaybah (ibn Rabi’ah), musuh-musuh Nabi (shallallahu alaihi wasallam), mereka duduk-duduk dan mereka berkata satu sama lain, Abu Jahal memberikan masukan dan dia berkata, “Siapa yang berani mengambil kotoran unta dan menaruhnya di punggungnya ketika ia sholat untuk mempermalukannya?

Dan Abu Jahal adalah seseorang yang tega menginjak leher Nabi (shallallahu alaihi wasallam) ketika sholat, dia biasa melemparkan kotoran di Nabi (shallallahu alaihi wasallam) ketika sedang sholat, tapi ia ingin mempermalukannya lebih jauh lagi. Dan Uqbah merelakan dirinya dan ia pergi dan mengambil segala jenis kotoran unta isi perutnya, dan segala bentuk najis (kotoran) lalu ia buang di punggung Nabi (shallallahu alaihi wasallam) ketika beliau sujud dan itu membebani punggung Nabi (shallallahu alaihi wasallam).

Bayangkan gadis muda ini, bahkan belum remaja, Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha), putri Nabi (shallallahu alaihi wasallam) melihat ayahnya diperlakukan begitu. Dia melihat orang-orang menertawakannya dan mengejeknya dan mengutuknya. Dan dia datang dan dia mulai membersihkan semua kotoran dari punggung ayahnya. Bayangkan penghinaan dan rasa sakit yang dideritanya dan ketika ia melihat itu, dia (radhiyallahu taala ‘anha) mulai menangis. Dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) berkata,

“لا تبكي إن الله ناصر أباك” [laa tabki innAllah naasirun’ abaaki] – Jangan menangis anakku, Allah (subhanahu wa ta’ala) akan menolong dan memberikan kemenangan kepada ayahmu.

Dan pada saat itu Nabi (shallallahu alaihi wasallam) mengangkat tangannya ke langit dan berdo’a,
“اللهم عليك بأبي جهل, اللهم عليك بعقبة, اللهم عليك بشيبة”.

Dan 3 orang laki-laki yang dido’akan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) itu adalah 3 orang pertama yang dibunuh ketika duel perang Badr.

Sekarang, pesan moral dari cerita ini lebih dari apapun adalah tentang gadis muda. Tidakkah biasanya yang kita temui adalah mereka menjadi trauma lalu tidak lagi menyayangi orang tua mereka malah menyalahkan orang tua mereka atas apa yang terjadi. Tetapi tidak. Dan kita lihat gadis ini Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha), dia adalah anak ke-5 dari Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Nabi (shallallahu alaihi wasallam) memiliki anak perempuan lain dan Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa Fatimah? Mengapa dia menjadi salah satu orang yang disempurnakan imannya? Bagaimana dengan saudaranya yang lebih tua? Kenapa dia?

Dan ada beberapa alasan yang disebutkan para ulama. Salah satunya adalah bahwa dia menghabiskan sebagian besar waktu dengan ibunya Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha), wanita lainnya yang juga disempurnakan imannya. Sehingga dia mengadopsi moral dan karakter ibunya lebih dari apapun.

Alasan lainnya adalah bahwa dia selalu ada untuk Nabi (shallallahu alaihi wasallam) di saat-saat tidak ada orang lain bersamanya. Bahkan, ketika Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha) meninggal, hanya ada Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dan Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha) sendirian di rumah itu. SubhanAllah, Anda bisa membayangkan bagaimana perannya. Dia baru berusia 5 tahun ketika Rasulullah menerima wahyu. Dia lahir dan dibesarkan dalam Islam tidak seperti anak-anak lainnya. Dia benar-benar dibesarkan dalam Islam. Tapi, Subhanallah dia benar-benar ada di sisi Nabi (shallallahu alaihi wasallam) ketika tidak ada orang lain bersamanya. Dan Anda bisa membayangkan momen-momen ini.

Bayangkan suatu ketika Nabi (shallallahu alaihi wasallam) pulang ketika ia merasa terpuruk setelah kehilangan Khadijah dan Abu Thalib. Tidak ada orang lain. Dan dia memasak untuknya, dia datang membantunya, dia salah satu yang mulai menghiburnya dan menggantikan peran ibunya (radhiyallahu taala ‘anha). Dan bahkan, orang biasa menyebut Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha) ‘أم أبيها ‘[umm abiiha] – ibu dari ayahnya. SubhanAllah. Dia sangat peduli dengan Nabi (shallallahu alaihi wasallam).

