[Transkrip Indonesia] Ramadhan Bulan Penuh Ampunan – Nouman Ali Khan


Ramadhan Bulan Penuh Ampunan – Nouman Ali Khan

Judul Asli: The Month of Forgiveness – Ustadh Nouman Ali Khan [HD]
Video Asli: https://youtu.be/a4hUli7A4d8

Pembukaan

Auudzu billaahi minasy-syaithaanir-rajiim(i).

Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumush-shiiyaam(u).” (QS Al Baqarah ayat 183)
Kamaa kutiba ‘alalladziina min qablikum la’allakum tattaquun(a).” (QS Al Baqarah ayat 183)

Ayyaaman ma’duudaatin fa man kaana minkum maridhan.” (QS Al Baqarah ayat 184)
aw ‘alaa safarin fa ‘iddatun min ayyaamin ukhar(a).” (QS Al Baqarah ayat 184)
Wa ‘alalladziina yuthiiquunahuu fidyatun tha’aamu miskiin(i).” (QS Al Baqarah ayat 184)
Fa man tathawwa’a khairan fa huwa khairul lah(u).” (QS Al Baqarah ayat 184)
Wa an tashuumuu khairul lakum in kuntum ta’lamuun(a).” (QS Al Baqarah ayat 184)

Syahru ramadhaanalladzii unzila fiihil-quraan(u).” (QS Al Baqarah ayat 185)
Hudan lin-naasi wa bayyinaatin minal-hudaa wal furqaan(i).” (QS Al Baqarah ayat 185)
Fa man syahida minkumusy-syahra fal yashumh(u).” (QS Al Baqarah ayat 185)
Wa man kaana mariidhan aw ‘alaa safarin fa ‘iddatun min ayyaamin ukhar(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)
Yuriidullaahu bikumul-yusra wa laa yuriidu bikumul-‘usr(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)
Wa litukmilul-‘iddat(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)
Wa litukabbirullaaha ‘alaa maa hadaakum wa la’allakum tasykuruun(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Rabbisyrah lii shadrii, Wa yassir lii amrii, Wahlul ‘uqdatan min lisaanii, Yafqahuu qawlii.” (QS Thaahaa ayat 25-28)

Al-hamdu lillaahi rabbil-‘aalamiin(a), Wash-shalaatu wassalaamu ‘alaa sayyidil anbiyaa-i wal mursaliin(a). Wa ‘alaa aalihi washahbihii ajma’iin, tsumma amma ba’du. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh.

Insyaallah, hari ini saya diminta bicara tentang semacam pelajaran pendahuluan dengan datangnya ramadhan. Anda semua tahu dan bersemangat dengan mendekatnya ramadhan dan saya berdoa agar Allah menolong kita untuk menyaksikan bulan ini kembali dan bahwa semua ibadat kita sebelum dan terutama dalam bulan itu diterima oleh Allah ‘azza wa jalla. Dan saya berdoa agar setiap kita dan setiap anggota keluarga kita bisa menemukan “Lailatul qadr” tahun ini, insyaallahu ta’ala.

Saya ingin berbagi dengan Anda sedikit refleksi tentang bagaimana Qur’an bicara tentang ramadhan. Ada beberapa hal yang harus kita tahu. Allah hanya bicara tentang ramadhan satu kali. Allah bicara tentang taqwa berulang kali, Allah bicara tentang akhirat berulang kali, Allah bicara tentang berbagai nabi berulang kali, Allah bicara tentang berbagai hukum-hukum fiqh berulang kali, tapi ketika berbicara tentang ramadhan, hanya ada satu tempat, hanya itu. Tak ada pengulangan, tidak disebutkan di tempat lain. Dan itu di dalam surat Al Baqarah, banyak di antara kalian yang sudah tahu itu.

Mengapa Bani Israil Tak Lagi Menjadi Umat Terpilih?

Tapi letaknya di dalam surat Al Baqarah penting untuk diketahui. Pada separuh bagian awal surat Al Baqarah, Allah memberi alasan kepada Bani Israil mengapa mereka tidak menjadi umat terpilih lagi. Kesalahan apa yang mereka perbuat, disebutkan satu per satu oleh Allah di surat Al Baqarah. Pada akhir urutan itu, Dia bicara tentang Ibrahim ‘alaihissalam.

Mengapa? Karena Ibrahim ‘alaihissalam adalah penghubung antara Arab dan Yahudi. Mengapa dia merupakan penghubung Arab dan Yahudi? Karena Arab adalah keturunan Ismail, dan Yahudi adalah anak Ishaaq. Jadi pertalian yang sama di antara mereka adalah kakeknya yakni Ibrahim ‘alaihissalam.

Mereka diingatkan tentang Ibrahim ‘alaihissalam karena mereka berkata, “Kami hanya akan menerima seorang nabi jika mereka datang dari nenek moyang kami.

Dan “nenek moyang kami” maksudnya keturunan Ishaaq. Dan Allah mengingatkan mereka, mengapa mereka terobsesi dengan keturunan Ishaaq, dan tak peduli dengan keturunan Ibrahim ‘alaihissalam karena dia juga ayah dari Ismail ‘alaihissalam, dan (dari Ismail) turun Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Jadi intinya, bahwa umat terpilih ini adalah keturunan Ibrahim. Dan biasanya melalui keturunan Ishaaq, sekarang melalui keturunan Ismail ‘alaihissalam. Tapi pada akhirnya mereka semua adalah keturunan Ibrahim, jadi tak ada perubahan.

Dikatakan pada mereka bahwa setelah mereka diberi alasan, mengapa mereka takkan diberi risalah lagi, lalu mereka diingatkan akan Ibrahim ‘alaihissalam dan cerita tentangnya adalah,

Wa idz yarfa’u ibraahiimul-qawaa’ida minal bayti wa ismaa’iil(u), Rabbanaa taqabbal minnaa innaka antas-samii’ul-‘aliim(u).” (QS Al Baqarah ayat 127)

Saat Ibrahim ‘alaihissalam membangun fondasi Ka’bah yang disebutkan di akhir separuh bagian pertama surat Al Baqarah. Mengapa ini penting? Karena Ka’bah yang “Asyara ilaiha”.

Diisyaratkan pada ayat itu bahwa Ibrahim ‘alaihissalam membangun Ka’bah. Beberapa ayat kemudian, kau tahu apa yang terjadi? Allah akan memerintahkan muslim agar mereka tak lagi sholat ke arah Masjidil Aqsa, tapi ke arah Masjidil Haram. Mereka harus sholat menghadap Ka’bah.

Tapi sebelumnya Dia menyebutkan bahwa Ibrahim ‘alaihissalam-lah yang membangunnya (Ka’bah). Mengapa? Karena Yahudi dan kita, muslim, hingga saat itu biasanya sholat ke mana? Ke arah Al Aqsa. Kita sholat ke arah yang sama dengan mereka. Hingga ayat ini turun, sekarang muslim diperintahkan untuk sholat ke arah Ka’bah.

Anda harus tahu juga bahwa saat Nabi shallallahu alaihi wasallam masih berada di Makkah dimungkinkan untuk menghadap kiblat (Ka’bah, pent.) sekaligus menghadap Al Aqsa. Anda bisa berdiri pada salah satu tempat di kiblat menghadap Ka’bah sekaligus Al Aqsa.

Tapi jika Anda pergi ke Madinah, itu tak bisa terjadi lagi. Menghadap Ka’bah saja, atau memunggungi Ka’bah dan menghadap Al Aqsa. Anda tak lagi bisa mengadap keduanya sekaligus. Saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Makkah, beliau bisa menghadap kepada keduanya. Ketika di Madinah beliau hanya bisa menghadap salah satunya, yakni Al Aqsa. Dan itu membuatnya sedih, dia rindu menghadap Ka’bah. Makanya Allah menyebutkan dalam Qur’an, saat ayat untuk merubah kiblat disebutkan. Allah mengatakan,

Qad naraa taqalluba waj-hika fis-samaa’i, Fa lannuwalliyannaka qiblatan tardhaahaa.” (QS Al Baqarah ayat 144)

Kami melihat wajahmu menoleh ke langit, maka Kami mengubah kiblat, kata Allah.

Perubahan Kiblat: Terbentuknya Ibu Kota Dan Bangsa Baru

Hal yang ingin saya tekankan, sebuah bangsa. Dengarkan ini dengan seksama, sebuah bangsa dikenal dengan ibu kotanya. Jika ada sebuah bangsa, maka harus ada ibu kota. Khususnya jika Anda bangsa yang besar. Anda harus punya ibu kota yang terhormat, yang merupakan bagian identitas Anda.

Jika salah satu kota di sebuah negeri jatuh ke tangan musuh, musuh menguasai satu kota atau satu desa, tak ada masalah. Kapan sebuah negeri benar-benar kalah? Jika Anda menguasai ibu kotanya. Ketika ibu kota berhasil dikuasai, maka negara itu akan hilang. Ibu kota melambangkan identitas sebuah bangsa.

Kiblat bagi muslim adalah identitas kita, ibu kota kita. Makkah adalah ibu kota Islam kita, kita semua menghadap ke arah ini. Saat Allah merubah arah kiblat, Dia merubah identitas kita. Allah menginginkan kita menjadi bangsa yang berbeda dengan Yahudi bukan? Karenanya Dia merubah ibu kota kita, segera setelah itu Dia berkata,

Wa kadzaalika ja’alnaakum ummatan washathan.” (QS Al Baqarah ayat 143)

Setelah mengganti ibu kota Dia berkata, begitulah Kami menjadikanmu bangsa pertengahan. Dia meresmikan kita sebagai bangsa yang baru dengan adanya ibu kota kita sendiri. Hal lain yang penting diketahui, ini diskusi yang khususnya terjadi di tempat saya, karena saya banyak bicara dengan Yahudi dan Kristiani di tempat saya, Texas.

Allah ‘azza wa jalla mengajarkan kita dalam Qur’an bahwa Yahudi tidak suka kiblat dirubah, mereka tak suka itu. Pertanyaannya, mengapa mereka tak suka itu? Maksud saya apakah Anda punya teman non-muslim? Kristiani, Yahudi, Hindu, atau Budha? Jika Anda sholat ke arah sini atau ke sana, apa mereka peduli? Tidak, tak masalah buat mereka. Jika Yahudi adalah agama yang berbeda, jika muslim sholat menghadap kiblat atau tidak, jika mereka sholat menghadap Aqsa atau tidak, mereka seharusnya tak peduli. Tapi Allah berkata,

Sayaquulus-sufahaa-u minannaas(i), Maa wallaahum ‘an qiblatihimullatii kaanuu ‘alayhaa.” (QS Al Baqarah ayat 142)

Mereka yang bodoh di antaranya akan berkata, “Mengapa mereka berubah arah?

Mengapa mereka berpaling dari kiblat yang biasanya, mengapa mereka berubah arah? Dengan kata lain, Yahudi Madinah merasa tersinggung, mengapa? Karena jauh di lubuk hati mereka tahu, selama muslim sholat ke arah itu, maka tempat itu masih ibu kota. Artinya mereka masih merupakan orang-orang yang terpilih.

Tapi begitu arahnya berubah, artinya kami tak punya ibu kota lagi dan harus menerima ibu kota baru ini. Artinya kami harus menerima keturunan Ibrahim dan Ismail. Kami tak bisa mempertahankan identitas kami, keunggulan kita telah lenyap di mata Allah. Dan ini membuktikan bahwa mereka percaya kepada rasul Allah shallallahu alaihi wasallam.

Ya’rifuunahu kamaa ya’rifuuna abnaa’ahum.” (QS Al Baqarah ayat 146)

Mereka mengenalnya seperti mereka mengenal anak mereka sendiri. Mereka tahu bahwa dia Rasul Allah, dan itu sebabnya mereka tersinggung. Ketersinggungan mereka membuktikan bahwa jauh di lubuk hati mereka mengakuinya sebagai rasul, namun di luar masih menolaknya. Itu yang membuat mereka bodoh.

Sayaquulus-sufahaa(‘u).” (QS Al Baqarah ayat 142)

Si bodoh ini membeberkan rahasianya, hehehe. Allah berkata, si bodoh ini akan mengatakan apa yang memalingkan mereka dari kiblat, Anda paham? Jadi hal pertama yang memisahkan kita menjadi umat yang berbeda adalah perubahan kiblat, itu resmi.

Puasa Ramadhan Bertujuan Untuk Mencapai Taqwa

Kita biasanya puasa pada hari yang sama dengan Yahudi, kita biasanya sholat ke arah yang sama dengan Yahudi, dan sebelum sholat 5 waktu turun, kita biasa sholat pada waktu yang sama dengan Yahudi. Mengapa?

