[Transkrip Indonesia] Apakah Sebaiknya Saya Fokus pada Hafalan atau Pemahaman – NAK – Gulf Tour Q&A – 2015


Assalamu’alaikum semua. Ada pertanyaan bagus saat Tur Teluk. Saya baca Al Qur’an tapi tak paham Bahasa Arab. Jadi, saya tak memahami isi Al Qur’an. Bukankah sebaiknya saya baca dalam Bahasa Inggris saja?

Judul Asli: Should I Focus on Memorization or Understanding? – NAK – Gulf Tour Q&A – 2015
Video Asli: https://www.youtube.com/watch?v=6-IjlXccZM0

Banyak orang berkata Anda harus hafalkan Qur’an karena berpahala banyak. Banyak huffadz yang sudah hafal Al Qur’an tapi tak memahami artinya. Bukankah sebaiknya kita anjurkan baca daripada hafalkan Al Qur’an?

Anda tahu? Saat dengar pertanyaan ini, saya menyadari bahwa, setiap aksi akan munculkan reaksi setara yang bertentangan. Ada pendapat ekstrem tentang ini.

Di satu sisi, ada grup yang menekankan hafalan Al Qur’an tanpa adanya pemahaman sama sekali. Anda dianggap sebagai piala setelah Anda hafal. Anda akan memimpin shalat Tarawih, melagukan Al Qur’an dengan indahnya, dan semua orang puji tajwid dan iqra Anda. Tapi, Anda tak paham arti bacaan itu.

Ini satu pendapat ekstrem yang lahirkan pendapat ekstrem lain yang berkata, “Orang-orang ini hanya membaca tanpa tujuan. Mereka melagukannya dengan indah, tapi apa pesan sebenarnya?

Lupakan hafalan, kita harus fokus pada membaca dan pemahaman. Kedua ini adalah pendapat ekstrem. Untuk hal seperti ini, biasanya kebenaran ada di pertengahan.

Dari berbagai pertanyaan yang diajukan, saya semakin menyadari bahwa reaksi muncul dari satu pendapat ekstrem sebagai pembenaran terhadap pendapat ekstrem lawannya tanpa menyadari jawaban ada di pertengahan.

Jawabannya adalah pada akhirnya menghafal Al Qur’an adalah amal yang sangat memperkaya dan memperkuat spiritual kita. Menghafal Al Qur’an adalah pengamalan warisan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Bal huwa aayaatum bayyinaatun fii suduurilladziina uutul-‘ilm(a).” (QS Al Ankabuut ayat 49)

Salah satu ayat terindah dalam surat Ankabut yang menggambarkan bahwa ayat-ayat Al Qur’an hidup di dalam dada orang yang beriman. Ayat tak hidup disecarik kertas.

Ayat tak hidup dalam sebuah mushaf. Tempat ayat yang disimpan di dunia ini ada di dalam dada orang beriman. Sesuatu yang sangat hebat. Saya mau simpan banyak ayat di dada. Saya mau hafalkan sebanyak mungkin.

Itu adalah sesuatu yang Anda harus perjuangkan dan inginkan untuk diri Anda. Mengapa tak hafalkan Al Qur’an jika itu akan meninggikan orang tua Anda dengan mahkota di kepala mereka pada hari Akhir?

Di satu sisi, kita harus hafalkan Qur’an, tapi di sisi lain. Al Qur’an sendiri mengeluh,

A fa laa yatadabbaruunal-Qur’aan(a), am ‘alaa quluubin aqfaaluhaa.” (QS Muhammad ayat 24)

Mengapa mereka tak menghayati Al Qur’an, atau hati mereka telah terkunci? Merefleksikan dan menghafalkan Al Qur’an saling bergandengan. Saya tambahkan satu lagi. Ini keseimbangan dalam agama kita. Ini sangat menakjubkan. Kedua ini tak terpisahkan satu sama lain.

Saat hafalkan Al Qur’an, saya mengulang ayat yang sama. Ya atau tidak? Berulang kali, saya baca ayat yang sama. Semakin saya mengulangnya, semakin terpikirkan. Semakin terpikirkan, semakin tersadarkan diri saya. Sebenarnya, refleksi diri difasilitasi saat kita menghafalkan Al Qur’an. Begitulah caranya.

Lalu, Anda membaca Al Qur’an dengan tajwid. Dengan tajwid, Anda baca setiap huruf sesuai aturannya. Anda berhenti dan membaca dengan pelan setiap hurufnya. Bukankah itu memperlambat Anda? Tajwid memperlambat Anda.

Saat tajwid memperlambat Anda, pikiran Anda tak hanya melafalkan setiap huruf semestinya, tapi juga berikan pikiran Anda kesempatan untuk pikirkan setiap kata, daripada membaca semuanya sepintas lalu tanpa membiarkan kata untuk meresap ke dalam diri Anda.

Bahkan ilmu tajwid juga bertujuan untuk memikirkan dan merefleksikan Al Qur’an. Itulah tujuannya. Semua ini saling berkaitan.

Apa yang kita lakukan adalah merobeknya. Saya hanya mau baca transliterasi Inggris atau pelajari ilmu tajwid saja tanpa refleksi diri. Subhanallah.

Allah perintahkan semua ini sebagai satu kesatuan. Kita selalu berusaha memisahkannya. Pada akhirnya, jawabannya ada pada keseimbangan. Satu pendapat ekstrem, pasti akan munculkan ekstrem lainnya.

Semoga Allah Azza wa Jalla lindungi kita dari pendapat ekstrem dan jadikan kita umat pertengahan. “Ummatan wasathan.” (QS Al Baqarah ayat 143)

Barakallahuli wa lakum. Wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s