Dia juga mengadopsi banyak karakter Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Bahkan, salah satu julukan nya adalah ‘الزهراء’ [al-Zahraa’] – yang indah. Itu karena wajah yang berseri, dia memiliki wajah indah dan selalu berseri. Dan dia adalah putri Nabi (shallallahu alaihi wasallam) yang wajahnya cerah bagai bulan purnama.

Dan kami menemukan riwayat dari Aisyah (radhiyallahu taala ‘anha) berkata sesuatu yang sangat istimewa tentang dia. Aisyah berkata, “Saya belum pernah melihat ciptaan Allah yang paling mirip dengan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dalam hal berpidato dan karakter dan berbicara selain Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha).

Dan mari kita dengar apa yang ‘Aisha katakan. Dia berkata bahwa setiap saat Fatimah masuk ke sebuah ruangan di mana ada Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Dia berkata, Nabi (shallallahu alaihi wasallam) akan berdiri. Dia akan menyambutnya, dia akan menciumnya, dia akan memegang tangannya dan kemudian ia akan mengajak Fatimah duduk di tempat yang sama ‘alayhi al salat wassalam. Beliau sangat menghormati dan menyanjungnya.

Dan Anda mungkin berpikir, Subhanallah wanita ini adalah bahwa putri Khadijah (radhiyallahu taala ‘anha). Namun Nabi (shallallahu alaihi wasallam) berkata Fatimah adalah ‘سيدة نساء الجنة’ [Sayyidat Nisaa ‘al-jannah]. Dia adalah ratu, pemimpin para wanita di surga. Tidak hanya dia menyempurnakan imannya tapi dia adalah pemimpin para wanita di surga. Dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) memperlakukannya seperti bangsawan. Tapi kebangsawanan dalam arti yang jauh berbeda.

Anda tahu kita sering berpikir tentang kebangsawanan saat ini adalah dengan menikahkannya dengan seorang pria kaya. Dan mungkin memberinya sebuah istana dan memanjakannya dan memberinya hadiah sepanjang waktu. Faktanya, Nabi (shallallahu alaihi wasallam) banyak sekali menolak lamaran dari sahabat-sahabat besar yang memiliki kekayaan di dunia dan di akhirat. Namun Nabi (shallallahu alaihi wasallam) memilih ‘Ali (radhiyallahu taala ‘anhu). Salah satu sahabat yang Nabi (shallallahu alaihi wasallam) sebut sebagai saudaranya setelah hijrah. Dan Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) biasa memanggil ‘Ali sebagai saudaranya setelah hijrah. Bahkan sampai-sampai Umm Ayman (radhiyallahu taala ‘anha) berkata, “Kenapa Anda memanggilnya saudaramu? Siapa saudaramu?

Beliau berkata, “Dia adalah orang yang saya anggap saudara. Kami dipersaudarakan setelah hijrah.

Nabi (shallallahu alaihi wasallam) memilih ‘Ali untuk Fatimah. Dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam), ketika Ali (radhiyallahu taala ‘anhu) datang untuk meminang Fatimah, Nabi (shallallahu alaihi wasallam) duduk dihadapan Ali (radhiyallahu taala ‘anhu) sehingga Ali menjadi gugup. Jadi Nabi (shallallahu alaihi wasallam) menawarkan kepada Ali (radhiyallahu taala ‘anhu) dan berkata, “Apakah Engkau datang untuk meminang Fatimah?

Ali (radhiyallahu taala ‘anhu) menjawab “Ya.

Lalu Nabi (shallallahu alaihi wasallam) berkata, “Baik, apa yang Engkau miliki sebagai mas kawin? Apa yang Anda punya sebagai mahar?

Dia tidak punya apa-apa. Yang dia punya hanyalah sebuah perisai dan itulah satu-satunya hal yang ia dimiliki. Dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) berkata, “Baiklah, kenapa tidak Engkau jual perisai itu dan menjadikan uangnya sebagai mahar?

Dan itu adalah satu-satunya hal yang dia miliki sebagai mas kawinnya. Ali (radhiyallahu taala ‘anhu) menjual perisai itu kepada Utsman (radhiyallahu taala ‘anhu). Dan itu satu-satunya yang dijadikan mas kawin.

