[Transkrip Indonesia] Metodologi Studi Ustadz Nouman Ali Khan

Menurut keyakinan saya, sebuah ayat adalah bagian dari kutipan, dan kutipan adalah bagian dari sebuah surat, dan sebuah surat merupakan bagian dari sekelompok surat. Dengan kata lain, ada pengertian yang lebih luas. Jadi, yang harus dipahami adalah bagaimana ayat tersebut diposisikan dalam Al Qur’an.

Video Asli: https://youtu.be/RB-dWt1aW0E
Judul Asli: Ustadh Nouman’s Study Methodology

Ini sangat penting karena Al-Qur’an adalah kitab yang terpadu. Anda tak bisa mengutip kalimat dari buku di luar konteksnya. Jika kita membahas tentang ayat yang sangat kuat, maka kita harus lihat di surat mana ayat itu berada. Dalam surat itu, di kutipan mana ayat itu berada. Di mana letak surat tersebut.

Bukan hanya tentang… Semua yang saya diskusikan saat ini adalah konteks tekstual. Selanjutnya, ada juga konteks historis. Konteks historis adalah kapan surat ini diturunkan. Adakah tafsir yang berkaitan dengan saat ayat ini diturunkan, pada kelompok mana ayat ini diturunkan. Adakah diskusi tentang hal ini?

Semua latar belakang ini membantu saya dalam menafsirkan ayat itu sendiri. Jika saya tidak meneliti latar belakang ayat itu lebih lanjut, maka kesimpulan saya tentang ayat tersebut akan sangat berbeda.

Pandangan saya tentang pokok permasalahan ayat tersebut akan berubah sepenuhnya. Dalam studi Qur’an, konteks tekstual ini sangatlah penting. Allah berfirman…

[I’lamuu annallaaha yuhyil-ardha ba’da mawtihaa] *Al Hadid ayat 17

Surat Hadid. Allah berfirman, “Kau harus tahu bahwa Allah memberikan kehidupan kepada bumi setelah mati.”

Bahwa Allah memberikan kehidupan kepada bumi setelah mati. Menurut Anda apa yang sedang dibicarakan? Tumbuhan. Bumi mati lalu hujan turun, dan tumbuhan kembali hidup. Tapi, ayat sebelumnya membicarakan tentang hati yang mengeras.

[Faqasat quluubuhum wakatsiirun minhum faasiquuna] *Al Hadid ayat 16

[I’lamuu annallaaha yuhyil-ardha ba’da mawtihaa] *Al Hadid ayat 17

Hati mereka mengeras, tapi banyak dari mereka yang korup. Anda harus tahu bahwa Allah memberikan kehidupan kepada bumi setelah ia mati.

Apa yang dibicarakan oleh ayat ini sekarang? Seperti kehidupan, bumi yang tak bernyawa bisa dihidupkan kembali. Hati yang mati, kaku, dan keras dapat dihidupkan kembali.

Apakah konteks dari ayat tersebut mengubah pemahaman kita? Pasti. Bahkan membuka cara pandang baru pada teks itu. Memberikan pemahaman baru pada teks yang tak akan Anda dapatkan jika dipisahkan.

Ayat-ayat tersebut sangat indah ketika terpisah, tapi pemahaman kita terbentuk pada saat ayat-ayat itu dipadukan dan mengalir karena adalah bagian khutbah yang Allah wahyukan. Ada bagian dari kalam yang Allah turunkan, dan kalam haruslah mengalir, harus ada kontinuitas. Hal ini sangatlah penting. Cara pendekatan yang saya lakukan.

Saya pelajari dari tulisan Amin Ahsan Islahi, yang kemudian disempurnakan oleh pidato dan kuliah Dr. Israr Ahmed yang berkaitan dengan topik koherensi. Saya membaca dan membuat banyak catatan mengenai analisis Mustansir Mir tentang koherensi dalam Al Qur’an. Inti dari semua ini adalah sebagai berikut.

Pada dasarnya Al Qur’an adalah teks yang terpadu, terdiri dari beberapa bagian besar, setiap bagian besar ini merupakan kompilasi dari dua macam surat, Makki dan Madani. Setiap bagian besar dari Al Qur’an. Anda bisa membagi Al Qur’an jadi tujuh bagian besar. Di setiap bagian besar itu, ada grup surat Makki dan grup surat Madani, atau satu surat Makki dan satu grup surat Madani, atau paling tidak satu surat Madani dan satu grup surat Makki.

