[Transkrip Indonesia] Mukmin Sejati (Surah Yasin) – NAK – Part 7

Menjual Ayat Allah Dengan Harga Murah

“Ittabi’uu man la yas’alukum ajran wahum muhtaduuna.” (QS Yaa Siin ayat 21)

Ikutilah yang tidak mengharapkan kompensasi darimu. Itu terjemahan sederhana. Ikuti seseorang yang tidak meminta kompensasi apapun.

Judul Asli: A True Believer (Surah Yasin) – NAK – Part 7
Video Asli: https://youtu.be/aKUiZQkdiS0

“Wahum muhtaduuna.” (QS Yaa Siin ayat 21)

Dan mereka berkomitmen membimbing. Ini adalah konsep yang paling banyak disalahartikan di dalam Qur’an oleh muslim. Qur’an mengatakan mereka tak meminta kompensasi apapun saudaraku. Mengapa Anda meminta bayaran untuk program Anda (hehehe). Ini pertanyaan jujur. Qur’an berkata,

“Yasytaruna bi’aayaatillaahi tsamanan qaliilan.” (QS Ali Imran ayat 199)

Mereka menjual ayat Allah untuk harga yang murah. Anda harusnya malu pada diri sendiri menjual ayat Allah. Salah satu konsep yang paling sering disalahartikan dalam Qur’an.

Mari saya jelaskan, nabi shallallahu alaihi wasallam mengirim Mush’ab bin Umair ke Madinah. Anda tahu? Dia adalah salah satu pemuda yang paling brilian yang dikirim ke Madinah untuk mengajar Qur’an. Dia berasal dari keluarga kaya, tapi keluarganya mengusirnya. Dia bahkan tak punya baju untuk dipakai. Sebenarnya saat dia terbunuh di Badr, mereka ingin menutupi kakinya, tapi kepalanya terbuka. Jika kepalanya ditutup, kakinya terbuka. Begitu miskinnya dia. Nabi shallallahu alaihi wasallam mengirimnya ke Madinah untuk mengajar apa? Qur’an. Apa yang akan dimakannya saat sarapan? Surat Al Baqarah? Apa untuk makan siang, makan malam? Nabi shallallahu alaihi wasallam memberinya gaji agar dia bisa melakukan pekerjaannya. Dia dibayar untuk mengajarkan Qur’an.

Apa arti menjual ayat Allah? Anda tahu artinya? Artinya ayat itu berarti sesuatu tapi orang-orang tak mau mendengarnya. Lalu Anda rubah artinya dan mengatakan apa yang ingin didengar orang, agar mereka tak marah pada Anda. Anda beri jawaban yang disukai orang dan Anda hindari bicara yang tak mereka sukai. Sehingga mereka bisa terus menyukai Anda dan Anda tetap populer. Ini maksudnya menjual ayat dengan harga murah. Harga murah itu adalah kesenangan orang-orang, kepuasan orang-orang. Anda paham?

Ikuti mereka yang tidak meminta kompensasi apa-apa. Mengikuti seseorang yang tidak minta kompensasi, mari kita pahami ini. Ini adalah prinsip dari semua nabi. Setiap nabi datang ke suatu bangsa di mana ada masalah serius. Kapankah sebuah bangsa punya masalah serius? Sebuah negara seharusnya seimbang. Saat mereka melakukan kejahatan mereka menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan semakin memuncak sehingga sampai pada titik bangsa itu bisa hancur.

Tugas para rasul adalah menarik mereka dari ketidakseimbangan itu dan membuatnya kembali lurus. Tapi jika ketidakseimbangan menjadi populer, semua melakukannya, semua melakukan kejahatan, kesalahan dan itu bahkan dirayakan menjadi mode. Apakah mudah membicarakannya? Tidak. Saat ini sangat sulit untuk bicara tentang homoseksualitas. Sebagai contoh, bukan? Apakah Luth ‘alaihissalam hidup pada zaman populernya homoseksual? Ya. Apakah dia harus bicara tentang itu? Ya. Apakah dia menerima banyak pukulan karenanya? Tentu. Makanya hal ini ada dalam Qur’an. Jika kamu bicarakan, orang-orang akan mengejarmu. Benarkah? Ya. Luth ‘alaihissalam di sana karena alasan itu.

Ketika Anda membicarakan suatu topik yang merupakan obsesi semua penduduk, mereka memuja sesuatu dan Anda menentangnya, mereka akan mengejar Anda. Jika Anda ingin terus menghasilkan uang atau ingin terus hidup dalam masyarakat itu dan ingin tetap selamat, maka Anda harus menghindari topik apa? Yang merupakan obsesi mereka. Anda hanya harus bicara hal lain. Mungkin Luth ‘alaihissalam harusnya hanya bicara tentang berbuat baik kepada orang tua, mungkin tentang menjaga hubungan bertetangga, atau tentang sholat. Dia harus melupakan topik ini karena terlalu kontroversial. Bukan? Jika dia melakukannya apakah dia dalam masalah? Tidak. Tak ada masalah. Dia masih akan bicara hal baik lainnya. Berbakti pada orang tua adalah hal baik, sholat adalah hal baik, sedekah adalah hal baik.

Mengapa dia harus mengambil topik yang menimbulkan masalah? Itulah tugas seorang rasul. Mereka datang untuk mengambil topik yang takkan berani diambil orang lain. Dan mereka memberi keputusan dari Allah.

“Wal quraanil hakiim.” (QS Yaa Siin ayat 2)

Mereka menyampaikan keputusan Allah, menyampaikannya secara terus menerus. Menyinggung masyarakat tersebut, menyinggung terus menerus. Mereka tak peduli karena itu kejahatan yang harus dilawan. Tentunya jika seseorang melakukannya mereka tak tertarik oleh kompensasi. Karena ini cara tercepat untuk kehilangan kompensasi.

“Man la yas’alukum ajran.” (QS Yaa Siin ayat 21)

Ikuti mereka yang tak punya pamrih, jelasnya. Karena ini bukan cara menjadi terkenal, ini cara untuk dihancurkan.