Karena ini adalah syariah Musa ‘alaihissalam hingga datangnya syariah yang baru, kita mengadopsi syariah yang datang sebelumnya. Nabi shallallahu alaihi wasallam mengadopsi semua syariah Musa ‘alaihissalam sampai Allah memberinya syariah sendiri. Semuanya diperlihara. Sekarang, kita biasa puasa pada hari yang sama dengan Yahudi. Ayat turun,

Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaykumush-shiyaam(u).” (QS Al Baqarah ayat 183)

Kamu sekalian yang beriman, puasa diwajibkan atas kamu.

Kamaa kutiba ‘alalladziina min qablikum.” (QS Al Baqarah ayat 183)

Seperti diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. Siapa orang-orang tersebut, yang diwajibkan berpuasa? Yahudi, Banu Israil, syariah Musa ‘alaihissalam. Bahkan Allah mengatakan sebagian dari identitasmu sama dengan identitas Yahudi.

Namun dalam surat yang sama Dia sudah memisahkan kita dengan mereka dengan memisahkan Ka’bah kita. Tapi sekarang Dia mengatakan sesuatu yang sama antara kita dengan mereka, yakni puasa. Puasa itu sama antara kita dan mereka. Lalu Dia berkata,

La’allakum tattaquun(a).” (QS Al Baqarah ayat 183)

Sehingga kamu memperoleh taqwa. Menariknya dalam separuh awal surat Al Baqarah, Allah berkata tentang siapa, jika Anda memperhatikan? Kaum Yahudi.

Dan Allah mengeluh setiap saat, mengapa kamu tidak bertaqwa? Sepanjang surah itu inti masalahnya adalah mereka tidak bertaqwa. Sekarang Allah berkata, kamu diberikan latihan yang sama dengan mereka yakni puasa, apa tujuannya? Agar kamu bertaqwa.

Diskusi pertama yang ingin saya sampaikan adalah bahwa puasa adalah suatu kewajiban yang sama antara kita dengan bangsa sebelumnya. Tapi, kenapa kita berpuasa? Juga untuk alasan yang sama. Mereka puasa untuk memperoleh taqwa, kita puasa juga untuk memperoleh taqwa. Saya ingin diskusikan secara praktis apa maksudnya.

Taqwa diartikan oleh orang-orang sebagai rasa takut kepada Allah. Taqwa berasal dari kata “Wiqaya” yang sebenarnya berarti perlindungan. Taqwa mirip dengan “I’ttiqaa'”, untuk mencari perlindungan, berusaha melindungi diri sendiri. Itulah sebabnya pada hari kiamat, setiap orang berusaha melindungi dirinya sendiri. Jadi Allah berkata,

Fa kayfa tattaquuna in kafartum,Yawman yaj’alul-wildaana syiiba(n).” (QS Al Muzzammil ayat 17)

Bagaimana kamu melindungi dirimu di hari kiamat jika kamu tak beriman, di hari di mana rambut bayi berubah abu-abu. Jadi Dia menggunakan kata “Tattaquun(a)” untuk menggambarkan melindungi dirimu sendiri. Itulah arti taqwa sebenarnya, untuk melindungi dirimu sendiri. Allah berkata, Dia memberimu puasa agar kamu bisa melindungi dirimu sendiri. Apa artinya? Mari kita pahami artinya.

Puasa Ramadhan Adalah Latihan

Manusia, kita, memiliki pelatihan tertentu, kita harus berlatih untuk menguasai sesuatu. Khususnya latihan fisik, seperti jika seseorang ingin menjadi tentara, atau menjadi polisi, mereka harus mengikuti latihan tertentu. Dan tubuhnya belajar untuk beradaptasi. Pada awalnya sulit, lalu menjadi semakin mudah bagi mereka. Konsep latihan ini yakni menempatkan diri Anda dalam kesulitan.

Ngomong-ngomong dalam program latihan segalanya mudah, segalanya dibuat lebih mudah. Contohnya, mereka melatih pemadam kebakaran, api mereka nyalakan untuk dipadamkan, tapi api itu mereka kendalikan. Bukan api sesungguhnya yang melalap bangunan, tapi api yang terkontrol jadi lebih mudah.

Mereka membuat Anda melompat ke bawah gedung, tapi lebih mudah, tidak seperti sebenarnya. Mereka memudahkan Anda, tapi saat Anda sudah terlatih, mereka akan menerjunkan Anda ke dalam kondisi sesungguhnya, Anda paham bukan?

Hal yang sama terjadi dengan puasa. Dalam puasa Anda selalu merasakan sesuatu bukan? Khususnya di Qatar. Khususnya di Khaleej, Anda selalu merasa haus, Anda selalu merasa lapar, tak semenit pun berlalu tanpa rasa itu. Tenggorokan Anda melawan Anda.Tenggorokan Anda berteriak-teriak meminta air. Suka atau tidak, tenggorokan Anda memohon-mohon pada Anda. Dan Anda memerintahkan tenggorokan Anda untuk diam, ini belum maghrib. Perut Anda mulai mengoceh kepada Anda, kadang sangat keras.

Hai teman ayolah, apa yang terjadi di atas sana? Mana pasokannya?

Dan Anda berkata, “Ini masih subuh teman, kamu sudah mulai keroncongan?

Anda melakukan perbincangan dengan diri sendiri. Ada semacam peperangan yang berlangsung dalam diri Anda saat puasa. Ada perang fisik dalam tubuh Anda, tenggorokan dan perut Anda melawan Anda. Tubuh Anda melemah dan memohon untuk tidak patuh pada Allah. Dan Anda bertahan berpuasa melawan tubuh Anda, dan berkata tidak, hatiku tunduk kepada Allah, karenanya saya tak peduli jika seluruh tubuh saya menginginkan sesuatu, saya takkan memberikannya.

Anda melatih hati untuk mengontrol tubuh Anda. Itulah yang Anda dan saya lakukan saat puasa. Mengapa ini penting? Karena begitu puasa berakhir, sekarang hati Anda siap untuk mengendalikan tubuh Anda. Sehingga Anda takkan memakan apa saja yang Anda mau, atau pergi ke mana saja Anda ingin, atau melihat apa saja yang Anda inginkan.

Karena semua itu adalah yang diinginkan tubuh Anda. Tapi apa yang menjadi lebih kuat saat Anda puasa? Tubuh melemah, tapi apa yang menguat? Hati jadi menguat. Dan di mana letaknya taqwa?

Innahaa min taqwal quluub(i).” (QS Al Hajj ayat 32)

Dalam hatilah letaknya taqwa. Saat Anda melemahkan tubuh, Anda memberi kekuatan pada hati, Anda melatih diri untuk menghentikannya dari hal-hal lain. Adik-adikku, para pemuda tersayang. Jika Anda puasa, tinggal di rumah dan menonton film. Kalian tidak puasa… kalian masih belum puasa…. Karena hati Anda masih kalah dengan godaan yang salah.

Seluruh latihan puasa bertujuan agar Anda selalu ingat. Saya melawan mata saya, sama seperti saya melawan perut dan tenggorokan, saya harus melawan mulut dan lidah saya, saya harus melawan nafsu dan hormon saya, saya berperang dengan semuanya sekarang, Yang kita lihat tidak hanya tak makan dan minum, tapi semuanya.

La’allakum tattaquun(a).” (QS Al Baqarah ayat 183)

Jika kita tidak ingat ini, maka kita menjadi seperti Bani Israil. Mereka puasa, tapi mereka tak punya apa? Mereka tak punya taqwa. Mereka tak punya taqwa tapi mereka puasa. Jika Anda lupa mengapa Anda puasa, maka Anda melakukan yang sama seperti Bani Israil. Allah berkata kepada Anda,

Kutiba ‘alaykum ash-shiyaam.” (dikutip dari QS Al Baqarah ayat 183)

‘alaykum muqaddam” disebut “Jar majruur muqaddam” (dalam tata bahasa Arab). Khusus bagi Anda, sekarang giliran Anda.

Aku memberimu apa yang Ku-berikan pada mereka, mereka tak memperoleh manfaat dari puasa, mudah-mudahan kamu memperoleh taqwa.

Itulah yang dikatakan Allah ketika Dia memberi kita puasa. Apakah hal pertama yang dipikirkan orang saat puasa? Iftar (berbuka), hehehe…

Puasa adalah latihan Anda untuk menghadapi kehidupan sebenarnya. Jika latihan berlangsung, maka akan menjadi lebih mudah, apinya terkendali, kondisinya terkendali. Apa yang dilakukan Allah, Dia membuat puasa lebih mudah.

Apakah Dia memenjarakan syaitan? Apakah Dia menjauhkan syaitan? Benar bukan? Segalanya dimudahkan bagi Anda, hati Anda berkesempatan dilatih dan menjadi lebih baik tanpa harus mengalami medan perang yang sebenarnya.

Ketika Ramadhan berakhir, lalu datang Idul fitri, tebaklah… syaitan dibebaskan, dan perang dimulai, dan semua latihan itu sekarang bermanfaat. Tapi jika Anda tidak melatih diri Anda dengan baik…yah…

Ini khusus untuk membantu para pemuda. Jika seorang pemuda ingin menjadi prajurit dia harus melalui latihan fisik, jadi mereka mengharuskan si pemuda melompati dinding atau memanjatnya menuju ke sebelah.

Ada 2 pemuda mengikuti militer, salah satunya melompati dinding, yang lain mengitarinya. Keduanya sampai ke sisi sebelahnya. Mereka harus melakukannya 10 kali. Yang satu 10 kali memanjat, yang lain mengitari 10 kali, bukan? Sekarang mereka di medan perang dan harus melintasi sebuah dinding. Siapa yang akan selamat dan siapa yang akan gagal, Anda paham?

Keduanya bisa berkata, “Saya berhasil, saya sampai ke garis finis.

Itu yang Anda inginkan, sampai ke garis finis, “Saya berhasil!

Anda berpuasa dan saudara Anda juga, tapi puasa Anda berdua takkan sama. Orang yang berlatih dan orang yang tidak berlatih takkan memperoleh hasil yang sama.

Penggantian Puasa Sebelum Ramadhan

Ayo kita lanjutkan. Allah berkata,

Ayyaaman ma’duudaat(in).” (QS Al Baqarah ayat 184)

Artinya hari yang sedikit. Anda paham? Ayat yang baru saya sebutkan bukan tentang ramadhan.
Ini belum ramadhan, kata “Ma’duudaat(in)” dalam tata bahasa Arab disebut “Jam’ukilla”. Artinya kurang dari 10, 9 atau kurang.

Artinya ayat ini tentang puasa yang sebelumnya, puasa sebelum turunnya ramadhan, yakni pada hari yang sama dengan Yahudi. Atau pada 3 hari di pertengahan bulan seperti Anda tahu, hanya beberapa hari. Allah berkata, “Aku membuat puasa wajib bagi kalian seperti bangsa sebelumnya.”

Artinya sama seperti mereka, hari yang sama, hanya beberapa hari.

Fa man kaana minkum maridhan aw ‘alaa safarin fa ‘iddatun min ayyaamin ukhar(a).” (QS Al Baqarah ayat 184)

Jika di antaramu sakit, atau dalam perjalanan, maka bisa diganti kemudian.

Wa ‘alalladziina yuthiiquunahuu fidyatun tha’aamu miskiin(i).” (QS Al Baqarah ayat 184)

Dan mereka yang tak mampu melakukannya dan tidak bisa mengganti di hari lain, mereka bisa memberi makan orang miskin. Saya akan mengingatkan Anda, tolong perhatikan, ada 2 hal yang bisa dilakukan jika ada yang tidak bisa berpuasa, ini sebelum turunnya ramadhan.

Apa yang dikatakan Allah, ada 2 hal, apa itu? Katakan pada saya… Apa yang pertama? Jika kau tidak berpuasa, apa yang kau lakukan? Kau bisa menggantinya di hari lain. Apa yang kedua? Memberi makan orang miskin.

Ada dua alternatif, dua cara untuk memperbaiki puasa, ingat itu. Tapi dua cara memperbaiki puasa ini sebelum turunnya ramadhan atau setelahnya? Bukan, bukan. Ayat ini sebelum ayat tentang ramadhan. Ayat ini bukan tentang ramadhan, muslim belum tahu tentang ramadhan. Mereka hanya tahu berpuasa seperti Yahudi. Berpuasa beberapa hari itu, jika ketinggalan bisa diganti atau memberi makan orang miskin, ok…

Lalu Allah berkata, “Fa man tathawwa’a khairan fa huwa khairul lah(u).” (QS Al Baqarah ayat 184)

Jika kamu memberi orang miskin sadaqah, atau memberi makan orang miskin, atau sukarela mengganti puasa. Allah berkata mengganti puasa di hari lain lebih baik untuk kamu. Meski Aku memberimu dua pilihan, kamu harus menggantinya, ok. Tapi bukan dosa untuk memberi makan orang miskin, itu yang dilakukan sahabat, ok.

