[Transkrip Indonesia] Allah Yang Berdiri Sendiri (Surah Yasin) – NAK – Part 8

“Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” semua. Saya tidak mendengar “Waalaikum salaam.”

“Waalaikum salaam.” (suara hadirin)

Benar-benar seperti tombol saja (ditekan baru berbunyi)…

Judul Asli: Allah is Self Sufficient (Surah Yasin) – Nouman Ali Khan – part 8
Video Asli: https://youtu.be/NwTd1PErmNc

Sekarang kita berada pada bagian tiga. Bagian tiga tentang dunia di sekitar kita. Allah berkata,

“Wa aayatun lahumul ardhul maytah(u).” (QS Yaa Siin ayat 33)

Dan sebuah tanda yang ajaib bagi mereka adalah bumi yang mati. Apa hubungannya dengan ayat sebelumnya? Ayat sebelumnya, semuanya akan dikumpulkan dihadapan Allah untuk mempersembahkan diri mereka sendiri. Cara termudah untuk mengingat Allah akan membawa jasadmu dan menghidupkannya kembali seperti bumi yang mati, “Ahyaynaa bihi.” (QS Faathir ayat 9 dan QS Qaaf ayat 11)

Dia berkata, “Ahyaynaahaa.” (QS Yaa Siin ayat 33)

Kami menghidupkannya kembali, “Wa akhrajnaa minhaa habban.” (QS Yaa Siin ayat 33)

Dan Kami tumbuhkan biji-bijian darinya, “Fa minhu ya’kuluun.” (QS Yaa Siin ayat 33)

Darimana mereka makan. Sungguh kata-kata yang luar biasa. Kalian semua akan dibawa kehadapan-Ku pada hari kiamat dan sebuah tanda yang sangat luar biasa agar kalian memikirkannya adalah bumi yang menumbuhkan biji-bijian daripadanya kalian makan. Dengan kata lain jika kalian makan roti di pagi hari, jika kalian makan bagel, salad, buah-buahan, kalian memakan ‘pengingat’ hari kiamat. Tepatnya kalian memakan hal-hal yang akan dibangkitkan kembali. Ini adalah hasil hari kebangkitan kembali, bukan?

Ngomong-ngomong ada biji-bijian, Allah menyoroti biji-bijian. Dan jika Anda makan buah-buahan apa yang tersangkut di mulut Anda? Biji-bijinya muncul seperti memberitahu Anda hari kiamat menunggu. Jangan hanya menikmati buah, ini biji seperti kamu. Setiap makan buah seperti dikhutbahi. Herannya, pada buah buatan, buah hasil rekayasa genetik, tak ada biji. Bukankah itu gila? Sepertinya secara alami Anda harus mengalami ketidaknyamanan dengan biji. Ternyata ini mengingatkan Anda akan sesuatu, subhanallah. Peringatan utama melalui kerongkongan kita setiap hari.

Lalu Allah mengatakan di sini beberapa konsep, Dia berkata,

“Innaa nahnu nuhyil mawtaa.” (QS Yaa Siin ayat 12)

Kamilah yang memberi hidup bagi yang mati lalu bumi kembali mati, Kami akan menghidupkannya kembali. Hal lain harus Anda mengerti adalah ketika Allah bicara tentang alam di dalam Qur’an. Qur’an tidak pernah bicara tentang pengasingan. Ini adalah konsep yang sulit dipahami, tapi bagi yang bercermin dan berpikir dalam ini menjadi mudah, jadi dengarkan saya, ok…

Alam Sebagai Perumpamaan Spiritual

Ketika Allah bicara tentang alam maka tidak hanya melulu tentang alam. Saat Allah bicara tentang langit, Dia tak hanya bicara tentang langit. Ketika Dia bicara tentang hujan, Dia tak hanya bicara tentang hujan. Ketika Dia bicara tentang bumi, Dia tak hanya bicara tentang bumi. Di sini Dia bicara tentang bumi, menghidupkannya kembali, tapi sebenarnya bicara tentang manusia yang kembali dihidupkan. Ada hubungan di antara alam, realitas alami dan spiritual. Itulah yang dilakukan Qur’an secara terus menerus. Mereka tak bisa dipisahkan satu sama lain. Sepanjang garis itu, Allah berkata dalam surat ini sebelumnya, ada orang-orang yang mati dan Dia akan menghidupkannya kembali. Seperti hati mereka, hati spiritual mereka mati dan Dia menghidupkannya kembali. Seperti lelaki yang sendirian itu yang lalu beriman, dan lelaki yang sama yang datang dari pelosok kota, tidak hanya beriman ketika sendiri, tapi akhirnya menjadi kontributor dan menolong yang lain, bukan?