Islahi, contohnya, berpendapat bahwa bagian pertama dari Qur’an, ini tidak sama dengan hizb, ia melihatnya dari perspektif kesusasteraan. Ia berpendapat hizb utama dari Al Qur’an adalah Al Fatihah sebagai surat Makki, kemudian Al Baqarah, Ali Imran, Annisa dan Al Maidah, sebagai yang Madani. Kelimanya membentuk porsi pertama dari Qur’an.

Kedua grup ini melengkapi satu sama lain, maksudnya Al Fatihah dilengkapi oleh keempat surat ini sebagai satu kesatuan. Keempat surat itu juga saling berhubungan sehingga membentuk kelompok satu. Lalu ada kelompok dua, tiga dan empat.

Saat Anda tiba di bagian akhir dari Al Qur’an, Anda akan lihat bagian Madani terpendek dan juga bagian Makki terpanjang. Berkebalikan dengan bagian awal kita mulai. Berbalik dari bagian awal ketika kita mendekati bagian akhir.

Namun demikian, sebuah surat, surat An-Nur pada khususnya, ketika Bukhani membahas konteks keseluruhannya, Anda melihat pentingnya memerhatikan surat itu adalah surat Madani, bagian dari suatu kelompok surat dan berpasangan dengan surat yang lainnya.

Sangat indah bahwa surat ini terhubung dengan surat lainnya secara historis, dan juga secara harfiah. Yang juga indah adalah pasangan dari surat ini tidak bersebelahan. Justru terpisah jauh. Di antara jarak kedua surat ini, terdapat surat Makki. Jadi, surat ini adalah surat Madani, lalu di antaranya terdapat sekelompok surat Makki.

Surat ini surat ke-24. Surat ke-25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32 semua adalah surat Makki.

Surat selanjutnya adalah pasangan dari surat ini, Surat Al-Ahzab. Keduanya serupa satu sama lain. Jarak waktu keduanya saat diwahyukan berdekatan. Inti dari keduanya juga serupa dan saling melengkapi dengan indah. Memahami hubungan kedua surat ini sangat penting saat kita mempelajari konteks keseluruhan dari surat ini.

Pertama adalah penempatan surat dalam Al Qur’an. Kedua, struktur surat itu sendiri. Sebuah surat terdiri dari beberapa pokok permasalahan. Para ahli tafsir tidak setuju dengan mereka yang menyibukkan diri dengan subjek nazm (puisi), dengan memecah pokok-pokok permasalahan.

Tapi, sumber andalan saya yang luar biasa adalah karya Islahi. Menurut saya, ia mampu memasangkan dan memecah setiap bagian dengan sangat baik. Tapi, jazakallahu khairan Syeikh Abu Bakr. Saya terobsesi, Mausu’ah Al-Tafsir Al-Maudhu’i merupakan sumber yang tak ternilai. Sumber yang luar biasa.

Saya tuliskan di sini. Mausu’ah Al-Tafsir Al-Maudhu’i.

Sekitar dua puluh orang mengerjakan tafsir Al Quran yang komprehensif ini. Salah satu sasaran Anda dalam mempelajari bahasa Arab adalah mampu membaca tafsir ini. Jika Anda bisa membaca tafsir ini, maka Anda mampu berbahasa Arab.

Tafsir ini merupakan ringkasan yang menegaskan akwal klasik tentang apa yang dikatakan dalam konteks wahyu diverifikasi dan dikonfirmasi oleh panel yang terdiri dari 20 ulama. Kemudian struktur dari surat, bagian-bagiannya dan cara memisahkannya, apa pesan keseluruhan dari suatu bagian, bagaimana bagian ini terhubung dengan lainnya. Mereka mengkategorikannya dengan judul.

Al-Maqtha’ul Awwal, Al-Maqtha’ul Tsani, Al-Maqtha’ul Tsalits, bagian pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam. Menurut mereka, surat An-Nur mempunyai empat belas bagian. Sumber ini sangat luar biasa.

Jika saya mempelajari lebih mendalam dengan fokus hanya pada nafm, saya mungkin akan memberikan beberapa catatan tambahan, tapi 90 persen dari yang akan saya pahami, sudah mereka kemukakan.