Wa an tashuumuu khairul lakum in kuntum ta’lamuun(a).” (QS Al Baqarah ayat 184)

Jika kamu puasa lebih baik bagimu, jika kamu tahu. Baik.

Ramadhan Istimewa Karena Turunnya Al Qur’an, Bukan Karena Puasa

Sekarang Allah bicara tentang ramadhan. Saya ingin Anda memahami sejarahnya dulu. Saat pertama muslim atau sahabat mendengar tentang puasa, hanya untuk kurang dari 10 hari.

Pertama, ada dua cara untuk menggantinya, kedua, dibolehkan untuk sukarela mengganti, namun ada pilihan. Sekarang Allah berkata,

Syahru ramadhaana” (QS Al Baqarah ayat 185)

Ini ayat berikutnya. Ini satu-satunya ayat tentang puasa ramadhan dalam Qur’an.

Alladzii unzila fiihil-quraan(u).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Dengarkan, sudah saya katakan, saat mendengar ramadhan apa hal pertama yang dipikirkan orang-orang? Iftar (buka puasa), pakora, samosa, pastikan ada cukup kecap di rumah. Anda berbelanja lebih untuk soda dan hal-hal lain. Muslim biasanya tidak jadi kurus selama ramadhan, tapi jadi gemuk, bukan?

Bahkan puasa, saat berpikir tentang ramadhan Anda berpikir tentang puasa. Jika tidak (berpikir) tentang makanan, pasti berpikir tentang puasa.

Ramadhan ini tepat pada musim panas. Oh akan cukup berat.

Itu yang Anda pikirkan. Allah berkata dalam Qur’an, hal pertama yang harus kamu pikirkan saat mendengar ramadhan.

Syahru ramadhaana.” (QS Al Baqarah ayat 185)

Alladzii unzila fiihil-quraan(u).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Bukan, “Alladzii kutiba fiihish-shiyaam.

Tapi, “Alladzii unzila fiihil-quraan(u).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Bulan yang di dalamnya Qur’an turun. Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya Qur’an turun. Hal yang membuat ramadhan istimewa bukan puasa, hal yang membuat ramadhan istimewa adalah Qur’an, itu yang dikatakan Allah pada kita.

Qur’an Adalah Undang-Undang Bangsa Baru

Sekarang Anda harus bertanya pada diri sendiri, jika Anda puasa dalam ramadhan, tapi tidak membaca Qur’an sedikitpun. Anda puasa dalam ramadhan, tapi tidak menghafal satu halaman dari Quran selama 30 hari itu, bahkan tidak separuh halaman, atau dua ayat, tak satupun ayat Quran yang dihafal. Lalu bagaimana Anda memahami apa yang dikatakan Allah?

Seluruh tujuan ramadhan adalah untuk merayakan Qur’an. Saya katakan tadi hal pertama yang dibutuhkan untuk menjadi sebuah bangsa adalah ibu kota. Apa ibu kota yang baru? Ka’bah. Hal kedua adalah undang-undang, apa undang-undangnya? Qur’an.

Saat undang-undang ditulis dan disebarkan, seluruh bangsa merayakannya. Semua bangsa yang punya undang-undang memiliki hari undang-undang, hari di mana undang-undang tersebut diimplementasikan, mereka punya hari itu…

Undang-undang kita dirayakan, diturunkan pada bulan ramadhan. Allah tidak hanya memberi satu hari untuk perayaan, tapi 30 hari untuk merayakan turunnya Qur’an. Bulan ramadhan ini adalah perayaan bahwa Allah menjadikan kita satu umat. Sekarang kita punya ibu kota, undang-undang, dan hari tersendiri untuk puasa. Tidak lagi sama dengan Yahudi, tak lagi, “Ayyaaman ma’duudaat(in).” (QS Al Baqarah ayat 184)

Sekarang, “Asy-syahru ramadhaana.” (QS Al Baqarah ayat 185)

Mereka tak punya, “Asy-syahru ramadhaana.” (QS Al Baqarah ayat 185)

Jadi Allah membedakan kita dari bangsa yang sebelumnya secara menyeluruh, selesai. Sekarang jika Anda mengganggap diri Anda, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu.” (orang beriman)

Anda harus merubah arah sholat dan hari berpuasa. Anda tak punya pilihan, sebelumnya pada mereka dikatakan,

Warka’uu ma’ar-raaki’iin(a).” (QS Al Baqarah ayat 43)

Dikatakan pada mereka, boleh ruku’ bersama mereka yang ruku’, dan mereka takkan keberatan. Mengapa? Karena masih ke arah yang sama, tapi sekarang berubah…

Ruku‘ Dan Sujudnya Yahudi

Ngomong-ngomong, sebagai catatan pinggir. Beberapa waktu yang lalu saya berteman dengan seorang Rabbi di Texas. Dia seorang peneliti Yudaisme, dan saya berdiskusi dengannya tentang Musa ‘alaihissalam dan hal lainnya.

Saya bertanya padanya, “Jika kalian sholat, apakah ada ruku’?

Karena Qur’an berkata tentang Yahudi, “Warka’uu ma’ar-raaki’iin(a).”” (QS Al Baqarah ayat 43)

Bukan, “Wasjuduu ma’assaajidiin, Shalluu ma’al mushalliin.”

Tapi, “Warka’uu ma’ar-raaki’iin(a).”” (QS Al Baqarah ayat 43)

Bagaimana Allah bisa berkata begitu pada Yahudi? Apakah Anda punya ruku’?

Saya tahu mereka punya sujud dan ruku’,” kata saya.

Dia berkata, “Kami punya semacam ruku’ yang kami lakukan sekali setahun. Dulu biasanya kami lakukan setiap waktu.

Saya bertanya, “Anda punya sujuud?

Jawabnya, “Ya kami punya “sajdah” (sujud), kami meletakkan kepala di atas tanah. Tapi sekarang kami punya doa di mana kami mengeluh bagaimana kami tak lagi melakukan sujud.

Hehehe, ya salaam, ok.

Saya tidak mengada-ada, dia yang bilang, dia seorang Rabbi, dia yang bercerita pada saya. Jadi mereka kehilangan sujud, tapi masih punya sesuatu dari ruku’.

Jadi, “Warka’uu ma’ar-raaki’iin(a).” (QS Al Baqarah ayat 43)

Dia juga mengatakan pada saya, ruku’ adalah bagian terakhir. Sujud dulu baru ruku’ dalam sholat mereka, bukan? Jika mereka bersujud maka mereka akan ruku’ kemudian. Dan saat Allah berkata kepada Maryam salamun ‘alaiha, Dia berkata,

Wasjudii warka’ii.” (QS Ali Imran ayat 43)

Dia menyuruh sujudlah, lalu ruku’. Jadi sujud dulu baru ruku’ dalam syariah mereka. Jadi dia melakukan seperti yang disuruh ayat.

Qur’an Dan Sholat: Tak Ada Rasisme Dalam Islam

Kembali kepada topik kita tentang bulan ramadhan.

Syahru ramadhaan(a), Alladzii unzila fiihil-quraan(u).

Lalu Dia berkata, “Hudan lin-naas(i).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Bagian ayat ini adalah tamparan di muka. Dia berkata, Qur’an adalah petunjuk bagi semua orang. Ayat ini tak hanya untuk muslim, tapi juga komunitas Yahudi di Madinah. Mereka percaya bahwa wahyu datang hanya untuk mereka. Allah berkata tidak, untuk kali ini wahyu ini tak hanya untukmu tapi untuk seluruh manusia,

Hudan lin-naas(i).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Dia bahkan tak berkata, “Hudan lil’araab, hudan libanii israaiil, hudan libani isma’iil, hudan libani ibrahiim.

Tidak, tapi “Hudan lin-naas(i).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Petunjuk bagi semua orang, inilah hal terindah tentang agama kita teman… Ini salah satu hal terindah tentang agama kita. Saya tak peduli jika Anda masuk masjid di Amerika atau Australia, atau di Khaleej, atau Pakistan, jika ada banyak kewarganegaraan. Banyak kewarganegaraan berdiri dalam satu barisan.

Tidak ada perbedaan, orang kaya di baris pertama, kelas pertengahan di baris kedua, petugas kebersihan di baris ketiga. Tidak, tidak…semuanya berdiri pada barisan yang sama. Biasa saja bos dan pekerja berdiri bersisian, dan bisa saja pekerja di baris depan, bos di baris belakang. Bisa saja orang yang bekerja pada Anda di baris depan, Anda di belakangnya.

Allah membuat petunjuk ini untuk semua manusia, artinya semua manusia itu sama. Hanya dengan Qur’an, dengan pendirian sholat. Kita tidak boleh rasis karena kita punya sholat. Kita tak boleh berpikir bangsaku lebih baik dari bangsamu, kewarganegaraanku lebih baik darimu, bahasaku, warna kulitku, desaku, lebih baik darimu. Kita tak bisa melakukan itu karena kita diingatkan saat berdiri bersama dalam sholat. Saat Bilal radhiyallahu ‘anhu berdiri di sebelah Ustman radhiyallahu ‘anhu kita diingatkan bahwa kita setara.

Ini “Hudan lin-naas(i).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Itulah maksudnya. Mengapa saya menegaskannya? Karena saya melihatnya di antara muslim. Saya melihat “‘Ashabiyah” di antara muslim, mereka mengolok-olok bangsa lain, merendahkannya. Berkata buruk tentang mereka, yang bicara dengan bahasa yang berbeda. Arab mengolok-olok non-Arab, Bangladesh mengolok-olok Pakistan, Pakistan mengolok-olok India, Filipina mengolok-olok Malaysia. Apa yang terjadi? Apakah kita tidak sholat? Sepertinya kita tidak belajar dari sholat, dari Qur’an, lalu…

Kita hanya seperti cangkang, sebuah cangkang tanpa isi. Terkadang seperti itulah Islam, terlihat seperti muslim, mengatakan apa yang dikatakan muslim, tapi di dalam hati, tidak. Tak ada cinta pada agama Anda, setiap kita yang ada di sini, yang duduk sebagai hadirin yang berasal dari berbagai negara, ini adalah pertemuan internasional, ini layaknya pertemuan PBB.

Saya tak tahu nama Anda, beberapa di antara Anda mungkin kenal saya, tapi kita punya hubungan satu sama lain yang lebih kental dari darah. Lebih kental dari darah, karena “Laa ilaaha illallah” hanya karena itu. Qur’an ini mengikat kita bersama, dan ini dikatakan kepada Yahudi. Mengapa?

Karena Yahudi percaya mereka istimewa, selebihnya kelas dua, kami (Yahudi) kelas satu. Mereka selebihnya kafir, kitalah bangsa terpilih. Allah berkata, semua orang bisa menjadi orang-orang qur’ani,

Hudan lin-naas(i).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Mengundang semua manusia. Mengenyahkan rasisme, nasionalisme, suku-isme, egoisme, semuanya. Subhanallah, agama yang menakjubkan! Suatu hal yang menakjubkan. Meski di Amerika saya bisa mengatakan ada gereja kulit hitam, gereja Spanyol, gereja Yunani, meski dalam denominasi yang sama.

Di tengah Brooklyn, New York ada berbagai gereja yang berbeda dari etnis yang berbeda. Anda masuk ke masjid, ada konferensi internasional, semua etnis berdiri bersama. Mereka bahkan tidak bisa bahasa satu sama lain, tapi sholat bersama. Qur’an yang sama menyatukan kita karena saat berdiri dalam sholat apa yang kita dengar? Qur’an.

Hudan lin-naasi wa bayyinaatin minal-hudaa.” (QS Al Baqarah ayat 185)

Dan ada banyak bukti, bukti yang jelas dari petunjuk. Ayat ini sebenarnya tentang ramadhan.

Li annaha bada’at bikalimat, “Syahru ramadhaan(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Ayat ini bermula dengan, “Syahru ramadhaan(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Namun sejauh ini, Dia berkata, Qur’an turun di dalamnya, petunjuk bagi manusia. Memiliki banyak bukti dari petunjuk, artinya petunjuk itu sendiri memiliki keajaiban. Jika melihatnya, Anda akan tahu ini kata-kata Allah,

Bayyinaatin minal-hudaa wal furqaan(i).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Dan ini membedakan antara benar dan salah. Hingga saat ini Allah belum mengatakan sesuatupun tentang ramadhan. Apa yang Dia bicarakan? Hanya Qur’an. Lebih separuh ayat ini tentang Qur’an Mengapa Dia melakukan itu? Karena Dia ingin meyakinkan tak ada muslim yang akan melupakan bahwa ramadhan adalah tentang Qur’an. Ramadhan adalah tentang Qur’an, tentang keajaiban buku ini.

