[Transcript Indonesia] Diperlukan Kebijaksanaan Dalam Berdakwah – Nouman Ali Khan – Gulf Tour 2015


Ustadz Nouman Ali Khan memberikan kajian “In Need of Wisdom” di Dubai, Uni Emirat Arab pada 12 Februari 2015. Ayat yang dibahas adalah surat An Nahl ayat 125. Ustadz Nouman Ali Khan menekankan pentingnya menyampaikan ajaran Islam dengan bijak. Berdakwah dengan bijak.

In Need of Wisdom Part 1

Video: In Need of Wisdom – Nouman Ali Khan – Gulf Tour 2015
Menit : 00:00:00 – 00:12:25

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washolatu wassallamu’ ala ‘ashrofil anbiya-i wal Mursalin, wa’ala aaliihi wa shahbih wamanistanna bi sunnatihi ila yaumiddin.

Allahummaj’alna minhum wa minalladzina aamaanu wa ‘amilushalihati wa tawashau bil haqq wa tawashau bish shabr. Aamiin Ya Rabbal ‘alamiin.

Sungguh luar biasa bisa berada di sini. Maa syaa Allah. Saya benar-benar senang berada di sini. Dan saya sangat berterima kasih kepada kalian semua yang hadir pada malam ini. Dan saya khususnya bersyukur dengan hadirnya penonton dari kalangan ibu-ibu, jika boleh saya ingin meminta tepuk tangan untuk para ibu-ibu yang hadir di sini. Yang membawa anak-anaknya, yang harus mereka urus. Karena jelas bapak-bapak yang ada di sini tidak melakukan apa-apa.

Jadi, saya bahkan bersyukur atas ibu-ibu yang membawa anak-anak kecil bersamanya. Seperti salah satu anak itu yang menggandeng tangan saya. Dan kemudian mencoba berlari dengan menarik jari saya. Dia tak mau melepasnya selama sekitar 10 menit. Tapi kalian tahu, saya tetap bersyukur, Alhamdulillah.

Karena saya tahu betapa sulitnya terutama bagi ibu-ibu untuk ambil bagian dalam acara-acara seperti ini. Tidak mudah untuk keluar larut malam, yang berarti malam ini akan menjadi malam yang sulit. Bayi-bayi akan sangat rewel pada saat pulang, dan akan menjadi sangat sulit untuk menidurkan mereka. Dan semua ini karena kalian ingin mendengar sesuatu tentang Quran. Ini bukan karena kalian ingin melihat saya, saya tahu itu. Apa yang membawa kalian, apa yang menumbuhkan cinta di antara kita dan menempatkan cinta dalam hati kita sebenarnya adalah firman Allah subhanahu wata’ala. Quran memiliki kekuatan untuk melakukan itu.

Saya merasakan cinta itu, (dari) orang-orang yang saya temui, yang belum pernah saya temui sebelumnya dalam hidup saya. Dan saya bisa melihat ada kecintaan di mata mereka. Dan saya bisa melihat doa tulus dari mata mereka untuk saya dan keluarga saya hanya karena satu hal. Karena saya mencoba untuk melakukan apa pun yang saya bisa, sekecil apa pun yang bisa saya lakukan, untuk memahami kitab Allah dan berbagi sesuatu tentang kitab Allah. Ini yang bisa saya lakukan, saya tidak melakukan sesuatu yang luar biasa. Tapi kitab inilah yang sangat luar biasa, ketika ada yang mencoba berjuang untuk kitab ini dan benar-benar ingin berbagi pesan darinya untuk diri sendiri dan orang lain, maka Allah ‘azza wajalla memberi mereka hadiah ini. Hadiah terbesar yang bisa saya dapatkan, dan hadiah terbesar yang bisa kalian dapatkan, adalah do’a dari orang lain. Ketika orang-orang berdo’a untukmu, tidak ada hal lain yang lebih berharga dari itu dalam hidupmu.

Sekarang, saya akan mulai dengan sebuah cerita malam ini. Ini adalah materi yang sulit. Saya akan mulai dengan cerita dan cerita ini sebenarnya tentang diri saya. Dan beberapa pendapat yang dulunya saya gunakan tentang Quran.

Saya lahir dalam keluarga muslim, banyak di antara kalian yang tahu ceritanya. Saya lahir dalam keluarga muslim tapi (dari) keluarga muslim Pakistan kebanyakan. Yang pada dasarnya berarti kami tidak terlalu serius menjalankan agama. Saya tidak pernah belajar bahasa Arab, saya tidak pernah belajar tajwid, saya tidak pernah menyukai menghafal Quran dengan serius atau hal seperti itu.. Kami belajar ala kadarnya, kami belajar beberapa surah Al-Quran ketika anak-anak. Masa-masa sekolah saya salah satunya di Arab Saudi. Saya lahir di Jerman, sehingga masa sekolah TK berbahasa Jerman. Saya tidak berbicara bahasa lain kecuali bahasa Jerman, yang terdengar aneh karena sekarang saya tidak lagi berbicara bahasa Jerman.

Tapi kemudian, saya belajar bahasa Urdu. Dari kelas dua hingga delapan saya sekolah di Saudi, tapi saya masuk ke sekolah Pakistan, yang mengagumkan! Jadi saya banyak belajar bahasa Urdu, benar? Dan saat SMA saya pindah ke Amerika Serikat. Tapi pada saat saya berada di Amerika Serikat, saya pada dasarnya tidak punya alasan untuk menjalankan agama ini dengan serius. Dan sebagai seorang remaja yang tinggal di Queens, tak seorang pun di sekitar saya, dari semua teman saya, mungkin ada satu orang Muslim. Dan saya tahu dia Muslim karena namanya Aathif, bukan karena hal lain. Seperti, kau tidak berperilaku sebagai Muslim di SMA, terutama di kota New York. Kau hanya tidak mau melakukannya, kalian tahu.

Dan di usia itu, saya merenungkan kembali dan semasa saya masih di kampus. Dan saya berpikir tentang, “Apa yang biasa saya pikirkan tentang Islam pada waktu itu?” Dan jawaban pertama yang muncul di kepala adalah saya sama sekali tidak berpikir tentang Islam pada waktu itu. Saya tidak berpikir banyak tentang hal itu. Tapi kalau pun saya memikirkannya, ada tiga hal yang saya pikirkan. Saya akan mulai dengan tiga hal ini dan saya harap kalian mengingat tiga hal ini. .

Hal pertama yang biasa saya pikirkan adalah bahwa Islam itu tidak relevan. Ia tidak memiliki solusi untuk masalah yang saya miliki sekarang. Setiap kali saya mendengar khutbah, setiap kali saya mendengar ceramah, mereka berbicara tentang sesuatu yang menakjubkan yang terjadi di masa lalu. Dan mereka tidak pernah memberitahumu, sesuatu yang baik terjadi, kapan? Sekarang. Hanya hal-hal buruk yang terjadi sekarang. Dan semua hal baik terjadi di masa lalu. (Tertawa) Dan jadi mereka terus mengatakan saya ini.Kehidupan pada masa Rasulullah itu sangat baik! Masa para sahabat sungguh mengagumkan! Kita dulu begitu menakjubkan, tapi sekarang, kita hanyalah sekelompok orang munafik. Dan kita semua akan disiksa di neraka dan kaliantahu, kita semua berdosa. Jadi apa kalian tahu? Saya menerimanya. Kalian tahu apa yang saya pikirkan waktu itu? Baiklah! Masa kejayaan sudah berakhir, kini adalah masa keterpurukan. Karena itulah, saya pikir agama ini tidak menawarkan solusi apa pun untuk saya, kapan? Sekarang.

Dan faktanya, setiap kali orang bicara tentang Islam, mereka akan memberitahu saya bagaimana. Dan ngomong-ngomong, ini tidak datang dari seseorang yang ingin belajar agama. Saya akan pergi sholat Jum’at karena ayah akan menyeret saya untuk pergi sholat Jum’at. Saya tidak ingin pergi sholat Jum’at. Dia akan menyeret saya ke sana dan saya duduk sambil berpikir, “Kapan khutbahnya selesai?” Beberapa masa tidur terbaik saya adalah selama sholat Jum’at. Kalian tahu, satu-satunya yang membangunkan saya adalah “Aqimishalat,” itulah satu-satunya hal yang membangunkan saya. Tapi sebelum saya tertidur, beberapa hal akan saya dengar, saya akan mendengar tentang bagaimana hal-hal yang terjadi sekarang, sebagian besarnya adalah haram. Dan sebagian besar hidupmu, kalian hanya dalam ketidaktaatan kepada Allah. Dan satu-satunya cara agar dapat selamat adalah kalian harus mencoba hidup sebagaimana orang ribuan tahun lalu. Kalian harus menjadi orang yang kuno. Kalian tidak bisa menjadi orang modern.

Jadi saya mengembangkan pemikiran di kepala, bahwa agama ini adalah untuk orang yang ingin berpura-pura bahwa mereka hidup pada era lebih dari seribu tahun yang lalu. Ini bukan untuk orang-orang yang hidup di tahun 2015, atau pada waktu itu tahun 1997. Ini bukan untuk mereka. Itu adalah pendapat pertama yang saya miliki bahwa agama ini tidak relevan. Sudah kuno, kadaluarsa.

Pendapat yang kedua, ngomong-ngomong, ini adalah sikap seorang muslim atau non muslim? Ini sebenarnya sikap seorang muslim dan saya tidak sendirian. Saya tidak sendirian dan saya juga tidak sendirian. Jutaan Muslim pernah berpikir seperti ini dan mereka masih berpikir seperti ini.

Dan sikap kedua adalah bahwa agama ini keras. Ini agama yang keras. Kemungkinan kalian berbuat sesuatu yang salah. Dan kemungkinan kalian akan masuk neraka. Sebenarnya, kemungkinan kalian akan masuk neraka adalah 99,9999999999% dan “mungkin” kalian bisa masuk surga. Sebagian besar, apa yang saya dengar adalah saya dalam masalah dan Allah marah pada saya. Itulah yang sering saya dengar. Setiap kali saya melakukan sesuatu, pasti ada yang salah dengan itu menurut Islam. Selalu ada yang salah dengan itu.

Dan sebenarnya, pada waktu itu saya sangat takut dengan orang yang berjenggot. Karena orang-orang berjenggot yang saya kenal, mereka tidak pernah tersenyum. Mereka melihatmu seperti (bermuka seram), “Oooh .. Ya Tuhan! Orang ini!” (ketakutan) Semakin Islami dirimu, semakin marah kau pada dunia. Kalian tahu, jadi saya dulu takut dengan orang-orang ini. “Sungguh, saya takut!” Dan faktanya, bahkan ketika saya masih kuliah, saya duduk di sana dan saya sedang makan pizza di New York City, duduk di restoran pizza. Dan seorang pria berjenggot berjalan. “Ayolah! Saya sedang menikmati pizza dan orang ini merusak makan siang saya! Dia mungkin akan menceramahi saya tentang bagaimana saya akan masuk neraka lagi.” Kalian tahu, saya dulu benar-benar takut pada orang-orang ini. Benar-benar takut pada mereka.