Di sini Dia berkata, Allah menghidupkan bumi kembali sebagaimana Dia menghidupkan mereka yang percaya (beriman) kembali. Lalu Dia berkata, Aku tak hanya menghidupkan bumi kembali, Aku tumbuhkan biji-bijian darinya yang bisa kamu makan dan ambil manfaatnya. Seperti lelaki tadi yang kembali hidup dan memberi manfaat bagi yang lainnya. Ada persamaan antara bumi ini dan mereka yang percaya (beriman). Persamaan ini juga ditemukan di tempat lain dalam Qur’an seperti dalam surat Fath. Para sahabat disamakan dengan tanaman yang telah tumbuh sempurna. Mereka dibandingkan dengan sejenis tanaman.

Ayo kita lanjutkan.

“Wa ja’alnaa fiihaa jannaatin.” (QS Yaa Siin ayat 34)

Saya suka bagian ini. Kami meletakkan kebun di muka bumi yang ditanami palem kurma. Dan kami letakkan kebun di muka bumi yang terbuat dari anggur.

“Wa fajjarnaa fiihaa minal-‘uyuun(i).” (QS Yaa Siin ayat 34)

Dan Kami membuat beragam mata air. Sumber air menyembur dari bumi, sungai dan air terjun keluar dari bumi. Lukiskan gambaran ini dalam kepala Anda, putar videonya di kepala Anda, pohon palem, kebun anggur, air terjun. Apakah hal ini dibicarakan Qur’an dalam konteks lain? Kapan Qur’an bicara tentang pohon palem, kebun anggur dan air terjun? Saat menggambarkan syurga bukan? Sekarang bahasa yang sama digunakan untuk menggambarkan dunia ini, kenapa? Karena dunia ini seharusnya menjadi gambaran untuk syurga. Syurga adalah kenyataan spiritual bukan? Namun pohon palem, air terjun, dan anggur adalah kebenaran materi. Kebenaran fisik. Setiap kali Allah bicara tentang kebenaran fisik, Dia mengaitkannya dengan kebenaran spiritual. Saya ingin Anda memahami hubungan ini. Syurga tidak akan memotivasi jika Allah tidak menggambarkannya dengan kata-kata yang menggambarkan dunia. Saya ulangi, syurga tidak akan memotivasi jika Allah tidak menggambarkannya dalam gambaran duniawi.

Jika Allah tidak berkata, “Wa faakihatin mimmaa yatakhayyaruun(a).” (QS Al Waaqi’ah ayat 20)

Mereka akan memperoleh buah-buahan yang bisa dipetik sendiri, “Oh lihat!

“Wa lahmi tayrin mimmaa yasytahuun(a).” (QS Al Waaqi’ah ayat 21)

Dan daging burung yang akan disukai mereka. Mereka akan menggigit ayam itu dan berkata, “Mmmhhhmmm… bawa ke sini ayamnya!

“Wa lahmi tayrin mimmaa yasytahuun(a).” (QS Al Waaqi’ah ayat 21)

Mereka akan senang bersandar pada sofa-sofa yang indah, ohh. Jika Anda tak tahu seperti apa buah yang enak itu, jika Anda tak punya gambaran seperti apa minuman yang enak itu, jika Anda tidak tahu seperti apa pohon palem, seperti apa air terjun, maka semua ayat tentang syurga menjadi tidak relevan, tak ada artinya bagi Anda. Faktanya semua itu hanya memiliki sedikit makna, karena apa yang ditempatkan Allah di bumi ini. Meskipun kenyataan spiritual syurga lebih hebat dari apa yang Anda lihat di bumi ini.

“Maa laa ‘ainun ra’at wal aa udzunun sami’at wa maa khatara ‘ala qalbi basyar.”

Tak ada mata yang pernah melihatnya, tak ada telinga yang pernah mendengarnya, tak ada hati yang pernah membayangkannya. Tak pernah ada, tapi masih ada gambaran.