Kata Musa Berasal Dari Bahasa Mesir, Bukan Hebrew

Saya sudah bilang saya berteman dengan siapa? Seorang Rabbi bukan? Saya akan menceritakan sebuah kisah lucu tentang Rabbi ini. Nabi mana yang paling dicintai seorang Rabbi? Musa ‘alaihissalam, kami berdiskusi tentang Musa ‘alaihissalam.

Dia dan saya bicara tentang Musa ‘alaihissalam, dan kami tak sependapat tentang segalanya. Dan saya tak bicara dengannya untuk menghinanya, tapi untuk memahami posisinya. Saya sangat ingin mengetahui tentang Bani Israil dari Bani Israil. Karena Qur’an sangat banyak bicara tentangnya, “Yaa Banii Israail(a), yaa Banii Israail(a).

Qur’an bicara begitu banyak tentang nabi-nabinya sehingga mereka juga menjadi nabi-nabi kita. Begitu banyaknya, saya ingin tahu pendapat Anda… Jadi kami bicara tentang Musa ‘alaihissalam. Suatu ketika saya memberitahunya salah satu keajaiban terbesar Qur’an adalah nama Musa. Saya bertanya apa arti Musa? Mereka tidak menyebutnya Musa dalam bahasa Hebrew, mereka menyebutnya “Moshe“. Jadi untuk “Tauratu Musa” dilafalkan dengan “Torah Moshe.” Mereka menyebutnya begitu.

Jadi saya bertanya, “Apa artinya Moshe?

Kata “Mo” (Hebrew) berarti sama dengan kata “Ma-a” (Arab) yang berarti air. Musa bagi mereka berarti, yang berasal dari air. Artinya kata Musa berasal dari bahasa Hebrew.

Saya bilang padanya, “Kata Musa bukan dari bahasa Hebrew, tidak mungkin dari bahasa Hebrew.

Dia bertanya, “Mengapa tidak? Musa ‘alaihissalam berasal dari Bani Israil. Itu Hebrew.

Kata saya, “Dengarkan, di mana dia dilahirkan? Di Mesir. Saat dia masih bayi, di mana dia akhirnya berada? Di istana Fir’aun. Siapa yang berkuasa atasnya? Fir’aun, Asiah radhiyallahu ‘anha.

Lalu ibunya datang sebagai pelayan. Jadi ketika ada bayi yang baru lahir, siapa yang akan menamainya? Mereka yang berkuasa atau pelayan? Mereka yang berkuasa.

Apakah mereka yang berkuasa akan menamainya dengan bahasa pelayan atau penguasa, jika mereka akan membesarkannya sebagai seorang pangeran? Apakah mereka akan menamakannya dengan bahasa budak atau tuannya? Bahasa tuannya.

Dan bahasa tuannya bahasa Mesir, bukan Hebrew. Jadi namanya adalah nama Mesir, bukan Hebrew. Tapi masalahnya bahasa Mesir sudah mati. Bahasa Mesir sudah mati 3000 tahun sebelum datangnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tak ada yang tahu bahasa Mesir. Jadi bila seseorang bertanya pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, apa arti kata Musa? Tak ada yang bisa menjawabnya. Mengapa? Karena bahasa Mesir sudah mati.”

Kita hidup dalam masa yang menguntungkan karena Egyptology atau bahasa Mesir dihidupkan kembali dan diterjemahkan. Hieroglifik dan fenetik dari bahasa Mesir sekarang banyak diterjemahkan, sehingga kini kita bisa kembali ke Mesir dan menemukan apa arti Musa.

Tapi sebelumnya saya akan membicarakan sebuah ayat dalam Qur’an. Musa ‘alaihissalam datang ke istana, ibu angkatnya, sang ratu, menggendongnya. Dia membawanya ke Fir’aun dan berkata padanya,

‘Asaa an yanfa’anaa aw nattakhidzahu waladan.” (QS Al Qashash ayat 9 dan QS Yusuf ayat 21)

Mungkin dia bisa memberi manfaat atau kita bisa menganggapnya baru lahir (newborn). Kata Musa dalam bahasa Mesir berarti anak (yang) baru lahir. Dia (ratu) datang ke Fir’aun dan berkata,

Mungkin kita bisa menganggapnya sebagai anak kita yang baru lahir. Mungkin kita bisa mengganggapnya sebagai Musa.

Qur’an menerjemahkan nama Musa ‘alaihissalam menjadi “Waladan.” Qur’an mengenal bahasa Mesir meski bahasa ini telah mati. Qur’an menterjemahkannya secara akurat. Dia pasti memanggilnya Musa, karena Musa dalam bahasa Mesir berarti baru lahir. Dan Qur’an berkata kita harus menganggapnya sebagai baru lahir.

Aw nattakhidzahu waladan.” (QS Al Qashash ayat 9 dan QS Yusuf ayat 21)

Subhanallah. Kalian (Yahudi) tidak memiliki apa yang kami miliki. Saya tidak setuju dengan mereka dalam segala hal. Dan merupakan bagian dari identitas kita untuk tidak setuju, mengenai Ka’bah, hari-hari puasa, nabi-nabi kita, semuanya.

Allah Memberi Kemudahan Dalam Puasa Ramadhan

Sekarang kembali kepada topik kita yang hebat. Allah ‘azza wa jalla sekarang memberi kita berapa hari? 30 hari.

30 hari puasa. Apakah sebelumnya lebih sedikit atau lebih banyak? Lebih sedikit.

Berapa cara untuk menggantinya? Apa saja?

Dengan berpuasa untuk menggantinya atau memberi makan orang miskin. Saat ini Dia berkata,

Wa man kaana mariidhan aw ‘alaa safarin fa ‘iddatun min ayyaamin ukhar(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Jika kamu dalam perjalanan atau sakit, kamu harus menggantinya. Kamu harus menggantinya, ada berapa pilihan? Satu, tak ada pilihan kedua. Jadi ayat sebelumnya adalah kamu tidak punya 30 hari, tapi kurang dari 10 hari, dan punya dua cara untuk mengganti puasa.

Lalu ramadhan datang, sekarang Anda punya lebih dari 3, 4 atau 5 hari, berapa hari? 30 hari. Dan tidak ada lagi dua cara untuk mengganti, tapi hanya? Satu cara.

Apakah menjadi lebih ringan atau berat? Lebih berat. Dan begitu keadaan menjadi lebih berat, Allah berkata pada kita,

Yuriidullaahu bikumul-yusra wa laa yuriidu bikumul-‘usr(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Allah menginginkan kemudahan bukan kesulitan untukmu. Subhanallah, begitu Dia membuatnya lebih sulit, langsung setelahnya Dia berkata, “Aku menginginkan kemudahan bagimu.

Ya Rabb, Engkau baru saja membuatnya lebih sulit, mengapa Engkau berkata Engkau ingin kemudahan bagiku? Ini tidak lebih mudah, tapi lebih sulit.

Dia mengatakan hal yang sangat kuat kepada kita. Pelajaran pertama, Allah akan memberi muslim kekuatan untuk berpuasa ramadhan. Bahwa Dia akan membuat berpuasa dalam ramadhan lebih mudah dari hari lain. Saya jamin, jika Anda puasa dalam ramadhan, akan lebih mudah. Dan minggu berikutnya setelah ramadhan 10 kali lebih berat karena Allah berkata, Dia ingin kemudahan bagimu. Tiga puluh hari itu akan lebih mudah dari pada 3 hari di luar ramadhan.
Subhanallah, itu makna yang pertama,

Yuriidullaahu bikumul-yusra.” (QS Al Baqarah ayat 185)

Allah ingin kemudahan bagimu. Kedua, jika Anda melakukan latihan 2, 3, 4 hari. Anda memang sudah berlatih, tapi jika latihannya 30 hari, apakah Anda lebih kuat? Tentu lebih kuat. Apakah latihan itu akan berdampak lebih lama? Tentu berdampak lebih lama.

Allah ‘azza wa jalla memberi kita kebebasan dari syaitan selama 30 hari. 30 hari untuk Qur’an, 30 hari bagi hati untuk mengendalikan tubuh, 30 hari… Dia benar-benar mempersiapkan kita untuk latihan ini, dan ketika latihan itu menjadi berat, maka ketika selesai Anda akan memperoleh ijazah dan merayakannya.

Anda bertemu orang dan berkata saya sudah dapat ijazah. Orang-orang menyelamati dan memeluk Anda. Saat kita menyelesaikan latihan apa yang kita peroleh? Idul fitri dan perayaan. Subhanallah, kita sudah menyelesaikan latihan tahun ini.

Mengapa kita diberi latihan ini? Agar kita bisa menangani kehidupan nyata, sekarang perang dengan syaitan dan diri Anda sendiri kembali dimulai. Ayo menuju medan perang. Meski Anda tidak lagi berpuasa setiap hari, apa yang sudah ada dalam diri Anda dan takkan hilang? Qur’an. Senjata utama yang Anda miliki melawan syaitan adalah Qur’an. Itulah mengapa saat kita akan membaca Qur’an kita minta perlindungan pada Allah dulu.

Fa idzaa qara’tal-qur’aana fasta’idz billaahi minasy-syaythaanir-rajiim.” (QS An-Nahl ayat 98)

Anda akan lebih kuat ketika keluar dari ramadhan karena Anda punya lebih banyak Qur’an di dalam hati.

Menghafal Qur’an Dalam Ramadhan

Saya memberi tahu Anda, saudara dan saudari, semua yang hadir di sini. Anda harus menghafal Qur’an dalam ramadhan, jika Anda biasanya malas, hentikan kemalasan itu. Mulailah, tak masalah jika Anda hafalkan 2 ayat atau 2 halaman. Letakkan sasaran Anda setinggi mungkin,

Wa man yatahayyab shu’uudal jibaal, ya’isyu abadad dahri baynal hufar.

Bercita-citalah tinggi, katakan saya akan menghafalkan seluruh juz bulan ini. Saya akan menghafal 20 halaman, 10 halaman, saya akan menuntaskan seluruh juz amma atau yang lainnya. Bercita-citalah tinggi meski Anda tak bisa mencapainya, tapi tempatkan diri Anda pada posisi itu.

Ketika seseorang berusaha menghafalkan Qur’an, pergi ke masjid waktu subuh, dan tinggal beberapa saat, 30 atau 40 menit untuk menghafal Qur’an. Saya jamin itulah bentuk ibadah yang paling tulus di hidup Anda, karena Anda tidak menghafal Qur’an untuk memamerkannya pada orang lain. Jika Anda menghafalkan Qur’an, satu-satunya yang tahu hanya siapa? Anda sendiri.

Kecuali Anda punya masalah, “Eh ngomong-ngomong saya hafal surat Al Ghasyiyah.”

Jika Anda punya masalah itu temui saya nanti, hehehe. Kecuali itu, Anda hanya menghafal Qur’an untuk siapa? Anda sendiri. Dan Anda menghabiskan banyak waktu untuk setiap ayat, dan setiap Anda mengulanginya para malaikat mencatatnya, karena saat membaca Anda pasti harus mengulangi bukan?

Setiap kali Anda mengulanginya, para malaikat mencatatnya. Setiap kali, tak hanya sekali, 10 kali, atau 20 kali setiap ayat. Berkah Qur’an memasuki kehidupan Anda. Inilah yang harus kita lakukan saat ramadhan.

Allah Segera Menjawab Seruan Setiap Yang Menyeru-Nya

Sekarang alasan sebenarnya pembicaraan saya, ya Tuhan saya cuma punya… Berapa banyak waktu tersisa? 15 menit? Saya akan butuh satu jam. Bisa? Atau setelah isya kita lanjutkan? Ok…

Jadi ini bagian yang sangat ingin saya bicarakan, saya bangun dulu suasananya. Saya kepala institut kecil dengan 60 siswa. Dalam setahun saya punya 60 siswa. Saya mengajar mereka 5 jam sehari. Setelah mengajar 5 jam, saya merasa lelah.

Salah satu siswa menghampiri dan bertanya, “Ustadz, bolehkah saya meminta 5 menit waktu Anda? Hanya 5 menit.

Jawab saya, “Ok.

Saya memberinya 5 menit. Lalu yang lain datang dan meminta hal yang sama. Lalu yang lain lagi dengan permintaan yang sama. Demikian berulang kali. Ada 60 siswa datang dan masing-masingnya meminta 5 menit waktu saya. Jadi berapa menit? 300 menit. Berapa jam itu? Tiga jam? Masyaallah, matematika di Qatar sangat hebat, S3 matematika yang hebat di sini? Lima jam. Saya sudah mati karena mengajar, sekarang saya di ICU.

