[Transcript Indonesia] Nabi Yang Sempurna (Surah Yasin) – NAK – Part 2

Pada bagian kedua video ini, ustadz Nouman Ali Khan kembali melanjutkan kajian Surah Yaa Siin membahas ayat 4 – 6.

Ayat Keempat – ‘Alaa Shirootin Mustaqiim

Mari kita lanjutkan, Allah berfirman, “‘Alaa shirootin mustaqiim.” (QS. Yaa Siin: 4) Pada jalan yang lurus. “‘Alaa shirootin mustaqiim,” adalah kalimat yang sudah sering kali kita dengar sebelumnya. Tapi apa maknanya di ayat ini?

Pertama, saya ingin kalian mengerti bahwa berada di jalan yang lurus, “‘Alaa shirootin mustaqiim.” Sebenarnya saya kurang suka dengan istilah pada jalan yang lurus, saya lebih suka “Berkomitmen Untuk.”

Kata “‘Alaa,” di sini, mensugestikan bahwa mereka itu berkomitmen untuk berada di jalan yang lurus. Tapi pertanyaan pertama yang ingin saya jawab adalah siapa yang berkomitmen untuk berada di jalan yang lurus? Siapa menurutmu? Tentu saja, “Aku bersumpah demi Quran yang penuh hikmah.”

Dan betapa kuatnya keputusan yang ada di dalamnya, sungguh engkau adalah salah seorang yang diutus kepada jalan yang lurus. Siapa yang berada di jalan yang lurus? Rasulullah sendiri. Tapi tidak hanya Rasulullah, tidak hanya beliau. Tapi juga termasuk mereka yang sudah diutus sebelumnya. Mereka berada di jalan yang lurus dan begitu pula beliau. Itu berlaku untuk keduanya.

Kata “‘Alaa shirootin mustaqiim,” berlaku untuk keduanya. Sekarang, kenapa ini menjadi penting? Bayangkan ada sebuah jalan dan kalau kau ada di jalan ini dan kau hanya satu-satunya orang yang berada di sini. Dan orang lain ingin mengusirmu dari jalan tersebut. Dan kau berusaha berjalan maju tapi mereka mencoba untuk mengusirmu, mereka membentakmu. Menjauhlah dari sini, kenapa kau bisa ada di sini?

Kau salah jalan, kau adalah satu-satunya orang yang mengikuti jalan tersebut. Dan Allah memerintahkanmu untuk terus berjalan. Dan kemudian Dia berkata, “Ngomong-ngomong, kau bukan orang pertama yang melewati jalan ini.”

Dulu juga ada orang-orang yang melalui jalan yang sama. Kau paham sekarang? Jadi sekarang kau ingin tahu lebih banyak tentang mereka. Karena kalau memang ada orang yang sudah melalui jalan tersebut. Dan sudah melewati tantangan di jalan itu sebelummu, maka kau akan menjadikan mereka sebagai contoh. Dan mereka akan menolongmu untuk melalui jalan itu dengan lebih baik. Mereka akan membuat perjalanannya semakin mudah.

Ngomong-ngomong, kita juga melakukan ini di kehidupan nyata. Ketika kau berjalan di sebuah jalan, kau dapat laporan bahwa ada kemacetan. Apakah ada polisi di sini? Atau kau punya semacam radar di mobilmu (semacam GPS, red.) tapi baterainya sedang habis.

Lalu kau menelepon temanmu, “Hei bro, aku lagi di jalan George Bush,” atau “Aku berada di jalan tol yang entah apa namanya ini, mereka terlalu banyak.”

Lalu kau berkata, “Apakah ada polisi di sini? Atau aku boleh melakukannya?” (pelanggaran lalu lintas, red.)

(Temanmu berkata), “Wah, jangan bro, minggu lalu aku melakukan hal yang sama dan aku kena tilang.”

(Kau akan berkata), “Oke, oke, kalau begitu, aku akan tetap berada di jalur halal.” (mengikuti aturan, red.)

Intinya, kau akan mencari tahu lewat orang lain, yang sudah melalui jalan yang sama. Dan mereka membantumu untuk melalui jalan itu dengan lebih baik. Dibandingkan sumber tertentu atau laporan orang lain. Kemudian hal lainnya, Rasulullah memberikan sebuah statement yang tegas lewat perkataan Allah.

Allah berbicara selayaknya seorang majikan, Dia tidak berbicara seperti seorang budak. Dia berbicara selayaknya seorang majikan, jadi Dia akan berbicara dengan penuh otoritas.

Dan orang pasti merasa terganggu, karena tidak mendengar Allah yang berbicara. Siapa yang mereka dengar? Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Siapa kamu beraninya berbicara seperti ini? Jadi mereka merasa tersinggung. Tapi apakah Rasulullah berhenti? Tidak.

Dan setiap hari, apakah dia harus menunjukkan kemajuan di jalan tersebut? Sekarang, kalau kau berjalan dan ada kemajuan di sebuah jalan, apakah masuk akal bahwa kau akan dapat lebih banyak masalah?