Mungkin sekitar 90 persen atau bahkan 99 persen. Penambahan saya mungkin hanya 0,1 persen. Yang mereka lakukan benar-benar maksimal dan sungguh karya yang luar biasa. Jadi, inilah tujuan dari memahami struktur dan pesan keseluruhan dari sebuah surat.

Mengapa? Karena ketika Anda memahaminya, Anda mengetahui bahwa semua yang dikatakan berada dalam konteks tersebut. Apa pentingnya memahami pesan keseluruhan di dalam ayat?

Saya akan memberikan contoh untuk Anda dari Al-Quran dan dari pidato biasa. Suatu waktu, saya sedang berkhutbah tentang etika berbicara. Bagaimana kita harus berbicara dengan santun. Pesan yang sederhana tentang sopan santun berbicara. Yang saya bicarakan adalah nilai yang ditekankan oleh Al Qur’an tentang masalah ini. Nilai yang ditekankan oleh Al Qur’an pada gagasan ini, jika Anda tak perhatikan hal ini maka ayat selanjutnya di surat Al Baqarah tentang manusia saling membunuh.

[Wa quulu linnaasi husnan wa aqiimushshalaata wa aatuzzakaata tsumma tawallaytum illaa qaliilan minkum wa-antum mu’ridhuuna] *QS Al Baqarah ayat 83

[Tsumma antum haaulaa-i taqtuluuna anfusakum] *QS Al Baqarah ayat 85

Allah perintahkan untuk berbicara dengan santun. Anda harus berbicara dengan santun. Salah satu perintah yang diturunkan pada kaum Israel. Sepertinya sederhana, bicara dengan santun. Saya mempelajarinya ketika masih kelas 2 di sekolah dasar.

Ibu saya selalu mengingatkan, “Bicara pada saudaramu baik-baik.”

Ia tak mengatakannya dengan santun tapi maksudnya baik. Mengapa sangat sulit dilakukan? Dan ayat selanjutnya mengatakan kalian orang yang sama dengan mereka yang saling membunuh.

Bagaimana pertengkaran itu dimulai? Propaganda. Apa yang dimaksud dengan ‘propaganda’? Bahasa. Kata-kata. Propaganda hanyalah kumpulan kata-kata.

Pagi tadi, ada laporan mengenai Rwanda dan industri musiknya di sana. Dan bagaimana 20 tahun lalu Rwanda mengalami genosida. Dan sekarang, lagu-lagu cinta mengudara. Semua menciptakan lagu cinta bahkan para artis hip-hop bicarakan cinta dan persatuan. Di Rwanda.

Saya berkata, “Mengapa mereka tak menulis lagu tentang genosida?”

Ini adalah bagian dari sejarah dan telah melukai mereka secara dalam, tapi mengapa tidak musik tentang genosida?

Membingungkan. Para artis itu berkata, “Kami tak mau mengingatnya, kami tahu itu terjadi, jika kami mengangkatnya, masyarakat kami masih rentan, lagu tersebut dapat membangkitkan kekerasan.”

Kita sangat takut bahwa sebuah lagu tentang satu suku. Saya katakan sesuatu yang baik, bahkan bukan yang buruk, sesuatu yang terlalu baik tentang satu suku, atau saya memuji presiden atau semacamnya, kita tak tahu apakah pembunuhan bisa terjadi lagi. Berbicara merupakan masalah penting.

Saya sedang berbicara tentang kaum Israel. Allah berfirman, “Qulu linnasi husnan”. *Al Baqarah ayat 183

Setelah khutbah, seorang pria datang dan bertanya, “Mengapa Anda membahas para kaum Yahudi? Seharusnya tentang muslim.”

Seluruh khutbah saya tentang muslim. Dan saya menjelaskan kepada jamaah kita bahwa kita harus mengambil pelajaran dari kaum Israel.

“Kapan Anda tiba di khutbah?”

Ia menjawab, “Lima menit sebelum shalat.”

“Tapi, kau tak mengerti apa yang saya katakan.”

“Ada konteks untuk kita, tidak penting apa yang Yahudi katakan.”

“Itu yang Anda katakan.”

Saya berkata, “Masih banyak lagi yang saya katakan yang jika Anda hilangkan, Anda akan berpikir ‘Ia tak membahas tentang muslim, hanya menjelaskan sejarah tentang Yahudi atau semacamnya’.”

“Mengapa kau peduli terhadap Muslim dan cara mereka bicara?” dan lainnya.