Ini adalah pendapat kedua yang saya pikirkan. Yang pertama bahwa agama itu tidak relevan dan yang kedua bahwa agama itu keras. Bahwa orang-orang yang mengikuti agama ini, mereka sangat kasar, mereka bukan orang-orang baik. Dan mereka menghakimimu. Dan mereka akan memberitahumu bahwa kau orang yang buruk. Dan mereka lebih baik daripadamu. Itu yang kedua.

Dan opini ketiga yang saya miliki adalah, kalian tahu mengapa? Mungkin saya hanya perlu mencoba, mungkin saya tidak seharusnya menilai buku dari sampulnya. Mungkin saya seharusnya tidak menilai Islam karena umat Islamnya sendiri. Mungkin saya tidak harus mendengarkan apa yang khatib katakan atau apa yang orang ini lakukan dan bagaimana mereka berperilaku. Saya harus mencoba mencari tahu tentang agama ini sendiri. Jadi saya akan membaca Quran sendiri. Dan saya akan mencari tahu sendiri tentang agama ini. Karena saya tidak percaya dengan orang-orang ini.Jadi saya akan membaca Quran sendiri. Apakah saat itu saya mengerti bahasa Arab? Tidak, jadi saya akan membaca terjemahannya.

Dan kemudian saya memutuskan untuk membaca terjemahannya dan apa yang saya temukan? Saya kebingungan. Saya kebingungan karena beberapa ayat di awal berbicara tentang sesuatu dan kemudian berbicara tentang sesuatu yang lain. Dan kemudian berbicara tentang sesuatu yang lain lagi dan sesuatu yang lain lagi dan sesuatu yang lain lagi.

Saya tidak pernah membaca buku seperti ini. Ketika saya membaca buku, saya akan mulai dengan bab satu dan itu masuk akal. Dan kemudian bab dua dibangun berdasarkan bab satu dan bab tiga berdasarkan bab satu dan dua dan selalu berurutan. Tapi Quran tidak tersusun seperti itu. Quran memiliki taqrar, memiliki pengulangan.

Allah akan mengatakan sesuatu di sini dan Dia akan mengatakan itu lagi dan Dia akan mengatakannya lagi dan Dia akan mengatakannya lagi. Jadi tampaknya saya tidak mengerti bagaimana buku ini disusun. Ini tidak masuk akal dan kemudian kadang-kadang saya membaca suatu hal dan itu benar-benar tidak masuk akal.

Alif Lam Mim. Dan saya berkata kepada diri saya sendiri, “Bagaimana saya bisa mengerti ini, saya tidak mengerti.” Jadi kalian tahu apa itu? Pendapat pertama adalah apa? Coba saya lihat apakah kalian masih hidup. Apa pendapat pertama yang saya miliki? Agama tidak relevan. Dan pendapat kedua? Ini adalah agama yang keras. Dan yang ketiga adalah kombinasi dari dua hal. (Quran itu) membingungkan. (Quran itu) membingungkan dan tidak mengesankan. Ini tidak mengesankan. Apa pentingnya? Saya membaca Quran, saya tidak mengerti. Mengapa kita begitu kagum dengan buku ini? Kalian tahu, bagaimana mungkin buku ini bisa mengesankan.

Sekarang jika kalian memiliki tiga pendapat ini, jika kalian memiliki tiga pendapat ini. Maka ini sudah lebih dari cukup bagimu untuk tidak menginginkan apa pun yang berhubungan dengan Islam. Lebih dari cukup. Dan untuk banyak orang yang saya temui di seluruh dunia, mereka juga punya tiga alasan yang sama persis. Tiga alasan yang sama persis.

Dan mereka berkata, “Well, saya tidak ingin apa pun yang berhubungan dengan agama, karena itu keras, karena itu tidak relevan. Apa yang bisa aku dapatkan dari kisah Nabi ini atau Nabi itu, itu terjadi di waktu lampau. Sekarang ini kita hidup di tahun 2015!

Satu orang bahkan berkata kepada saya, “Kalau Quran turun hari ini, pasti akan berbeda ceritanya. Quran pasti akan terkait dengan masa kita sekarang.” Jadi kalian tahu, kitab ini hanya terkait dengan waktu itu, dengan masa lalu. “Asaathiirul awwaliin (kisah-orang-terdahulu),” itu sudah cukup bagus. Tapi sekarang kita harus menjalani kehidupan kita. Kalian tahu, kita harus bergerak maju. Kita tidak bisa berpikir mundur. Jadi mereka berpikir tentang Islam itu seperti berpikir mundur.

Sekarang sebelum saya lanjutkan, saya akan berbicara untuk menjelaskan masalahnya. Saya hanya ingin menjelaskan masalahnya. Dan masalah pertama berada di kepala saya.

Dan kalian tahu, saya menyalahkan diri saya tapi saya juga menyalahkan umat ini. Kalian pasti tahu teknik pemasaran ‘kan? Jika kalian suka KitKat, karena saya suka KitKat. KitKat telah melakukan pekerjaan yang sangat baik untuk memasarkan produknya, benar? Jadi ketika kalian berpikir, bahkan jika kalian belum pernah makan KitKat, ketika kalian berpikir, “Beri saya istirahat, beri saya istirahat dengan sebatang coklat KitKat (Give me a break with a Kitkat bar).” Langsung terpikir olehmu. Mereka telah melakukan pekerjaan yang baik dalam memasarkan produknya.

Islam, Muslim, umat ini, bahkan belum melakukan pekerjaan yang baik dalam memasarkan Islam pada Muslim itu sendiri. Jika umat Islam sendiri, jika muslim sendiri, jika muslimah sendiri, memiliki pendapat negatif tentang Islam, itu berarti kita gagal dalam menyampaikan Islam. Itulah yang saya maksud. Ada sesuatu yang hilang! Ada sesuatu yang sangat salah!

In Need of Wisdom Part 2

Video: In Need of Wisdom – Nouman Ali Khan – Gulf Tour 2015
Minutes : 00:12:25 – 00:29:05

Sekarang mari lihat masalah ini lebih jauh. Allah Azza Wa Jalla…. Semua ini saya ingin bagikan dengan kalian sebelum saya lanjut ke bagian berikutnya. Semua ini terinspirasi oleh ayat dari surat An-Nahl. Yaqul (Allah *red) subhanahu wata’ala (berkata), “Ud’u ilaa sabiili rabbika bil hikmati, wal maw’izhotil hasanati, wa jaadilhum billatii hiya ahsanu.” (QS An Nahl ayat 125)

Allah berfirman, “Ajak orang, panggil, undang menuju Jalan Rabbmu, Jalan Tuhanmu.” Saya akan menjelaskan ayat ini hari ini. Ini akan menjadi ceramah yang lama. Saya sudah memberitahu kalian. Saya tidak akan berkata “Oh, saya hanya punya 5 menit tersisa.” Lupakan! Ini akan menjadi malam yang panjang. Hanya memberitahu saja. Oke? Sehingga tidak ada yang seperti menyiapkan mental, “Oh, ceramahnya dimulai jam sembilan, mungkin dia akan mempersingkatnya.” Saya tidak akan membuatnya singkat. Ini akan menjadi lama dan membosankan. (Mengangguk) Yeah.

Oke. Jadi sekarang, Allah berfirman, “Ajaklah menuju jalan Rabbmu dengan hikmah.” Dan ada yang tahu apa arti hikmah? Jawab dengan keras. Ini petunjuknya (sambil menunjuk latar belakang, kemudian tertawa) kebijaksanaan. Ya, sangat bagus. Hikmah berarti apa? Kebijaksanaan. Argumen saya hari ini adalah sering kali kita berbicara tentang Islam tanpa kebijaksanaan. Dan ketika kita tidak menggunakan kebijaksanaan, alih-alih menarik orang lebih dekat menuju Islam, apa yang kita lakukan? Mendorong mereka lebih jauh dari Islam. Dan cara kalian mengajak orang-orang dengan kebijaksanaan atau kalian mengajak orang secara bijak adalah dengan cara yang sama dengan cara kitab Allah mengajak orang-orang. Tapi kita, saya akan berargumentasi, tidak menggunakan metode yang teridentifikasi oleh kitab Allah. Kita punya metode sendiri dan metode ini sangat tidak berhasil. Sebenarnya bahkan tidak bijak, cara yang sangat tidak bijak untuk mengajak orang menuju Islam.

Jadi saya akan memberikan kalian daftar kecil tentang bagaimana kita membuat kesalahan itu, bukan daftar yang panjang. Ini adalah daftar kecil dan akan saya bacakan dengan cepat. Tapi sembari saya membacanya, saya ingin kalian berpikir tentang khutbah yang kalian pernah dengar, ceramah yang pernah kalian dengar, diskusi yang kalian lakukan di meja makan atau percakapan tentang Islam yang pernah kalian ikuti dalam kelas, pelajaran, apa pun yang kalian pernah pelajari dan lihat jika kalian mendengar sesuatu yang mengingatkan kalian tentang apa yang pernah kalian dengar.

Kalian tahu, jenis pertama cara yang tak bijak untuk mengajak orang-orang adalah kita berbicara tentang pembagian. Kita berbicara tentang kelompok ini lawan kelompok itu, syeikh ini lawan syeikh itu. Kalian tahu, mahzab ini lawan mahzab itu. Kau bilang ini, tapi syeikh itu berkata lain. Kau ingin, “berperang”?

Kalian tahu dan kemudian ada orang-orang yang bilang mereka berbicara tentang Islam. Tetapi satu-satunya hal yang mereka bicarakan adalah betapa salahnya orang lain. Mereka punya channel YouTube, halaman Facebook, blog. Orang-orang ini berusaha keras dalam mempelajari kesalahan orang lain. Carilah kehidupan bung.. Tapi bagaimanapun, itulah yang mereka lakukan. Mereka mempelajari dan mereka mengatakan, “Dalam video ini di menit ke-87.” Bung, kau mendengar selama 87 menit hanya untuk menunggu sebuah kesalahan? Itu luar biasa! Saya terkesan dengan tingkat konsentrasi yang kau miliki. “Saudara ini mengatakan ini dan astaghfirullah al adzim, ini adalah alasan kenapa saudara ini adalah fitnah dan dia mengajak orang-orang menuju api neraka. Dan da da da da. Dan ini adalah blog saya untuk menyelamatkan umat ini dari orang ini.”

Apakah hal ini terdengar akrab bagimu? Orang-orang akan mendapat manfaat dari seseorang, kalian mendapat manfaat… saya tidak perlu menyebut nama. Saya tidak peduli! Saya tidak peduli! Dan ini bahkan bukan tentang diri saya, karena sejujurnya saya tidak peduli. Saya benar-benar tidak peduli. Saya membaca beberapa komentar pada video YouTube kami hanya untuk hiburan, itulah yang saya lakukan.

Apakah kalian tahu, kalian akan mendapati seseorang yang akan berkata mungkin kau mendapatkan manfaat, kau mendapat manfaat dari seseorang. Mungkin kau mendapatkan manfaat dari Mufti Menk yang saya cintai, dia begitu keren! Kalian tahu terakhir kali saya berada di sini, kalian ingat konferensi Peace? Beberapa dari kalian hadir di sana. Saya jalan-jalan dengan Mufti Menk dan saya bilang ke Mufti Menk, sebelum saya memberitahu kalian ini. Saya ceritakan kisah lain.