“Wahum muhtaduuna.” (QS Yaa Siin ayat 21)

Mereka sendiri dipandu dalam hidupnya. Sekarang pahami ini, tentang berkomitmen kepada petunjuk. Para nabi adalah pembicara publik. Siapa lagi yang merupakan pembicara publik? Bisa Anda sebutkan pembicara publik di masyarakat? Tidak dalam skenario muslim. Politisi adalah pembicara publik bukan? Para nabi ingin memberi tahu Anda tentang kebijakan, perubahan di masyarakat. Benar? Apakah politisi kadang memberi tahu perubahan masyarakat? Tentu. Ketika politisi ingin memberi tahu tentang perubahan masyarakat, kita ingin memperbaiki negara dan bangsa, membuatnya lebih kuat dan sebagainya. Lalu Anda amati kehidupan pribadinya. Apa yang Anda temukan? Anda temukan korupsi. Jadi omongan mereka sangat tinggi, tapi karakternya sangat rendah. Alasan mereka berbicara tinggi karena mereka ingin kursi kepresidenan. Mereka menginginkan kekuasaan. Mereka ingin kompensasi. Mereka mengejar sesuatu.

Ketika para Nabi bicara, apa yang mereka inginkan? Mereka hanya menginginkan keadilan, mereka ingin kebenaran. Mereka tak ingin kompensasi dari Anda. Di atas semuanya jika Anda lihat kehidupan pribadinya, Anda akan temukan bahwa dia selalu berkomitmen pada petunjuk,

“Wahum muhtaduuna.” (QS Yaa Siin ayat 21)

Jadi pesannya sempurna, dan rasulnya bersih. Apakah ini diajarkan sebelumnya? Ya.

“Innaka laminal mursaliin.” (QS Yaa Siin ayat 3)

“‘alaa shiraathil mustaqiim.” (QS Yaa Siin ayat 4)

Tinjauan ulang, itulah yang dilakukan Qur’an. Terjalin dengan erat. Ayat berikutnya,

“Wa maa lii” (QS Yaa Siin ayat 22)

Apa yang salah denganku? Lelaki ini masih bicara, pahlawan kita itu, namanya akan kita kenal di syurga suatu saat, dengan ijin Allah. Dia berkata, “Apa yang salah denganku?”

“Laa a’budul ladzii fatharanii?” (QS Yaa Siin ayat 22)

Saya takkan menyembah yang menciptakan saya dari yang tiada?

“Wa ilayhi turja’uuna.” (QS Yaa Siin ayat 22)

Dan kalian semua akan kembali kepadaNya juga. Kata Kata “Maa lii” apa yang salah denganku? “Maa lii” dalam bahasa Arab dikatakan “Wa maa lii la af’al allati sya’nuhaa an yuridahal mutakallimu fi raddin ‘ala man ankara ‘alaihi fi’lan.”

Ibn ‘Asyur mengatakan bahwa jika seseorang berkata, “Apa yang mungkin salah denganku sehingga aku harus melakukan ini itu.”

Artinya seseorang mengatakan pada mereka, apa yang salah denganmu, mengapa kamu meninggalkan agamamu? Saya harus berpaling kepadanya dan menjawab. Jadi pernyataan mereka belum direkam, tapi kita tahu itu sudah ada di sana menilik cara bicaranya. Seseorang berkata padanya, “Apa yang salah denganmu? Mengapa kamu bicara tentang agama yang salah ini?

Saya perlu berpaling dan berkata, “Apa yang salah denganku sehingga aku tidak menyembah Dia yang menciptakanku.”

Kalian semua juga akan dibawa kembali pada-Nya. Pahami kalian semua juga akan dibawa kembali pada-Nya. Kalimat ini dimulai dengan, apa yang salah dengan siapa? Dia mulai dengan dirinya sendiri. Saat kalimatnya berakhir dia berkata, “Kalian semua akan kembali pada-Nya.”

Dari siapa dia mulai? Dirinya sendiri. Jika Anda ingin berhubungan dengan orang dan memberi mereka pesan ini, Anda harus mengakui kondisi Anda dulu. Anda harus bisa mengatakan pada orang bahwa Anda punya masalah. Jika saya memberi seseorang nasehat tentang jangan gunakan maskapai ini, gunakan yang itu. Jika saya mulai dengan, “Dulu saya pakai maskapai itu banyak sekali penundaan, koper saya hilang, dan lainnya.”

Lalu saya bilang, “Pakai maskapai lain saja.”

Apakah itu membuat nasehat saya lebih mengena? Karena bicara tentang diri sendiri dulu? Ketika Anda mengalami sesuatu, lalu dengan tulus datang kepada mereka untuk kebaikan mereka. Tapi jika Anda datang datang berkata, “Hai Anda terbang dengan maskapai itu, Anda bodoh!

Apakah pesannya sampai sebagai hal yang datang dari hati Anda? Itu dirasakan menyerang. Dia bicara tentang dirinya karena dia tak mau mereka membencinya. Karena tidak mau bicara dengan kebencian, karena tak mau bicara dengan menghakimi. Dia hanya ingin bicara tentang dirinya. Lihat ini adalah kejahatan besar saya, jika saya meninggalkan yang menciptakan saya. Dan kalian juga akan begitu, kalian akan kembali kepada-Nya juga. Ini bukan hanya tentang saya. Ini cara bicara yang penuh kasih yang sudah dimulai dengan, “Yaa qawmi.” (QS Yaa Siin ayat 20)

Maka dia datang karena cintanya pada kaumnya. Katanya,

“Wa maa liiya laa a’budul ladzii fatharanii wa ilayhi turja’uuna.” (QS Yaa Siin ayat 22)

“A’attakhidzu min duunihii aalihaatan.” (QS Yaa Siin ayat 23)

Haruskah saya mengambil Tuhan lain selain Dia?

“Iy yuridnir rahmaanu bidurrin.” (QS Yaa Siin ayat 23)

Jika Ar Rahmaan, Yang Maha Pengasih menginginkan bahaya datang.