Konteks dapat mengubah segalanya. Dapat mengubah sesuatu yang relevan menjadi tak relevan jika Anda keluarkan dari konteksnya. Itu akan menjadi kunci kita untuk memahami ayat yang akan kita pelajari.

Memahami bagian di dalamnya, hubungannya dengan bagian lainnya dan pesan keseluruhan dari sebuah surat. Kita harus berurusan dengan semua itu. Kemudian, jika Anda sampai pada suatu ayat lalu metodologi saya, yang merupakan konteks, dasar. Ini adalah bagian yang paling sulit. Kemudian, bagian yang mudah pun dimulai, yaitu riset.

Bagian selanjutnya adalah riset. Riset adalah…

Pertama-tama tentang bagaimana posisi klasik dari ayat ini. Adakah banyak diskusi tentang konteks historis? Adakah laporan dari para sahabat atau hadits dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang berhubungan ayat ini?

Jika ada, apa saja dan bagaimana analisanya. Menganalisa sejarah adalah sesuatu yang sangat berbeda dari mempelajari dan mengetahuinya. Seseorang dapat mengetahui fakta-fakta tentang Hudaibiyah, tapi tak mampu menganalisa sejarah tersebut.

Analisis sejarah sangatlah penting, tidak hanya data dan informasi sejarah saja. Seringkali teks akan menyediakan data untuk Anda, tapi tak akan menyediakan analisisnya, karena itu, Anda harus melihat sejarah dan menganalisa apa yang terjadi.

Bagaimana situasi digambarkan dan hal ini merupakan kehebatan dari tokoh saat ini dan juga penulis klasik yang telah mempelajari sejarah dan menganalisanya untuk kita. Jadi memahami dan menganalisa sejarah tersebut sangatlah penting. Inilah langkah kedua.

Selanjutnya adalah penafsiran klasik. Biasanya saya mulai dengan penafsiran klasik. Maksudnya adalah saya mengambil suatu tafsir lama, melihat apakah ada isinya yang berhubungan dengan ayat ini.

Selain dari yang telah saya temukan dari konteks, adakah yang ingin mereka sampaikan atau pesan yang ingin disampaikan oleh dua atau tiga generasi muslim awal tentang ayat ini, yang adalah sejarah penting dan penting untuk pemahaman kita.

Saya akan membahas beberapa tafsir dan menuliskannya untuk Anda. Saya akan mulai dengan yang mudah dengan tafsir Ibnu Katsir Rahimullah. Saya juga akan membahas tafsir Al-Qurtubi. Saya biasanya membahas tafsir At-Tabari, tapi tidak lagi.

Karena At-Tabari memuat banyak hal dan saya tak memiliki kualifikasi untuk memilah yang otentik dengan yang tidak. At-Tabari, seperti yang mungkin Anda dengar dari Sheikh Omar, juga merupakan sejarawan. Jadi, ia mengumpulkan semuanya.

Otentik ataupun tidak, jika ia dengar maka akan ia tulis. Memiliki nilai sejarah, tetapi untuk riset akan menjadi sulit diarahkan. Al Qurtubi lebih mudah untuk dipahami. Dari sisi Athari atau sisi riwayah, saya akan membahas semua tafsir ini.

Terdapat juga tafsir analitis yang dipadukan dengan kedua tafsir ini. Saya akan membaca Ibnu Jawzi. Lalu, saya naik ke atas sedikit dan saya mulai membaca tafsir linguistik. Jadi, saya membaca Al-Kasyaf, yang merupakan Zamakhsyari. Dalam penafsirannya lebih ringan. Saya bukan penggagum I’tizal-nya tapi saya penggagum analisis linguistiknya. Menyenangkan.

Kemudian, saya akan membaca An-Nuhas. Ia menjelaskan panjang tentang I’rab dari suatu ayat. Saya juga akan membaca Razi, yang menyenangkan untuk dibaca. Saat dia tidak …

Tapi, Razi sangat cemerlang. Ia merupakan penulis yang cemerlang. Walaupun ia mengutip banyak dari Sheikh Zamakhsyari, benar-benar banyak. Bagian yang serupa dapat Anda temukan pada tafsir ini. Di dalamnya. Tapi, dia memang memiliki komentar yang menarik. Ia lebih pada sisi linguistik. Razi lebih pada perpaduan linguistik dan harfiah.