Kau akan semakin banyak mendapatkan masalah. Semakin banyak tekanan yang akan memaksamu untuk berbelok. Semakin kau membuat progress di jalan tersebut, semakin banyak yang menolak, semakin banyak yang ingin menjatuhkan. Dan semakin besar peluang untukmu berbelok dari jalan tersebut.

Kau bisa bertahan dari suatu tekanan, tapi berikutnya kau akan menghadapi tekanan yang lebih berat lagi. Begitu seterusnya dan seterusnya dan seterusnya. Semakin hari mereka semakin bertambah parah. Itu tidak akan menjadi lebih mudah, mereka akan jadi lebih sulit. Manusia biasa, punya batas kemampuan seberapa banyak tekanan yang mereka sanggup hadapi.

Tapi Rasulullah keteguhannya, komitmennya, dijadikan sorotan. Karena keteguhan dan komitmennya disoroti karena mereka tetap berada dijalan yang lurus dan tidak bergeser sedikitpun.

Orang-orang datang menyerang mereka, mempermainkan mereka, mengancam mereka. Orang-orang datang untuk mengancam dan membunuh dan menyiksa mereka. Beliau tetap tidak berubah. Keluarganya mendatangi beliau. Tetua-tetua mereka mendatangi beliau. Pemimpin politik mereka mendatangi beliau. Semua orang mendatangi beliau. Beliau tetap tak bergeming.

Beliau tetap pada jalan tersebut. Ini adalah konsep tentang keteguhan yang dibutuhkan. Ngomong-ngomong itu sendiri adalah bukti bahwa dia adalah utusan Allah. Bagaimana mungkin ada orang yang merelakan dirinya diperlakukan begitu.

Jadi itu meneruskan konsep bahwa Quran ini, pengorbanan yang diberikan ketika menyampaikan Quran ini, adalah bukti bahwa beliau adalah utusan. Karena normalnya itu hanya akan membawa masalah. Sebagaimana yang dikatakan para mufassir.

Quran, dengan segala kesempurnaannya sebagaimana yang sudah saya jelaskan, ada tiga kesempurnaan yang ada di dalam Quran. Quran itu sendiri menjadi bukti. Dan komitmen Rasulullah terhadap Quran ini, itu juga menjadi bukti. Itu juga menjadi bukti. Kemudian, ada satu hal terakhir yang ingin saya bagikan tentang ayat ini, “‘Alaa shirootin mustaqiim.”

Ayat ini tidak berkata, “Upon the straight path” atau “Commited to the straight path” (spesifik, menggunakan “The”). Ayat ini berkata, “Upon a straight path” (general, menggunakan “A”).

Shirootin mustaqiim,” ini adalah bentuk nakiroh, bentuk yang umum. Apa bedanya mengatakan “The straight path” dan “A straight path“. Karena di dalam Al Fatihah, kita tidak minta ditunjukkan kepada jalan yang lurus (A straight path).

Kita meminta ditunjukkan kepada jalan yang lurus (The straight path). “Ihdinash shiroothol mustaqiim,” ada huruf Alif Lam di sana, sedangkan di sini tidak ada. Dan apa maksudnya? Ngomong-ngomong, ketika kau menghilangkan huruf Alif Lam, itu akan membuatnya sesuatu yang tidak dikenali. Itu menjadi sesuatu yang tidak dikenali.

Dan meskipun Allah sedang berbicara kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam siapa lagi yang mendengarkannya? Orang Quraisy juga mendengarkannya dan orang Quraisy mungkin tidak banyak tahu tentang Quran. Kita tahu sebagian dari mereka tahu dan sebagian dari mereka tidak. Tapi mereka tahu satu hal, mereka tahu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.

Dan meskipun beliau shalallahu alaihi wassalam tidak berkata apa-apa, cara beliau hidup sudah menunjukkan bahwa beliau berada di jalan yang lurus. Dia benar-benar seperti panah yang lurus. Beliau selalu melakukan hal dengan benar. Dengan kata lain, meskipun kau tidak tahu semua detailnya.

Mengamati kehidupannya akan membuatmu menarik kesimpulan bahwa ini pasti jalan yang benar. Cukup mengamati perilaku orang muslim sudah cukup, khususnya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Itu saja sudah cukup untuk memberitahu kita, bahwa inilah jalan yang lurus, “‘Alaa shirootin mustaqiim.”

Ayat Kelima – Tanziilal ‘Aziizir Rahiim

Apakah sejauh ini Allah pernah menyebutkan tentang diriNya? Sama sekali belum. Dia tidak berkata apapun tentang diriNya. Dia memang berkata bahwa Rasulullah itu adalah utusan. Bahwa Rasulullah itu berkomitmen di jalan yang lurus.

Tapi siapa yang mengirimnya? Dan dari mana datangnya kebijaksanaan yang ada di dalam Quran? Bagaimana mungkin Quran bisa berbicara seperti itu dan akhirnya pertanyaan ini terjawab. Dan pertanyaan ini dijawab dengan bahasa yang luar biasa, “Tanziilal ‘aziizir rahiim.”

Hanya tiga kata dan kata pertamanya “Tanziila,” bagi kalian yang tahu sedikit tentang bahasa Arab. Ada huruf fathah di situ, kau tahu apa artinya? Artinya kau tidak menyebutkan kata itu dengan lemah lembut. Kau tidak membacanya begini. (suara pelan dan lemah, red.)

