[Transcrip Indonesia] Kisah Seorang Lelaki (Surah Yasin) – NAK – Part 6

Di kesempatan kali ini ustadz Nouman Ali Khan menjelaskan ayat ke-20 dari surah Yaa Siin. Setelah Allah mengutus tiga orang nabi ke dalam satu kota, Allah utus kembali seseorang lelaki yang membenarkan apa yang diajarkan ketiga nabi itu.

Kisah Seorang Lelaki

Judul Asli: The Story of a Man (Surah Yasin) – Nouman Ali Khan – Part 6
Video Asli: https://www.youtube.com/watch?v=KJW55LhDWJQ

Bismillah wasalatu wassalamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’iin. Assalamu’alaikum semua. Jadi kita berada pada ayat 20. Sejauh ini kita berada pada bagian dua, di mana kita mengambil pelajaran dari sejarah. Tiga orang rasul telah datang pada bangsa yang sama. Lalu terjadi perdebatan, jelas orang-orang ini keras kepala, mereka takkan bergerak dari posisinya. Mereka akan membuat alasan terkonyol yang tak ada benarnya bagi mereka untuk bisa mempertahankan posisi mereka, seperti mencap para rasul terkutuk. Ini sebenarnya kasus nyata dari rantai di leher, dinding di depan dan di belakang, dan penutup di atas. Allah mengatakan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Kamu bukan yang pertama menangani kelompok yang sulit, kelompok seperti ini sudah tercatat dalam sejarah.”

Jumlah Pengikut Dakwah Dan Pertolongan Allah

Sekarang Allah berkata,

Wa jaa-a min aqshaal madiinati rajulun yas’aa.” (QS Yaa Siin ayat 20)

Dari pinggiran terjauh kota seorang lelaki datang berlari-lari.

Qaala yaa qawmit tabi’ul mursaliina.” (QS Yaa Siin ayat 20)

Katanya, “Kaumku, ikutilah mereka yang dikirimkan pada kita.”

Berapa rasul yang ada di sana? Tiga, sekarang ada lagi seorang lelaki yang datang dari ujung kota. Perhatikan beberapa hal dalam pernyataan ini. Pertama, yang datang hanya satu orang lelaki, hanya seorang lelaki. Tiga orang rasul berdakwah, berapa banyak yang tertarik? Satu lelaki.

Apakah hal ini sudah diajarkan? Kamu akan berdakwah pada kelompok yang besar, tapi mungkin cuma satu yang menerima.

Innamaa tundziru manit taba’adz dzikra wa khasyiyar rahmaana bilghaybi fabasysyirhu bimaghfiratin wa-ajrin kariimin.” (QS Yaa Siin ayat 11)

Kamu hanya bisa memperingatkan, dan dia (lelaki itu) hanyalah seorang yang mengikuti peringatan dan takut kepada Ar Rahmaan, takut kepada yang Maha Pengasih, Penyayang dan tak terlihat. Ucapkan selamat pada satu orang itu, yang diberi ampunan dan pahala yang mulia.

Nabi shallallahu alaihi wasallam diberitahu bahwa sebagian besar mereka takkan mengikuti, ingat kan? Sekarang dalam bagian ini apa yang kita pelajari? Tiga rasul datang mendakwahi seluruh penduduk. Berapa pengikut yang mereka peroleh? Satu… Itu hal pertama yang diketahui di sini, bahwa ini menguatkan maksud. Bahwa kita seharusnya tidak memikirkan jumlah. Pertolongan Allah tak datang melalui jumlah. Pertolongan Allah bahkan melalui satu orang saja. Itu tinjauan petama

Orang Kota vs Orang Pinggiran

Tinjauan kedua, “Min aqshaal madiinati.” (QS Yaa Siin ayat 20)

Dia datang dari ujung terjauh kota. Tunggu… istilah Arab untuk kota adalah “Al Qaryah”.

Wadhrib lahum matsalan ash-haabal qaryati.” (QS Yaa Siin ayat 13)

Lam yaqul, “Wadhrib lahum ashabal madiinah.”