“La tughni ‘annii syafa’atuhum syai’an.” (QS Yaa Siin ayat 23)

Semua Tuhan lain dikumpulkan takkan bisa membebaskan saya. Dengan semua permohonan mereka, semua perantaraan mereka, dan semua mohon pergilah Tuhan, biarkan dia pergi, dia biasa menyembahku. Tak satupun akan menolong,

“Wa laa yunqidzuun.” (QS Yaa Siin ayat 23)

Mereka takkan bisa menyelamatkanku. Jika saya punya masalah dengan Allah, berhala-berhala ini takkan bisa menyelamatkanku. Semua Tuhan mitos ini takkan bisa menyelamatkanku. Mengapa saya pergi kepada yang lain? Anda tahu apa yang dilakukannya di sini? Dia mengkritik agama mereka, bukan? Karena mereka percaya pada Tuhan yang lain.

Tapi alih-alih bicara tentangnya dengan, apa yang salah dengan kalian, mengapa kalian percaya Tuhan ini, mereka takkan bisa menolong kalian. Dia berkata,

Bagaimana bisa saya percaya pada Tuhan-Tuhan ini? Mereka takkan bisa menolong siapa? Saya. Saya hanya khawatir tentang diri saya teman.”

“A’attakhidzu min duunihii aalihaatan iy yuridnir rahmaanu.” (QS Yaa Siin ayat 23)

Ar Rahmaan menginginkanku untuk tegar. Pertanyaannya, pertama dia kembali menggunakan saya karena sekarang dia bicara tentang berhala mereka. Anda bisa bicara tentang agama orang jika sehubungan dengan Anda. Mengapa tak masuk akal buat Anda. Tidak tentang mereka, tapi tentang Anda. Ini yang tidak meyakinkan bagi saya, Ini yang tidak bisa duduk nyaman bersama saya. Ini yang tak bisa saya sesuaikan untuk diri saya. Mengapa Anda lakukan ini? Karena kita tidak ingin ada perlombaan ego.

Tentang Ar Rahmaan, Keadilan, dan Kekuasaan-Nya

Hal kedua di sini, jika Ar Rahmaan ingin mencelakaimu mereka takkan bisa menolong saya. Tunggu, apakah Ar Rahman berarti yang mencelakai? Apa artinya? Ar Rahman berarti yang pengasih, memelihara, memperlihatkan cinta. Mengapa dia berkata, “Jika Ar Rahman ingin mencelakai?

Kata Ar Rahman dan celaka tidak sejalan bukan? Anda tahu apa sebenarnya maksudnya? Dulu kalian mengolok-olok Ar Rahmaan, kalian berkata,

“Maa andzalar rahmaanu min syai’in.” (QS Yaa Siin ayat 15)

Ar Rahmaan tidak mengirimkan apapun. Mereka sudah menggunakan nama ini. Hanya karena namanya Yang Maha Pengasih tidak berarti Dia tak punya kekuatan untuk mencelakai jika waktunya tiba. Anda tak bisa mengambil keuntungan dari nama-Nya dan menganggap takkan terjadi apa-apa. Oh, Allah Maha Besar, takkan terjadi apa-apa. Sekelompok orang mencoba bernegosiasi dengan Allah. Saya telah berbuat banyak untuk Allah, jadi jika saya tak pernah melakukan beberapa hal kecil tak apa-apa, Dia akan mengerti. Benarkah? Dianggapnya seperti Dia belum mengerti saja…

Jadi Anda menempatkan Allah seperti itu? Ya, karena Dia Ar Rahmaan…. Makanya Anda temukan beberapa ayat yang sangat keras dalam Qur’an ada kata Ar Rahman-nya. Agar Anda menjadi jelas, hanya karena Dia sangat pengasih, tidak akan menghilangkan keadilan-Nya dan takkan menghilangkan kekuasaan-Nya.

Ngomong-ngomong Dia memang Ar Rahmaan dalam ayat ini. Mengapa? Karena jika seorang hamba Allah -setiap manusia adalah hamba Allah disadari atau tidak oleh mereka-, jika seorang hamba Allah menjadi sumber kejahatan dia seperti kanker di bumi ini yang menyebarkan kejahatan. Lalu Allah melakukan Ar Rahman ke seluruh ciptaan-Nya yang lain dengan menghilangkannya (kanker tadi). Itu juga Ar Rahmaan. Kadang sayang-Nya kepada semua ciptaan yang lain yang Dia selamatkan darimu.

“Iy yuridnir rahmaanu bidurrin la tughni ‘annii syafa’atuhum syai’an.” (QS Yaa Siin ayat 23)

Subhanallah.

Berdakwah Dengan Kasih Sayang

Kita hampir selesai dengan pembicaraannya (lelaki itu).

“Innii idzal lafii dhalaalin mubiinin.” (QS Yaa Siin ayat 24)

Jika itu masalahnya, jika benar saya menyembah selain Allah, jika saya mengambil Tuhan yang lain saya akan berada pada kesesatan yang nyata. Saya akan benar-benar tersesat. Dia (lelaki itu) tidak tersesat. Dia bilang kalian tersesat, tapi dia tak ingin menyinggung mereka maka dia berucap, “Saya akan sangat tersesat jika saya lakukan itu.”

“Innii aamantu birabbikum.” (QS Yaa Siin ayat 25)

Saya telah percaya (beriman) kepada Rabbmu, Tuhanmu. Dia tidak berkata, “Saya percaya kepada Tuhanku.”

Tapi, “Saya percaya kepada Tuhanmu.”

Dia merubah ‘saya’ menjadi ‘kamu’. Jika Anda merubah ‘saya’ jadi ‘kamu’, saya beri Anda persamaan, saya + kamu = kita. Masuk akal? Saya + kamu = kita. Anda mulai dengan ‘saya’ lalu bergerak menuju ‘kamu’ karena dia ingin kita menjadi? Kita. Kita tidak terpisah teman, saya ingin kita semua bahagia, saya ingin kita semua selamat dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Ini bukan ‘saya’ melawan ‘kamu’, ini saya dan kamu.