Tidak seperti itu. Ketika ada kata, “Tanziila,” seperti itu, itu artinya Allah azza wa jalla berbicara dengan menunjukkan kekuasaan yang dimilikiNya. Wahyu!! Sekali lagi, ini tidak diucapkan seperti biasa. Penjelasannya sudah termasuk di kata itu sendiri.

Itu adalah sebuah penjelasan. Dengarkan! Apa ini?! Ini adalah sesuatu yang telah diturunkan! Wahyu! Wahyu dari siapa? Siapa pengirimnya? “Al-‘aziizir rahiim,” ada dua nama Allah di sini.

Al-‘aziiz,” artinya adalah seseorang yang punya wewenang dan punya rasa hormat. “Al-‘aziiz,” punya dua makna, seseorang yang punya wewenang dan punya apa? Rasa hormat.

Ini yang harus kalian mengerti, karena kadang-kadang ada dua macam orang. Ada orang yang hanya punya wewenang saja, tapi mereka tidak dihormati. Sebagai contoh petugas polisi memang punya wewenang, tapi dia kurang dihormati. Sebagaimana yang kita lihat di Baltimore (kerusuhan yang terjadi di Baltimore, red.).

Mereka punya wewenang, tapi tidak dihormati. Tapi ada juga orang-orang yang dihormati, tapi tidak punya apa? Tidak punya wewenang. Keduanya tidak memiliki “Izzah“. “Izzah” dalam bahasa Arab tidak sama dengan “Izzah” dalam bahasa Urdu.

Mereka berbeda, “Izzah” dalam bahasa Arab adalah ketika kau dihormati dan di saat bersamaan kalian juga punya wewenang. Itulah yang disebut dengan “Izzah“. Ketika Dia menyebutkan bahwa wahyu ini adalah perintah dari seseorang yang dihormati. Punya wewenang penuh, Allah ‘azza wa jalla memberitahu kita sesuatu yang sangat luar biasa.

Masih ingat salah satu dari tiga kualitas dari Quran yang mana salah satunya adalah memberikan keputusan? Memangnya siapa yang punya kuasa untuk membuat keputusan? Yaitu orang yang punya wewenang. Dan meskipun seseorang punya wewenang dan mereka membuat keputusan.

Misalnya seperti serial “Judge Judy” (sebuah film series di Amerika, red.). Kami masih suka menonton “Judge Judy” bersama ibu saya. Ketika si Hakim Judy membuat keputusan, “Hei kau anak muda, tolong diam.” Kalian tahu, dia sering melakukan itu, itu luar biasa.

Dan dia membuat keputusan, “Kau bisa pergi dengan membayar 500 dolar, yang jelas menjauhlah dariku.”

Dan saya paling suka bagian ketika mereka melakukan wawancara di luar sidang. Saya sangat suka sekali. Terutama ketika mereka mewawancarai orang yang kalah sidang. Karena ketika mewawancarai yang menang, mereka akan sangat energik.

Yeah, saya menang dan mendapatkan 500 dolar dan saya sangat senang,” hanya itu yang ia bisa katakan.

Tapi bagi pihak yang kalah, “Ini sangat tidak adil, aku tidak mempercayainya. Bagaimana dia bisa menjadi seorang hakim,” atau semacam itu.

Kau tahu? Dengan kata lain mereka, dia bisa membuat keputusan, tapi dia tidak bisa mendapatkan apa? Dia tidak mendapat rasa hormat dari orang lain, Allah ‘azza wa jalla berfirman. Quran ini penuh dengan keputusan dan keputusan-keputusan itu layak untuk diperhatikan dengan serius.

Karena dia datang dari yang punya wewenang dan dia perlu untuk dihormati. Dan itu sudah tercakup didalam kata “Al-‘aziiz.” Sebenarnya ini juga kembali lagi berhubungan dengan kalimat, “Wal qur aanil hakiim,” dalam hal ini.

Sekarang, itu sudah menjawab pertanyaan, “Dari mana datangnya wahyu ini?

Kita sudah berbicara tentang keputusan-keputusan ini, tapi dia juga mengatakan hal lain lagi. “Tanziil,” apa artinya kata “Tanziil?” Sesuatu yang datang dari atas. Dengan kata lain, izinkan saya menjawab pertanyaan ini. Siapakah gurunya? Siapa yang mengutusnya? Dari mana wahyu Quran ini datang?

Dia datang dari atas. Dan itu berarti, kalian tidak bisa mengaksesnya. Ini tidak mungkin sesuatu yang dibuat oleh manusia. Dia tidak datang dari kiri, kanan, timur, ataupun barat. Dia tidak datang dari desa lain, dia tidak datang dari seorang sarjana. Dia tidak datang dari suatu universitas, dia diturunkan dari langit.

Di suatu tempat dimana pendidikan, kau tahu, kita biasanya menempuh pendidikan dari Timur ataupun dari Barat. Utara ataupun Selatan, biasanya kesanalah kita menempuh pendidikan. Kita tidak bisa pergi ke langit untuk menempuh pendidikan.