Hal ini terjadi pada saya dua kali sekarang. Saya berada di Atlanta, Georgia, saya keluar menuju bandara.

Seorang wanita, wanita Senegal, memandangi saya dan berkata, “Hei, Mufti Menk!” (Penonton tertawa)

Dan saya berkata, “Tidak ..

Dia berkata, “Saya tahu kau Mufti Menk, kau berbohong, kau berbohong, saya sudah melihat videomu.”

Saya berkata “Mmm … tidak, saya bukan Mufti Menk.”

Dan dia berkata, “Tidak, tidak, kau berbohong, Wallahi Mufti Menk.”

Saya berkata, “Oke .. oke.” Saya mengeluarkan foto saya dan Mufti Menk. Saya berkata, “Itu Mufti Menk dan itu saya!

Oo .. kau mirip sekali dengan dia.”

Saya berkata “Ok, baiklah, baiklah.” (Tertawa)

Dan hal yang sama terjadi di Doha. Seorang saudara datang ke saya, “Mufti Menk, benar?

Dan saya berkata, “Mm .. ya.” (Tertawa)

Tapi favorit saya terjadi di Dubai Airport. “Saudara Nouman Menk?

Bagus juga. “Ya.” (Tertawa)

Jadi saya jalan-jalan dengan Mufti Menk. Dan saya berkata, “Kau tahu Mufti, kau tahu apa yang seharusnya kita lakukan, saya memakai thawb-mu dan kau memakai jas saya dan kemudian kita memberikan ceramah.” Dan kami akan melakukannya, tapi tidak ada waktu yang tersisa. Jadi lain kali, saya akan menyamar sebagai Mufti Menk dan dia akan menyamar sebagai saya. Bicara tentang kurangnya kebijaksanaan. Yeah, itulah yang akan kami lakukan.

Bagaimanapun .. kembali ke subjek. Seseorang angkat tanganmu jika kau mendapatkan manfaat dari Mufti Menk! Angkat tanganmu! Oh .. Inilah mengapa saya mencintai orang ini, semoga Allah melindungi orang ini dan keluarganya.

Seseorang yang berkata, “Ya, kau tahu, tapi dia punya kesalahan ini atau beberapa orang bilang bahwa ia menyimpang atau beberapa orang bilang bahwa dia bukan seorang ulama yang baik atau beberapa orang..” Pernahkah kalian mendengar percakapan ini? Arrghh .. Dari mana kau dapat istilah “beberapa orang” ini? Kita punya, ini bukan sunnah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam, ini adalah sunnah komunitas muslim saat ini. Siapa saja yang bermanfaat bagi orang-orang, kau harus menemukan sesuatu yang salah pada mereka. Dan biarkan saya menjaminmu, saya atau orang lain, siapa pun yang memegang mic, ada sesuatu yang salah dengan kami, karena kami manusia. Jadi jika kau akan mencari, mencari kesalahan, saya akan menjaminmu, kau akan menemukannya. Dijamin kau akan menemukan kesalahan. Karena kami manusia.

Dan jika kau, “Aha! Dia membuat kesalahan!” Yeah, dia adalah manusia. Kau tidak mendapatkan apa-apa. Tapi kalian tahu apa? Kita menyebut ini “Amr bin ma’ruf” dan “Nahi mungkar“. Ada apa denganmu? Ini bukan “Amr bil apa-apa“. Ini hanya tentang kau memiliki terlalu banyak waktu luang dan kau tidak tahu bagaimana melakukan sesuatu yang positif. Lakukan sesuatu yang baik! Alih-alih kau melakukan penelitian tentang kesalahan seseorang, kenapa kau tidak pergi membantu ibumu memasak? Kenapa kau tidak membersihkan rumahmu saja? Pernahkah kau mencium kaus kakimu? Cucilah kaus kakimu itu! Kalian tahu, lakukan hal lain dengan hidupmu! Jangan lakukan ini! Kau tidak melayani apa-apa. Itulah jenis pertama percakapan yang kurang bijak dan ini membuang banyak energi dari umat muslim. Begitu banyak energi yang dihabiskan hanya untuk yang ini lawan yang itu, yang itu lawan yang ini. Ayolah, kalian tahu.

Dan kemudian yang kedua, jenis kedua yang beracun, Saya bahkan tidak menyebutnya percakapan bijak tentang Islam. Ini adalah percakapan beracun tentang Islam. Jenis kedua percakapan beracun tentang Islam adalah ketika orang-orang suka menghakimi.

Mereka ingin menghakimimu, lebih dari Allah akan menghakimimu. Mereka memberitahu orang-orang bahwa mereka akan terbakar dalam api neraka. Atau ini adalah haram dan .. Kau bahkan tidak tahu pembahasan sang fuqaha. Kau tidak tahu apa-apa! Tapi kau pikir itu haram, sehingga kau ingin memberikan fatwamu pada dunia. Apa kualifikasi yang kau miliki? Oh boys, dapat dari mana ini?

Saya ingin menceritakanmu percakapan lucu yang saya alami. Salah satu teman saya, Syeikh Abdul Nashir, beberapa dari kalian tahu beliau. Syeikh Abdul Nashir dan saya sedang makan malam. Dan ada beberapa orang makan malam bersama kami. Dan salah satu saudara memiliki jenggot sangat pendek, ia memiliki jenggot yang sangat pendek. Dan saudara disampingnya memiliki jenggot panjang. Dan saudara yang berjenggot pendek, saat makan malam, beralih ke orang berjenggot panjang dan berkata, “Akhi, wajahmu haram.” (Penonton tertawa) “Kau harus…” Dan dia mempermalukan orang ini di meja makan.

Dan kalian tahu ketika ada permasalahan fiqh, ketika ada permasalahan fiqh, saya tidak akan buka mulut. Karena saya bukan seorang faaqih. Saya bahkan bukan ulama. Tapi Syeikh Abdul Nashir sebenarnya adalah seorang faaqih. Dan dia duduk di sana, mendengarkan orang ini.

Ngomong-ngomong, keduanya masih berumur kira-kira 20 tahun. “Akhi, ini haram. Dalam hadits dikatakan, kau harus menumbuhkan jenggotmu, dan lain-lain ..

Dan Syeikh Abdul Nashir, “Oh man .. Kadang-kadang, orang ini ..” Beliau baru saja akan memakan barbeque-nya. Dan beliau meletakkan makanannya dan berkata, “Saudara, di mana haditsnya?

Dan dia berkata, “Ee … Saya pikir ada dalam Shahih Bukhari.”

Kemudian, “Bab yang mana? Siapa rawinya? Siapa yang meriwayatkannya? Kepada siapa dia meriwayatkannya? Bagaimana haditsnya dipahami oleh shahabah? Bagaimana haditsnya dipahami oleh generasi pertama? Bagaimana haditsnya dipahami oleh Imam Bukhari sendiri? Apa komentar tentang hadits ini di Fathul Bari? Bagaimana dengan Mazhab Maliki, apa komentar mereka tentang hadits ini? Bagaimana dengan Mazhab Syafi’i, apa komentar mereka tentang hadits ini?

Dan saudara itu berkata, “Kau mempermalukan saya. Tolong jangan mempermalukan saya.”

Dan beliau berkata, “Ya saya mempermalukanmu, karena kau mempermalukan dirinya.”

Kalian tidak tahu, tapi kalian suka mengambil hal-hal dan hanya membuatnya halal atau membuatnya haram saja. Kalian tidak memiliki kualifikasinya.

Perlu banyak diskusi yang harus dilalui, sebelum kalian mengatakan Allah melarang sesuatu. Kalian harus sangat berhati-hati. Itu bukan hal yang kecil. “Tilka huduudullah.” Ini adalah Hudud Allah, kalian tidak dapat begitu saja memutuskan ini haram, haram. Kalian tidak bisa melakukan itu! Dan kalian tidak bisa memutuskan siapa yang akan terbakar di neraka dan siapa yang terbimbing dan siapa yang tersesat.

Ayat yang saya bacakan untukmu menjelang akhir, ketika kita sampai akhir ayat, “Inna rabbaka huwa a’lamu biman dholla ‘an sabiilihi.” (QS An Nahl: 125) Rabbmu, Dia tahu siapa yang tersesat, bukan kalian! Kalian tidak dapat memutuskan itu! Tapi kita senang untuk menghakimi orang (dengan) sangat cepat . Faktanya, kita “sangat pandai” menghakimi orang, kita menghakimi orang segera setelah mereka berjalan ke masjid.

Lihat yang satu itu, “Aaah. jenggot pendek..” (Menggeleng)

Lihat celana ketatnya, “Oh .. my ..” (Menggeleng).

Begitu cepat! Kita mengirim orang ke neraka. Ini… ini adalah sangat sangat buruk untuk dilakukan, sangat buruk untuk dilakukan. Menghakimi orang melalui Islam. Satu-satunya yang (berhak) untuk menghakimi adalah Allah subhanahu wata’ala. Tugas kita bukan untuk menghakimi. Bukan posisi kita untuk menghakimi.

Dan ketiga, ngomong-ngomong, ketika seseorang melakukan sesuatu yang salah, jika kau tahu itu benar-benar salah. Kau sudah menelitinya, kau telah benar-benar memeriksanya, kau tahu pasti bahwa itu salah. Maka kau tetap harus mencari cara yang sopan untuk mengoreksi itu. Dan mungkin kau tidak harus menjadi orang yang mengoreksi itu. Mungkin orang lain yang harus mengoreksi itu. Kau harus menggunakan apa? Kebijaksanaan. Kebijaksanaan. .

Kadang-kadang (ketika) kau mengoreksi seseorang akan memberikan kerusakan daripada kebaikan. Jika saya mencoba untuk memperbaiki ayahku, itu tidak akan berjalan dengan baik. Ini bukan ide yang baik. Saya harus berbicara dengan ibuku dan ibuku yang akan berbicara dengan ayahku. Dengan cara itu saya tidak akan mendapat masalah. Kalian mengerti maksud saya? Kadang-kadang kau harus menggunakan kebijaksanaan. Kau tidak memakai cara “langsung” setiap kali. Ini akan membuat lebih banyak kerusakan daripada kebaikan.

Jadi percakapan beracun pertama adalah pengelompokan. Ini menciptakan perbedaan dan berbicara tentang kelompok-kelompok dan orang-orang. Jenis percakapan beracun kedua adalah terobsesi dengan menghakimi orang. Jenis percakapan ketiga adalah, saya sudah menyinggungnya, adalah percakapan tentang kitab Allah dan sunnah dari Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wassallam yang dangkal. Sangat-sangat dangkal.