Dia tidak bilang madiinah, tapi qaryah. Ini adalah penduduk kota. Sekarang ada kota lain. Kata lain, jika katanya sama mungkin jadinya kota yang sama. Dia menggunakan kata madiinah, dan kata ujung lain madiinah. Dengan kata lain ketiga rasul ini, mereka menyampaikan pesan. Menyampaikan kepada penduduk, siang malam di kota yang sama berulang kali. Dan seseorang lainnya mendengar pesan itu, hingga pesan itu kemungkinan sampai ke kota lain. Di kota itu di pinggiran terjauh dari kota itu seseorang mendengarnya dan memutuskan bahwa ini benar. Dari sana dia bepergian sedemikian jauh. Dia sangat tergugah oleh pesan ini.

Salah satu cendekiawan yang saya kagumi pada abad yang lalu, yang meninggal tahun 60an, Ibn ‘Asyur rahimahullah mengomentari ayat ini. Katanya ini sudah lazim sepanjang sejarah manusia, bahwa mereka yang tinggal di kota yang sibuk menjauh dari agama, sedangkan mereka yang tinggal di pinggiran memiliki lebih banyak waktu untuk bercermin, berpikir, dan bersentuhan dengan alam, sehingga mereka menjadi lebih bijak dan lebih spritual. Mereka yang berada di tengah kota sangat sibuk, hiruk-pikuk sepanjang waktu: bisnis, sewa, hidup yang semakin mahal, dsb. Mereka cenderung memiliki lebih sedikit kehidupan rohani.

Jadi bahkan dalam ayat ini, Allah soroti lelaki ini, yang bahkan belum pernah bertemu para rasul. Dia berasal dari ujung kota yang lain dan dia siap menerima. Sedang mereka yang didakwahi tidak siap menerima. Ini penting untuk dicatat bahwa pendengar tersulit adalah? Di kota. Ini pengalaman pribadi. Anda mencoba bicara tentang Islam di tengah kota, di kota New York. Mencoba bicara tentang Islam di Silicon Valley (pusat industri komputer di Amerika Serikat), cobalah bicarakan itu.

Lalu coba bicara tentang Islam di Waco, Texas, di gereja. Anda akan bertemu pendengar yang terpikat. Mereka bisa saja membunuh Anda setelah itu, tapi mereka akan mendengarkan. Mereka akan mendengarkan. Bahkan ada beberapa gereja di Selatan yang mengundang pembicara muslim secara berkala untuk bicara tentang Yesus, tentang Tuhan dalam perspektif Islam. Tidak semuanya membenci. Anda takkan menemukan undangan seperti itu di kota-kota besar. Ini bahkan realita yang ada di Amerika Serikat.

Ngomong-ngomong beberapa jenis kejahatan sosial terburuk yang mewabah di masyarakat kita, di mana Anda menemukannya? Di kota. Luar biasanya Allah, bukannya mengirim para rasul ke tempat yang mudah dipengaruhi, orang yang sudah spiritual, bijak, bersentuhan dengan alam, dan sebagainya, kirim saja ke sana. Tidak, Allah selalu mengirim ke pusat kota. Allah mengirim Musa ‘alaihissalam ke pusat kota terbesar pada masanya. Di semua wilayah Arab, pusat kota adalah Makkah. Kejahatan sosial terburuk ada di Makkah. Di Madinah orang-orangnya lebih baik, hingga sekarang. Anda mencari orang yang ramah? Jangan pergi ke Makkah. Bahkan supir taksinya kasar.

Orang Yang Termahsyur Di Langit Tidak Dikenal Di Bumi

Kembali, lelaki ini berlari dari ujung kota sepertinya sangat tidak mungkin. Pelajarannya, jangan remehkan jika Anda menyampaikan pesan yang baik. Dulu tidak ada Facebook, tak ada hp, website, pemancar berita, radio, atau TV. Mereka hanya bicara dengan orang-orangnya, berita apa yang muncul dan seterusnya. Dan seorang lelaki dari pinggiran memahami bahwa ini pesan yang benar. Masuknya dia ke Islam begitu pentingnya, sehingga akan lebih banyak ayat tentang dia di dalam Qur’an dibanding ketiga rasul jika digabungkan. Allah akan bicara lebih banyak tentang dia dibanding ketiga rasul. Ini bukannya tidak penting. Jika iya, takkan menjadi berita besar dalam Qur’an, di mana semua ayat ditempatkan sempurna. Itu cukup hebat, sangat hebat malah.

Bahkan seseorang yang berubah, Anda takkan tahu siapa dia. Itulah pesan yang diberikan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam di awal surat ini dan sekarang dikuatkan. Lalu ada pernyataan yang saya temukan,

Kam min maghmurin fil ardl, masyhurin fissamaa’.”