Tapi pendidikan seorang laki-laki ini datang dari langit. Yang artinya kita tidak mungkin bisa menggapainya. Ini sesuatu yang jauh diluar jangkauan kita. Dan sekali lagi ini diperkuat dari ayat sebelumnya, Quran ini terlalu sempurna karena dia diturunkan dari langit.

Mereka terjalin sangat sempurna, kalian hanya bisa mendapatkan jalinan yang sempurna seperti itu jika diturunkan dari langit. Dan dia membuat berbagai keputusan yang datangnya dari langit. Itulah fungsinya kata “Tanziil,” tapi kemudian ada nama lain dari Allah di sini.

Tanziilal ‘aziizir rahiim,” apa artinya, “Ar-rahiim?” Kalian tahu apa artinya? Maha Pengasih, seseorang yang penuh cinta, seseorang yang sangat peduli. Sebenarnya keduanya, yaitu seseorang yang selalu penuh cinta dan sangat peduli.

Ar-rahiim,” apa fungsinya kata “Ar-rahiim,” di situ? Saya paham kenapa ada kata, “Al-‘aziis,” di sini. Tapi untuk apa ada kata, “Ar-rahiim,” di sini?

Kepada siapa pesan ini disampaikan? Kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Kenapa kepada beliau? Kenapa bukan kepada orang lain? Quran itu sendiri yang akan memberitahu kita. “Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil ‘aalamiina.” (QS Al Anbiyaa)

Dan tidaklah kami utus engkau kecuali sebagai rahmat. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah manusia yang paling ramah yang pernah ada. Jadi Quran yang isinya penuh dengan wewenang, harus disampaikan lewat lidah seorang manusia yang paling baik yang pernah ada.

Dan itu sendiri adalah bentuk rahmat Allah. Rahmat Allah kepada manusia adalah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Jadi di satu sisi Quran itu adalah bentuk dari “‘Aziis” dan Rasul adalah bentuk dari “Rahiim“.

Rasulullah bukan seorang yang otoriter. Siapa dia? Dia orang yang sangat santun. Quran’lah yang penuh dengan wewenang. Dan kedua hal itu tergabung bersama-sama, seorang Rasul dan pesan yang dibawanya. Mereka datang bersamaan. Satu hal yang telah saya sebutkan tentang ayat ini. Yang saya pikir harus saya sebutkan sekarang sebelum kita lanjut.

Karena ini adalah bagian akhir dari topik ini. Kita masih di bagian pertama dari surah ini. Ada berapa bagian tadi saya bilang sebelumnya? Saya tidak tahu… Baiklah, ada enam bagian. Dan kita masih di bagian pertama. Ada satu hal yang harus saya katakan, yaitu ada dua hal.

Yaitu ketika Allah memberikan petunjuk, ada dua bagian. Yaitu petunjuk/pesan itu sendiri dan pembawa pesannya. Ada pesan dan ada pembawa pesannya. Sekarang, ketika Allah berfirman, “Wal qur aanil hakiim.”

Innaka laminal mursaliin.” Allah menjelaskan tentang pesannya. Pesan ini sangat sempurna untuk sebuah buatan manusia. Itu sudah dilakukan. Bagian isi pesannya sudah disampaikan. Tapi itu baru setengah dari cerita. Kau tidak bisa hanya punya pesan saja, apa lagi yang kau butuhkan?

Orang yang membawa pesannya. Jadi, pesannya sudah sempurna. Jadi bagaimana dengan pembawa pesannya? Kalau begitu, izinkan saya beritahu kalian tentang siapa pembawa pesannya. Dia adalah seorang yang “‘Alaa shirootin mustaqiim.” Dia adalah orang yang berkomitmen untuk berada di jalan yang lurus.

Dengan kata lain, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam harus menunjukkan karakter terbaik. Agar petunjuk ini bisa diberikan. Petunjuk tidak bisa datang hanya dari sebuah pesan saja. Sesuatu baru bisa menjadi petunjuk kalau isi pesan dan orang yang membawa pesannya adalah sesuatu yang ideal.

(Quran ini) Pesannya adalah pesan yang terbaik dan sekarang pembawa pesannya juga adalah yang terbaik. Saya akan berikan contoh dunia nyata agar kalian bisa memahami ini.

Seorang politikus bisa saja membuat sebuah pidato yang luar biasa. Tapi kalau mereka punya catatan masa lalu yang buruk. Kalau misalnya orang-orang sudah tahu bahwa dia pernah korupsi sebelumnya. Apakah pidatonya yang luar biasa itu punya makna? Tidak. Mereka tidak bermakna sama sekali. Karena perbuatan mereka, itu jauh lebih bermakna dari kata-kata mereka. Jadi apa pun yang akan mereka katakan, tidak lagi berarti.

Kau tahu, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sepanjang hidupnya punya kredibilitas yang baik. Jadi itu sendiripun adalah bagian dari petunjuk. Kalau Rasulullah tidak punya kredibilitas, maka pesan yang dibawanya juga tidak akan punya kredibilitas. Walaupun itu berasal dari Allah. Sekarang, mari kita lanjutkan. Kita masih berbicara tentang Rasulullah.