Lalu, saya akan lanjut ke setelah Razi, Al Biqa’i. Ia menyenangkan. Ia suka menulis dalam bentuk puisi. Terkadang mengganggu, jika ia ada di sana saya akan meminta, “Sheikh boleh kurangi sedikit?” tapi dia sudah tiada.

Ia suka membahas bagaimana ayat berkaitan satu sama lain. Bacaan yang berat, namun saya akan menjajakinya jika bisa dengan sebaik-baiknya. Setelah, Al Biqa’i… saya akan beralih pada karya yang lebih kontemporer, maka saya akan membacakan Ash Shaukani, Fathul Qadir.

Seharusnya saya mencantumkan ‘Zamakhsyari’ di sini, bukan Kasyaf. Dia penulisnya. Al Fathul Qadir. Lalu sampai pada karya favorit saya, yaitu Ibnu Asyur, Al Tahrir wa Tanwir.

Dan sekarang kita semakin kontemporer. Jadi, saya akan membacakan Sya’rawi. Setelah Sya’rawi, saya akan membacakan…

Baiklah.

Kemudian saya akan lihat apakah ada tafsir linguistik atau sesuatu baru yang disebutkan oleh Dr. Samira’i tentang ayat. Lalu, saya akan meneruskan ke Sya’rawi… dan Samira’i.

Baiklah, kemudian kita akan mendengarkan karya Nabulsi tentang ayat. Ia seperti seorang kakek yang penyayang dan disayangi dari Tafsir. Mendengarkannya sangat menyenangkan. Anda akan merasa seperti dirangkul oleh dia saat anda mendengarkannya.

Yang ini membuat saya menangis. Anda akan menjadi cengeng mendengarkannya. Ia sangat kebapakan. Saya tertarik pada karyanya. Baiklah, bagian tafsir bahasa Arab sudah selesai. Selanjutnya saya akan memdengarkan atau membacakan Islahi yang merupakan sumber dalam bahasa Urdu.

Kemudian, di quranexplorer.com ada Syeikh… Siapa ya namanya. Saya selalu lupa namanya. Berasal dari Chicago, Madrasah IIIE di Elgin. Ada yang tahu?

Maulana…

Tidak?

Terima kasih. Maulana Abdul Salim.

Maulana Abdul Salim memiliki rekaman lengkap tafsir Al Qur’an pada rekaman audio yang kemudian diubah menjadi MP3. Semuanya ada di quranexplorer.com. Menyenangkan untuk didengarkan. Saya akan membacakan… (*sepertinya ustadz Nouman hendak mengatakan Maulana Taqi Usmani -red).

Anda tahu Taqi Usmani, ayahnya? Mengapa saya sering lupa nama hari ini? Ya, Tafsir Mufti Shafi.

Ma’ariful Qur’an. Saya juga akan membacakannya.

Saya akan membahas karya Dr. Israr Ahmed jika penjelasannya terperinci. Ia mempunyai dua jenis durus, Bayanul Qur’an dan Darsul Qur’an. Jika Darsul Qur’an tersedia, sangat bagus. Luar biasa.

Sangat langka dan tidak untuk Al Qur’an secara keseluruhan. Hanya untuk beberapa surat saja. Tapi, surat yang ia kaji… Wah. Sangat luar biasa. Ia sangat luar biasa. Ia mempelajari filosofi barat secara luas. Saya sering mendengarkan kuliah-kuliahnya ketika di Lahore. Anda tidak menyangka siapa saja dia sebut. Ia mengutip Kahn, Nietzche dan…

Ia sangat memahaminya seperti ia diundang ke perhimpunan diskusi kitab suci di sini pada tahun 90-an. Ia seperti professor dari seminari Harvard atau Yale…

Saya berpikir, “Bagaimana orang ini bisa tahu semua ini?”

Ia langsung saja merobek mereka dari Surat An-Nur. Sangat luar biasa. Sesuatu yang layak dipertontonkan. Ini yang disebut dengan Darsul Quran. Jika tersedia, sangat sulit untuk didapatkan. Tapi saya memiliki rekaman kasetnya karena itu saya punya pemutar kaset. Karena mereka, saya mempunyai pemutar kaset di rumah.

Ya. Anda harus memilikinya. Sungguh. Jadi, inilah studi tafsir. Kemudian, ada studi kata. Mengapa saya tidak melakukan studi terperinci? Jika saya melakukannya, saya tidak bisa mengerjakan yang lainnya.