Apa maksud saya? Kalian tahu, jika kalian mendengar khutbah di mana ada 30 ayat, 30 ayat dikutip, 20 hadits yang dikutip. Ayat demi ayat demi ayat. Hadits demi hadits demi hadits demi hadits. Berapa banyak waktu yang kau habiskan di setiap ayat? Hanya beberapa detik, ya ‘kan? Dan kemudian kau langsung ke ayat berikutnya, lalu kau menuju ayat berikutnya, lalu kau lanjut ke hadits berikutnya, lalu kau lanjut ke ayat berikutnya. Berapa banyak waktu yang sebenarnya kau berikan untuk memikirkan ayat-ayat itu? Sangat singkat. Sangat singkat. Dan kalian tahu apa itu? Itu tidak… Itu tidak sehat.

Setiap ayat dari Quran, setiap hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam, layak untuk diperhatikan. Ketika kau memberi saya terlalu banyak ayat secara bersamaan, saya akhirnya tidak memperhatikan satu ayat pun. Tidak satu pun. Allah mengeluh dalam Quran, “Afalaa yatadabbaruunal qur’aana am ‘alaa quluubin aqfaaluhaa.” (QS. Muhammad: 24) “Liyaddabbaru aayaatihi.” (QS. Shaad: 29) Tidak, “Liyastadillu ayatih.” Dia berkata, “Liyaddabbaru aayaatihii.” Sehingga mereka dapat berpikir dalam tentang ayat-Nya.

Satu jam setengah saya berencana untuk berbicara dengan kalian malam ini. Tentang berapa ayat? Tentang berapa ayat, kalian tahu? Satu. Satu ayat. Karena ayat ini layak untuk diperhatikan. Kita harus berpikir tentang ayat ini. Jadi apa yang terjadi adalah orang-orang akan mengutip banyak ayat, tetapi mereka tidak mendalami satu ayat pun. Sekarang, ketika kau tidak mengerti sesuatu secara mendalam, apakah ada kemungkinan bagimu untuk salah paham? Tentu saja. Saat kau tidak memahami sesuatu secara mendalam, ada banyak ruang untuk? Kesalahpahaman. Karena pemahaman yang dangkal bisa sangat mudah menjadi kesalahpahaman yang problematik.

Izinkan saya memberitahumu hal lain selagi saya membahas hal ini. Ini mungkin sedikit sulit dimengerti, tetapi poin penting. Hal yang paling tertinggi yang kita miliki dalam Islam. Kebenaran tertinggi yang kita miliki dalam Islam adalah kitab Allah. Yaqul (Allah) subhanahu wata’ala, “Wa kalimatullaahi hiyal ‘ulyaa.” (QS. At Taubah: 40) Firman Allah berada di posisi tertinggi. Hal tertinggi yang kita miliki adalah apa? Firman Allah. Sekarang apa yang terjadi? Seseorang… saya… mereka memiliki penghakiman, sudah bias dari awal. Mereka memiliki sesuatu dalam pikiran mereka dan konsep dalam pikiran mereka adalah “Wanita lebih rendah dari pria”. Ini adalah ide yang mereka miliki di kepala mereka. Sekarang mereka sudah punya ide di dalam kepala mereka, mereka akan mengutip banyak ayat, dan mereka akan mengutip banyak hadits dan mereka akan memberikan dalil untuk “Mengapa wanita lebih rendah dari pria?” Tapi apa yang lebih dahulu? Ayatnya lebih dulu atau konsep mereka yang lebih dulu? Konsep mereka yang lebih dulu. Dan mereka akan menggunakan ayatnya untuk membuktikan konsep mereka. Ini tidak benar.

Kita tidak ingin membuat asumsi (apa pun) sebelum kita beralih ke kitab Allah. Kitab Allah yang akan memutuskan, bagaimana kita harus berpikir. Kita tidak memutuskan, bagaimana berpikir tentang kitab Allah. Kalian mengerti? Jadi terdapat bias, kau sudah teguh dengan pikiranmu. Dan ngomong-omong, ini bisa menjadi sangat gila.

Beberapa orang dapat mengatakan, “Kita harus membunuh setiap non muslim, saya akan buktikan padamu.” Dan mereka akan memberimu seratus hadits dan lima puluh ayat. Dan mereka bisa melakukannya. Itu sangat mudah. Saya pernah melihat itu dilakukan. Apa masalahnya dengan hal itu? Dan beberapa pemuda umur 19 tahunan yang mendengarkan ceramah itu dan berkata, “Hei, dia punya begitu banyak dalil. Dia mengutip banyak ayat dan begitu banyak hadits, ia pasti benar. Karena itu ada dalam kitab Allah.” Tidak! Monyet kau! Kesimpulannya (ada) lebih dahulu dan penelitian setelahnya. Dalam setiap bidang pengetahuan, apa yang lebih dulu? Kesimpulan atau penelitian? Penelitian lebih dahulu dan kemudian berdasarkan penelitian, kau memutuskan kesimpulannya. Ini adalah kebalikan dari apa yang mereka lakukan.

Sehingga terdengar seperti ceramah yang sangat Islami karena memiliki banyak ayat dan banyak hadits. Tapi apa kalian tahu? Ini adalah pendekatan yang sangat tidak Islami. Karena ada bias, pendapat mereka sudah diutamakan dulu dan yang lainnya digunakan sebagai pendukung. Subhanallah. Dan kita, Muslim dimanfaatkan. Hal-hal tersebut dari Islam juga. Begitu banyak hal yang kita dengar hari ini, sayangnya, begitu banyak hal yang kita dengar atas nama kitab Allah merupakan penghinaan terhadap kitab Allah. Itu merupakan penghinaan. Berkebalikan dari makna yang diajarkan. Terjadi berkali-kali. Dan itu sangat menyakitkan untuk didengar. Wallahi itu menyakitkan.

In Need of Wisdom Part 3

Video : In Need of Wisdom – Nouman Ali Khan – Gulf Tour 2015
Minutes : 00:29:05 – 0:45:45

Sekarang, berikutnya, ada beberapa hal lagi yang saya ingin bagikan denganmu. Yaitu tentang pengasingan. Saya tahu itu kata yang rumit, saya akan coba membuatnya mudah dimengerti. Pengasingan ini adalah percakapan tentang Islam. Ngomong-ngomong, ini semacam percakapan tentang Islam. Apakah kalian pernah mendengar percakapan seperti ini sebelumnya? Percakapan yang membuat pengelompokan di antara orang. Apakah kalian pernah mendengar itu sebelumnya? Pernahkah kalian mendengar percakapan yang menghakimi orang lain? Pernahkah kalian mendengar percakapan yang mana orang itu sudah memiliki pemikirannya sendiri dan kemudian mereka menggunakan ayat dan hadits. Apakah kalian pernah mendengar obrolan semacam ini sebelumnya? Kita dimanfaatkan sebagai umat. Dan ini harus dihentikan. Ini harus dihentikan.

Sekarang, lainnya, hanya satu lagi yang ingin saya bagi denganmu yaitu tentang pengasingan. Apa artinya (pengasingan) itu adalah bahwa mereka akan memberitahumu bahwa, “Satu-satunya orang yang memiliki kebenaran adalah kita. Dan jika kau ingin selamat, maka jangan dengarkan orang lain. Karena jika kau mendengarkan mereka, kau akan tersesat. Dan tentu saja kau ingin pergi ke surga ‘kan? Satu-satunya cara untuk masuk surga adalah kau ikut di kelompok saya. Kau hanya perlu mendengarkan saya, karena orang lain itu sesat. Dan orang-orang ini punya daftar terbaru dari ulama sesat setiap minggunya. Jika kau ingin selamat, cukup dengarkan kami.”

Kalian tahu apa yang terjadi? Orang mendengarkan mereka dan mereka mengasingkan diri mereka. Dan mereka mengasingkan diri dari keluarga mereka. Orang memutuskan hubungan dengan keluarga mereka sendiri. Mereka tidak mau mendengarkan keluarga mereka lagi.

Orang tua saya tidak mendengarkan Syeikh saya. Jadi saya tidak ingin berurusan dengan orang tua saya. Saya tidak ingin berurusan dengan keluarga saya karena mereka tidak berada dalam kebenaran.”

Dan jadi kau memanfaatkan agama dan kau menyalahgunakan agama untuk mengasingkan orang dari keluarga mereka sendiri, dari komunitas mereka sendiri, dari masyarakat mereka sendiri.

Saya tinggal di Amerika Serikat, ada beberapa komunitas yang memisahkan diri di Amerika Serikat. Kalian tahu apa yang mereka ajarkan kepadamu? Mereka mengajarkanmu bahwa dalam komunitas ini, mereka mengajarmu, “Setiap orang non-muslim adalah Kuffar, mereka itu Najis, mereka adalah orang-orang jahat. Jangan berurusan dengan mereka, jika kau berurusan dengan mereka, jika kau menjadi teman mereka, jika kau berbicara dengan mereka dengan baik, jika kita melakukan bisnis dengan mereka, mereka adalah fitnah. Mereka akan menarikmu jauh dari Islam dan mereka akan membuatmu kafir. Jadi jauhi mereka!

Dan jadi ada masjid di Amerika, di Amerika, ada masjid yang telah ada di sana selama 40 tahun. Dan tetangganya, tetangga sebelah adalah non muslim, dan mereka tidak tahu bahwa itu masjid. Karena orang-orang yang di masjid itu mengatakan, “Fitnah. Orang-orang kafir.” Dari mana kau mendapatkan ini? Dari mana ini berasal?

Jika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam tidak berurusan dengan orang-orang di Makkah dan beliau mengasingkan dirinya. Kita tidak akan bersyahadat hari ini! Saya seorang muslim karena ayah saya adalah muslim, yang ayahnya adalah muslim, yang ayahnya adalah muslim, yang ayahnya adalah muslim, yang ayahnya adalah seorang Budha. Saya berasal dari keluarga Budha, saya sudah menelusurinya. Kakek buyut saya sebenarnya seorang Budha dan ia menjadi seorang Muslim. Seseorang pasti telah berbicara dengannya dan tidak memperlakukan dia seperti Najis. Seseorang pasti telah menunjukkan kepadanya sopan santun, seseorang pasti telah memperlakukannya seperti manusia. Seseorang pasti telah menunjukkan kepadanya cinta dan hormat.

Kalian tahu, saya berada di lift di hotel di sini dan nama orang itu adalah …. Siapa namanya? Hritjik. Itu, cukup sulit untuk disebutkan. Namanya dimulai dengan huruf H. Jelas bukan nama muslim. Kau tahu apa yang terjadi? Kau akan melihat namanya dan kau akan bilang ok. Jika ia adalah orang yang muslim, namanya adalah Muhammad, “Halo, Assalamu’alaykum saudaraku, bagaimana kabarmu?” Dan namanya seperti, (meludah). Tidak!

Hei Hritjik bagaimana kabarmu?

Baik Pak.

Dia bekerja di hotel, “Sudah berapa lama kau bekerja?

Empat bulan, Pak.”

Bagaimana pekerjaannya?

Cukup berat Pak.”

Ohh, pasti sulit, saya tahu.”

Dan kita baru saja menjadi teman. Hanya mengobrol.