Ayat Keenam – Litundziro Qowmam Maa Undziro Aabaa Uhum Fahum Ghoofiluun

Allah berfirman. “Litundziro qowmam maa undziro aabaa uhum.” Kenapa kepada mereka wahyu diberikan oleh Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih. Kenapa dikirimkan kepadamu (shalallahu alaihi wassalam), yaitu agar kau bisa memberi peringatan.

Kepada suatu kaum yang para pendahulunya tidak pernah mendapatkan peringatan. Dan karena itu mereka menjadi orang tidak tahu apa-apa. Saya akan menerjemahkannya sekali lagi. “Litundziro qowmam maa undziro aabaa uhum fahum ghoofiluun.”

Agar engkau dapat memberi peringatan kepada suatu kaum yang para pendahulunya tidak pernah mendapat peringatan. Sehingga mereka tidak mengerti apa-apa, mereka benar-benar tidak memperhatikan. Sama sekali tidak menyadari apa pun. Itu sebabnya kau diberikan wahyu ini.

Okay, di dalam ayat ini, hal pertama yang perlu kita catat adalah jika kau sudah dikirimkan untuk memberi peringatan. Coba sejenak kita pikirkan tentang peringatan apa pun diluar konteks agama. Kapan kita mendapatkan peringatan?

Misalnya ketika ada badai yang datang, kita semua tahu itu. Ada badai yang datang, kemudian orang di radio memberitahumu. Televisi juga memberikanmu peringatan dan sebagainya, ‘ya? Sebuah peringatan haruslah datang dari sumber yang memang berwenang dan dapat dipercaya, iya atau tidak?

Dia harus datang dari sumber yang memang punya wewenang untuk itu dan sumber yang bisa kau percaya. Apakah kalian sudah pernah mengenal suatu kata yang mencakup keduanya? “‘Aziis,” kalau memang kau sudah dikirimkan untuk memberi peringatan.

Kau haruslah dikirimkan oleh seseorang yang memang punya kuasa untuk memberi peringatan. Ataupun mengirimkan peringatan dan itu disebut “Al-‘aziis.” Kalian mengerti? Jadi ini pun berkaitan dengan kata sebelumnya. beginilah alur ceritanya (dari surah ini, red.).

Hal kedua yang perlu dicatat disini, kita saat ini ada di ruangan ini. Bayangkan tidak ada koneksi internet, tidak ada sinyal HP dan sebagainya. Jadi kau tidak bisa menggunakan Facebook seperti seseorang yang ada di sana. Kau tidak bisa melakukannya di sini, oke?

Jika misalnya ada sesuatu yang terjadi di luar sana. Jika misalnya ada sesuatu yang terjadi di luar sana. Jika ada sebuah berita besar yang terjadi di sana, apakah kalian akan tahu? Kalian tidak akan tahu. Kalian tidak bisa diberi peringatan kecuali peringatan itu datang dari orang lain.

Apakah ini jelas? Kalau kau berada di basementmu, – tapi kita tidak punya basement di Texas – Jika kau sedang duduk di ruang keluarga, sedang bermain video game dan kau tidak tahu apa yang terjadi di luar. Kau tidak akan bisa diberi peringatan apa pun kecuali jika ada orang dari luar yang masuk ke ruanganmu.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam hidup antara mereka (Quraisy, red.), iya atau tidak? Ya, Rasulullah hidup di antara mereka. Dan sekarang beliau harus memberikan mereka peringatan. Tapi sebagaimana tadi sudah dijelaskan, peringatan haruslah datang dari… luar. Jadi pasti mereka akan bertanya, dari mana datangnya peringatan ini? Aah… peringatannya datang dari langit.

Ini sudah disebutkan, dimana? “Tanziilal ‘aziizir rahiim.” Itu sebabnya ini disebut peringatan. Bagaimana mungkin kau bisa memberi peringatan? Jika kau berada di satu ruangan yang sama, duduk di tempat yang sama. Ngomong-ngomong kau tidak bisa melakukannya. Dari mana kau dapat berita ini? Kau bahkan tidak punya handphone.

Dan hal yang kedua atau mungkin lebih tepatnya yang ketiga. Kenapa kau memperingati seseorang?

Hei, jangan lewat jalan ini.”

Hei, jangan keluar rumah.”

Hei, jangan lakukan ini.”

Kenapa kau mengingatkan seseorang? Ya, salah satu alasan utama kenapa kita harus mengingatkan orang lain adalah kau khawatir dengan mereka. Kau peduli dengan mereka, kau mencintai mereka, kau tidak ingin ada bahaya yang menimpa mereka. Dan sebenarnya itu adalah salah satu nama dari Allah yaitu “Ar-rahiim.”

Seseorang yang peduli denganmu dan ingin mengampunimu, ingin menjauhkan bahaya darimu. Alasan kenapa kau dikirimkan, alasan kenapa Rasulullah dikirimkan untuk memberi peringatan. Adalah karena peringatan itu sendiri adalah bentuk dari kasih sayang Allah.

Kau tahu, ada sebagian orang yang mengeluh, “Kenapa Quran berbicara tentang Neraka?” Saya bisa katakan karena kita tidak benar-benar paham masalah ini. Kalau ada orang yang mengingatkanmu tentang sebuah badai atau banjir.