Tapi setiap siswa mengeluh, oh saya hanya punya 5 menit, saya tak punya waktu. Ada 500 orang atau lebih yang duduk di sini. Jika saya bicara pada setiap Anda 1 menit, maka itu menjadi 500 menit atau 8 jam lebih… 8 jam dari setiap 1 menit, dan setiap Anda mengeluh, saya hanya diberi 60 detik.

Itu bukan obrolan yang sebenarnya, Anda paham? Saya beri contoh lain. Salah satu anak perempuan saya sakit, kita harus pergi ke dokter spesialis. Kami tak hanya ke dokter umum, tapi spesialis. Dokter spesialis sangat sibuk, Anda tak bisa langsung ke sana, tapi harus membuat janji, dan mereka memberi waktu 3 bulan lagi.

Dan Anda bertanya, “Tak bisa lebih cepat?

Tidak, pasiennya penuh hingga 3 bulan ini, saya tak bisa apa-apa. Ok.

Dan jika Anda terlambat, seharusnya jam 9, Anda muncul jam 9.05, kesempatan Anda lenyap.

Anda harus membuat janji lagi untuk 4 bulan lagi.

Jadi jika Anda ingin menemui orang penting, Anda tak bisa menemuinya sesuai jadwal Anda, tapi sesuai jadwal mereka. Jika bos Anda memanggil Anda, Anda tidak menjawab, “Jika saya ada waktu, insyaallah…

Anda datang, karena ini bukan sesuai jadwal Anda, tapi jadwal dia. Begitulah jika menemui orang penting, sekarang dengan anak Anda lain lagi. Jika Anda memanggil anak Anda, dia sebaiknya datang.

Dia takkan berkata, “Yah, buat janji dulu.

Saya akan datang jam 8.45, saya punya waktu jam segitu.

Tidak. Dia harus datang segera, Anda paham? Sekarang, contoh terakhir. Jika Anda punya bawahan di kantor. Jadi ada seorang CEO, seorang pemilik perusahaan. Dia punya 500 pegawai, apa dia hafal semuanya? Tidak, dia hanya kenal beberapa orang manajer.

Dan manajer itu memiliki beberapa tim, dan timnya punya manajer dari tim-tim kecil. Jadi dia kenal 10, 15 orang. Dia tak kenal semuanya. Dan jika semua orang mengirimkan permintaan padanya secara langsung. Bisakah dia menjawabnya? Tidak. Dia bahkan tak peduli. Dia tak peduli. Siapa orang ini? Satpam? Saya tak peduli. Saya CEO, siapa orang ini? Akuntan? Saya tak peduli, dia hanya pegawai. Sekarang pahami ayat ini,

Wa idzaa sa’alaka ‘ibaadii ‘annii fa innii qariib(un).” (QS Al Baqarah ayat 186)

Saat hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka Aku dekat.

Ujiibu da’watad-daa’i idzaa da’aan(i).” (QS Al Baqarah ayat 186)

Aku menjawab panggilan dari siapapun yang memanggil pada saat mereka memanggil-Ku. Aku takkan membuatmu menunggu, tidak akan ada “Voicemail” (pesan suara). Kamu tidak akan menunggu 24 jam, Aku akan menjawab setiap kali kamu memanggil.

Itu tidak mungkin bagi manusia. Tidak mungkin, meski saya mencintai Anda saya tak bisa menjawab Anda. Saya mencintai anak-anak saya, ketika keempat anak perempuan saya duduk di punggung saya dan semuanya bicara bersamaan, bisakah saya menjawabnya? Tidak.

Meski semua meminta saya, yang satu minta es krim, yang satunya pizza, yang lain ingin pulang dan tidur, yang terakhir ingin pergi ke taman. Saya hanya bisa melakukan satu di antaranya. Saya tak bisa menjawab mereka bersamaan. Saya tak punya kemampuan, meski saya menyayangi mereka. Saya harus bilang, “Maaf, saya tidak bisa.

Allah ‘azza wa jalla berkata kepada nabi-Nya alaihisalatu wassalam, “Jika mereka bertanya, katakan pada mereka Aku dekat.

Dan Aku akan menjawab setiap mereka memanggil-Ku.

Aku akan menjawab doa mereka setiap mereka memanggil. Rahasia ramadhan…. (terhenti karena ada anak menangis)

– tak apa-apa, tangisan anak tidak boleh mengganggu Anda, saudari, jika anak Anda menangis tak masalah, saudari lainnya berhentilah melihatnya. Berhentilah memelototinya, lihat lampu yang bagus di atas atau yang lainnya, ok? Berhenti memberinya pandangan yang mematikan. Jika anak Anda benar-benar meradang, berjalan-jalanlah dulu, lalu kembali. Itu persyaratan saya.

Kita seharusnya senang para ibu datang ke acara ini. Ini berat bagi mereka. Jika Anda mengeluh, anak-anak mungkin merasakan lebih buruk lagi. Kita harusnya senang mereka di sini, semoga Allah memberi berkah untuk ibu-ibu dan anaknya dan untuk kehidupan mereka serta semua anak di sini.

Perlu usaha keras untuk melakukannya, saya tahu, saya punya anak. Menaikkan mereka ke mobil saja adalah “Jihad fi sabilillah.” Hehehe. Apalagi saat Anda menyetir mobil, “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.”

Yang satu ingin pipis, yang satunya lapar, satu lagi tidur dan saat dibangunkan marah, ya Tuhanku. Bukan seperti para bujang yang ada di sini, “Hai ayo ke masjid…bukan begitu.”

Bukan begitu teman… Mungkin para ayah di sini mengenali teriakan anaknya. Dan berkata, “Alhamdulillah istriku di sini, jadi aku tidak perlu mengendong bayi, hehehe…”-

Tapi pembicaraan yang akan saya berikan setelah sholat adalah tentang doa dalam ayat ini. Khususnya ayat ini, yang punya banyak mutiara di dalamnya. Ada banyak hadiah dari Allah dalam ayat ini yang bahkan tak bisa dihitung.

Tapi beberapa di antaranya akan saya bagi dengan Anda, insyaallahu ta’ala. Mengapa? Karena saya ingin menyemangati Anda semua. Agar ramadhan ini menjadi bulan Qur’an dan banyak doa, dan gabungan keduanya. Dan insyaallah kita akan bicarakan cara penggabungannya dengan izin Allah ta’ala.

(Break Isya)

Allah Adalah Prioritas

Setiap Anda punya kesempatan memperoleh uang halal, atau kesempatan yang lebih banyak untuk memperoleh uang yang lebih banyak tapi tak halal, maka ingatkan diri Anda,

Wa litukabbirullaaha.” (QS Al Baqarah ayat 185)

Allah lebih besar dari uang itu, jadi saya takkan mengambilnya. Setiap Anda merebahkan diri di tempat tidur, dan adzan subuh terdengar, dan syaitan memegangi Anda seakan, “Saya tak bisa, saya tak bisa melakukannya...”

Lima menit lagi kata syaitan pada Anda, lalu Anda katakan pada diri Anda, “5 menit lagi.

Saya bisa mengejar rakaat pertama, tidak masalah. Saya mudah terbangun jika saya mau, dan ketika Anda sadar sudah jam 10 pagi. Pada saat itu ucapkanlah “Wa litukabbirullaaha.

Allah lebih besar dari tidur saya. Allah lebih penting dari tidur saya, itulah maksudnya, memprioritaskan Allah. Allah adalah prioritas yang lebih besar dari godaan, kemalasan, dan keinginan saya, dorongan, kelaparan, dan keserakahan saya, semua itu kecil, Allah lebih besar. Itulah latihan ramadhan,

Wa litukabbirullaaha ‘alaa maa hadaakum.” (QS Al Baqarah ayat 185)

Bersyukur Dalam Ramadhan: Mensyukuri Qur’an

“Wa la’allakum tasykuruun(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Dan ayat ini berakhir dengan indahnya, sehingga kamu menjadi bersyukur. Pertanyaannya, bersyukur terhadap apa? Ayat bermula dengan, “Syahru ramadhaan, Alladzii unzila fiihi, Al Quraan.” (QS Al Baqarah ayat 185)

Jadi nikmat pertama yang harus saya dan Anda syukuri adalah apa? Al Qur’an, sehingga Anda bisa menghargai Qur’an. Mari saya ceritakan, jika saya bertamu ke rumah Anda, lalu memberi sebuah kado, saya belikan ini untukmu. Saya belikan sebuah kristal konyol, kristal ala Pakistan. Dan Anda berkata, “Oh, ini sangat indah, terima kasih.” (memperagakan gerak isyarat membuang hadiah)

Di depan saya, apakah itu menghina? Saya beri Anda hadiah, lalu di depan saya apa yang Anda lakukan? Anda bilang terima kasih, tapi kadonya Anda buang. Atau saya berkata, “Hai saya belikan kamu buku ini, saya kira kamu akan suka.

Lalu Anda berkata, “Terima kasih banyak.

Lalu mengambil secarik kain dan membungkusnya, lalu meletakkannya di belakang kulkas. Saya tidak memberimu buku untuk dibungkus dan diletakkan di belakang kulkas. Buat apa saya memberimu buku? Agar kamu membacanya, kamu tidak berterimakasih atas buku ini. Anda paham?

Allah berkata agar kamu bersyukur, artinya agar kamu menghargai Qur’an lebih dari sebelumnya. Ketika ramadhan berakhir, seperti Anda menemukan hubungan baru dengan Qur’an ini. Anda tak bisa menyimpannya, tapi selalu ingin membacanya lagi dan lagi. Allah telah memberi kita tautan langsung dengan-Nya.

Tak ada agama lain yang memiliki hal ini. Yang kita alami dalam sholat adalah hubungan langsung dengan Allah. Secara harfiah kata sholat berarti tautan. Secara harfiah berarti “Shalaat”, hubungan. Dan kalimat Allah yang dibaca itulah yang menghubungkan kita dengan-Nya.

Huwa hablullahilmatiin minassamaa ilal ardl.

Adalah tali Allah yang direntangkan dari langit ke bumi, Qur’an itu sendiri. Semakin terhubung Anda dengan Qur’an, semakin terhubung Anda dengan Allah. Semakin jauh Anda dengan Qur’an, semakin jauh Anda dari Allah, itu kenyataan. Anda dan saya harus menjadikan dekat dengan Qur’an sebagai misi kehidupan kita. Dan tak seorang pun bisa berkata bahwa mereka dekat dengan Qur’an. Qur’an adalah samudera yang tak bertepi.

Saya tak bisa berkata, “Alhamdulillah, pembicaraan ini untuk Anda bukan saya.

Sebenarnya ini lebih banyak untuk mengingatkan saya daripada Anda. Karena semakin dalam Anda belajar semakin Anda sadari bahwa Anda tak tahu apa-apa. Saya butuh lebih banyak belajar, lagi dan lagi.

Allah Mengharapkan Doa‘ Hamba-Nya

Sekarang ayat tentang doa. Subhanallah, semua bagian ayat ini, kita mulai dengan, “Idzaa“.

Wa idzaa sa’alaka ‘ibaadii.” (QS Al Baqarah ayat 186)

Benar? Dimulai dengan “Idzaa“.

Idzaa” dalam bahasa Inggris berarti “When” (ketika). Ada perbedaan antara bahasa Inggris dan Arab pada kata “When” (ketika) dan “If” (jika). Saya ingin Anda paham beda “When” dan “If“.

Fil arabiyyah naqul in, Wa lam yaqul subhanahu wata’ala, “Wa in saalaka ‘ibaadii annii, qala Wa idzaa sa’alaka ‘ibaadii ‘annii.

Jadi apa beda “If” dan “When”? Mari saya sampaikan sebuah kisah, ada seorang ibu. Anak lelakinya diterima sebagai tentara dan dia pergi ke medan perang, Sekarang dia merindukan anaknya, tak ada berita, telepon, atau email. Dia sedang berperang. Ketika Anda bertanya padanya tentang anaknya, apakah dia menjawab,

Ketika (when) anak saya datang saya akan sangat bahagia.

Atau,

Jika (if) anak saya kembali saya akan sangat bahagia?

Mana jawabannya? Dia akan menjawab, “Ketika (when) anak saya pulang saya akan sangat bahagia.

Dia tidak berkata apa? “Jika (if) anak saya kembali saya akan sangat bahagia.

Karena bila dia berkata, “Jika (if) anak saya kembali.

Artinya dia sudah menerima bahwa anaknya akan meninggal. Bila dia berkata ketika (when) artinya dia berharap anaknya kembali pulang. Ketika Anda kehilangan seseorang dan sangat ingin dia kembali, dan hati Anda tak bisa menerima jika mereka tak kembali, Anda tak berkata, “Jika (if).