SubhanAllah pikirkan betapa besar cinta Nabi (shallallahu alaihi wasallam) kepadanya. Tapi bahkan setelah itu, Nabi (shallallahu alaihi wasallam) masih begitu terlibat dalam kehidupan Fatimah dan Ali. Sampai-sampai Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha) berpikir mungkin Nabi (shallallahu alaihi wasallam) lebih mencintai Ali lebih darinya karena Nabi (shallallahu alaihi wasallam) selalu menjaga rumah tangga mereka.

Beliau akan datang dan membangunkan mereka untuk qiyam-ul-layl. SubhanAllah beliau selalu terlibat dengan rumah tangga mereka selalu menjaganya dan memerika keadaan mereka. Jadi suatu ketika Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha) bertanya-tanya mungkin Nabi (shallallahu alaihi wasallam) lebih mencintai suaminya daripada dirinya. Dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) yang memiliki ‘خلق عظيم’ [khuluqin ‘adziim] – karakter yang mulia.

Beliau berkata kepada Ali dan Fatimah ketika mereka sedang bersama-sama, lalu ia menunjuk ‘Ali dan berkata,’ فاطمة أحب إلي منك ‘ [Fatimah ‘ahabbu illayya mink] – Saya lebih mencintai Fatimah daripada engkau.

Dan kemudian dia menunjuk Fatimah dan berkata, ‘وعلي أعز إلي منك’ [Wa ‘Ali a’azzu illayya Minki] – dan saya lebih menghormati Ali (radhiyallahu taala ‘anhu) daripada dirimu. SubhanAllah beliau menyenangkan hati kedua belah pihak.

Nabi (shallallahu alaihi wasallam) ketika ia sedang memeriksa mereka suatu hari, misalnya, suatu kali ia melihat Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha) dan berpikir tentang hal ini. Satu-satunya hal yang mereka miliki dalam rumah tangga mereka adalah kulit domba untuk tidur. Hanya itu yang mereka punya. Dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) ia melihat situasi ini dan dia pulang suatu hari dan Fatimah berkata kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam) bahwa Ali marah kepadanya. Sebagaimana pasangan lainnya yang juga pasti ada konflik. Lalu Ali (radhiyallahu taala ‘anhu) tidur di masjid.

Nabi (shallallahu alaihi wasallam) lalu pergi ke masjid dan ia melihat ‘Ali (radhiyallahu taala ‘anhu) tidur di situ. Dan beliau bangunkan Ali dan membersihkan debu dari Ali (radhiyallahu taala ‘anhu). Dan berkata, ‘قم يا أبا تراب ‘ [qum ya abaa turaab] -Bangunlah wahai bapak para debu.

Dan ‘Ali berkata bahwa itu adalah julukan yang paling ia cintai setelah itu. Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) telah meredamkan suasana. Dia selalu ingin mereka bahagia dan selalu bersama-sama dan rajin memeriksa keadaan putrinya.

Sekali lagi, dia adalah Ratu para wanita surga, ya kan? Jadi seperti apa kira-kira statusnya di dunia? Ali (radhiyallahu taala ‘anhu) suatu ketika melihat tangan Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha) penuh lecet karena banyaknya pekerjaan rumah dan segala kesulitan lain yang dilaluinya. Dan Ini adalah Ratu para wanita surga. Dan Ali (radhiyallahu taala ‘anhu) berkata kepada Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha) setelah suatu perang beliau berkata, “Kenapa kau tidak meminta kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam) seorang budak?

Meminta seorang budak kepada Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) tidak menginginkan hal itu untuknya. Nabi (shallallahu alaihi wasallam) datang ke rumah mereka lalu duduk. Saat itu, Ali dan Fatimah sedang berada di tempat tidur mereka dan Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) duduk di antara mereka dan dia berkata, “Maukah aku berikan sesuatu yang lebih baik dari itu semua?

Beliau berkata, “Ucapkan SubhanAllah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan Allahu Akbar 34 kali sebelum kalian tidur.”

Ini adalah cara Nabi (shallallahu alaihi wasallam) merawat putrinya. Ini adalah cara beliau menolong putrinya.
Sekarang Nabi (shallallahu alaihi wasallam) tentu saja menjaga mereka, tapi Anda harus pahami bahwa ini tidak menjadikan Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha) seorang wanita yang tersiksa. Dia tidak pernah berpikir “Aku ‘kan spesial, jadi aku berhak hidup layak.