Berapa banyak orang yang tidak terkenal di dunia, betapa terkenalnya mereka di langit. Orang-orang bumi tak tahu siapa mereka. Dan mereka dikenal di langit, subhanallah. Orang ini, yang termahsyur, namanya ‘seorang lelaki’. Dari mana asalnya? Dia sangat hebat, ada di dalam surat Ya Siin… Oh, dari pinggiran kota… Kota mana? Kota ini. Apa kita tahu namanya? Tidak. Kita tahu alamatnya? Berapa umurnya saat itu? Namun, tanpa mengetahui semua itu, kenangan tentangnya dibukukan di dalam Qur‘an hingga hari pembalasan. Lelaki yang tak kita ketahui namanya dirayakan.

Ngomong-ngomong apa surat pengenalnya? Lulusan mana dia? Berapa banyak penghasilannya? Dari mana dia memperoleh ijazah? Di ‘ulama mana dia belajar? Tak satupun! Seorang yang kebetulan mendengar bahwa ada satu Tuhan dan Dia punya utusan. Dan semua masuk akal buatnya. Sekarang dia seorang pahlawan dalam Islam. Anda paham apa yang saya maksud? Kita terlalu terobsesi dengan tanda pengenal. Dan tak begitu terobsesi dengan kesungguhan. Padahal Qur‘an mengajarkan sebaliknya. Qur‘an berkata tak seorangpun tidak penting.

Apa yang dikatakan Allah tentang orang ini? Dia bilang, “Seorang lelaki dari pinggiran terjauh kota.”

Yas’aa.” (QS Yaa Siin ayat 20)

Berlari… Dia datang berlari. Kapan seseorang berlari? Jika ada keadaan mendesak. Pertanyaannya: apa kepentingan mendadaknya? Kepentingan mendadaknya adalah… Dia datang berlari, apa dia dekat atau jauh? Jauh. Jadi dia berlari sejauh itu hanya untuk mengatakan,

Yaa qawmit tabi’ul mursaliina.” (QS Yaa Siin ayat 20)

Kaumku, ikuti mereka yang dikirimkan! Ikuti saja mereka yang dikirimkan. Dia melihat kelalaian dan kejahatan merajalela di kaumnya adalah keadaan mendesak buatnya. Begitu mendesaknya sehingga dia berlari.

Apakah kejahatan itu telah ada dalam waktu yang lama? Bukankah mereka sudah melakukannya sangat lama? Ya. Tapi saat dia masuk Islam, dia melihatnya sebagai keadaan mendesak, maka dia berlari. Dia tidak terbiasa dengan kejahatan. Dia tak terbiasa dengan bantahan dan berkata, “Begitulah mereka.”

Mereka punya tiga rasul, mereka tak butuh saya. Apa yang akan saya katakana yang belum dikatakan para rasul itu? Siapa saya dibandingkan para rasul? Dia tetap datang.

Saya ingin mengatakan sesuatu dulu, saya akan kembali lagi nanti. Membandingkan seorang yang percaya dengan rasul seperti membandingkan matahari dengan bulan. Mana yang jelas lebih terang? Matahari. Matahari memberi bulan cahayanya. Keyakinan seseorang yang percaya akan bersinar karena terinspirasi dari? Seorang rasul. Dan matahari tidak punya wajah, matahari itu tetap. Tapi bulan punya apa? Wajah. Para rasul itu tetap, tapi mereka yang percaya punya wajah (sisi). Sebenarnya tak bisa dibandingkan. Tapi matahari punya tempat, bulan juga punya tempat. Meski para rasul melakukan tugasnya bukan berarti Anda bebas dari tugas Anda.

Anggap Yang Didakwahi Sebagai Kaum Sendiri

Dia berlari dari pinggiran kota karena dia merasa itu kewajibannya. Ini kaumnya, dia peduli pada mereka. Hingga hal pertama yang diucapkannya, “Kaumku.”

Dia bilang kaumku. Dia tidak berkata,

Yaa ayyuhal kuffar ittabi’ul mursaliina.”

Kamu para kuffar, ikuti para rasul! Kamu para kafir, non-muslim. Dia tidak bilang begitu, dia berkata, “Kaumku.”