Dakwah bukan soal pertandingan, dakwah bukan soal debat, bukan soal memperbantahkan. Tapi kita telah berubah seperti itu. Saya tidak akan mengadakan program dakwah di mana saya berdebat dengan umat kristiani. Ada yang salah denganmu, bukan begitu caranya. Itu ada tempatnya, tapi tidak disebut dakwah tapi disebut jidaal, ayat lain bisa digunakan untuk ini. Itu adalah usaha terakhir kita, kita tidak melakukan di awal, tak akan pernah.

Di sini dia berkata, “Innii aamantu birabbikum.” (QS Yaa Siin ayat 25)

Saya telah percaya dengan semua Tuhanmu. Tuhanmu semua.

“Fasma’uun.” (QS Yaa Siin ayat 25)

Dengarkan saya. Tiga rasul bicara, tapi lelaki itu berkata, “Dengarkan aku, dengarlah apa kata saya teman.”

Kadang sebagai guru saya mengalami hal ini. Saya kadang (mencoba) mengajar bahasa Arab, saat para siswa belajar, seorang asisten pengajar datang dan menepuk punggung seorang siswa, “Hai, perhatikan dengan baik.”

Saya tidak menyuruh untuk memperhatikan, asisten pengajar datang dan berkata, “Perhatikan.”

Apakah ada efeknya? Ya. Apakah efeknya berbeda? Ya. Ketika sesama siswa datang padamu dan berkata, “Hai teman ayo belajar. Guru menyuruh belajar untuk ujian.”

Tentu, kami akan belajar untuk ujian.”

Lalu Anda nonton pertandingan basket jam 8 malam dan teman Anda datang berkata, “Ayo belajar!

Apakah efeknya berbeda? Ya. Sahabat nabi ini paham itu, dia dan nabi punya tempat masing-masing. Matahari dan bulan punya tempat masing-masing. Ini bukan kompetisi.-

Dengarkanlah aku.”

Ini adalah penyampaian yang penuh cinta dan indah. Saya ingin katakan bahwa pembicaraannya memberi lebih banyak dari pada tiga nabi. Dalam ayat ini, pembicaraannya lebih berbobot daripada pembicaraan ketiga rasul. Mengapa demikian? Ini mengajari kita bahwa Allah memberi kemenangan kepada siapa yang Dia inginkan. Allah akan memberi qubuul kepada siapa saja yang diinginkan-Nya. Bukan hasil duniawi dan bukan konsekuensi duniawi yang berarti bagi Allah, tapi usahalah yang berarti bagi Allah. Hasil duniawi hanyalah saat Allah memutuskan membuka pintu, itu saja.

Walau Terbunuh Tetap Tidak Melupakan Kaumnya

Ayat berikutnya berkata,

“Qiiladkhulil jannata.” (QS Yaa Siin ayat 26)

Dia bersedih saat memasuki syurga. Tunggu, dia sedang bicara pada kaumnya, sekarang dia pergi ke syurga. Apa yang telah terjadi? Dia terbunuh. Dia memberi perhatian yang penuh cinta. Datang dari pelosok kota untuk mengumpulkan kaumnya, mencoba meyakinkan mereka. Mereka tak dapat menyentuh para rasul karena para rasul dilindungi Allah azza wa jalla. Tapi orang itu terbunuh. Kisah ini juga memberi pelajaran untuk mereka yang percaya (beriman) bukan? Sekarang beberapa orang yang mengikuti nabi shallallahu alaihi wasallam disiapkan secara mental bahwa mereka bisa saja terbunuh. Yaasir, Sumayyah, Bilal radhiyallahu ‘anhu hampir terbunuh. Anda bisa terbunuh karena bicara tentang Allah. Jadi dia masuk ke syurga tak hanya karena dipindahkan tapi karena terbunuh.

Ngomong-ngomong bagaimana mereka memutuskan membunuh para nabi? Apa mereka berencana membunuh para nabi? Rajam dan siksa sampai mati, Anda ingat? Jadi pasti kematiannya penuh penderitaan. Dan itu adalah syahiid karena syahiid langsung masuk… syurga. Jadi dia langsung masuk syurga. Dan ini harapan kita,

Ya Allah balaslah mereka karena mereka membunuhku, para kuffar itu.”

Harus ada yang membalas dendam untuk mereka yang percaya.

Ya Rabb, Qaala yaa qawm,

“Qaala yaa layta.” (QS Yaa Siin ayat 26)

Kata pertama, “Oh seandainya.”

“Qawmii ya’lamuuna.” (QS Yaa Siin ayat 26)

Seandainya kaumku tahu. Jika ada jalan bagi kaumku untuk mengetahui. Dia masih mencintai mereka. Bayangkan masuk syurga, apa yang Anda lihat?

“Dzawaataa afnaanin.” (QS Ar Rahman ayat 48)

“Fabi ‘ayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzzibaani.” (QS Ar Rahman)

Kamu akan melihat pepohonan syurga yang akan mempesonamu. Anda akan melihat air terjun dan akan terhipnotis. Anda akan melihat buah-buahan dan menjadi keranjingan setelah gigitan pertama. Anda akan melihat pasangan Anda yang cantik dan menjadi sangat-sangat mencintainya. Dan dia melihat semuanya, dan dia tidak berseru, “Wooow!

Dia hanya berkata, “Wahai kaumku, andai saja mereka tahu.”

Subhanallah. Dia berhasil masuk syurga tanpa melupakan kaumnya.

Tahukah Anda di hari pembalasan orang-orang akan melupakan semuanya? Seorang Ibu akan melupakan bayinya.

“Yawma tarawnahaa tadzhalu kullu murdi’atin ‘ammaa ardha’at.” (QS Al Hajj ayat 2)

Hari di mana ibu menyusui lupa apa yang disusuinya.