Jika Anda memahami sebuah ayat akan memakan waktu yang cukup lama. Memakan waktu yang cukup lama. Saya menghabiskan seluruh bulan Ramadhan untuk memahami surat Nuh. Hanya surat Nuh. Mereka melakukannya seperti ini. Memakan waktu yang cukup lama.

Belum mempelajari surat itu dan juga bukan bagian yang tersulitnya. Ketika Anda memiliki berbagai catatan, apakah catatan tersebut tumpang tindih? Membaca cepat catatan yang tumpang tindih dan menjadikannya bahan ajar. Ini merupakan bagian yang paling sulit.

Ini sudah disebutkan, yang ini juga, saya harus gabungkan kedua ini. Bagian itu sudah disebut, itu juga, dan itu… saya gabungkan semua. Jadi Anda mempunyai 70 halaman catatan, lalu harus Anda harus kurangi menjadi tiga halaman atau empat atau sepuluh halaman, atau untuk sekarang ini 14 halaman untuk ayat hari ini. Anda harus menyaring (skimming).

Kita sekarang mempelajari Lisanul Arab. Saya akan mulai dengan Lane’s (*Lane’s Lexicon karya Edward William Lane -red). Kemudian saya akan membaca Lisanul Arab. Kemudian, saya akan membaca Al-Muhith. Saya sangat menyukai qutuf.

Saya sangat menyukai buku ini. Fiqh Al Lughah favorit saya yang terbaru. Ada thesis baru berjudul “Daqaiqul Furuuq lii kalimatil Qur’an”. Saya sangat menyukainya. Sangat bagus. Tajul ‘urusy.

Sumber-sumber dalam bahasa Urdu adalah… Dan terkadang, tidak selalu, saya melihat Mutaradifaatul Quran. Maaf, Mufradatul Quran, maksud saya. Untuk sumber dalam bahasa Urdu, ada satu yang sangat menarik, yaitu Mutaradifaatul Quran. Untuk digabungkan.

Ada sumber dalam bahasa Arab lainnya yang perlu disebutkan Al Furuqul Lughawiyah. Lagi, menggabungkan. Memilah dan menyingkirkan yang tidak perlu. Jadi, tetap menyaring (skimming) untuk mengetahui posisi kita.

Saya tak akan menyebutnya dengan ‘melemahkan’ tapi dengan ‘merangkum’. Karena banyak informasi yang terlalu berlebihan untuk bahan ajar. Contohnya, mereka mengambil kata kerja seperti khimar yang kita bahas hari ini.

Mungkin tidak hari ini, tapi kita akan membahas khimar. Dan ketika kita membahasnya, bagaimana orang Arab menggunakannya? Dan mereka akan menunjukkan ratusan istilah khimar dengan penggunaannya yang berbeda.

Saya bisa memandu Anda untuk memahami semuanya. Anda akan mulai merasa kesulitan pada separuh bagian karena sebagiannya ada beberapa halaman. Tapi, masih ada lagi jika ada kelebihan (redundansi) seperti itu, kita dapat melewatinya.

Tunjukkan saya contoh A dan B. Jika Anda sudah yakin, maka tak perlu lagi menjelaskan inti yang sama dengan 80 contoh lainnya. Saya akan coba menghilangkan kelebihan (redundansi) darinya. Ketika saya mengajar tentang tafsir seperti ketika saya memulai proses ini dengan Juz Amma.

Saya harus menahan diri untuk tidak membahas 80 persen dari studi saya. Tak cukup waktu. Hanya untuk mengajar Juz Amma saya menghabiskan waktu dua sampai tiga tahun. Jadi, jika saya mengajarkannya sesuai dengan catatan saya. Sekarang kita mungkin masih membahasnya. Jadi, Anda harus putuskan antara fungsional dan berlebihan.

Jadi ini bukan cara saya dalam mempelajari ayat mana saja. Ini cara saya ketika saya memutuskan untuk mempelajari sebuah ayat. Saya akan menggunakan metode ini. Kemudian, mulai melihat, mengumpulkan semua catatan dan saya siap untuk mempelajari sebuah ayat.

Translate: FFF
Editor: AA
Subtitle: NAK Indonesia

Beberapa nama atau buku yang disebut di atas, ada di http://ejtaal.net/aa/readme.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s