Kenapa kau cerita tentang banjir. Banjir itu mengerikan.”

Aku jadi badmood karena kau cerita tentang banjir. Jangan pernah berbicara denganku lagi. Aku tidak suka berbicara denganmu.”

Kau bisa mati (karenanya).”

Entah kau suka atau tidak, tapi itu terjadi. Kenapa kau tidak bisa menghargai sebuah upaya dari seseorang yang sudah memperingatkanmu sebagai bentuk cintanya?

Kenapa dia harus memberitahuku?” Kenapa dia tidak berkata, “Sesuatu yang buruk akan terjadi ‘loh.”

Kalau misalnya ada tsunami yang datang dan kau berkata, “Sesuatu yang buruk akan terjadi ‘loh.”

Apakah kau akan serius menghadapinya? Itu memang harus disampaikan dengan tegas. Dan itu adalah bagian dari bentuk cinta Allah.

Litundziro qawman,” sekarang, saya benar-benar suka ayat ini, Ya Allah. Kalian masih ingat, ketika kita memulai surah ini, ada ayat “Wal qur aanil hakiim?

Dan demi Quran yang penuh dengan hikmah. Demi Quran yang terjalin dengan sempurna. Demi Quran yang penuh dengan keputusan. Di situ dikatakan “The” bukan “A”, itu bentuk “The” (menunjuk kepada sesuatu yang spesifik, red.).

Seolah-olah Quran itu sudah dikenali oleh seluruh jazirah Arab waktu itu. Orang Quraisy sudah sangat kenal dengan Quran. Mereka sudah sangat sering mendengarnya. Jadi ketika kau katakan “The” mereka akan langsung tahu itu apa (Quran, red.).

Mereka tidak memikirkan bacaan yang itu, mereka memikirkan bacaan yang itu (Quran, red.). Mereka semua sudah tahu dan kepada kaum apa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dikirimkan? Beliau dikirimkan kepada orang Quraisy.

Tapi kaum Quraisy, kita semua tahu mereka sangat terkenal. Mereka sangat terkenal dimana-mana. Tapi lihat bagaimana Allah berbicara tentang mereka di ayat ini. Allah menghina mereka dengan kekuasaan yang dimilikiNya.

Dia berfirman, “Kau diutus kepada sebuah kaum.” Allah tidak berkata, “Kaum yang itu.” (spesifik, red.) Dia berkata, “Sebuah kaum,” “Qawman.”

Orang Quraisy itu kaum yang membanggakan dirinya atau tidak? Itu saja sudah penghinaan bagi mereka untuk dipanggil seperti itu. Bagi mereka itu adalah perang kepada mereka. Bahwa Allah hanya menyebutkan mereka sebagai “Qawman.”

Dan lihat bagaimana Allah mendeskripsikan mereka, “Perhatikan bagaimana mereka begitu bangga dengan nenek moyang mereka.” Mereka biasa menyebutkan, “Bani ‘Amir, Bani Hisyam,” mereka sangat bangga dengan keturunan mereka.

Dan Allah hanya menyebutkan, “Suatu kaum, biar Aku beritahu sesuatu tentang mereka dan nenek moyang mereka…

Mereka tidak tahu apa-apa.” “Maa undziro aabaa uhum.”

Nenek moyang mereka pun tidak tahu apa-apa. Kalian pikir kalian sangat hebat? Kalian tidak tahu apa-apa. Kalian sangat tidak berarti. Allah berkata tentang mereka, “Maa undziro aabaa uhum.”

Kau hanya datang untuk memberi peringatan kepada sebuah kaum yang bahkan pendahulu mereka tidak pernah mendapatkan wahyu.

Maa undziro aabaa uhum.” Tidak heran kalau mereka, “Fahum ghoofiluun.” Mereka benar-benar tidak tahu apa-apa. Mereka benar-benar tidak mengerti apa-apa. Sekarang mari kita bicara tentang apa yang tidak pernah mereka pedulikan? Saya ingin kalian mengapresiasinya.

Kalian pasti tahu tentang daerah Hijaz, tempat dimana Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berasal. Apakah ada negara lain yang lebih hebat dari mereka? Wilayah lain, negara lain yang ada di samping mereka? Apakah ada kerajaan lain atau suatu penduduk lain dalam jumlah besar di waktu itu?

Ya, tentu saja. Ada kerajaan Habysah, ada kerajaan Persia, yang merupakan sebuah kerajaan besar dan salah satu kerajaan tertua. Juga ada kerajaan Romawi, benar? Ada masyarakat lain yang jauh lebih besar, lebih teratur, dan lebih tertata dari mereka. Seberapa hebat masyarakat Arab, saat itu?

Maksud saya, berapa banyak sekolah yang mereka miliki? Berapa banyak buku tentang filosofi atau semacamnya yang mereka punya? Atau seberapa besar pengaruh politis yang mereka punya ataupun patung-patung atau monumen atau bangunan atau jalan besar atau colossium yang mereka punya?

Atau mungkin istana? Tidak ada. Mereka tidak punya apa-apa. Allah sedang berkata kepada kaum Quraisy, kalian sangat bangga terhadap diri kalian. Kalian tidak pernah menyadari, ada negara lain yang jauh lebih besar daripada kalian. Memang kalian pikir kalian siapa?