Tapi, “Ketika (when).

Allah berkata, ketika (when) hamba-Ku bertanya padamu. Dia tidak berkata, jika (if) hamba-Ku bertanya kepadamu. Mengapa? Karena Dia tidak berkata, “Oh barangkali mereka tak ingin bertanya.”

Allah mengharapkanmu untuk bertanya. Dia menunggu Anda untuk bertanya. Ini bukan sebuah kemungkinan, Allah sepertinya berkata, “Kapan kamu akan bertanya?

Subhanallah, “Idzaa“. Ada semacam “Tawaqqu’“, ada semacam harapan. Ada “Thalab“, ada cinta dalam kata “Idzaa“.

Jika Allah bicara tentang mereka yang tak dipedulikan-Nya, apakah mereka bertanya ataupun tidak, siapa peduli, maka Dia akan berkata, “In saala.

Tapi Dia berkata, “Idzaa sa’ala.

Lalu tentang “Sa’ala” itu sendiri, “Sa’ala” adalah “Fi’il madhi” (kata kerja lampau), Anda bisa juga berkata, “Idzaa yasalu” atau “Idzaa yutsla ‘alaihim“.

Idzaa” diikuti dengan “Mudhari‘” (kata kerja bentuk sekarang) dan “Madhi”. “Idzaa” dapat diikuti oleh kata kerja bentuk sekarang dan bentuk lampau. Saat diikuti oleh kata kerja bentuk sekarang artinya berulang kali. Artinya jika hamba-Ku bertanya padamu berulang kali, akan menjadi, “Idza yasaluka ‘ibaadi.

Tapi ayatnya berkata, “Idzaa sa’alaka.”

Sa’ala” adalah kata kerja lampau, “Yushit ilal marrah wahidah,” sesuatu yang berlangsung satu kali. Artinya Aku menunggu hamba-Ku untuk bertanya tentang Aku, berapa kali? Sekali saja. Aku tidak mengharapkan berulang kali, hanya sekali saja. Lalu Dia berkata, “Sa’alaka.

Mereka bertanya kepadamu, yaitu rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Allah sedang menunggu. Beberapa sahabat berkata, “Aku ingin tahu lebih banyak tentang Allah.

Siapa yang akan mereka tanyai? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Sa’alaka ‘ibaadii.” (QS Al Baqarah ayat 186)

Dia tak berkata, “Sa’alaka haaula.” Orang-orang ini.

Sa’alakalladziina aamanuu.” Mereka (dua orang) yang beriman.

Sa’alakal mu’minuun.” Mereka (banyak) yang beriman.

Sa’alakal muslimuun ashaabuk.” Tak satupun dari mereka ini.

Dia berkata, “Idzaa sa’alaka ‘ibaadii.” (QS Al Baqarah ayat 186) Hamba-Ku.

Dia bahkan tak berkata “‘ibaduna” atau “‘ibadallah“.

Dia berkata, “‘Ibaadii.” (QS Al Baqarah ayat 186)

I” pada akhir kata berarti aku, hamba-Ku. Allah menggunakan milik-Ku (My), dalam Quran, kadang Dia menggunakan “Dia (He)“. Kadang Dia menggunakan “Kami (We)“, kadang menggunakan “Aku (I)“, Anda tahu bukan?

Kapan Dia menggunakan “Aku (I)“? Hanya saat Dia penuh dengan cinta atau kemarahan, hanya dua itu. Jika Anda membaca ayat Qur’an ada “Aku (I)” di dalamnya. Apakah Allah memperlihatkan cinta yang besar atau besarnya kemarahan, hanya dua itu, ini bukan kondisi normal.

Ini adalah ayat yang penuh dengan cinta, karenanya Dia berkata, “”ibaadii” bukan “‘ibaaduna“. Hamba-Ku, mereka milik-Ku. Seperti jika seseorang jauh dari Anda tapi dia milik Anda. Saudara lelakiku, saudari perempuanku, ibuku, ayahku, bukan hanya memilikinya, tapi juga mencintainya.

Saat Anda berkata milikku kepada seseorang, itu pancaran dari rasa cinta. Kata “‘ibaad“, orang-orang ini mungkin tidak menyembah Allah, tapi Dia masih memanggilnya “‘ibaad“.

Sekarang, siapa yang mereka tanyai? Jika Anda benar-benar memperhatikan, mereka yang bertanya tentang Allah. Apakah bertanya kepada Allah atau nabi? Nabi shallallahu alaihi wasallam. Jadi yang diperkirakan adalah, saya katakan dalam bahasa Inggris.

Jika mereka bertanya tentang Aku, katakan pada mereka Aku dekat.

Tapi ayat ini tidak mengatakan, “Katakan pada mereka.

Ini yang dikatakan ayat, “Wa idzaa sa’alaka ‘ibaadii ‘annii fa innii qariib(un).” (QS Al Baqarah ayat 186)

Ketika mereka bertanya padamu tentang Aku, “Maka Aku dekat”. Apa yang hilang?

Maka katakan pada mereka.

Faqul lahum innii qariib.

Tidak ada, “Faqul lahum.

Tak ada, “Katakan pada mereka.

Kenapa tidak? Orang-orang datang bertanya kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam. Seseorang datang kepada seorang ‘alim,

Apakah Allah akan menjawab doa’ saya?

Saya punya banyak salah, saya sering meninggalkan sholat, apakah Allah masih akan menjawab doa’ saya?

Apakah Allah akan memasukkan saya ke neraka?” Tanyanya kepada ‘alim.

Dalam hal ini dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan Allah mengenyampingkan Rasul, lalu menjawab secara langsung. Dia mulai bicara kepada Anda dan saya, tidak lagi kepada Rasulullah.

Dia berkata, “Fa innii qariib(un).” (QS Al Baqarah ayat 186)

Aku dekat, Aku sangat dekat maka Aku akan bicara padamu. Aku takkan menyuruh rasul untuk menjawabmu, Aku akan bicara langsung padamu. Itulah keindahan Qur’an. Orang-orang datang dan bertanya pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan Allah tak menyuruhnya untuk menjawab kita. Tidak, Aku akan menjawabnya sendiri. Aku sangat dekat.

Allah Dekat

Anda tak percaya? Kenapa saya bilang Anda tak percaya?

Dia berkata, “Inni“. “Inna” digunakan dalam bahasa Arab “Liizaalatusyaqq.

Almukhaatib mutaraddid… huraib.

Jika seseorang dalam keraguan maka digunakan “Inna”.

Allah berkata, “Jangan pernah ragukan bahwa Aku dekat. Mengapa kamu ragu bahwa Aku dekat? Mengapa kamu berpikir Aku menjauh darimu? Kamu berpaling dari-Ku, bukan Aku yang berpaling darimu. Kamu yang berpaling dari-Ku, kamu tak mematuhi-Ku, kamu berhenti mencintai-Ku, Aku tak pernah berhenti mencintaimu. Kamu menjauh, Aku tetap dekat.

Dan juga kata “Qariib“, yaitu sebuah “Sifah” (dalam tata bahasa Arab), berarti Aku selalu dekat. Kalimat itu sebenarnya berarti, sesungguhnya Aku selalu dekat. Beri tahu pada hamba-hamba-Ku. Hal lain adalah berapa banyak nama yang dimiliki Allah? Setidaknya 99.

Setidaknya 99, begitu banyak nama indah milik Allah. Dan nabi diperintahkan, jika orang-orang bertanya tentang Aku, ketika mereka bertanya kepada nabi tentang Allah, maka hal terpenting yang harus diberitahukan pada mereka adalah nama atau gambaran yang mana? Bahwa Dia dekat. Mengapa?

Karena jika Dia dekat maka akan mudah bagimu untuk bicara pada-Nya. Ketika seseorang jauh, Anda tak bisa bicara dengannya, ketika dia dekat Anda bisa bicara padanya. Jika seseorang dekat, Anda bisa menghormatinya, Dengar, ada berapa anak sekolah di sini? Ada 4 anak, ok… Apa yang dilakukan yang lainnya? Ok, baiklah.

Jika kamu di sekolah dan gurunya berjalan keluar dari kelas. Apakah kamu akan tetap tertib atau tidak? Tidak. Jangan bohong, kamu ada di masjid. Keluar jika mau bohong, hehehe saya bercanda.

Ketika guru berada di dekatmu, apakah sikapmu berubah? Iya bukan? Sekarang kamu ulangan, guru melewatimu, hanya lewat. Apakah kamu semakin menutupi lembar jawabanmu? Hanya bayangannya saja sudah membuatmu gugup, ya Tuhan…

Apalagi jika dia meletakkan tangannya di mejamu, dan melihat lembar jawabanmu, dan mendehem mhhhhmm. Hahaha, malaikat maut….

Saya lakukan itu kepada siswa saya karena saya suka menyiksanya secara psikologis. Salah satu kesenangan mengajar adalah bisa mengganggu siswa. Ya Tuhan…

Allah berkata, “Jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, katakan pada mereka bahwa Aku?

Dekat.

Jika Anda tahu seseorang itu dekat, Anda akan memperbaiki sikap. Jika Anda tahu polisinya dekat, Anda akan bersikap berbeda. Jika tahu bos Anda dekat, Anda akan bersikap berbeda. Jika tahu gurumu dekat, kamu akan bersikap berbeda. Jika tahu ibumu dekat, kamu bicara sopan kepada temanmu.

Jika dia pergi ke ruang lain lalu Anda sikut teman Anda di mukanya atau lainnya, tapi jika dia di sana, kamu bicara dengan sopan. Ketika Anda sadari bahwa Allah itu dekat, Anda akan berubah selamanya.

Karena Dia selalu dekat, “Fa innii qariib(un).” (QS Al Baqarah ayat 186)

Sekarang jika Dia sangat dekat, apa yang dikatakan-Nya? “Ujiibu.” (QS Al Baqarah ayat 186)

Ujiibu/Ajaaba” dalam bahasa Arab berarti, memberi tanggapan, memberi jawaban. Tapi ada kata lain dalam bahasa Arab yakni ”Istajaaba”.

Kama yaquulul qur’aan fi maudli’ akhar, “Fastajaaba lahum rabbuhum.” (QS Ali Imran ayat 195)

Fastajaaba lahum, lam yaqul ajaaba lahum, qal fastajaaba lahum.

Dia berkata, “Dia akan menjawabnya, Tuannya akan menjawabnya.

Jadi ada dua kata dalam bahasa Arab, “Ajaaba” dan “Istajaaba”.

Ajaaba”, dari if’al sebenarnya berarti segera. Jika Anda menjawab seseorang segera tanpa ada jeda, maka disebut “Ijaaba“. Jika Anda membutuhkan waktu untuk menjawab, tidak dijawab langsung, tapi setelah beberapa waktu, maka disebut “Istijaabah“.

Allah berkata, “Ujiibu.” (QS Al Baqarah ayat 186)

Dia berkata, “Aku jawab segera.

Beberapa orang berdoa’ dan bertanya, “Kapan Allah akan menjawab?

Kapan pertolongan Allah akan datang? Saya sakit, kapan Allah akan menyembuhkan saya?

Saya tak bisa menemukan pekerjaan, kapan Allah akan memberi saya pekerjaan?

Saya tak bisa menikah, kapan Allah akan memberi pasangan?

Ibu saya selalu menolak rishta (calon, Pakistan).

Kapan Allah akan merubah hati kita?

Hidung yang ini terlalu panjang, yang ini jarak kedua matanya terlalu jauh, yang ini tidak tahu cara membuat teh dengan baik. Saya tak bisa nikah, ibu saya menolak semuanya.

Ya Allah kapankah ibu saya akan merestui?” Dia berdoa kepada Allah.

Allah berkata, ”Aku akan menjawab kapan?”

Segera.

Dan ngomong-ngomong ini ayat tentang ramadhan bukan? Jadi jika Anda benar-benar ingin jawaban tercepat, kapan harus berdoa’? Dalam ramadhan. Dan jika Anda benar-benar ingin Allah dekat, maka dekatilah Allah dulu, lalu berdoa’. Jadi bacalah Qur’an lalu berdoa’, baca Qur’an dan berdoa’. Itulah yang harus Anda lakukan saat ramadhan.

Anda akan menikmati ramadhan, jika Anda banyak berdoa’ Anda akan menikmati ramadhan. Jika Anda tak banyak berdoa’, Anda takkan menikmati ramadhan. Kenikmatan ramadhan ada dalam doa’.

Jadi Dia berkata, “Ujiibu.” (QS Al Baqarah ayat 186)

Aku menjawab.