Karena ia sendiri melihat bagaimana ayahnya menderita dan penderitaannya juga sama seperti beliau (shallallahu alaihi wasallam). Dan Subhanallah kita menemukan bahwa ketika Nabi (shallallahu alaihi wasallam) sedang sekarat, Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha), ia melihat Nabi (shallallahu alaihi wasallam) dalam keadaan payah, pakaiannya tak karuan dan melihat penyakitnya lalu dia mulai menangis. Dan Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) memanggilnya dengan penuh kasih, dan Nabi (shallallahu alaihi wasallam) berkata, “Biar aku beritahu sesuatu.

Dan Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) membisikkan sesuatu kepadanya lalu dia malah menangis semakin keras Dan kemudian Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) memanggilnya kembali dan berkata, “Biar aku beritahu hal lainnya.

Dan beliau membisikkan sesuatu lalu dia mulai tertawa dan orang-orang menjadi heran. Aisyah (radhiyallahu taala ‘anha) memaksa dia berkata, “Katakan padaku apa yang Nabi (shallallahu alaihi wasallam) katakan!

Pada awalnya dia menolak, tapi akhirnya dia menyerah dan memberitahu Aisyah (radhiyallahu taala ‘anha). Dia berkata bahwa, “Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) pertama memberitahu bahwa ia tidak akan bertahan dengan penyakit ini. Dan kemudian dia memanggil saya kembali dan berkata kepada saya bahwa Saya akan menjadi orang pertama yang menyusul beliau.

Dia tertawa menghadapi kematian. Nabi (shallallahu alaihi wasallam) berkata padanya bahwa dia akan menjadi orang pertama yang mati dari para sahabat dan Subhanallah 4-6 bulan setelah itu Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha) jatuh sakit dan sebenarnya dia sudah sakit sejak saat kematian Nabi (shallallahu alaihi wasallam) karena melihat ayahnya sekarat. Dan saat itu ia masih menjadi ibu dari anak-anak kecil. Dia adalah ibu yang menikah dengan seorang suami yang luar biasa tapi Subhanallah dia hanya ingin bersama ayahnya (shallallahu alaihi wasallam) di surga Firdaus.

Suatu hari dia pergi lalu dia berbaring dan ia tersenyum melihat ke langit dan ia memanggil Asma binti Abi Umais, istri Abu Bakar Al-Siddiq semoga Allah (subhanahu wa ta’ala) merahmati mereka berdua. Nantinya, Asma adalah salah satu orang yang akan memandikan tubuh Fatimah. Dan lihat bagaimana wanita mulia ini berbicara, dia berkata kepada Asma “Ketika nanti kalian mau memandikanku (setelah saya wafat) dan ketika kalian akan mengkafaniku, maka lakukanlah di malam hari sehingga orang-orang tidak akan melihat bentuk tubuh saya.

SubhanAllah! Ini adalah seorang wanita yang penuh dengan kerendahan hati dan dikenal karena kesopanannya. Dia adalah putri dari orang yang paling sederhana dan paling pemalu (shallallahu alaihi wasallam). Dia berkata, “Ketika kalian mengubur saya, kuburlah saya di malam hari sehingga tidak ada yang akan melihat lekuk tubuh saya.

SubhanAllah! Dan sesuai pesannya, beliau dimakamkan di malam hari. Tapi Allah (subhanahu wa ta’ala) mempertemukannya dengan ayahnya (shallallahu alaihi wasallam) dan dia resmi menjadi Ratu, pemimpin para wanita di surga.

Sekarang saya hanya ingin Anda berpikir tentang hal ini sejenak. Adakah seorang wanita yang lebih hebat dari Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha)? Siapa yang lebih layak untuk mendapatkan pernikahan mewah dan mahar yang mahal dan hidup berkelimpahan dan mewah selain dari Fatimah (radhiyallahu taala ‘anha)? Tapi itu bukanlah keagungan yang sejati. Karena sebuah kerajaan yang bisa diambil setiap saat, bukanlah kerajaan yang nyata. Kerajaan yang sejati adalah yang kekal dan abadi.

‘والآخرة خير وأبقى’ [wal aakhiratu khayrun wa abqa] – Dia yang kekal dan abadi.

Dan dia adalah seorang Ratu di sana dan dia adalah bangsawan di surga. Dan kita meminta kepada Allah (subhanahu wa ta’ala) untuk memberikan kita bahwa tempat tertinggi di surga Firdaus, Allahumma aamiin. JazaakumAllaahu khayran. Wassalaamualaikum wa rahmatullah wabarakatuhu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s