Dalam ayat sebelumnya, Allah menggunakan bumi untuk memberi gambaran seorang yang beriman. Dalam ayat ini Allah memberi gambaran. Ke mana yang beriman pergi? Ke syurga. Dan digunakan-Nya pohon palem dan semua hal ini untuk menggambarkan pemandangan syurga. Pada dasarnya Dia berkata, kenapa kamu tidak pergi ke syurga? Bukankah Aku sudah memberi gambaran. Apakah itu tidak membuatmu lebih ingin pergi? Kamu seharusnya ingin ke sana karena apa yang sudah kamu lihat di dunia. Anda sebaiknya mengunjungi tempat-tempat yang indah di dunia seperti air terjun dan berkata, “Jika Allah membuat ini untuk dunia, apa yang akan dibuat-Nya di syurga?

Anda pergi ke gunung yang indah, anda duduk di bawah pohon palem. Pohon palem itu sangat bagus. Hanya duduk saja di bawahnya membuat Anda merasa nyaman. Saya tak tahu, sepertinya bukan obat yang membuat California santai, tapi pohon palem.. ada sesuatu tentang pohon palem. Saya tak suka cuaca di Houston sama seperti saya tak suka cuaca di Karachi. Tapi ada yang saya suka di sini, di jalan raya dekat toko ban besar ada pohon palem. Pohon palem selalu membuat saya bahagia, terutama jika Anda datang dari Dallas di mana hanya ada semak, hehehe. Melihat pohon palem itu membahagiakan, mungkin ini pertanda sesuatu yang eksotis.

“Wa fajjarnaa fiihaa minal-‘uyuun(i).” (QS Yaa Siin ayat 34)

“Liya’kuluu min tsamarihii.” (QS Yaa Siin ayat 35)

Apakah Kami membuat semua ini hanya agar kamu bisa makan buahnya? Hanya itu? Kamu pikir Aku membuat semua ini agar kamu hanya… hanya itu yang ingin kamu lakukan? Agar mereka dapat memakan buahnya,

“Wa maa ‘amilathu aydiihim.” (QS Yaa Siin ayat 35)

Dan tangan mereka tidak membuat buah-buah ini. Ngomong-ngomong “Amilathu”.

“Fahunakanniqaash indal mufassiriin ma huwaddhamiir ila ma ya’uud.”

Ke mana dan kepada siapa kata gantinya mengarah? Saya akan mudahkan untuk Anda. Mereka berkata, kata “hu” (dia) kembali kepada mata air yang memancar hingga mereka bisa makan buah dari air yang memancar itu.

Dan mereka tidak membuat air dengan tangannya sendiri. Dari semua yang bisa dilakukan manusia seperti menanam benih dengan tangannya sendiri, menggali dengan tangannya sendiri, tapi air yang memancar dari bumi bukan mereka yang melakukannya. Ini penting karena kebenaran fisik selalu terkait dengan kebenaran spiritual, dan air di dalam Qur’an dibandingkan dengan Qur’an sendiri. Air dibandingkan dengan Qur’an sendiri. Qur’an datang dari langit, apalagi datang dari langit? Air datang dari langit. Qur’an menghidupkan kembali hati yang mati, air menghidupkan lagi hati yang mati. Jadi air selalu dibandingkan dengan Qur’an. Dan air seluruhnya suci dan mensucikan. Air tidak perlu suci sendirinya, tapi air mensucikan segala yang lainnya. Begitulah kesucian dicapai di bumi ini. Dan buku Allah sejatinya suci dan mensucikan orang-orang, “Yuzakkiihim.”

Jadi air selalu dibandingkan dengan Qur’an. Dan Dia berkata, agar mereka bisa makan buah, manfaat dari air. Tapi mereka tidak membuat air dengan tangannya sendiri. Seperti pada awal surat Qur’an bukanlah karya manusia. Anda lihat bagaimana semua terjalin? Ini hal yang luar biasa…luar biasa. Saat mempelajarinya saya merasa sangat bahagia, lalu merasa sangat marah. Mengapa saya tak tahu ini? Ini sungguh luar biasa!

“Wa maa ‘amilathu aydiihim.” (QS Yaa Siin ayat 35)

Kemudian Dia berkata,

“Afalaa yasykuruun(a).” (QS Yaa Siin ayat 35 dan 73)

Lalu tidakkah mereka bersyukur? Ketika sampai kepada akhir ayat ini, apakah mereka tak bersyukur? Anda sadari bahwa Allah tak hanya menyuruh saya bersyukur atas buah-buahan, Dia menyuruh saya bersyukur atas kebenaran fisik. Tapi Dia juga menyuruhnya bersyukur untuk apa? Kebenaran spiritual yang terikat kepadanya, buku Allah (Quran).