Astaghfirullahal-adzim. Saya berbicara dengan orang Kafir.” Santailah kawan. Agama ini tidak mengajarkanmu untuk membenci non muslim. Agama ini datang dengan membawa martabat bagi semua manusia. “Wa laqad karramnaa banii Aadama.” (QS Al Israa: 70) Allah berfirman, telah kami berikan penghormatan kepada anak-anak Adam. Saya akan mengatakan itu lagi. Allah berfirman, Allah telah memberi kehormatan kepada siapa? Untuk siapa? Anak-anak Adam. Jadi setiap anak Adam alaihi salam telah diberikan penghargaan oleh siapa? Oleh Allah. Bagaimana mungkin kau tidak menghormati mereka? Allah menghormati mereka, kau tidak menghormati mereka. Dan kau pikir Islam memberitahumu untuk tidak menghormati mereka? Islam memberitahumu untuk melihat mereka sebagai orang jahat?

Kau bahkan tidak mengerti ayat ketika Allah berbicara tentang orang Musyrik sebagai Najas. Di mana ayat ini berada? Di mana itu terjadi? Di surat apa kejadiannya? Apa isi kejadiannya? Bagaimana penerapannya? Kita tidak ingin tahu! Karena kita hanya ingin melihat permukaannya saja dan tidak belajar secara mendalam. Kita tidak memiliki waktu untuk mempelajarinya secara mendalam. Ini semua kebalikan dari kebijaksanaan.

Tapi sekarang, kita akan berbicara tentang kebijaksanaan itu sendiri. Hingga saat ini, kita hanya berbicara tentang hal-hal negatif. Sekarang kita akan melakukan apa? Pembicaraan positif. Mengapa saya atur seperti ini? Karena saya ingin meninggalkanmu dengan sesuatu yang positif. Saya tidak ingin meninggalkan kalian dengan sesuatu yang apa? Negatif.

Kajian Surat An Nahl Ayat 125

Sekarang dengarkan baik-baik. Saya akan mulai dengan salah satu ayat dari Surah An-Nahl. Ngomong-ngomong ayat yang mengajak orang dengan kebijaksanaan ini ada di Surah An-Nahl. Jadi semua ayat yang akan saya gunakan untuk menjelaskan ayat ini juga ada dalam? Surah An-Nahl. Mereka berasal dari surah yang sama. Dan di akhir surah ini menyebutkan, “Ajaklah orang dengan kebijaksanaan.” Dan seluruh surah ini penuh dengan contoh untuk bagaimana kau memanggil orang-orang dengan bijak. Surah itu sendiri yang akan mengajarkanmu. Dia sendiri yang mengajarkanmu bagaimana cara mengajak orang-orang dengan kebijaksanaan.

Jadi saya akan memberikan satu contoh. Perhatikan contoh ini baik-baik, saya akan mengujimu. Ya, sekarang dengarkan. Dan kalian harus menjawab saya dengan keras. Allah berfirman, dengarkan, “Wa maa anzalnaa,” tidak, sebelum itu. Dia (Allah) mengatakan, Dia menurunkan air dari langit. “Anzala minassamaa-i maa-an.” (QS An Nahl: 10) Dia mengirim air dari langit. “Yumbitu lakum bihizzar’a wazzaytuuna wannakhiila wal a’naaba wa min kullits tsamaraati.” (QS An Nahl: 11) Sekarang dengarkan, mari kita lihat apakah kalian memiliki kosakata yang baik.

Apa yang artinya Zaytuun? Zaitun. Yang laki-laki menang di bagian ini.

Wannakhill? Kurma. Laki-laki dua poin, perempuan nol.

Al a’naab? Anggur. Perempuan menang yang satu ini. 2-1.

Wa min kullits tsamaraat? Buah-buahan. Laki-laki menang yang satu ini. Meski pun kalian yang duduk di kursi barisan perempuan menjawab, saya akan berikan skor 3-1.

Oke dengarkan, Allah mengatakan bahwa Dia menurunkan air dari langit dan kemudian tumbuh pohon zaitun, tumbuh pohon-pohon palem, tumbuh pohon kurma. Dia mengatakan, tumbuh anggur, tumbuh pertanian, hasil-hasil panen bertumbuhan, zar’a semua jenis tanaman pangan. Dan kemudian Dia mengatakan semua jenis buah-buahan.

Sekarang dengarkan, jika air tidak turun dari langit, tidak akan ada kehidupan di bumi. Ya atau tidak? Tidak akan ada kehidupan di bumi jika Allah tidak menurunkan air dari? Langit. Sekarang, jika kalian melihat apa yang tumbuh di bumi, apakah hanya semacam tanaman yang tumbuh di bumi atau bermacam-macam tanaman yang tumbuh di bumi? Bermacam-macam. Airnya sama tapi tanaman yang tumbuh berbeda, benar? Air yang sama tapi tanaman yang tumbuh berbeda.

Sekarang saya akan membagi mereka menjadi dua kategori lahan pertanian. Apakah pertanian tumbuh sendiri atau petani juga harus melakukan sesuatu? Kau tidak bisa hanya mengandalkan hujan, hujan saja tidak cukup. Hujan memang diperlukan, tapi itu saja tidak cukup. Petani juga harus melakukan pekerjaannya. Anggur adalah tanaman butuh perhatian. Kau tidak bisa hanya membiarkannya tumbuh begitu saja, tukang kebun harus melakukan pekerjaannya. Palm adalah pohon yang sensitif, kau harus merawat mereka. Tukang kebun harus merawat tanaman-tanaman ini, hujan saja tidak cukup. Kalian mengerti?

Jadi dengan kata lain untuk tanaman pertanian dan zaitun dan buah-buahan yang sensitif dan pohon yang sensitif. Mereka harus diurus dan seorang petani atau tukang kebun juga harus melakukan sesuatu.

Tapi ketika Allah berfirman, Dia tumbuhkan segala macam buah-buahan. Jika kau pergi ke hutan Amazon di Amerika Selatan dan ada ratusan dan ribuan dan ribuan dan ribuan hektar lahan hutan dan pohon-pohon. Apakah pohon-pohon memiliki buah? Ya. Tapi apakah ada tukang kebun? Apakah ada petani? Tidak. Mereka tumbuh dengan sendirinya, ya?

Jadi apa yang ingin saya katakan adalah ketika Allah menurunkan air dari langit, tanaman tumbuh di bumi. Tetapi ada sebagian yang tumbuh karena ada usaha kita juga, itu semacam kemitraan dan ada sesuatu yang hanya tumbuh dengan karunia Allah. Kalian masih bersama saya sampai sejauh ini?

Sekarang mari kita bahas ini lebih lanjut. Biarkan saya memberitahumu, mengapa saya memberikan contoh ini. Ingat kita sedang mencoba mempelajari apa dari Quran? Kebijaksanaan. Semua yang saya jelaskan kepadamu malam ini adalah karena kita sedang mencoba mempelajari beberapa hikmah dari Quran.

Sekarang dengarkan. Surah yang sama. Allah azza wajall kemudian mengatakan, “Wa maa anzalnaa ‘alaykal kitaaba illaa litubayyina lahum, Alladziikhtalafuu fiihi wahudaw warahmatal liqawmiy yu-Minuun.” (QS An Nahl: 64) Kami tidak kirimkan kitab ini kepadamu, tunggu dulu, sebelum Dia mengatakan ini, apa yang Dia turunkan? Hujan. Sekarang Dia mengatakan, “Apa yang Kami turunkan?” Kitab. Jadi sekarang, Dia akan membandingkan kitab dengan apa? Hujan. Dia mengatakan, “Kami kirimkan kitab agar mereka dapat menjelaskan semua perbedaan. Dan agar ini dapat dijadikan petunjuk dan rahmat.”

Sekarang ketika kitab Allah turun, sebagaimana hujan turun. Hujan masuk ke dalam bumi dan kitab Allah, ayat-ayatnya yang akan masuk ke dalam hati manusia. Sekarang, bumi dulu mati, ya? Dan karena hujan, apa yang terjadi? Mereka kembali hidup. Dan hati manusia juga dulu mati, hati mereka dahulu mati. Dan kitab Allah memiliki kekuatan untuk melakukan apa? Menghidupkan mereka kembali.

Komunitas Muslim dapat memiliki begitu banyak masalah. Kita bisa berbohong dan menipu dan mencuri, kita telah melupakan kitab Allah. Pemuda kita tidak lagi sholat, mereka kecanduan hal-hal jorok di internet, mereka menonton film. Kita punya masalah politik, masalah sosial, masalah ekonomi, masalah spiritual, masalah psikologi.. Ya ampun! Tapi apa kalian tahu? Kau bisa mati, tetapi jika kau memiliki kitab Allah yang telah masuk ke dalam hati, apa yang akan terjadi? Kau akan hidup kembali. Jadi, tidak ada alasan untuk depresi.

Saya sudah membuatmu depresi di awal tadi, “Man, kita punya begitu banyak masalah.” Tapi apa kalian tahu? Kita punya satu solusi. Dan apa solusi itu? Kitab Allah. Dan ketika (Quran) sudah masuk ke dalam dirimu, kau bisa saja seperti rumput yang mati dan Allah akan menghidupkanmu kembali.

Inilah mengapa Allah berkata dalam suratul Hadid. Dia berbicara tentang hati yang menjadi keras, “Faqosat quluubuhum wa katsiirum minhum faasiquun.” (QS Al Hadid: 16) Hati mereka menjadi keras dan begitu banyak dari mereka berbuat jahat. Dan di ayat berikutnya Allah berfirman, “I’lamuu annallaaha yuhyil ardho ba’da mawtihaa.” (QS Al Hadid: 17) Ketahuilah, Allah menghidupkan bumi setelah matinya. Allah akan menghidupkan umat ini kembali. Kau hanya perlu menerapkan apa? Airnya. Dan apa air untuk umat ini? Quran, Quran. Dan jika umat ini tidak kembali hidup, maka itu berarti kita tidak menerapkan pengairan dengan benar. Itulah artinya.

Sekarang saya sudah katakan sebelumnya, saat hujan, berapa banyak jenis tanaman yang kau dapatkan? Dua. Salah satunya kau juga harus melakukan sesuatu. Ingat? Dan yang lainnya terjadi bagaimana? Terjadi dengan sendirinya. Di tengah hutan ada Apel. Di tengah hutan ada Jeruk. Hal ini terjadi dengan sendirinya. Kita tidak ada hubungannya dengan ini. Kalian mengerti? Sama seperti itu, bahkan hari ini, akan ada orang-orang yang menerima Islam. Kau tidak melakukan dakwah apa pun, kau tidak melakukan usaha apa pun, kau tidak melakukan apa-apa. Allah hanya memasukkan “air” ke dalam hati mereka dan mereka masuk Islam dengan sendirinya. Ini akan terjadi bahkan sekarang. Apakah ini terjadi atau tidak? Sama seperti buah-buahan yang tumbuh di tengah hutan. Tanpa usaha manusia. Hanya dengan kehendak Allah. Ada sebagian orang yang masuk Islam hanya karena kehendak Allah.