Qur‘an mengajarkan kepada Anda ketika orang-orang mengejek para rasul -apa mereka mengejek para rasul? Iya-. Mereka menganggapnya kutukan, mereka mengancamnya. Pada titik ini kita harus mengganggap mereka kuffar. Setiap yang percaya harus memiliki cinta yang besar pada para rasul. Mereka harus berkata, “Kalian kuffar mengejek para rasul?

Kalian harus dibunuh! Tapi lelaki ini datang, dan kata pertama yang diucapkannya apa? Kaumku! Karena dia paham itu sunnah para rasul ‘alaihissalam. Penduduk menentang, tapi cinta mereka terhadap kaumnya tak memudar.

Berapa banyak yang berdakwah menganggap orang yang didakwahi sebagai kaumnya? Mereka tidak menganggapnya demikian. Sunnah Qur‘an ini sudah hilang. Kisah ini disampaikan pada tiga kelompok, Nabi, orang yang percaya (beriman), dan kuffar.

Dan mereka yang percaya saat ini tak mau mendengar. Mereka tak mau mendengarnya. Kita ingin hidup dengan semua orang, “Sawaaun ‘alaihim” (QS Al Baqarah ayat 6, Yaa Siin ayat 10 dan Al Munaafiqun ayat 6)

Biarkan mereka. Betapa jauhnya kita dari Qur’an bahkan dalam hal anggapan terhadap non-muslim. Pekerti kita terhadap mereka. Anda (seharusnya) berlari ke arah mereka karena peduli.

Hal lain yang harus Anda perhatikan. Dia datang berlari. Bawalah seekor kuda, setidaknya pinjam… Kelihatannya saat dia berpindah dari ujung kota sana untuk bicara dengan kaumnya di sini, dia tak punya kendaraan, bukan? Jadi da’i yang luar biasa ini yang telah berbuat sangat banyak sehingga Allah memutuskan untuk mengabadikan ucapannya di dalam Quran punya berapa banyak kendaran? Nol. Yang dimilikinya cuma kedua kakinya, dia berlari. Berhentilah mengeluhkan fasilitas, bukan itu yang menentukan kemenangan. Fasilitas bukanlah cara untuk merubah dunia, Allah tak peduli dengan itu, Allah ingin melihat usaha Anda, berapa banyak sa’i (berlari) Anda lakukan?

Wa-al laysa lil-insaani illaa maa sa’aa.” (QS An Najm ayat 39)

Itu khutbah saya kemarin. Manusia tak punya apapun kecuali usahanya. Itu yang Anda punya, jadi,

Rajulun yas’aa.” (QS Yaa Siin ayat 20)

Qaala yaa qawmit tabi’ul mursaliina.” (QS Yaa Siin ayat 20)

Saya suka bagian ini, ikuti para rasul. Yang harus diucapkannya hanya ikuti mereka yang dikirimkan padamu. Itu pelajaran yang harus kita ulangi lagi oleh umat ini. Ikuti saja para rasul, sederhana, agama ini sangat indah. Allah memberi kita warisan para rasul ‘alaihissalam di dalam Qur’an. Warisan itu seharusnya menginspirasi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri. Nabi terinspirasi ketika mendengar tentang Musa. Beliau terinspirasi saat mendengar tentang Yusuf. Jadi kita seharusnya juga terinspirasi oleh mereka. Terinspirasi oleh para nabi ini adalah sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Menempatkan Qur’an Di Atas Semua Buku Islami Lain

Akan saya kisahkan sebuah cerita, saya tak bermaksud menghina siapapun. Saya harus bicara dari hati nurani ok… Pengalaman saya mengatakan saya harus berbagi, karena akan membantu Anda. Saya berbicara di Kuwait. Selepas bicara, keamanan tidak mengijinkan bicara kepada pengunjung. Jadi saya menyelinap ke sisi lain masjid dan bicara pada mereka di jalan. Seorang wanita datang dan berkata,

Akhi, Anda harus mengatakan pada orang-orang -dia punya sebuah buku- bahwa mereka harus belajar ‘aqidah yang benar. Ini buku ‘aqidah yang benar. Anda harus mengajarkan buku ini sehingga mereka memiliki uluhiyah, rububiyah dan asmaul sifaat. karena mereka banyak melakukan syirk, karena mereka tak punya ‘aqidah yang benar.”