Lalu Dia berkata, “Da’watad-daa’i.” (QS Al Baqarah ayat 186)

Kata-kata yang kuat. Ngomong-ngomong kapan kata “Aku (I)” digunakan? Ketika sangat cinta atau sangat marah, yang mana ini? Sangat cinta…

Allah Menjawab Doa’ Meskipun Hanya Dilantunkan Sekali Saja

Aku akan menjawab, Aku sendiri akan menjawab segera. Menjawab siapa? Mungkin Anda pikir kepada yang banyak berdoa’.

Saya hanya berdoa’ sekali setahun. Saat menghadapi ujian, “Ya Allah saya ada ujian, aamiin.

Saya tahu doa’ Anda seperti itu, hehehe.

Atau saat Anda melewati lampu merah dan akan mendapat denda 5000 riyal, “Ya Allah, tolong tempatkan malaikat antara nomor pelat dan kamera, jangan biarkan saya memperoleh sms (karena melanggar lampu merah), yang lain saja, tapi bukan sms.

Kalau sudah begini, baru Anda ingat Allah. Jika seseorang banyak berdoa’, Anda gunakan kata “Doa’“.

Jika seseorang berdoa cuma sekali, itu disebut “Da’watun“.

Da’wah” dengan huruf “Ta marbutah” di akhir, huruf “Ta marbutah” digunakan untuk “Masdar marrah”. Digunakan untuk sebuah kata yang menunjukkan hanya terjadi sekali. Seperti kata “Dharb” berarti memukul, tapi “Dharbatun” berarti memukul sekali saja.

Akl” berarti makanan, tapi “Aklatun” berarti sekali makan. “Ta marbutah” membuatnya berarti sekali saja.

Allah berkata, “Da’watad-daa’i.” (QS Al Baqarah ayat 186)

Aku menjawab bahkan kepada satu panggilan, berapa kali orang tadi berdoa? Sekali saja. Allah bahkan tidak bertanya ke mana kamu setahun ini? Kamu tidak pernah sholat, kamu hanya berdoa sekali seumur hidup? Aku lupa padamu! Kamu hanya mengingat-Ku sekali?

Jika Anda seorang pegawai, dan hanya datang ke kantor sekali setahun, Anda pasti dipecat. Siapa kamu? Saya pegawai di sini. Sejak kapan? Saya diterima tahun lalu. Apa yang Anda lakukan di sini? Saya tak tahu, setidaknya saya di sini. Bolehkah kita mulai lagi?

Apakah bos Anda akan menjawab, “Tentu saja, segera Pak, silahkan, jabatan Anda akan dinaikkan.

Tidak. Dia takkan menawarkan itu semua. Dalam kata da’wah Allah mengatakan Aku akan menjawab meski kepada yang hanya berdoa satu kali saja. Bahkan mereka harus berdoa, “Ya Allah, dan Dia akan menjawabnya.

Jangan katakan pada diri Anda, “Saya bahkan tak punya jenggot, Allah takkan menjawab doa saya.

Saya hanya punya kumis, Allah takkan…

Saya sudah menonton 3 film sebelum ramadhan, karena saya mungkin takkan menonton selama ramadhan. Sekarang saya akan berdoa…

Allah masih akan menjawab doamu, tapi jangan nonton film. Tapi jangan pernah mengira bahwa Allah takkan menjawab. Meski pada orang yang hanya berdoa sekali saja. Sekarang Anda beralasan, memang dia berdoa sekali, tapi mungkin dia orang yang sangat baik. Mungkin dia seorang shalih, seorang mukmin, seseorang yang sangat bertaqwa, sangat berilmu, atau yang bertaubat.

Ujiibuda’watad taaibii.

Aku menjawab doa orang yang bertaubat. Dia tidak berkata begitu.

Dia berkata, “Aku menjawab kepada da’wah, satu doa dari orang yang menyeru, addaa’.

Gambaran dari orang itu adalah dia menyeru.

Dengan kata lain, apakah Allah mengharapkan hal lain darinya?

Apakah Dia berkata, “Da’watal mushallii, da’watal muttaqii, da’watal mu’min?

Tidak. Dia tidak mensyaratkan taqwa, iman, atau ilmu. Tidak dalam doa ini, mengapa? Karena Allah bicara kepada orang yang sangat jauh dari Allah. Dan hal pertama yang dikatakan-Nya, “Lihatlah, Aku dekat. Kamu jauh, tapi Aku dekat.

Lalu Dia berkata kepada mereka, “Aku tahu saat ini kamu tak punya apapun kecuali satu doa ini, tak apa, berikan saja satu doa itu pada-Ku. Meski Anda cuma seorang “Addaa’” seorang penyeru. Aku tak punya gambaran lain lagi buatmu…

Aku belum bisa memanggilmu shalih, muslim, mukmin, atau apa saja. Aku hanya memanggilmu “Addaa’” penyeru. Ini bahkan bukan sebuah kualifikasi. Hanya itu, sudah cukup, seru saja Aku…

Subhanallah, begitu luar biasanya undangan Allah…

Allah Mengenal Setiap Hamba-Nya

Sebelum saya lanjutkan, tadi saya katakan kadang seorang bos punya 500 pegawai. Apakah dia tahu nama mereka semua? Tidak. Khususnya jika si pegawai dalam hidupnya hanya mengirimkan berapa email? Satu. Bagaimana mungkin dia ingat? Jika dikirimkannya sms, nomornya juga tak tersimpan.

Allah tidak berkata, “Ujiibu da’wataddaain.

Dia berkata, “Ujiibu da’watad-daa’i.” (QS Al Baqarah ayat 186)

Alif Lam Ma’rifah” membuat kata ini menjadi spesifik. Dengan kata lain, siapapun yang memanggil Allah, Allah takkan berkata,”Seseorang memanggil-Ku, tapi yang itu yang memanggil-Ku.

Yang itu” (khusus), Anda spesifik di hadapan Allah. Allah mengenal Anda secara khusus, secara perorangan. Tak ada dokter yang akan ingat nama Anda. Jika dia punya 100 pasien sehari, dia takkan ingat nama Anda.

Dia hanya menerka, “Muhammad, apa kabarmu?

Dia takkan mengenali Anda dari nama Anda. Saya bertemu orang-orang, wallahi, saya sedang di Baltimore, seorang tua datang dan berkata,

Beta (panggilan kepada anak, Asia Selatan) apa kabarmu?

Saya ingat ketika kamu sangat kecil biasa berlarian di masjid.

Saya berpikir, “Saya dari Texas, Pak…

Tapi saya jawab, “Ya saya juga ingat, hehehe…

Dia yang lupa. Orang-orang tak mampu mengingat. Allah ‘azza wa jalla bahkan mengenal Anda secara khusus.

Anda mungkin berkata, “Bagaimana mungkin CEO perusahaan akan tahu nama saya?

Saya cuma seorang satpam.

Dia sangat tinggi, saya sangat rendah, tak mungkin dia ingat nama saya.

Bagaimana mungkin seorang Presiden kenal setiap penduduknya?

Bagaimana mungkin?

Bagaimana mungkin saya ingat, jika Anda semua mengenalkan nama Anda?

Apakah saya akan ingat? Saya takkan ingat.

Jika beberapa di antara Anda punya no hp saya, -tolong jangan catat no hp saya- Tapi jika Anda punya no saya, lalu Anda kirim sms, tapi saya tak menyimpan nomor Anda, apa saya tahu siapa itu? Saya tak tahu, saya hanya punya nomor bukan namanya, saya tak tahu.

Anda memanggil Allah, Allah tahu persis siapa Anda. Dan Dia ingin menjawab Anda segera. Dia ingin membangun hubungan baru dengan Anda segera. Apapun yang terjadi kemarin sudah terjadi. Mulai hari ini, Anda menjadi muslim hari ini.

Anda menjadi penyeru Allah hari ini, “Ujiibu da’watad-daa’i.” (QS Al Baqarah ayat 186)

Allah Menjawab Kapanpun Hamba-Nya Menyeru

Pertanyaan yang saya sampaikan sebelumnya adalah jika Anda ingin menemui orang penting, apakah sesuai jadwal Anda atau orang penting itu? Sesuai jadwalnya. Anda tidak bisa berkata, saya ingin bertemu menteri Pendidikan, biar saya datang ke kantornya dan berkata, “Hai, ayo, saya ingin bicara denganmu sebentar!

Saya takkan bisa terbang ke Washington DC dan berkata akan makan pizza dengan Obama. Saya takkan bisa melakukannya. Anda tak bisa datang begitu saja menemui presiden. Jika Anda seorang pegawai, yang dulu bekerja di Microsoft, ketika Bill Gates masih jadi amiir (pimpinan) Microsoft,

Anda takkan berkata, “Hai Bill ayo makan pizza.

Dia tak punya waktu untuk Anda. Kapan waktu yang baik untuk memanggil Allah? Kata orang kapan waktu terbaik untuk berdoa? Tentu kita bicara tentang ramadhan. Dan apa jawab-Nya?

Kata-Nya, “Ujiibu da’watad-daa’i.” (QS Al Baqarah 186)

Idzaa“… kapanpun.

Kapanpun… “Da’aan(i).” (QS Al Baqarah ayat 186)

Kapan saja dia memanggil-Ku. Kapan saja kamu memanggil-Ku, Aku akan menjawabmu segera. Jika kamu memanggil-Ku jam satu pagi, akan Ku-jawab, pada siang hari akan Ku-jawab, sebelum kamu tidur akan Ku-jawab.

Subhanallah. Ini bukan keseluruhan ayat, baru separuh bagian awal. Aku akan menjawabmu kapan pun kau memanggil. Ini undangan Allah. Bagaimana bisa kita tidak mendengarkan undangan ini? Mengapa seseorang bisa jauh dari doa setelah mendengar undangan Allah ini? Saya tak paham…

Lalu Dia berkata, “Sekarang Aku sudah memberimu undangan. Undangan-Ku adalah Aku dekat denganmu. Aku siap mendengarkanmu kapanpun, meski kamu cuma berdoa sekali, Aku masih mendengarkanmu. Tak penting apakah kamu punya kualitas Islam yang baik, Aku tetap mendengarkanmu.

Apa yang harus Anda lakukan? Karena ini yang dilakukan Allah untuk Anda. Apa yang harus Anda lakukan untuk-Nya?

Kata-Nya, “Falyastajiibuu lii.” (QS Al Baqarah ayat 186)

Kata yang satunya, ingat ada “Ajaaba” dan “Istijaaba”.

Istijaaba” juga berarti mencoba untuk menjawab. Seseorang berkata, “Saudaraku aku ingin makan siang denganmu.

Jawab saya, “Saya coba meluangkan waktu. Saya tak tahu apa saya bisa, tapi saya coba.

Mencoba artinya mungkin dia berhasil mungkin juga tidak.

Allah berkata, “Falyastajiibuu lii.” (QS Al Baqarah ayat 186)

Mereka setidaknya berusaha menjawab-Ku. Kamu memohon pada-Ku, meminta pekerjaan yang lebih baik, kesehatan, perlindungan anak-anakmu, memohon untuk orang tuamu, memohon rumah, memohon banyak hal.

Aku juga meminta sesuatu padamu. Bagaimana dengan permintaan-Ku?

Falyastajiibuu lii.” (QS Al Baqarah ayat 186)

Maka mereka harus menjawab-Ku.”

Namun dalam surat Al Fatihah. Apa yang kita minta kepada Allah dalam surat Al Fatihah? Petunjuk. Tapi yang diinginkan Allah dari kita adalah ‘ibadah,

Iyyaaka na’budu, wa iyyaaka nasta’iin(u).” (QS Al Fatihah ayat 5)

Nasta’iin(u).

Artinya kita mohon pertolongan. Tapi sebelum memohon apa yang kita inginkan, kita katakan kepada Allah apa yang akan kita lakukan untuk-Nya. Apa yang kita lakukan?

Iyyaaka na’budu.” (QS Al Fatihah ayat 5)

Apa yang dilakukan-Nya untuk kita? “Isti’aanah” Dia akan menolong kita. Jadi apa yang Anda lakukan untuk Allah harus dilakukan dulu, apa yang Anda inginkan untuk diri Anda datang kemudian.

Tapi dalam ayat-ayat ramadhan ini. Dia berkata, “Aku akan menjawabmu kapan pun kamu memanggil-Ku.

Lalu Dia berkata, “Kamu harus menjawab-Ku.

Dia tidak berkata, “Kamu harus menjawab-Ku lalu Aku akan menjawabmu.

Subhanallah, Dia bahkan meletakkan diri-Nya kedua setelah kita dalam ayat ini.

Falyastajiibuu lii walyu’minuu bii.” (QS Al Baqarah ayat 186)

Mereka harus menjawab-Ku, mereka harus benar-benar beriman pada-Ku, mereka harus benar-benar percaya pada-Ku.