Kenapa kalian sangat bangga dengan diri kalian sendiri? Kalian tidak ada apa-apanya, dibandingkan negara lain di dunia, kalian sangat tidak signifikan. Orang-orang bahkan tidak ingin menjajah kalian. Karena orang belum tahu tentang minyak bumi. Mereka menelantarkanmu, apakah kau ingat?

Orang Romawi tidak menginginkan kalian, orang Persia juga tidak menginginkan kalian. Untuk apa mereka mengirimkan tentara ke sana untuk pesta barbeque? Daging unta juga tidak terlalu enak.

Mereka semua membiarkannya. Mereka sudah menelantarkan kalian selama beribu-ribu tahun. Setiap pemerintahan, pasti ingin memperluas kekuasaannya, iya atau tidak? Lalu pertanyaannya kenapa mereka tidak memperluas kekuasaannya? Karena mereka memang tidak berharga.

Karena mereka tidak bernilai apa-apa, jadi mereka membiarkannya. Dan kalian berpikir kalian sehebat itu? Kau tahu mental semacam ini juga terjadi pada manusia sekarang ini. Ketika mereka tinggal di sebuah desa atau analoginya mereka tinggal di sebuah gelembung.

Mereka sangat bangga dengan diri mereka sendiri. Dan mereka berpikir mereka sangat hebat. Tidak sadar bahwa tidak seorangpun peduli dengan mereka di luar sana. Ini pun bisa terjadi dalam kepengurusan sebuah masjid. Tidak ada yang peduli kalau pun misalnya kau berkata, “Aku adalah Presiden dari ….” Tidak ada yang peduli. sungguh, tidak seorangpun yang akan peduli.

Apakah ini terjadi atau tidak? Kau tahu, seorang temanku menunjukkan sebuah video tentang seorang lelaki dari sebuah kasta yang tidak tersentuh di India. Agamanya Hindu, dulunya dia beragama Hindu. Tapi kemudian dia meninggalkan agamanya. Dan dia menjelek-jelekkan agama Hindu di YouTube. Tapi saya tidak hadir di sini untuk menjelekkan agama Hindu.

Tapi intinya adalah agama Hindu itu diciptakan untuk membuat perbedaan kasta di masyarakat. Dan dia berada di level paling bawah yang tidak tersentuh, lalu dia pindah dan tinggal di California Utara. Dan punya sebuah usaha konsultan pajak dan berpenghasilan milyaran dolar dan sangat sukses dalam karirnya.

Dan dia berkata, ketika dia kembali ke desanya dan kalau saya duduk di dalam bus saat ini, mereka tetap tidak mau duduk di samping saya. Saya punya penghasilan lebih besar dibandingkan penghasilan seluruh desa dan mereka tetap tidak mau duduk di samping saya. Bahkan sayapun punya pendidikan lebih tinggi dibandingkan seluruh desa dan mereka tetap tidak mau duduk di samping saya. Karena dalam dunia kecil mereka, mereka berada di atas. Tapi hanya di dalam dunia kecil mereka yang tidak signifikan.

Dan seperti itu pula orang Quraisy. Mereka berkhayal tentang kekuasaan mereka. Ini juga bisa terjadi pada ibu mertua dan ini juga bisa terjadi kepada seorang suami. Ini bisa terjadi… Ini juga bisa terjadi pada orang tua. Ini juga bisa terjadi pada anak sulung. Ini bisa terjadi pada siapapun yang punya sedikit saja kekuasaan.

Dan kalian tahu kekuasaan itu seperti narkoba dan mereka pikir mereka sangat berkuasa. Tidak ada seorangpun yang bisa menyentuh mereka. Ini adalah sebuah studi kasus nyata yang Allah berikan kepada orang Quraisy.

Kalian sangat bangga dengan nenek moyang kalian? Padahal mereka juga tidak tahu apa-apa. “Fahum ghoofiluun.” Dan itupun masih tidak cukup, bahwa dunia tetap berjalan dan kalian masih di tempat yang sama selama berabad-abad. Dunia sudah semakin maju sedangkan kalian masih seperti itu.

Dan di atas itu semua, kalian bahkan tidak sadar tentang ketidakpedulian kalian sendiri. Kalian tidak tahu apa-apa. Kalian tidak tahu apa-apa. Kalian orang yang tidak mengenyam pendidikan. Padahal kalian dapat pendidikan yang paling sempurna yang datangnya dari Allah. Dan kalian tidak menyadarinya.

Ngomong-ngomong ketika ada suatu komunitas yang tidak punya pendidikan untuk waktu yang lama. Mereka jadi tidak menghargai pendidikan itu sendiri. Mereka tidak lagi memandang pendidikan itu penting. Dan bahkan mereka memandang rendah orang yang punya pendidikan dan mereka mulai takut dengan pendidikan.

Karena kau tahu ketika seorang mendapatkan pendidikan, mereka jadi berubah. Jadi mereka lebih suka untuk tetap bodoh dan mengabaikan pendidikan. Kau tahu, saya menyoroti hal ini karena ini bukan hanya jadi masalah bagi kaum Quraisy. Tapi juga umat muslim secara keseluruhan.