Dalam ayat, “Syahru ramadhaanal-ladzii unzila fiihil Qur’aan(u).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Pada akhir ayat, “La’allakum tasykuruun(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Agar kamu bersyukur. Bersyukur untuk apa? Untuk Qur’an Karena ini bulannya Qur’an. Semua latihan Ramadhan adalah agar Anda menghargai Qur’an, hanya itu. Bukan untuk pakora dan samosa (makanan India). Sebagian orang mengira itu pendapat Hanafi, hehehe. Astaghfirullahaladzim, bukan. Tujuan Ramadhan sebenarnya untuk merayakan Qur’an. Hanya itu, agar Anda bersyukur atas apa yang Anda miliki. Yakni Allah.

Air bukan ciptaan mereka, sama seperti wahyu, air memberi kehidupan, sama seperti wahyu. Air adalah sumber air karena dibandingkan dengan kata-kata Allah. Air membangkitkan kembali yang mati di bumi. Dan kata-kata Allah suatu hari akan bangkit kembali di bumi, kun faya kuun, subhanallah.

Makna Azwaaj (Pasangan-Pasangan)

Kita akan membahas kesempurnaan Allah. Allah tak bisa dibandingkan dengan siapapun dan Allah menciptakan makhluk seperti air, dan tak ada yang bisa dibandingkan dengan itu. Dia berkata,

“Subhaanal ladzii khalaqal azwaajaa kullahaa.” (QS Yaa Siin ayat 36)

Sangat sering disalahartikan. Saya artikan dengan cara benar dulu, lalu ala Pendu (Rawalpindi). Betapa sempurna yang menciptakan isteri, pasangan, dari semua jenis.

Arti menurut Pendu, Dia menciptakan segalanya berpasangan. Itulah terjemahan Rawalpindi dalam bahasa Inggris. Maaf Rawalpindi, pengasuh saya dari Rawalpindi ok, santai…

Apa? Rawalpindi? Aku pergi!

Tenang bibi, tenang….

Jadi Dia menciptakan pasangan berasal dari berbagai jenis, bukan isteri atau pasangan segala sesuatu tapi pasangan berasal dari segala sesuatu.

“Mimmaa tunbitul ardhu.” (QS Al Baqarah ayat 61 dan QS Yaa Siin ayat 36)

Dari yang muncul dari bumi,

“Wa min anfusihim.” (QS Yaa Siin ayat 36)

Bahkan dari dalam dirinya sendiri, dan dari hal yang mereka bahkan tidak tahu. Allah menciptakan segala pasangan. Seseorang mengemail saya, “Qur’an bilang segala sesuatu diciptakan berpasangan, bagaimana dengan amuba, virus, dan organisme bersel tunggal?

Aduh tolonglah…. Begitu banyak kata yang saya dengar, diucapkan Paman saya dalam bahasa Punjabi muncul di benak saya, saya bahkan tak bisa bahasa Punjabi. Semua muncul di benak saya saat saya baca email itu. Saya tak ingin marah kepada orang ini, tak seharusnya. Tapi beberapa pertanyaan begitu luar biasa. Sekarang Qur’an dimentahkan oleh amuba! Dan dia melampirkan file jpeg amuba seandainya saya tak tahu bentuknya, hehehe…. aduh!

Allah membuat segala sesuatu berpasangan dan Azwaaj(aa)” tidak hanya berarti pasangan, Azwaaj(aa)” juga berarti kelompok yang melengkapi satu dan lainnya. Azwaaj(aa)” digunakan dalam Qur’an seperti itu.

“Maa matta’naa bihii azwaajan minhum.” (QS Al Hijr ayat 88 dan QS Thaahaa ayat 131)

Bukan pasangan tapi kelompok.

“Kuntum azwaajan tsalaatsah.” (QS Al Waaqi’ah ayat 7)

Kamu dalam tiga kelompok yang melengkapi satu sama lainnya. Setiap kelompok melengkapi anggotanya sendiri, bukan pasangan. Kata Allah, benda-benda dibuat untuk melengkapi. Benda-bendanya Allah dibuat melengkapi satu sama lainnya. Segala ekosistem melengkapi satu sama lainnya. Planet dan galaksi melengkapi satu sama lainnya. Bagian tubuh manusia melengkapi satu sama lainnya. Suami-isteri melengkapi satu sama lain, keluarga melengkapi satu sama lain, tetangga melengkapi satu sama lain, negara-negara melengkapi satu sama lainnya.