Kalian tahu, saya heran. Saya kadang-kadang bingung dengan email yang saya dapatkan. Kadang-kadang dengan percakapan yang saya dapat. Saya kadang-kadang terkejut. Ini masih terpikir di kepala saya, saya di… saya dalam perjalanan kembali. Kalian tahu, dengan keluarga saya di bandara dan ada seorang pramugari. Ini di Maryland. Ada seorang pramugari yang menemuiku. Dan kalian tahu bagaimana pakaian pramugari? Mereka tidak berpakaian seperti, kalian tahu, saya tidak berbicara tentang pramugari Emirates. Saya berbicara tentang seperti Spirit Airlines seperti (umumnya) pramugari maskapai penerbangan Amerika. Dia menemuiku dan berkata, “Saya telah menonton videomu, doakan agar saya segera menjadi seorang Muslim.” Saya berkata, “Wow, bagaimana itu bisa terjadi?

Saya tidak mendakwahinya. Saya bahkan tidak kenal dia. Saya tidak berusaha mendekatinya. Saya hanya mempelajari Quran dan menaruh video di YouTube. Siapa yang melakukan itu untuknya? Allah melakukan itu untuknya. Dia bisa membuat hujan ke dalam hati orang. Itu bukan usaha saya, itu hadiah Allah untuk wanita ini. Dan semoga Allah memberi saya balasan (baik) meskipun saya tidak melakukan usaha apa pun. Kalian tahu, semoga Allah membimbingnya masuk Islam.

Dan ada ratusan ribu orang seperti itu. Wanita Kristen ini mengirim email ke saya minggu lalu. Dia berkata karena kalian tahu kejadian Charlie Hebdo? Apakah kalian tahu tentang itu? Ketika insiden Charlie Hebdo terjadi, wanita ini, dia seorang wanita dari Texas dan tinggal di Jepang, dia tinggal di Tokyo. Dia bilang, “Saya penasaran mengenai nabi ini yang mereka olok-olok. Dan saya mulai mencari videonya di YouTube dan saya menemukan videomu. Dan saya mulai menonton videomu dan sekarang saya ingin tahu itu. Karena saya menonton begitu banyak videomu saya kehabisan data di telepon saya karena menontonnya di kereta.” Dan ia mengawali emailnya dengan mengatakan, “Saya seorang wanita Kristen.” Itulah bagaimana ia mengawali emailnya. Pada akhir email dia mengatakan, “Terima kasih untuk memperkenalkan saya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Subhanallah. Terkadang Allah akan menumbuhkan buah-buahan dan kau bahkan tidak akan tahu bagaimana, kau bahkan tidak akan tahu bagaimana. Itu akan terjadi begitu saja. Tapi apa kalian tahu? Ini adalah bagian yang sulit untuk dimengerti. Jadi saya perlu perhatian ekstra dari siapa pun, ok? Ini adalah bagian yang sulit dalam ceramah ini.

Peradaban manusia, anthropologist, akan memberitahu kita, peradaban manusia dimulai ketika manusia belajar cara bertani. Kau tidak bisa bertahan hidup, manusia tidak bisa bertahan hidup (dengan hanya) makan buah-buahan di hutan. Kita harus mencari cara untuk memproduksi massal makanan. Dan cara terbaik untuk buah memproduksi massal adalah dengan mengembangkan pertanian. Kalian mengerti? Manusia membentuk peradaban dan ketika pertanian berkembang, kota terbentuk dan ketika kota terbentuk, bangsa terbentuk, peradaban terbentuk. Tetapi langkah pertama peradaban adalah apa? Pertanian. Kalian (masih) bersama saya sejauh ini?

Sekarang, ketika kau memiliki pertanian dan kau memiliki sebuah peternakan, tidakkah kau harus mengarahkan airnya? Air tidak datang secara otomatis, kau harus menggali dan membuat kanal dan kau harus mencari cara untuk menyampaikan airnya, benar? Kau tidak bisa hanya mengandalkan hujan. Kau harus memelihara airnya dan menyampaikannya.

Jika kita sebagai umat, ngomong-ngomong, kita sebagai umat, kita peradaban atau tidak? Kita peradaban. Jika kita ingin “bertahan hidup” maka hujan tidak cukup. Hujan berasal dari Allah tetapi kau harus “memelihara airnya” dan kau harus berusaha “menyampaikannya”. Dan sebelum kita “menyampaikannya” kepada umat manusia, argumen saya hari ini, bahwa kita harus “menyampaikannya” ke diri kita sendiri.

Pada tahun ‘90an, ketika saya mulai mempelajari Quran dengan serius, ketika saya mulai mempelajari Quran. Saya merasa bahwa saya telah ditipu selama 90 tahun. Saya sudah muslim sepanjang hidup saya, kenapa saya tidak tahu apa-apa tentang Quran? Kenapa sekolah saya tidak mengajari saya? Kenapa orang tua saya juga tidak tahu apa-apa? Mengapa mereka tidak mendapatkan pengetahuan? Mengapa tetangga saya tidak tahu? Kita adalah seperlima dari penduduk dunia, orang-orang ini, begitu banyak non-Muslim tahu lebih banyak tentang Quran daripada kita. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin?

Bagaimana saya sebagai seorang Muslim memiliki pendapat yang sama tentang Quran seperti yang non-Muslim miliki? Non-Muslim mengatakan bahwa (Islam) itu keras, non-Muslim mengatakan bahwa (Islam) itu tidak relevan. Mengapa saya memiliki pendapat yang sama? Non-Muslim tidak terkesan. Kenapa saya memiliki pendapat yang sama? Sesuatu harus berubah. Kita harus menumbuhkan, kita harus menyediakan pengetahuan ini sekarang kepada orang-orang.

In Need of Wisdom Part 4

Video : In Need of Wisdom – Nouman Ali Khan – Gulf Tour 2015
Minutes : 00:45:45 – 01:21:34

Jadi hari ini, kita akan membahas mengenai cara melakukannya. Bagaimana kita akan menyampaikan pesan. Untuk diri kita, anak-anak kita, keturunan mereka dan seluruh umat manusia pada saat yang sama. Allah berfirman, “Ud’u,” mari mulai (membahas) ayatnya. Sekarang kita mulai ayatnya.

Ud’u,” mengundang. Apa artinya “Ud’u”? Katakan dengan keras. Mengundang, bagus. Apakah kau mengundang seseorang yang kau sedang marah padanya? Dapatkah kau mengundang seseorang yang kau sedang marah dengannya? “Hey, ayo datang ke rumahku untuk makan malam!” Kau tidak melakukan itu. Ketika kau mengundang seseorang, itu merupakan bentuk persahabatan. Kau tidak dapat mengundang seseorang kecuali dengan cara? Bersahabat. Jadi asal kata “Da’wah,” dari kata “Ud’u.” Jika kau tidak bersahabat, kau jangan berda’wah. Jika kau berkarakter pemarah, kenapa kau tidak menghafal Quran saja atau semacamnya. Biarkan orang lain yang berda’wah. Jika kau kecewa dengan orang-orang, kau seharusnya tidak berda’wah. Karena da’wah berarti? Undangan. Dan untuk mengundang kita harus bersikap apa? Bersahabat.

Kedua, “Ud’u ilaa sabiili rabbika.” Ngomong-ngomong, jika seseorang berkhutbah dengan marah-marah. Dan kau bertanya, “Kenapa kau…”

Akhi, saya sedang berda’wah.”

Seperti… Tidak, bukan begitu cara berda’wah. Kau tidak, kau tidak menakut-nakuti orang lain dan kemudian mengundang mereka. Itu bukan undangan, itu adalah “Sana pergi dari sini dan jangan kembali lagi!” (tertawa)

Dia berkata, ngomong-ngomong, Allah tidak berkata, “Ud’u ilal islam.”, “Ud’u ila dini rabbik.” Allah tidak berkata demikian. Allah berkata, “Ud’u ilaa sabiili rabbika.” Apakah sabil itu? Ada yang tahu? Oh yang laki-laki menang kembali.

Ud’u ilaa sabiili rabbika.” (QS An Nahl: 125) artinya “Undanglah pada jalan Tuhan-mu.” Semua orang tahu apakah jalan itu, ya?

Sekarang, pernahkah kau mengundang siapa saja pada sebuah jalan? Ini tidak masuk akal. Kau tidak mengundang orang pada sebuah jalan (a path), kau mengundang orang pada sebuah tujuan (a destination), benar? Kau tidak mengundang orang pada sebuah jalan, kau mengundang orang pada sebuah tujuan. Tetapi Allah berkata pada orang-orang, berkata kepada kita, “Kau harus mengundang orang-orang pada sebuah apa? Jalan.” As sabil, sebuah jalan (a path) adalah sebuah jalan (a road). Mengapa Allah berkata demikian?

Ada banyak sekali hikmah pada kalam (Allah) ini. Saya harap saya dapat menjelaskannya pada kalian untuk diingat. Karena inilah salah satu kebenaran Islam yang paling kuat namun tersembunyi. Orang-orang tidak tahu. Orang-orang tidak tahu.

Kalian tahu, orang-orang mempelajari Islam dan mereka bilang, “Man, saudari perempuan sedang mempelajari Quran dan berkata, saya tidak tahu banyak tentang kosakata, saya belum menghafal banyak surah, saya belum mengerti tajwid, saya belum mengerti ini, belum mengerti itu, nanti ketika saya telah mengetahui banyak insya Allah akan lebih baik, tapi sekarang saya belum mengerti apa pun.” Orang-orang selalu khawatir tentang lebih lebih lebih lebih banyak kuantitas. Mereka ingin mencapai itu. Dan mereka selalu berpikir mereka belum melakukan apa pun.

Jika Allah memanggil orang-orang pada sebuah jalan, seperti jalan lurus, apakah semua orang berjalan pada kecepatan yang sama? Tidak. Sebagian berjalan cepat dan sebagian berjalan apa? Lambat. Sebagian orang berjalan dengan sangat lambat hingga kau bahkan tidak bisa melihat kemajuan mereka. Selambat itu. Kecepatan mereka bahkan tidak terlihat di speedometer. Selambat itu. Tetapi mereka tetap mengalami kemajuan.

Masalahnya adalah kita ingin semua orang maju dalam kecepatan yang sama. Kau harus seperti ini, kau harus seperti itu. Bahkan orangtua, mereka bilang pada… salah satu anak perempuannya lebih baik daripada anak yang lain, “Kenapa kau tidak bisa seperti saudara perempuanmu?” Mereka tidak sama. Mereka memiliki jalan sendiri-sendiri.

Kau mengajak orang-orang untuk bergabung pada jalan. Kau mengajak mereka untuk bergabung pada jalan bukan tujuan. Allah tidak menyuruhmu pada tujuannya. Dia hanya ingin kau menikmati jalannya.

Begitu banyak orang yang datang kepada saya (bertanya), “Bagaimana saya bisa belajar bahasa Arab dengan cepat? Bagaimana saya bisa belajar Quran dengan cepat.” Saya jawab, “Kenapa kau ingin mempelajarinya dengan cepat? Apa yang membuatmu terburu-buru? Apa kau akan segera meninggal atau apa? Kau punya waktu, Bro, tenang. Santai saja.”