“Yauma yafirrul-mar’u min akhiihi.” (QS ‘Abasa ayat 34)

“Wa ummihii wa abiihi.” (QS ‘Abasa ayat 35)

“Wa shaahibatihii wa baniihii.” (QS ‘Abasa ayat 36)

Hari di mana seorang lelaki lari dari saudara lelakinya. Dalam surat Al Ma’arij,

“Wa fashiilatihil latii tu’wiihi.” (QS Al Ma’arij ayat 13)

Ibu, isteri, anak, orang tua, semua keluarga besarnya. Dia akan lari dari mereka semua, dia tak ingin melakukan apapun untuk siapapun.

“Wa taqaththa’at bihimul-asbaabu.” (QS Al Baqarah ayat 166)

Kata Qur’an, semua hubungan akan terputus, tapi tidak bagi yang percaya (beriman).

Makna Ikhlas

Dia (lelaki itu) pergi dan masuk syurga dan dia akan tetap mencintai siapa? Kaumnya yang mendustakan dan musuh para Nabi. Karena mereka masih hidup dan masih punya harapan. Anda tidak boleh menyerah bagi mereka yang masih hidup. Allah berkata meski dia masih bisa melihat mereka – Allah beri dia pemandangan kamera seperti GoPro hingga dia bisa melihat apa yang terjadi di dunia.- Dia menyaksikan dari syurga dan berkata, “Seandainya mereka tahu.”

Dia tidak berkata, “Seandainya mereka telah tahu.”

‘alimuu (bentuk lampau), dia berkata, “Yaa layta qawmii ya’lamuuna.” (QS Yaa Siin ayat 26)

Seandainya mereka tahu. Jadi dia masih melihat apa yang terjadi, Allah memberinya pemandangan, subhanallah.

Dan Anda menyadari apa artinya ketulusan. Muslim mengembangkan konsep palsu tentang kesungguhan. Saya tak tahan menghadapinya. Apa yang telah kita lakukan terhadap kata ketulusan? Kamu harus ikhlas dalam setiap perbuatan. Periksa niat kamu setiap saat, periksa sekarang juga. Karena jika kamu tak punya ketulusan tak satupun amalmu yang berarti. Anda dengar seperti itu bukan? Dan kamu harus punya ketulusan hanya dan hanya karena? Allah.

Saya tidak setuju dengan itu. Saya tahu, saya tahu, jangan bunuh saya dulu. Nabi shallallahu alaihi wasallam mengatakan pada kita tentang seorang lelaki yang berbuat banyak dosa, banyak sekali, dia tidak sholat. Suatu hari dia berjalan dan melihat seekor anjing kehausan, menjulurkan lidahnya. Dia memutuskan sebelum dia minum, dia akan memberi minum anjing itu. Tak lama kemudian dia meninggal dan Allah memasukkannya ke syurga. Ya.

Ayo kembali ke kisah itu. Lelaki itu percaya (beriman)? Kita tak tahu, tak ada keterangan. Apakah dia sholat? Tidak. Saat memberi minum anjing apa dia berkata, “Tunggu, biar saya ikhlaskan dulu niat saya. Aku hanya melakukan ini untuk-Mu ya Allah. Juluran lidah anjing tak berarti bagiku, aku mencari kesenangan-Mu lalu saya beri makan anjing ini.“

Apa dia melakukan itu? Dia hanya kasihan terhadap anjing itu dan diberinya minum, bukan? Jadi dia tulus dalam kepeduliannya kepada anjing itu. Dia punya ikhlas, bukan?

Cinta Terhadap Sesama Adalah Salah Satu Sifat Penghuni Syurga

Lelaki ini mencintai kaumnya, tapi apakah dia berkata, “Jika bukan karena Allah saya akan membenci mereka.”

Apa dia mencintainya karena mereka kaumnya? Itulah ketulusan bagi kaumnya. Anda harus punya ketulusan pada Allah dalam menyembah-Nya. Anda harus punya ketulusan pada orang tua tak hanya karena Allah, tapi juga karena mereka orang tua Anda. Anda harus punya ketulusan bagi sesama muslim kerena mereka sesama muslim. Anda harus punya ketulusan pada tetangga, pada pekerjaan, pada sekolah, pada rekan usaha. Semuanya adalah ketulusan. Anda tidak boleh membuat-buatnya.

Tidak, saya tak bisa jadi temanmu karena bukan karena Allah. Kita hanya bermain basket bersama, dan itu hanya… itu tidak akan membantu saya di akhirat, saya tak tahu…

Siapa yang melakukan ini pada Anda? Anda memeriksa niat Anda saat akan membuat tembakan 3 angka, karena tak ada ikhlas di dalamnya… Apa? Hehehe. Seperti itulah. Kita harus punya niat yang bersih, tentu. Kita harus meninjau niat kita, tentu. Tapi ketulusan itu lebih dari ketulusan kepada Allah, termasuk ketulusan ke semua ciptaan-Nya juga. Anda harus punya niat tulus kepada orang, bukan kepalsuan.

Jadi cintanya pada kaumnya, bahkan di dalam syurga. Allah menggambarkan sebenarnya cinta kepada kaumnya adalah salah satu sifat penghuni syurga. Dengarkan saya kembali… Kecintaan kepada kaum Anda, adalah sifat penghuni syurga. Jadi jika Anda bertemu muslim yang selalu marah kepada orang-orang, selalu marah pada muslim lain, marah kepada keluarganya sendiri, sangat marah kepada non-muslim. Mereka marah, marah, dan marah, itu bukan sifat para penghuni syurga.

Kata-Kata Adalah Harta Berharga Bagi Allah

“Yaa layta qawmii ya’lamuuna.” (QS Yaa Siin ayat 26)

Sekarang apa yang dia katakan, dia memberi pandangan kepada kaumnya. Kita bahkan tak tahu namanya, kata-katanya dibaca berulang kali hingga hari kiamat. Pikirkan pembicaraan yang kita lakukan, kita bicara tentang iPhone, mobil, olahraga, babak penyisihan. Ke mana pembicaraan ini akan dibawa? Apakah pembicaraan ini akan abadi? Tidak. Apakah akan memberi kebaikan di dunia? Tidak. Anda tahu apa yang saya sadari saat membicarakan ini? Kata-kata adalah harta berharga bagi Allah. Dia bukan seorang nabi, tapi kata-katanya diabadikan dalam Qur’an.