“Wa ja’alnaakum syu’uuban wa qabaa ila lita’aarafuu.” (QS Al Hujurat ayat 13)

Semua ini bagian dari “Azwaajaa kullahaa.” (QS Yaa Siin ayat 36)

Dari yang muncul dari bumi juga. Kadang tidak hanya ada dua jenis apel atau jeruk, tidak seperti itu, itu mungkin benar. Tapi juga ada lingkungan tertentu dimana tumbuhan tertentu bisa tumbuh. Dan tanaman lain hanya bisa tumbuh disekeliling tanaman itu, mereka tak bisa tumbuh dengan sendirinya, mereka butuh tanaman lain untuk memberi naungan, atau kelembaban, atau hal lain. Beberapa tanaman hanya bisa tumbuh dan beberapa burung hanya bisa hidup di pohon tertentu. Mereka “azzauj” dari pohon itu.

Inilah yang dilakukan Allah, hal-hal yang membutuhkan satu sama lain. Dia sangat sempurna, Dia membuat segala sesuatu butuh yang lainnya, hanya Dia yang tak butuh seorang pun. Itulah pesan yang disampaikan-Nya. Lihatlah sekelilingmu, segala sesuatu butuh yang lainnya. Lihat bagaimana bumi membutuhkan awan, bagaimana awan membutuhkan angin. Lihat bagaimana bumi butuh matahari dan bulan dan mereka butuh satu sama lain, subhanallah.

“Wa min anfusihim.” (QS Yaa Siin ayat 36)

Dan dalam diri mereka sendiri, dalam dirimu; Dia ciptakan hal-hal yang butuh hal lain. Dia membuat pria dan wanita, tentunya, tapi sebenarnya lebih dari itu. Jauh melampaui itu, meski itu sangat signifikan.

“Khalaqa lakum min anfusikum azwaajan litaskunuu ilayhaa.” (QS Ar Ruum ayat 21)

Mengapa Dia menciptakan pasanganmu? Agar kamu memperoleh kedamaian satu dengan lainnya. Hehe, cukup itu saja penjelasannya.

Saya lanjutkan… Lalu, ada ada pasangan dan dualitas, pertentangan, pertentangan yang saling melengkapi di dalam diriku.

“Fa’alhamahaa fujuurahaa wa taqwaahaa.” (QS Asy Syams ayat 8)

Ditanamkan-Nya pada saya keinginan untuk melakukan apa saja yang inginkan saya lakukan, lalu ditanamkan-Nya pada saya keinginan untuk menahannya. Ditanamkan-Nya pada saya antusiasme dan ditanamkan-Nya pada saya pengendali. Diberi-Nya saya tubuh ini dan diberi-Nya saya ruh ini. Ruh itu hilang dalam tubuh saya, saya membuatnya muncul lagi. Saya bukan tubuh ini tapi ruh ini, tapi juga tubuh ini. Dia memberi saya qalb, hati yang bisa bertaqwa kepada Allah, yang bisa beriman, yang bisa takut pada Allah. Lalu diberi-Nya saya pikiran juga. Diberi-Nya saya emosi di sini (dada), diberi-Nya saya pikiran di sini (kepala), dipasangkan-Nya keduanya. Itulah sebabnya sebuah pesan harus menarik secara emosional dan jelas secara intelektual karena saya terbuat dari pasangan itu juga.

Dia memberi petunjuk yang dipasangkan juga. Dipasangkan-Nya petunjuk dengan rasul, Dia tak hanya punya salah satu. Lalu dibuat-Nya malam dan siang, lalu dibuat-Nya hidup ini, dunia ini, pepohonan palem ini, anggur-anggur ini, dan air terjun ini, dan dipasangkan-Nya mereka dalam Qur’an. Dipasangkan-Nya mereka dengan apa? Pepohonan, air terjun, anggur-anggur, dan ayam sawan (makanan khas Sri Lanka) di syurga. Dipasangkan-Nya semua. Semua dipasangkan, itulah yang dilakukan-Nya.