Allah tidak peduli seberapa banyak kau tahu. Allah peduli pada apakah kau ada di jalanNya atau tidak. Dan ketika kau ada di suatu jalan, bagaimana cara kau tahu kau telah berada di jalan itu? Pemandangan sekitarmu berubah. Ya atau tidak? Dan kau membuat kemajuan. Yang Allah inginkan darimu adalah apa? Kemajuan. Yang Allah inginkan darimu adalah kemajuan. Dia tidak menginginkan kesempurnaanmu. Itu yang diinginkan orang-orang darimu. Itulah yang Allah inginkan darimu (kemajuan). Allah mengetahui apa yang Dia ciptakan. Allah tidak meminta kita menjadi sempurna. Dia meminta kita untuk membuat kemajuan. Itulah yang Dia kehendaki.

Allah membuat agama kita mudah dan indah, kita membuat agama kita sulit dan jelek. Kita membuat orang-orang merasa rendah diri karena mereka tidak sempurna. Kita membuat orang-orang merasa rendah diri karena mereka belum sepenuhnya berada di jalan itu.

Para sahabat adalah generasi terbaik, ya atau tidak? Generasi terbaik sepanjang masa, sepanjang masa. Dan mereka rela mati untuk Islam, ya atau tidak? Ok. Allah menurunkan ayat pada mereka mengenai alkohol dalam tiga tahap. Mereka adalah orang-orang yang rela mati untuk Islam. Dan Allah berfirman,

Itsmuhumaa akbaru min naf’ihimaa.” (QS Al Baqarah: 219)

Keburukan alkohol lebih besar daripada manfaatnya. Keburukannya lebih banyak. Kemudian itu tak cukup. Kemudian Dia menambahkan,

Laa taqraubussholaata wa antum sukaara hattaa ta’lamuu maa taquuluun.” (QS An Nisaa: 43)

Jangan mendirikan shalat ketika kau mabuk. Dan akhirnya, pada salah satu surat yang terakhir diturunkan, surat Al Maidah, salah satu surat yang terakhir diturunkan, Dia berfirman,

Rijsummin ‘amalisy syaythooni.” (QS Al Maidah 90) “Fa hal antum muntahuun.” (QS Al Maidah 91)

Ini adalah kekejian, termasuk perbuatan setan, maukah kau berhenti atau tidak?

Dengan kata lain, para sahabat yang adalah generasi terbaik, Allah tidak mengharapkan mereka berhenti minum alkohol dengan segera. Jika Dia berkehendak demikian, Dia bisa menurunkan ayat (larangan minum alkohol) sejak awal.

Mari pikirkan lebih jauh. Alkohol tidak hanya haram, namun juga dipandang jahat. Ada perbedaannya. Babi tidak jahat, babi hanya? Haram. Kalian tidak melihat babi dan bilang, “Astaghfirullah, jahat, setan.” Tidak, tidak, tidak. Itu hanya babi. Kita hanya tidak memakannya. Ok? Babi adalah ciptaan Allah, babi tidak jahat. Tenang. Ok? Tetapi alkohol bukan hanya haram, alkohol juga apa? Jahat. Yang berarti itu adalah perbuatan jahat. Yang berarti itu termasuk perbuatan setan. Sejak tahun pertama turunnya wahyu, itu termasuk perbuatan setan. Dan dalam 23 tahun turunnya wahyu, itu termasuk perbuatan setan.

Dan meskipun itu selalu merupakan perbuatan keji – Allah memutuskan bahwa umatnya harus – umatnya belum membuat kemajuan yang cukup di jalanNya. Jadi mereka belum siap. Jadi Aku menurunkan ayatnya ketika mereka sudah lebih siap. Aku memberi ayatnya sedikit terlebih dahulu dan Aku akan berfirman, “Lihat, keburukannya lebih banyak dari manfaatnya.” Dan kemudian, Aku akan berfirman, “Setidaknya janganlah mabuk ketika mendirikan shalat.” Dan kemudian, Aku akan berfirman, “Ok sekarang tinggalkan itu, kalian sudah cukup paham. Sekarang berhenti!” Generasi terbaik, Allah izinkan mereka untuk membuat kemajuan di jalanNya. Dan apa yang kita lakukan?

Ketika seorang pemabuk, pemabuk, berjalan ke masjid, hari ini. Dia membawa dua, tiga kaleng bir, kau bisa menciumnya dari jarak 10 kaki (3 meter) dan dia, “Ya… saya mau shalat.” Apa yang akan kita lakukan terhadapnya? Kita akan menghajarnya dan mengusirnya. Dan sekali kau mengusirnya, ke mana dia akan pergi? Kembali ke bar. Dia akan kembali minum-minum. Dia datang ke rumah Allah, membuat satu langkah maju. Dia membuat langkah maju yang besar dan kau berkata, “Kembali! Langkah ini tidak cukup baik bagi kami! Kau tidak cukup baik bagi kami.”

Allah ingin kau membuat kemajuan di jalanNya dan kau juga harus membiarkan orang lain membuat kemajuan pada jalanNya. Dan mungkin beberapa dari mereka akan membutuhkan waktu, beberapa dari mereka akan membuat kemajuan dengan cepat. Kalian tahu? Allah memberi contoh dari benda-benda yang tumbuh di tanah, benar? Ada seorang petani, dan ngomong-ngomong, beberapa dari kalian memiliki ini, saya pikir mungkin di tahun yang lalu, pertanyaan ini sedikitnya diulang 1000 kali dalam ceramah saya. Orang-orang datang padaku, sedikitnya 1000 kali dan menanyakan hal ini. Biarkan saya memberitahumu apa pertanyaannya.

Saudara, suamiku tidak shalat, anak laki-lakiku tidak shalat, istriku tidak shalat, saudara perempuanku tidak shalat, pamanku tidak shalat, ayahku tidak shalat, bagaimana caranya agar aku dapat membuat mereka shalat? Bagaimana cara saya mengubah mereka? Beritahu saya satu hal untuk kukatakan pada mereka dan mereka akan berubah.”

Dan saya akan jawab, “Ok. Tunggu sebentar. Saya tidak punya jawabannya.”

Apakah si petani? Hal apa hal pertama dilakukan dalam bertani? Kau meletakkan benih di tanah, ya? Kau meletakkan benih. Kemudian kau siram dengan air, lalu kau tidur, lalu kau bangun, memastikan tanahnya bersih lalu menyiram air lagi, lalu kau tidur. Kau bangun, menyiram air kembali, menyingkirkan hama, berdoa, “Ya Allah… jagalah tanaman ini.” Apakah si petani melihat kemajuan? Ya atau tidak? Dia tidak melihat kemajuan. Semua yang terjadi, terjadi di dalam tanah. Si petani tidak berkata, “Kalau saja ada satu hal yang bisa saya lakukan, (benih) ini bisa segera berubah sekarang dan berubah menjadi pohon. Biarkan saya gali tanahnya, tanam benihnya dan iihhh… mengubahnya menjadi pohon.” Apakah begitu caranya?

Allah membandingkan turunnya Quran dengan turunnya air. Ketika air turun (dari langit), kehidupan di bumi tumbuh seketika atau tumbuh seiring waktu? Tumbuh seiring waktu. Ketika Quran akan masuk ke hati seseorang, hati itu akan berubah seketika atau seiring waktu? Hati akan berubah seiring waktu.

Abu Bakar Ash Shiddiq berubah dengan cepat. Tetapi banyak sekali sahabat yang berubah seiring waktu. Umar bin Khattab berubah setelah lima tahun, ini membutuhkan beberapa waktu. Abu Sufyan lebih lama lagi, memakan banyak waktu. Itu tidak terjadi dalam semalam.

Orang-orang hanya mengambil contoh dari Abu Bakar Ash Shiddiq, ngomong-ngomong, Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh yang sangat luar biasa bahkan bagi para sahabat, beliau terlalu hebat untuk dijadikan contoh. Bagaimana denganmu? Orang-orang mengambil contoh yang paling hebat dan membuatmu merasa rendah diri. Ada banyak sekali sahabat, ratusan ribu di antaranya, radhiyallahu anhum wa radhu anhu, yang tidak berubah seperti perubahan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ta’ala anhu. Mereka membutuhkan waktu dan Allah senang dengan mereka juga. Allah juga senang dengan mereka. Ajak manusia dengan bijak (hikmah). Biarkan mereka tumbuh, biarkan mereka mendengar. Biarkan mereka mendengar.

Saya sedang memberi ceramah di Inggris. Setelah selesai, seorang wanita mendatangiku dan berkata, “Tolong jangan beritahu siapapun, saya Syi’ah. Saya telah mendengarkan ceramahmu selama bertahun-tahun dan itu sangat membantuku. Tolong jangan beritahu siapa pun. Kau tahu kenapa? Karena itu wilayah Birmingham, Inggris. Huh… tempat itu gila.” Kalian tahu, seorang laki-laki mendatangiku, “Hey saudara, assalamualaikum, istriku, aku dan 50 teman kami, kami beragama Baha’i. Kami sudah mendengarkan ceramahmu sangat lama, tolong jangan beritahu siapapun.” Dan saya jawab, “Ya, selamat datang, assalamualaikum, duduklah, santai saja.”

Saya tidak perlu mendatangi dan berdebat dengan orang Syi’ah atau Baha’i itu atau siapapun. Kenapa? Karena perhatianku ialah memberikan “air” pada hati mereka, itu saja. Selebihnya, siapa yang melakukan? Selebihnya Allah yang akan melakukan, bukan kau, tapi Allah. Itu terserah Allah apa yang akan Dia lakukan, itu bukan terserah saya.

Kita tidak memberi orang lain kesempatan. Kita terlalu sibuk berargumen dan berdebat dan menjauhkan mereka dari Islam. Itu bukanlah hikmah. Itu sama sekali bukan hikmah. Serulah orang-orang pada jalan Tuhanmu dengan hikmah. “Bil hikmah.” Kemudian Allah berfirman,

Wal maw ‘izhotil hasanah.” (QS An Nahl: 125)

Serulah manusia dengan nasihat yang masuk ke hati mereka. Beri mereka nasihat yang akan masuk ke hati mereka. Yang akan masuk ke dalam hati mereka. Sekarang apa artinya itu? Itu bisa berarti banyak tapi saya akan tetap jelaskan dengan singkat pada kalian. Pelajaran yang sangat sederhana.

Kadang kau mengatakan hal-hal yang membuat orang marah. Kadang kau mengatakan hal-hal yang bisa mereka terima dan kadang kau mengatakan hal-hal yang membuat mereka bertambah marah dan mereka tidak mau mendengarkanmu. Kau harus mencari cara untuk mengatakan hal-hal yang bisa meluluhkan hati orang lain. Yang masuk ke dalam hati mereka dan tidak membuat mereka merasa diserang.

Mari saya memberimu sebuah contoh. Kalian tahu cerita tentang Hasan dan Husain radhiyallahu ta’ala anhuma, ketika mereka melihat seorang pria berwudhu tidak benar, kalian ingat cerita itu? Pria itu berwudhu tidak benar, apa yang mereka lakukan? Mereka bilang, “Hei, bapak tua… kau harusnya lebih paham. Astaghfirullah bapak tidak tahu cara berwudhu? Bapak harusnya malu, mari saya tunjukkan cara berwudhu yang benar.” Apakah itu yang mereka lakukan? Tidak. Jika mereka melakukan itu, bapak tua itu bisa jadi sangat marah. Beliau bisa jadi sangat marah.