Apakah Allah juga mencatat hal lainnya?

“Wa kulla syay-in ahshaynaahu fii imaamin mubiinin.” (QS Yaa Siin ayat 12)

Saya mencatat semua yang dikatakan Allah pada kita. Dia mencatat semuanya. Jadi apa yang Anda inginkan dicatat? Sesuatu yang baik, nasehat yang tulus. Apa Anda harus punya ilmu yang sangat luas sebelum mengutarakan sesuatu yang baik? Apa lelaki ini perlu banyak gelar sebelum dia mengungkapkan sesuatu yang baik? Tidak serumit itu, jadilah orang yang baik.

Ampunan Dan Kemuliaan Di Syurga

Begitu indahnya Qur’an terjalin. Saat dia di syurga dan berkata, “Seandainya kaumku tahu.”

Dia berkata pada ayat berikutnya,

“Bimaa ghafara lii rabbii waja’alanii minal mukramiina.” (QS Yaa Siin ayat 27)

Karena ampunan yang diberi Tuhanku kepadaku dan menggolongkanku kepada mereka yang dimuliakan. Dia bicara dua hal di syurga, ampunan dan kemuliaan, bukan? Di awal surat,

“Fabasysyirhu bimaghfiratin wa-ajrin kariimin.” (QS Yaa Siin ayat 11)

Pada awal surat Allah berkata beri selamat seorang yang percaya (beriman) di suatu tempat itu hingga dia akan menerima ampunan dan kompensasi yang mulia.

Anda ingat bagian itu? Ampunan dan kompensasi mulia. Sekarang di tengah cerita ini, lelaki ini masuk ke syurga dan berkata, “Ya Allah Engkau memberi aku ampunan dan menjadikan aku bagian dari mereka yang dimuliakan.”

Sebuah tinjauan ulang total, ini disebut ihkaam dari Qur’an,

“Wal-qur’aanil hakiimi.” (QS Yaa Siin ayat 2)

Namun hal terakhir tentang ayat ini yang sangat saya sukai bahwa saat bicara dengan kaumnya dia berkata,

“Innii aamantu birabbikum.” (QS Yaa Siin ayat 25)

Saya percaya (beriman) kepada Tuhanmu. Saya punya kepercayaan kepada Tuhanmu. Tapi saat masuk ke syurga dia berkata,

“Bimaa ghafara lii rabbii.” (QS Yaa Siin ayat 27)

Tuhanku. Lelaki yang sama berkata sekarang dia bilang, “Tuhanku.”

Saat dia melihat syurga, saat dia di dalam syurga, saat dia merasakan ampunan, saat dia merasakan kemuliaan yang diberikan Allah padanya…

Ngomong-ngomong apa artinya dimuliakan oleh seseorang? Bagaimana Anda bisa dimuliakan oleh seseorang, bisa Anda ceritakan pada saya? Ya, mereka mengakui Anda, mereka menyapa Anda. Sapaan dari seseorang adalah kemuliaan. Seseorang datang untuk menyalami Anda, mereka memuliakan Anda, bukan? Akan saya bocorkan… Allah akan berkata,

“Salaamun qawlan min rabbin rahiim.” (QS Yaa Siin ayat 58)

Dalam surat yang sama Allah berkata, Dia akan memberi salam kepadamu. Di awal Dia berkata, Aku akan memberimu ganjaran yang mulia, ganjaran yang mulia, ganjaran yang mulia.

Apa itu ganjaran yang mulia? Semulia apa jadinya? Apa saya akan memperoleh medali? Apa Dia akan memberi sertifikat seperti pada wisuda? Sertifikat apa yang akan Anda peroleh? Anda akan memperoleh salam dari Allah, itu yang akan Anda dapatkan.

Saat dia (lelaki itu) memperolehnya, dia lupa bahwa itu Tuhan semua orang. Dia hanya Tuhannya. Rabb saya mengampuni saya. Rabb saya memasukkan saya ke golongan yang dimuliakan. Dia Tuhanku, dan Tuhanku saja, subhanallah. Betapa indahnya gambaran seorang yang percaya (beriman). Ini yang terjadi di syurga.

Pembalasan Bagi Yang Mendustakan Para Rasul

Tapi kisah mereka harus berlanjut di? Di dunia ini, apa yang terjadi di sini? Apa yang akan dilakukan Allah sangat hebat. Tolong dengarkan ini, karena kebingungan muslim lainnya. Alasan saya mengambil surat ini. Setiap saya memilih sebuah surat saya menyadari Allah menjawab banyak sekali masalah kita saat ini. Buku (Qur’an) yang hidup. Ini menakjubkan. Saya mendengar orang berpendapat bahwa jika seorang muslim menyerang atau meledakkan sesuatu, dan muslim meninggal di dalamnya, maka mereka masuk syurga, jadi tak apa-apa. Saya dengar pendapat ini. Jadi jika muslim atau orang tak bersalah meninggal secara tidak sengaja, Allah Maha Tahu, Dia akan membawanya ke syurga. Tak apa-apa, karena syurga lebih baik dari dunia.

Saya tak tahu apa Anda sudah pernah mendengar kegilaan ini, tapi saya seringkali mendengarnya. Biar saya beritahu sesuatu tentang itu. Apakah Allah memasukkannya (lelaki tadi) ke syurga? Ya. Tapi hanya karena Allah memasukkannya ke syurga, tak berarti Allah tidak marah kepada orang yang membunuhnya. Jadi Dia kembali ke dunia. Saat dia (lelaki itu) bersenang-senang di syurga, Allah akan membalaskan baginya.

“Wa maa andzalnaa ‘ala qawmihi.” (QS Yaa Siin ayat 28)

“Min jundin minas-samaa’i wa maa kunna munziliina.” (QS Yaa Siin ayat 28)

Kami takkan mengirimkan pasukan dari langit untuk orang-orang ini, Quraisy yang menyedihkan ini, yang mengira bahwa semua yang lain tak penting di dunia ini. Tak ada bangsa yang lebih rendah dari mereka, dalam ekonomi, politik, pengetahuan, dan sains. Mereka tak butuh persiapan khusus untuk dihancurkan. Aku tak perlu menurunkan satu tentara pun dari langit. Alasan tentara disebutkan karena jika Anda memperingatkan Quraisy, “Saya memberi kalian peringatan.”