Saya bilang, “Terima kasih, buku apa itu? Qur’an? Surah?

Bukan, ini buku bab-bab ini, dan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan orang-orang, dan apa yang dianggap syirk oleh orang, dan sebagainya. Mencegah mereka dari kesalahan ini.”

Saya pikir ini sungguh rumit. Saya berusaha belajar Islam, sekarang saya takut. Saya merasa saya mungkin seorang musyrik. Dia berkata, “Akhi ini sangat penting, Anda tidak tahu buku ini?

Tidak, saya tidak tahu.”

Tidakkah Anda ingin tahu?

Saya tidak ingin tahu.”

Tidakkah Anda ingin ‘aqidah yang benar?

Ya, tentu, tapi… mungkin saya harus cari tahu di mana Allah bicara tentang ‘aqidah dalam Qur’an. Biar saya cari ayat tentang ‘aqidah.”

Tidak ada, karena kata ‘aqidah tidak ada dalam Qur’an.

Jika kata itu penting, di mana letaknya?

Jadi saya punya ide yang sangat menyimpang. Saya kira apa yang Allah bicarakan adalah lebih penting. Saya tahu kedengarannya menghujat. Saya juga berpikir satu hal lain bahwa para rasul adalah guru terbaik. Kedengarannya gila, saya tahu. Saya pikir tak seorangpun mengajarkan imaan, bukan ‘aqidah, karena ‘aqidah tidak digunakan dalam Qur’an.

Apa yang digunakan dalam Qur’an? Tak ada yang bisa mengajarkan imaan lebih baik dari Ibrahiim ‘alaihissalam dan Musa ‘alaihissalam dan ‘Isa ‘alaihissalam. Saya kira mereka lebih baik dari cendekiawan manapun dalam mengajarkan imaan. Saya kira sebelum orang belajar sesuatu dari cendekiawan, mereka harus belajar dari? Para nabi.

Kaumku ikuti para rasul yang dikirimkan.”

Saat saya mempelajari Ibrahiim ‘alaihissalam, dia hanya berkata, “Matahari tak mungkin jadi Tuhan, bulan tak mungkin jadi Tuhan, bintang tak mungkin jadi Tuhan, aku palingkan wajahku ke arah yang menciptakan segalanya.”

Sepertinya tidak terlalu rumit. Yang Anda katakan tentang kategori, sub bab, sangat sulit. Tapi saat para Nabi bicara, saya juga berpikir tak ada buku yang lebih baik dari Qur’an. Jika orang perlu mengetahui sebuah buku, jika ada satu buku yang harus mereka ketahui, itulah Qur’an. Saya tahu kedengarannya gila. Tapi saya kira pengarangnya paling hebat. Di dalam buku itu, saat Dia memutuskan mengajarkan keyakinan, Dia tidak merubahnya menjadi filosofis. Dia tidak merubahnya menjadi abstrak. Dia tidak membicarakan konsep yang menghujat. Dia tidak tertarik pada semua itu. Dia mengatakan secara langsung. Sesuatu yang bisa dipahami seorang penyair, filsuf bisa paham, petani bisa paham, programmer bisa paham, saya bisa paham, ini mudah. Sesuatu yang bisa dipahami semua manusia.

Mengapa kita mempersulit istilah ini? Mengapa kita mempersulit pembicaraan ini? Ketika para rasul Allah, semuanya, salah satu sunnah terbesar mereka, salah satu warisan terbesar mereka adalah “Al Balaaghul Mubiin”.

Mereka berkomunikasi dengan cara yang menyentuh hatimu. Dan memisahkan kebenaran dan kebohongan, hanya itu. Sederhana, tidak rumit. Apa yang kita lakukan? Kita merubah pembicaraan tentang Islam menjadi pembicaraan tentang buku yang ditulis orang tentang Islam. Buku itu telah menjadi Islam. Dan satu-satunya buku yang tak lagi memperoleh perhatian adalah? Qur’an. Ini tragedi.

Saya tidak bilang buku-buku itu tidak penting. Tapi ada beda antara primer dan sekunder. Apa yang kita telah lakukan….Syaitan telah melakukannya, dia hebat dalam urusan ini. Saya salut syaitan. Apa yang dilakukannya? Buku yang harus Anda baca itu. Buku Allah untuk para cendekia, Anda baca buku para cendekia. Tapi jangan baca buku Allah karena itu untuk cendekia. Tapi buku Allah berkata, “Hudal linnaas”.