Satu-satunya yang tak butuh pasangan, tak butuh pelengkap adalah? Allah. Seperti di awal, “Subhaanal ladzii khalaqal azwaaj(aa).” (QS Yaa Siin ayat 36)

Sungguh sempurna yang membuat segala sesuatu yang butuh satu sama lainnya. Karena Dia satu-satunya yang tak butuh pelengkap. Semuanya terkait saat Anda menyadari bahwa hidup ini dipasangkan dengan hidup berikutnya. Itu yang saya maksud saat Allah bicara tentang segala sesuatu dari dunia ini selalu terkait dengan kebenaran spiritual pada kehidupan selanjutnya.

Malam Dan Siang: Kegelapan vs Cahaya

“Wa aayatul lahumul layl(u).” (QS Yaa Siin ayat 37)

Saya suka ini. Sesuatu untuk direnungkan bagi mereka, sesuatu untuk dipikirkan oleh mereka, sebuah pertanda yang jelas bagi mereka, yakni malam.

“Naslakhu minhun nahaar(a).” (QS Yaa Siin ayat 37)

Kami tarik siang keluar darinya. Tahukah Anda di dalam Qur’an, Allah membandingkan kesesatan dengan malam, dan dibandingkan-Nya malam kepada siang. Siang dan malam adalah fenomena fisik, tapi akan terkait dengan kebenaran spiritual. Apa kebenaran spiritual itu? Malam itu sama dengan kesesatan, “zhalaam” (kegelapan).

“Minazh zhulumaati ilan-nuur(i).” (Terdapat di 7 surat, salah satunya QS Ath Thalaaq ayat 11)

Dari kegelapan kepada cahaya. Kegelapan adalah malam, cahaya adalah siang, bukan? Allah berkata sebuah pertanda bagi mereka adalah malam, dan Kami tarik siang keluar darinya. Sama seperti orang Arab,

“Fahum ghaafiluun(a).” (QS Yaa Siin ayat 6)

“Maa undzira aabaa’uhum.” (QS Yaa siin ayat 6)

Generasi demi generasi mereka berada dalam malam, dan direnggut keluar dari mereka. Adalah Rasul Allah shallallahu alaihi wasallam yang diberi-Nya cahaya, hingga mereka bisa melihat cahaya siang. Jika mereka berpikir tentang malam dan siang, mereka akan berpikir bagaimana Allah menarik mereka keluar dari kegelapan menuju cahaya melalui Rasul Allah shallallahu alaihi wasallam. Ini pun terkait kebenaran spiritual.

“Naslakhu minhun nahaar(a).” (QS Yaa Siin ayat 37)

Lalu diakhiri-Nya ayat dengan indah. Kata-Nya, “Fa’idzaa hum muzhlimuun(a).” (QS Yaa Siin ayat 37)

Tiba-tiba mereka menjadi gelap sendiri, mereka masuk dalam kegelapan dengan sendirinya. Tunggu! Ini siang hari, mereka seharusnya menjadi munaaruun, bercahaya, munawwaruun.

Tapi Dia berkata “Muzhlimuun(a)”, mengapa? Siang datang, Qur’an yang brilian dan tak terbantahkan datang, namun kamu ingin menggali lubang dan bersembunyi dalam kegelapan. Itu mungkin karena kamu tertutup dari atas, ada dinding di depan dan di belakangmu, dan cahaya tak bisa masuk. Dari mana saya dapat itu? Dari awal.

Kami tarik siang keluar, tapi mereka masih dalam kegelapan. Dan tiba-tiba mereka dalam gelap, Lalu Dia berkata, “Fa’idzaa hum muzhlimuun(a).” (QS Yaa Siin ayat 37)

Bukan “Fa’idzaa hum yudzlimuun.”

Kata-Nya, “Fa’idzaa hum muzhlimuun(a).” (QS Yaa Siin ayat 37)

Jika “Yudzlimuun”, mereka akan berada dalam malam sesaat saja, besoknya sudah siang. Tapi Dia menggunakan kata “Muzhlimuun(a)” yang sempurna karena Dia mulai dari contoh material siang dan malam, lalu beralih pada kebenaran spiritual, yang artinya mereka akan tetap dalam kegelapan.

“Fahum laa yubshiruun(a).” (QS Yaa Siin ayat 9)

“Wa sawaa ‘alayhim a’andzartahum am lam tundzirhum laa yu’minuun(a).” (QS Yaa Siin ayat 10)

Makanya “Muzhlimuun(a)”, mereka akan tetap dalam kegelapan.

Transcript: SM
Editor: AA & FI
Subtitle: NAK Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s