Mereka menjawab, “Tentara yang mana?

Saat para rasul memperingatkan mereka, mereka menjawab, “Kalian dan pasukan yang mana? Dari mana ancaman ini datang? Kalian sendiri? Dan sekelompok yang percaya tapi tak tampak?

Allah berkata, “Aku tak perlu memperlihatkan pada mereka sepasukan malaikat.”

Dan mereka berkata, “Ok, jika kamu percaya, jika kamu memang punya sepasukan malaikat yang datang memberi kalian wahyu, jika kalian menguasai seluruh langit.”

“Wa laqad ra’aahu bil-ufuqil mubiini.” (QS At Takwir ayat 23)

Dia (nabi Muhammad) melihat Jibril ‘alaihissalam mengambil alih langit. Kenapa tidak menyuruh Jibril melenturkan sebagian ototnya dan merunduk ke selatan? Mengapa tak kalian lakukan itu?

Dan Allah berkata, “Aku takkan menghormatimu dengan mengabulkan permintaan itu. Aku tak perlu merepoti para malaikat dengan yang tak penting seperti kamu. Kamu tak seberharga itu.”

Bangsa-bangsa sebelumnya, apakah Allah mengirimkan malaikat untuk menghancurkannya? Ya. Allah berkata Quraisy tak seberharga itu. Quraisy bahkan tak berharga untuk waktu para malaikat. Bahwa Dia akan menghitung waktu mereka untuk menghancurkannya? Tidak. Jangan repot-repot, Aku akan melakukannya sendiri.

“In kaanat illaa shaihatan waahidatan.” (QS Yaa Siin ayat 29)

Hanya dengan satu ledakan keras, satu pekikan. Sebuah ledakan menghasilkan bunyi yang sangat keras. Hanya sebuah suara letusan.

“Fa’idza hum khaamiduuna.” (QS Yaa Siin ayat 29)

Dan cahaya mereka padam. Mereka sama sekali padam. Shaihah artinya suara yang bengis. Ini perbedaan bahasa yang indah dalam ayat ini. Karena jika Anda menolak mendengar suara Qur’an yang indah, dan jika bangsa ini menolak mendengar suara indah para rasulnya, maka satu-satunya suara yang sebaiknya mereka dengar adalah ledakan.

Lalu Allah berkata, “Fa’idza hum khaamiduuna.” (QS Yaa Siin ayat 29)

Saya suka kata-kata ini, kata-kata yang luar biasa. Alkhubuut intifaaunnaar bi khilafil humuud.

Ada “khumuud” dan “humuud” dalam bahasa Arab. Jika Anda menyalakan api unggun, dan Anda padamkan dengan menginjaknya, itu disebut “khumuud”. Tapi jika dipadamkan, lalu ada sedikit bara kuning kemerahan yang tersisa itu disebut “humuud”. Tapi jika dipadamkan sekaligus semuanya mati. Padam sempurna, tak tersisa satu titik merah pun. Mati sempurna, ini disebut api yang “khaamidah”.

“Fa’idza hum khaamiduuna.” (QS Yaa Siin ayat 29)

Mereka akan tersapu bersih. Takkan tersisa satu pun terbaring di lantai merangkak menuju kematiannya. Mereka musnah dalam satu ledakan. Seperti api yang dipadamkan.

Ngomong-ngomong dengan menggambarkan kematian mereka seperti api yang dipadamkan, mereka dibandingkan dengan api. Jika dibandingkan dengan api sama dengan mengatakan mereka berbahaya. Jika dibiarkan menyala api akan menyebar, dan Allah sebagai rahmah, yang pengasih pada semua bangsa lain, memutuskan bahwa kanker dan api ini harus dipadamkan,

“Fa’idza hum khaamiduuna.” (QS Yaa Siin ayat 29)

Ini adalah hasil akhir dari pembunuhan seorang yang percaya (beriman).

Menjadi Hamba Allah Adalah Fitrah Manusia

Sekarang, kesimpulan bagian kedua.

Wa maa… (Ustadz Nouman salah sebut)

“Yaa hasratan ‘alal-‘ibaadi maa ya’tiihim min rasuul illa kaanuu bihii yastahzi’uuna.” (QS Yaa Siin ayat 30)

Sungguh sebuah tragedi bagi orang-orang. Allah sendiri mengganggapnya sebuah tragedi. Dia tidak melenyapkan bangsa itu dan berkata, lihat apa yang bisa Ku-lakukan? Dia bilang tidak, itu adalah sebuah tragedi. Allah sendiri sedih atas mereka. Kata hasrah dalam bahasa Arab artinya, hiya syiddatunnadaam wata’allum wattahashur walhuzn ‘ala maa madhaa.

Kesedihan yang dalam atas yang terjadi. Allah sendiri menyebutnya tragedi. Kenapa mereka tidak mendengar saja?

‘alal-‘ibaadi (QS Yaa Siin ayat 30)

Sungguh sebuah tragedi untuk seorang hamba. Dia menyebut mereka hamba. Mengapa Dia masih menyebut mereka hamba? Kenapa Dia tak mengatakan saja, “Yaa hasratan ‘alal kuffaar?”

Sungguh sebuah tragedi untuk kuffar, untuk pendusta. Dia menyebut mereka hamba, mengapa? Karena jauh di dalam hati, setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi hamba Allah. Ini sebuah tragedi, kamu sudah memilikinya di dalam dirimu bukan sesuatu yang harus diambil dari luar. Aku sudah meletakkannya dalam fitrahmu kenapa tidak kamu aktifkan? Kamu bisa menekan tombol ‘on’ sendiri.