Saya pikir kita tidak perlu berbicara tentang orang lain, kita harus bicara tentang kita sendiri. Kita adalah bagian dari umat muslim. Kita adalah bagian dari sekumpulan besar umat muslim. Dan bahkan diri kita sendiri, ada banyak hal yang kita tidak tahu. Tapi kita lebih suka untuk tetap seperti itu. Karena kita tidak nyaman untuk mengetahui hal baru karena itu akan merubah kita. Itu tidak membuat kita nyaman dan apa lagi yang mereka tidak pedulikan?

Fakta bahwa Allah menjadikan manusia terbaik yang pernah ada dan perkataan terhebat yang pernah ada. Datang untuk mengingatkan mereka. Disiapkan khusus untuk mereka Quraisy. Kita harus mempelajari tentang kaum Quraisy untuk bisa memahami Quran.

Kitab ini memang untuk seluruh umat manusia, tapi baru bisa benar-benar dimengerti. Jika kita memahami kepada siapa kitab ini diturunkan, ya? Allah menjadikan mereka kaum yang paling penting untuk dipelajari bagi umat muslim. Dibelahan dunia mana pun, menggunakan bahasa apa pun dan dalam kebudayaan apa pun.

Bahkan hingga hari kiamat dan mereka (Quraisy, red.) tetap tidak menyadari bahwa mereka sedang bersama seseorang yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Mereka benar-benar tidak menyadari, siapa yang mereka tolak. Mereka tidak bisa menghargai apa yang baru saja mereka terima.

Kalau saja mereka tahu, andai saja mereka bisa melihat ke masa depan. Entah 100 tahun ke depan atau 200 tahun ke depan, jika saja mereka tahu apa yang telah Quran ini lakukan kepada dunia.

Apa yang telah Quran lakukan untuk dunia, apa yang telah Islam lakukan untuk dunia. Apa yang mereka lakukan di Andalusia, Dubai, Irak, India dan di seluruh dunia. Mereka sama sekali tidak sadar dan mereka hanya berkata, “Aahhh, kami tidak peduli.” Sama sekali tidak mengerti.

Dan hal terakhir yang akan saya sorot tentang seberapa tak acuhnya mereka. Adalah tentang, ini bisa jadi contoh ketidakpedulian kita juga, kadang-kadang kita tidak tahu dengan siapa kita bicara.

Ini terjadi kan? Kita tidak tahu dengan siapa kita bicara. Kan kau bertindak cukup bodoh. Tidak sadar bahwa kau sedang berbicara dengan orang yang sangat penting. Ini pernah terjadi suatu ketika.

Ketika ada seorang syekh yang bercerita kepada saya. Dia punya istri yang pekerjaannya adalah seorang guru. Dan mengajar pendidikan Islam. Cukup terkenal, tapi saya tidak akan menyebutkan namanya. Jadi dia sedang pergi haji dan salah seorang di kelompoknya berbicara dengannya. Orang itu tidak tahu siapa syekh ini. Dan dia berkata, “Kau tahu, wanita ini, dia mengajar, padahal dia itu seorang mata-mata Israel.”

Dan orang itu berkata selama 20 menit tentang bagaimana orang Yahudi memberi dana kepada wanita itu. Untuk merusak umat muslim. Dan dia mengatakan itu kepada suaminya. Kadang-kadang kau berbicara dengan seseorang dan kau tidak tahu siapa yang kau ajak bicara. Apakah itu terjadi? Ya, tentu saja.

Ketika mereka menolak atau menghina atau bahkan menentang pesan dari Quran. Apakah mereka hanya menolak Rasulullah? Ini adalah sebuah kejahatan besar kepada pihak yang berwenang, “Al-‘aziis.” Dan kau tahu, semakin tinggi kekuasaan seseorang, semakin kita ingin berjaga-jaga darinya. Kalian pasti akan jadi orang yang bertaqwa ketika kalian melihat polisi di jalanan.

Kalian duduk lebih seperti manusia, kalian tidak mungkin duduk seperti “pindu” di ruang sidang, karena “Sang Hakim Judy” sedang melihatmu. Kau akan duduk dengan sopan santun, karena kau sedang dalam posisi dimana kau harus menunjukkan rasa hormat.

Ada tata krama, ketika kita sedang berada dihadapan seseorang yang berkuasa dan dihormati, ada tata krama yang perlu diperhatikan. Mereka sedang berhadapan dengan perkataan dari “Al-‘aziis“.

Dan mereka benar tidak mengerti sedang berhadapan dengan siapa. Mereka sama sekali tidak sadar hukuman apa yang sedang menanti mereka. Dan konsekuensi apa yang harus mereka tanggung atas perbuatan mereka. Jadi inilah makna dari “Fahum ghoofiluun.”

Follow NAK Indonesia:

https://nakindonesia.wordpress.com
http://nakindonesia.tumblr.com
https://twitter.com/NoumanAliKhanID
https://instagram.com/nakindonesia
https://www.facebook.com/NoumanAliKhanIndonesia
https://www.youtube.com/NAKIndonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s