Maksudnya, “Hudalil ‘ulamaa“.

Karena Qur’an sangat rumit, Anda tak bisa.

Yaa ayyuhal insaan [bahasa Urdu].”

Qur’an rumit? Jin mendengar Qur’an dan menjadi muslim. Mereka lewat, mendengar Qur’an, lalu menjadi muslim. Lalu mereka berkata karena sangat terinspirasi, Allah mencatatnya dalam Qur’an. Dan buat Anda Qur’an itu rumit? Di mana mereka (jin) memperoleh gelar sarjana sebelum mereka bicara tentang Qur’an? Lulusan mana jin-jin ini? Mereka bisa komentar tentang Qur’an? Astaghfirullahaladzim. Jin macam apa itu? Lalu kita membaca pembicaraan mereka (para jin).

Kita suka menjauhkan orang dari kata-kata Allah. Memang kita bisa salah interpretasi, atau salah menyimpulkan. Tapi proses belajar selama itu tulus, dan Anda datang kepada orang yang lebih tahu,

Fas-aluu ahladz dzikri in kuntum laa ta’lamuuna.” (QS An Nahl ayat 43 dan QS Al Anbiyaa ayat 7)

Tanyalah mereka yang punya lebih banyak hafalan, yang mencoba menghafal dan mempelajari jika Anda tidak tahu. Itulah perjalanan setiap manusia. Mengapa menutup akses dari orang-orang? Tak ada alasan untuk itu.

Wa jaa-a min aqshaal madiinati rajulun yas’aa.” (QS Yaa Siin ayat 20)

Dikatakan bahwa para nabi sedang bicara, saya harus tutup mulut. ‘Ulama terbesar umat ini adalah para nabi. Mereka bertiga. Apa peran saya sehingga harus bicara?

Tapi lelaki itu paham bahwa dia harus bicara. Karena para rasul mengalami penolakan. Mungkin mereka mendengarkan karena saya bukan rasul. Jika saya tidak datang sebagai pihak yang resmi, mungkin saya datang dari sudut yang berbeda. Dia bukan datang sebagai tandingan para rasul.

Perubahan Internal Dan Eksternal

Hal lainnya yang saya suka tentang ayat ini lelaki itu berkata ikuti para rasul, atau ikuti mereka yang dikirimkan. Ikuti. Apakah kata ikuti sudah muncul sebelumnya dalam surat ini? Pikir…pikir…pikir. Kamu hanya bisa memperingatkan seseorang yang mengikuti peringatan.

Innamaa tundziru manit taba’adz dzikra.“ (QS Yaa Siin ayat 11)

Fal’an yaqul subhanahu wata’ala ittabi’ulmursaliin.” [Maka sekarang Allah berfirman, “Ikutilah mursalin” (QS Yaa Siin 20)]

Kata yang sama, bukan kebetulan. Allah berkata di suatu tempat di luar sana mungkin ada yang percaya, dia menjadi muslim, dia punya imaan di hatinya. Ada perubahan di hatinya, kamu bahkan tak tahu perubahan apa yang terjadi lambat laun di hatinya. Tetaplah beri peringatan, jangan menyerah, mungkin suatu ketika dia menjadi yang percaya (beriman), bukan?

Seperti lelaki ini, apakah dia percaya dalam semalam atau dia memikirkannya dalam waktu yang lama? Dia memikirkannya, mengolahnya, menyimpulkan, dan muncul, bukan? Lihatlah yang terjadi. Pada kasus pertama orang yang percaya menjadi beriman secara rahasia. Tapi yang kedua menyatakannya, bukan rahasia lagi, dia sungguh berani. Dia berlari melintasi kota untuk datang dan bicara pada kaumnya, dan secara terbuka mengatakan, “Kalian harus mengikuti para rasul.”

Dia menjadi kontributor penting bukan? Di bagian sebelumnya para pengikut berubah dari dalam. Dan sekarang ada yang berubah dari dalam lalu ikut berkontribusi. Jadi ada bagian internal dan eksternal. Keduanya berjalan seiring, yang satu menuju yang lain.

Transcript: SM
Editor: AA
Subtitle: NAK Indonesia

Advertisements

One thought on “[Transcrip Indonesia] Kisah Seorang Lelaki (Surah Yasin) – NAK – Part 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s