Mengolok-olok Rasul Adalah Awal Kehancuran Suatu Bangsa

“Maa ya’tiihim min rasuul.” (QS Yaa Siin ayat 30)

Tak seorang rasul pun datang pada mereka, melainkan mereka mengolok-olok mereka semua. Setiap rasul datang mereka mengolok-oloknya. Dalam ayat ini Allah tidak mengatakan mereka membunuh atau mengancam para rasul. Dia berkata mereka mengolok-oloknya. Sebelumnya Anda belajar bahwa mereka akan mengancamnya, akan mengganggapnya kutukan, ingat? Di sini ketika sampai pada tragedi, Dia berkata semua berawal dari mereka mengolok-oloknya. Begitu sebuah bangsa mulai mengolok-olok para rasul, jam sudah mulai berdetik menuju saat kehancuran mereka.

Tahap pertama kehancuran mereka, Anda lihat kartun di mana ada dinamit dengan sumbu yang mendesis. Anda paham? Begitu mereka mengolok para rasul, ssssst…. dinamitnya mulai menyala.- Itulah yang dikatakan, jangan mengolok-olok para rasul karena itu berarti Anda dalam perjalanan menuju akhir. Sekarang, berapa banyak rasul yang datang? Dan mereka tak percaya (beriman), namun hanya mengolok-oloknya.

Anda belajar di awal surat,

“Wa sawaa’un ‘alaihim a’andzartahum amlam tundzirhum laa yu’minuuna.” (QS Yaa Siin ayat 10)

Peneguhan kembali, sungguh sebuah tragedi. Begitu banyak rasul telah datang dan orang-orang tak pernah mau mendengar.

“Alam yaraw kam ahlaknaa qablahum minal-quruuni.” (QS Yaa Siin ayat 31)

Tidakkah mereka perhatikan berapa banyak kota telah kami hancurkan sebelumnya? Berapa banyak bangsa sudah dihancurkan? Tidakkah mereka memperhatikan? Kepada siapa Dia bicara? Dia bicara kepada orang-orang yang bersama nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata mengapa mereka tidak melihat sejarah? Mengapa tidak memperhatikan apa yang di belakang mereka? Tidakkah mereka melihat? Ya, mereka tak melihat karena ada dinding di belakangnya.

Dia berkata,

“Annahum ilayhim laa yarji’uuna.” (QS Yaa Siin ayat 31)

Mereka takkan kembali kepadanya. Beberapa mufassiruun melacak “Annahum ilayhim laa yarji’uuna” dengan analisis yang indah. Mereka berkata bahwa, mereka takkan kembali kepadanya, sebenarnya berarti bahwa bangsa-bangsa yang sudah dihancurkan itu karena mereka musnah, tak seorangpun selamat, tak satupun keturunan atau pendahulu mereka selamat. Jadi tak seorang pun di antara kamu bisa berkata keturunan Fir’aun atau bangsa Luth atau Shalih, atau Syu’aib karena mereka semua musnah. Anda tidak bisa dirunut kepada mereka. Anda tahu bagaimana orang berkata saya keturunan nabi shallallahu alaihi wasallam.

Artinya tak hanya orang-orang itu tak bisa dirunut kepada mereka, tapi mereka bukan keturunannya, karena mereka sudah musnah,

“Wa…”

“Annahum ilayhim laa yarji’uuna.” (QS Yaa Siin ayat 31)

Jika Anda berpikir akan punya masa depan, kenapa Anda begitu yakin akan punya masa depan? Dan mungkin karena mereka sama sekali tak bernama, makanya Allah tidak memberi nama kotanya. Karena jika Dia menyebutkannya, tidak akan ada yang tahu, karena kota itu tidak pernah ada. Pada titik tertentu Allah menghapus mereka dan setiap pengikut mereka dari sejarah. Setiap orang pada etnis tersebut, satu grup etnis menjadi punah. Jadi tidak ada gunanya menyebutkan mereka.

Sekarang, Allah mengatakan mereka akan punah, yang artinya mereka dilupakan dalam sejarah. Setelah itu Dia berbicara tentang Quraisy, “Kalian adalah bangsa yang tak berarti.”

Tapi di ayat selanjutnya, Dia menghubungkan itu semua. Di akhir dari seluruh bagian ini. Dia mengatakan,

“Wa in kullun lammaa jamii’un ladaynaa muhdharuun(a).” (QS Yaa Siin ayat 32)

Mereka tidak akan pernah kembali, setelah kamu mati, kamu tidak akan kembali pada anak-anakmu.

Tapi Aku beri tahu kamu, tidak ada satu orang pun dari kalian. “Wa in kullun” setiap orang, setiap perkumpulan kalian, dan orang yang tidak beriman seperti kalian dari setiap generasi lainnya, dari setiap bangsa lainnya. Sesungguhnya mereka semua akan dikumpulkan, tapi mereka semua akan dikumpulkan dihadapan-Ku untuk mempersembahkan raja-raja mereka.

“Wa in kullun lammaa jamii’un ladaynaa muhdharuun(a).” (QS Yaa Siin ayat 32)

Ini sebenarnya kontras dengan ayat sebelumnya. Bagaimana? Mari kita pahami, setelah itu kita selesai.

Di ayat sebelumnya Allah mengatakan, “Mereka tidak akan kembali.”

Sekali mereka pergi, mereka pergi selamanya. Di ayat ini Dia mengatakan, “Mereka tidak akan kembali kepada kalian, tapi mereka akan kembali pada-Ku.”

Dan ketika mereka kembali, mereka dan saudara kalian lainnya, dari semua bangsa yang berbeda. Karena kalian bersaudara dengan bangsa fir’aun yang tidak beriman, kalian juga bersaudara dengan bangsa Luth.

Kalian semua orang kafir, dari semua etnis dan bangsa-bangsa yang berbeda ini, Aku akan mengumpulkan kalian semua, dan kalian akan dibawa kehadapan-Ku.

“Wa in kullun lammaa jamii’un ladaynaa muhdharuun(a).” (QS Yaa Siin ayat 32)

Ini yang pernah dicamkan pada mereka, dan sekarang dimunculkan.

Subtitle: Nak Indonesia
Transcript: SM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s