La’allahum yarsyuduun(a).” (QS Al Baqarah ayat 186)

Sehingga mereka bisa menjadi lurus, mereka bisa menjadi orang baik, bisa merubah diri mereka.

Subhanallah, beberapa ayat tentang ramadhan ini bersifat transformatif. Dan secara menyeluruh merubah cara kita memandang ramadhan, jika kita merenungkan ayat-ayat ini. Hubungan yang akan terjadi antara Anda dengan Qur’an, antara Anda dengan doa’, hubungan antara Anda dengan Allah setelah ramadhan sudah teratasi.

Tiga Tujuan Ramadhan

Inilah hal-hal yang harus Anda pahami. Pada kesimpulan saya ingin memberi beberapa hal praktis. Saya ingin menyuruh Anda mengamati, hal yang harus Anda waspadai. Tujuan puasa, adalah taqwa.

Tujuan ramadhan ada tiga:

1. Menyelesaikan latihan 30 hari.

2. Menyatakan kebesaran Allah.

3. Dan menjadi orang yang bersyukur.

Litukabbirullaaha ‘alaa maa hadaakum.” (QS Al Baqarah ayat 185)

Wa litukmilul-‘iddata wa litukabbirullaaha ‘alaa maa hadaakum.” (QS Al Baqarah ayat 185)

Wa la’allakum tasykuruun(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Tiga tujuan ramadhan itu sendiri.

Waspadai Materialisme

Sekarang saya ingin membicarakan apa yang menjadi ancaman nyata dari ketaqwaan Anda. Di negara tempat Anda bermukim, seperti Qatar, Dubai, Khaaleej, sebagian besar negera Arab dan negara muslim.

Bahaya terbesar bagi Anda dan anak-anak Anda, adalah materialisme, itulah bahaya terbesarnya. Anak Anda dan Anda terobsesi dengan mobil, pakaian bermerek, hp bermerek, gadget, film terbaru, unduhan lagu terbaru, kongkow-kongkow di mall, Facebook dan berapa banyak “suka (like)” di kolom komentar Anda.

Anda terobsesi dengan semua ini, seluruh hidup Anda hanya berarti hal ini, tak ada lagi yang lain. Dan ini adalah tragedi, karena para pemuda dalam umat ini sangat kuat, “Wallahi” mereka sangat kuat.

Jika para pemuda dalam umat ini memahami Qur’an, mereka bisa merubah dunia. Dunia akan menjadi tempat yang indah jika para pemuda dari umat ini bangun. Tapi para pemuda dari umat ini dininabobokan oleh iPhone 5, oleh Samsung Galaxy Touch, iPad, Facebook, dan semua itu bisa digunakan untuk banyak hal baik, tapi semua hal itu juga beracun.

Pedang itu bagus jika ditujukan pada musuh, tapi buruk jika ditujukan pada diri sendiri. Alat-alat ini bisa menjadi sumber kekuatan yang baik. Anda tahu berapa lama saya berada di Facebook? Tidak pernah.

Foto saya ada di Facebook, apa yang saya katakan ada di Facebook, tapi saya sebenarnya hampir tidak pernah menggunakan Facebook, tak pernah. Saya mengirimkan beberapa tweet sekali-sekali, tapi tak pernah mengecek komentarnya.

Ada seorang saudara yang bertanya, “Anda tak pernah merespon tweeter Anda.

Saya bilang, “Saya menghidupkan sunnah.

Jangan khawatir, katakan sesuatu yang baik yang akan memberi manfaat yang lainnya, lalu jangan terjebak dengan percakapan online. Anda punya percakapan yang lebih penting. Bagaimana bisa Anda punya waktu untuk semua percakapan itu? Bagaimana Anda punya waktu untuk membaca semua komentar di video YouTube? Bagaimana Anda punya waktu? Saya syok…

Jadi kita harus melakukan detoksifikasi, menyingkirkan gadget kita khususnya dalam ramadhan. Hapus semua aplikasi permainan dari hp Anda, hapus untuk ramadhan, meski Anda bisa mengunduh ulang lagi nanti saya tak peduli, setidaknya dalam ramadhan.

Saudari juga, keluar dari Facebook Anda sekarang, saya lihat, saya tidak lihat tapi Anda baru saja keluar dari Facebook, dan lelucon ini tentang Anda. Keluar dari semua peralatan elektronik Anda. Anda harus melakukan ini, materialisme membunuh kita.

Dan saya katakan, solusi terbaik untuk materialisme adalah memahami buku Allah. Secara personal memahami buku Allah. Semakin Anda memahami buku Allah secara pribadi, Anda takkan lagi tertarik dengan materialisme, materialisme takkan memuaskan Anda lagi, tapi akan tetap membuat Anda merasa kosong.

Buku ini akan memberi Anda kebahagiaan yang tak pernah Anda rasakan sebelumnya, Anda bicara dengan Allah teman, Anda bicara dengan-Nya saat membaca Qur’an. Apalagi yang akan Anda minta. Ini adalah nasehat praktis, atau peringatan yang saya beri untuk Anda khususnya, dan tentu materialisme menjalar kemana-mana.

Saya lihat bahwa mall, kemewahan, para pemuda yang berkumpul di sini. Saya tidak marah dengan mereka, saya merasa kita belum memberi mereka Qur’an. Kita belum memberi mereka sesuatu yang menarik, ini salah kita.

Memaksimalkan Ramadhan

Sekarang bagian terakhir khususnya untuk para orang tua yang hadir. Ini cara memaksimalkan ramadhan Anda. Setiap orang harus punya target dalam ramadhan. Ini rekomendasi saya, Anda harus menghafal beberapa surat pendek, surat pendek sekitar 1 atau 1,5 halaman. Sedikit saja, mungkin 4 (surat) jika mampu, antara 2-4 (surat) dalam bulan ramadhan.

Dan Anda tidak sendiri, tapi harus menghafalnya dengan keluarga Anda. Anda melakukannya, isteri dan anak-anak Anda juga, yang pertama hafal dapat 200 riyal. Sekarang sang ayah akan menghafalnya dengan cepat, hehehe, ok… Tapi lakukan saja, hafalkan Qur’an sebagai keluarga, jadikan semacam proyek keluarga untuk menghafal surat-surat itu. Adalah hal yang indah jika sebuah keluarga berkumpul untuk menjadi lebih dekat dengan buku Allah.

Rekomendasi saya adalah surat-surat musabbihaat, seperti menghafal surat Al Jumuah, Al Munaafiqun, At Taghaabun. Setidaknya 3 surat yang indah ini. Dan ini akan meningkatkan iman Anda. Selanjutnya, masih dalam ramadhan, rekomendasi saya adalah untuk mendengarkan “duruus” (kajian). dari surat yang sama yang Anda hafalkan.

Dengarkan ceramah dan penjelasan surat yang Anda hafalkan itu. Surat yang saya rekomendasikan untuk Anda adalah surat nomor 62, 63, dan 64. Saya sengaja memilihnya karena ketiga surat itu mengenai umat muslim yang kehilangan imannya, dan Allah memperbaiki imannya kembali.

Itulah topik surat tersebut, tentang sebuah umat yang imannya melemah, dan Allah menguatkannya kembali sekaligus melindunginya dari kemunafikan. Dan Dia memperlihatkan pada mereka buah dari iman yang benar. Jadi surat tersebut sangat indah dan juga mudah untuk diingat. Ok, surat apa saja jika Anda memang memperhatikan? Surat 62, 63, dan 64.

Saya tidak merekomendasikan untuk mempelajari hal lain dalam bulan ramadhan, Anda tahu saya sangat percaya dengan pelajaran bahasa Arab, dan pelajaran lainnya, tapi semua itu bukan pelajaran spiritual, tapi “‘ulum aaliyah”, alat untuk pelajaran lainnya.

Anda bisa mengenyampingkan pelajaran akademik dalam ramadhan, satu hal yang Anda pelajari dalam ramadhan adalah mendekati Allah sesegera mungkin. Jika Anda siswa bahasa Arab, jangan pelajari bahasa Arab dalam ramadhan, tapi pelajari Qur’an dan tafsir dalam ramadhan. Jangan pelajari bahasa Arab dalam ramadhan, ok. Atau jika Anda siswa tajwiid, jangan pelajari tajwiid dalam ramadhan, tapi hafalkan lebih banyak ayat Qur’an, Anda paham?

Saya punya sebuah proyek, saat ini saya dedikasikan seluruh hidup saya di sana, dan tujuan proyek ini ada dua. Saya percaya setiap muslim di dunia yang bisa bicara dan memahami bahasa Inggris, harus punya akses untuk mempelajari bahasa Qur’an.

Tidak hanya pada tingkat pemula, tapi pada tingkat sangat mahir. Itu kepercayaan saya, bahwa pelajaran itu harus tersedia bagi mereka. Kedua, setiap muslim harus punya kesempatan untuk mendengarkan penjelasan Qur’an, bukan membacanya. Apa yang saya katakan? Mendengarkan, mengapa itu penting? Karena jika didengar maka Anda akan ingat, tapi jika dibaca apa yang terjadi? Anda akan lupa.

Saya ingat ceramah yang saya dengar 10 tahun lalu. Saya tidak ingat artikel yang saya baca 10 tahun yang lalu. Saya bahkan tak ingat artikel yang saya baca pagi tadi, tapi saya ingat ceramah itu. Jika Qur’an disampaikan berupa ceramah, Anda cenderung mengingatnya. Jika Anda pulang dan membaca ayat tentang puasa hari ini, Anda akan ingat banyak hal dari yang saya bicarakan. Karena Anda mendengarkan. Tapi jika saya beri tulisan dari yang saya bicarakan tebak apa yang terjadi? Anda takkan ingat.

Jika kita ingin umat ini menjadi lebih dekat dengan Qur’an, Kita harus membuat penjelasan Qur’an tersedia dalam bentuk video dan audio, sehingga mereka bisa mendengarkan, lalu mengingatnya. Itu sebuah misi tersendiri. Alhamdulillah tahap pertama misi ini sudah terlaksana.

Saya mulai dengan tafsir dasar dari Qur’an. Yang saya lakukan adalah menterjemahkan Qur’an dan menjelaskannya dengan bahasa yang sederhana. Jadi seluruh keluarga bisa mendengarkan dan mempelajari sesuatu dari buku Allah. Ayat demi ayat, saya sebut dengan proyek “Cover to Cover“. Sudah selesai, alhamdulillah, dan semuanya ditampilkan secara on line.

Saya menyuruh Anda untuk menghafal surat 62, 63, dan 64. Lalu saya ingin Anda pergi ke website kami, lalu dengarkan duruus (kajian) surat Jumuah, Munaafiqun, dan Taghaabun, ketiga surat ini. Ceramah tentang surat itu sudah ada online, dengarkan 2-4 kali, hingga pesan surat itu merasuk ke kepala Anda.

Selanjutnya saat sholat Anda baca surat tersebut, Anda akan merasa benar-benar sholat. Anda benar-benar terhubung kepada Allah, karena Anda hafal ayatnya dan paham artinya. Setidaknya sesuatu dari arti ayat itu ada dalam diri Anda dan keluarga. Jadi saat Anda di rumah menjadi imam karena tak bisa ke masjid, Anda membaca surat yang bisa dipahami seluruh keluarga Anda. Semua anggota keluarga Anda menjadi khusyu’ sholatnya. Itu yang saya ingin untuk Anda capai.

Websitenya adalah Bayyinah.tv. Jika Anda tak tahu ejaan Bayyinah, jika kesulitan akan saya eja untuk Anda, B – a catat di hp Anda…saya tahu Anda punya hp, jangan permainkan saya…

Setelah ini saya akan bicara tentang perkawinan… Tidak, tapi lelaki itu baru saja bangun… Haaa…apa? Perkawinan?? Subhanallah, hehehehe, Anda kena!

Baiklah, websitenya Bayyinah.tv: B – a – y – y – i – n – a – h .tv.

Jika Anda bisa mendengarkan duruus (kajian) surat Jumuah, Munaafiqun, dan Taghaabun, saya kira Anda akan menerima manfaat besar darinya insyaallahu ta’ala, biidznillah, ok… Saya harap Anda memperoleh manfaat dari pembicaraan kita hari ini tentang ramadhan. Saya doakan agar Allah menerima ramadhan kita semua. Doa’kan keselamatan perjalanan saya pulang insyaallah. Dan saya akan banyak berdoa untuk Anda dan komunitas Anda. Barakallahu li walakum, Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh.

Advertisements

3 thoughts on “[Transkrip Indonesia] Ramadhan Bulan Penuh Ampunan – Nouman Ali Khan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s