Apa yang mereka lakukan? Mereka berwudhu dengan tenang di sampingnya dan hati bapak tua itu luluh. “Anak-anak ini berwudhu dengan tidak terburu-buru, saya pun harus begitu.” Ya atau tidak? Dengan kata lain, mereka menggunakan hikmah dan dengan “Al maw izho al hasanah.” “Al maw izho al hasanah,” artinya kamu memberikan nasihat dengan cara yang melembutkan hati. Kau tidak memberi nasihat yang membuat keras hati orang lain. Jika ia ingin berdebat denganmu dan berkelahi denganmu, tinggalkan dia.

Idzaa khoothoba humul jaahiluuna qoolu salaaman.” (QS Al Furqan: 63)

Ketika orang lain menjadi emosional, tinggalkan dia. Tidak perlu berargumen, tidak perlu berdebat. Da’wah tidak seperti perdebatan orang-orang. “Saya menda’wahi sepupuku, kami berargumen selama tiga jam.” Kau tidak berda’wah, saya tidak tahu apa yang kau lakukan, tapi itu bukan da’wah. Itu bukan da’wah. Ketika orang bersikap konyol, orang menjadi emosional, orang menjadi menjengkelkan, kita hanya perlu mundur. Mungkin lain waktu. Kita akan bicara lagi. Tidak apa-apa. Kau tidak harus meyakinkan orang seketika.

Dan ada beberapa dari kalian yang berkata, “Bro, saya hanya ingin melakukannya, saya melakukan bagian saya. Selebihnya ada di tangan Allah.” Seperti seorang laki-laki yang mendatangiku, “Saudara laki-lakiku, dia tidak shalat, jadi saya bilang padanya, kalau dia tidak shalat dia akan masuk neraka jahannam. Dan saya bacakan ayat itu padanya, kau tahu, ‘Fa laa shoddaqoo wa laa shollaa, Wa laakin kadzdzaba wa tawaalla.’ (QS Al Qiyamah: 31-32) Kau tahu, saya bacakan ayat itu dan dia tetap tidak mendengar. Sekarang saya bisa bilang pada Allah bahwa saya sudah melakukan bagian saya.”

Jawabku, “Kalau saja saya tidak akan masuk penjara, saya akan menamparmu sekarang juga. Apa maksudmu telah melakukan bagianmu, monyet!

Kita mengikuti contoh Rasulullah ‘alaihimu wa shalatu wassallam. Apakah mereka membacakan ayat pada orang lain satu kali dan berkata, “Well, saya sudah melakukan bagian saya. Ya Allah hukum saja mereka. Biarkan banjir terjadi.” Tidak seperti itu. Kau beri mereka nasihat, kemudian kembali (nasihati) lagi, kemudian kembali (nasihati) lagi, kemudian kembali (nasihati) lagi, kemudian kembali (nasihati) lagi, kemudian kembali (nasihati) lagi hingga akhir hidupmu. Hingga akhir hidupmu.

Dan beberapa orang bilang padaku, tapi Nuh alaihi salam akhirnya menyerah. Jawabku, “Oke, kalau kau hidup 950 tahun, kau juga akan menyerah.” Lain kali jika ingin mencontoh Nuh alaihi salam (saat menyerah), lakukan saat kau sudah lebih tua. Kemudian kau boleh mencontoh Nuh alaihi salam, kalian tahu. Begitulah bila tidak menggunakan hikmah, kita tidak menggunakan hikmah. Kita tidak menggunakan “Al maw izho al hasanah.” Nasihat yang baik, yang berkesan akan membuat orang merasa lebih baik.

Kalian tahu, saya akan katakan padamu, mungkin saya akan mendapatkan masalah dan saya tak peduli. Saya akan katakan apa yang saya lihat. Kalian tahu satu hal yang sangat mengecewakanku saat saya datang ke sini? Hal yang sangat, sangat, mengecewakanku adalah orang-orang yang merupakan supir taksi, di seluruh Teluk, saya tidak bicara tentang (Dubai), di seluruh Teluk. Orang yang merupakan supir taksi atau orang yang merupakan – kalian tahu – para petugas kebersihan di hotel. Orang yang merupakan petugas toko – kalian tahu – orang yang merupakan penyapu jalanan, kita melewati mereka dan bahkan tanpa mengatakan salam pada mereka. Kita bahkan tidak mengucapkan salam, “Ah… ini, eh.. mereka ‘kan cuma,” dan itu sangat mengecewakanku.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Al kasibu habibullah. Al kasibu habibullah.” Siapa yang bekerja keras mencari nafkah akan disayangi Allah. Allah menyayangi orang-orang yang bekerja keras mencari nafkah. Orang itu, lelaki (*etnis) Phatan yang membuat kue Naan sepanjang hari dan baju Shalwar Kameez-nya terlihat coklat meskipun itu putih, sekarang berubah menjadi coklat dan abu-abu. Dia bekerja sepanjang hari dan kau memandangnya, “Dia itu seperti...” (merendahkan) Tidak, tidak, tidak, tunggu dulu, “Al kasibu habibullah.” Dia setidaknya layak mendapatkan salam darimu. Setidaknya ia pantas mendapatkan salammu.

Dan kita memiliki pemikiran yang tertanam bahwa sebagian orang lebih baik dari sebagian yang lain. Tidak ada hal seperti itu dalam agama ini. Setiap manusia adalah sama, setiap manusia adalah sama. Dan terutama para muslim, “Innamal mu’minuuna,” maa dzaa (apa)? “Ikhwah.” bukan “Darajaat.” “Innamal mu’minuuna ikhwah.” (QS Al Hujurat: 10) Semua orang beriman adalah sama.

Laki-laki mendatangiku, dia bekerja di hotel, dia mengenaliku, “Tuan, boleh saya berfoto denganmu?

Dan saya bilang, “Kenapa kau panggil saya tuan, bro, saya saudaramu.”

Oke, tuan. Tuan, saudara, boleh saya berfoto denganmu?” (Penonton tertawa)

Hal ini sudah melekat dalam pikiran bahwa sebagian orang lebih baik dari orang lain. Itu tidak benar, itu tidak benar. Semua manusia adalah sama. Dalam agama ini, kita berdiri dalam satu barisan, ya atau tidak? Kau tidak memeriksa paspor seseorang sebelum menempatkan mereka di baris pertama. Kau tidak bertanya, “Hei, berapa besar gajimu? Oh kau duduk di baris keempat.” Kau tidak melakukan itu!

Shalat itu sendiri mengajarkan kita bahwa setiap manusia harus diperlakukan sama. “Al maw izho al hasanah,”-mu di masyarakat ini dan di banyak masyarakat muslim lainnya. Ini terjadi di Pakistan, ini terjadi… saya tidak memilih orang Teluk. Saya bahkan tidak memilih. Ini terjadi di Pakistan, Mesir, Bangladesh, India, kalian pergi ke sana. Kalian tahu, sebagian keluarga kaya dan mereka pergi ke restoran, kalian tahu, dan saya melihatnya dengan mata saya sendiri suatu kali. Mereka pergi ke restoran dan terdapat, kalian tahu, jendela gelap dan anak ini memaksa membuka jendela otomatis ini dan terdapat seorang anak berusia 12 tahun, anak orang kaya, umur 12 tahun. Kemudian seorang bapak tua datang, “(bahasa Urdu),” dan bapak tua itu, lelaki tua, bapak tua berusia 60 tahun. Anak itu berkata, “(bahasa Urdu dengan nada tak sopan.) Cepat ambilkan!” Seolah-olah ia sedang berbicara pada anak umur 5 tahun. “(bahasa Urdu).” Jika saya tidak akan ditahan, saya akan seret keluar anak itu dan (gerakan tangan menampar) “(bahasa Urdu).” Bapak itu lebih tua darimu. Ini orang yang lebih tua, perlakukan dengan hormat, perlakukan dengan hormat.

Apa artinya menghafal Quran, mempelajari kitab Allah dan kau tidak memperlakukan pesuruh dengan hormat, petugas kebersihan dengan hormat dan supir taksi dengan hormat. Apa yang kau pelajari? Kenapa kau mempelajarinya? Apa tujuannya? Jadi kita harus mengubah pola pikir kita. Inilah “Maw izho hasanah” untukmu. Membuat orang merasa terhormat dalam masyarakat ini. Untuk memberi mereka nasihat dengan baik, berbicara dengan mereka sederajat, berbicara dengan hormat.

Kalian tahu, setiap manusia layak mendapat hormat, setiap manusia. Dan saya katakan, bukan hanya untuk sesama muslim, tetapi seluruh manusia harus diperlakukan dengan hormat. Bagaimana mereka ingin mendekat pada Islam jika mereka melihat kita berperilaku seperti ini? Alasan apa yang kita berikan pada mereka? Orang-orang selalu bilang, “Masalah umat ini adalah masalah politik, masalah ekonomi, masalah sosial, masalah pendidikan.” Saya katakan, “Bukan, masalah umat ini adalah masalah hikmah. Masalah hikmah, masalah ‘Maw izho hasanah,’ itulah masalah yang sebenarnya.”

Dan ngomong-ngomong, dalam berda’wah tidak berarti kau selalu bersikap lembut. Ini adalah kebijaksanaan Allah, semuanya seimbang. Kau tidak selalu bersikap lembut. Kadang orang menyerangmu. Kadang orang mengolok-olokmu. Kadang orang menghina Nabi kita shalallahu ‘alaihi wassallam. Ketika itu terjadi, bukan saatnya menjadi lembut, ini saatnya menjadi tangguh. Dan apa yang Allah firmankan?

Ud’u ilaa sabiili rabbika bil hikmati, wal maw’izhotil hasanati, wa jaadilhum billatii hiya ahsanu..” (QS An Nahl: 125)

Dan berdebatlah dengan mereka, berargumenlah dengan mereka, hadapi mereka, dengan sesuatu yang lebih baik.

Tapi apa itu lebih baik? Jika mereka berargumen, berargumenlah dengan yang lebih baik. Jika mereka marah, kau gunakan ketenangan. Jika mereka mengatakan kata-kata kotor, kau hanya gunakan kata-kata yang baik. Karena tiap kali kau merespon, harus dengan sesuatu (yang) apa? Sesuatu yang lebih baik. Harus dengan sesuatu yang lebih baik.

Apa yang terjadi saat mereka menghina Nabi kita? Apa yang terjadi dengan kita? Kau memiliki komentar-komentar seperti ini di video YouTube dari Muslim. “Oh kami benci kau kafir dan kami akan membunuhmu dan kau orang yang (sensor) (sensor) (sensor) (sensor).” Demi Allah, orang ini mengutuk. Dimanakah letak “Billatii hiya ahsan?“ Ada apa denganmu? Berhentilah melakukan trolling di video YouTube. Tidak ada yang peduli dengan komentarmu di YouTube. Tidak ada yang peduli.

Kita harus menjadi orang-orang yang berbicara dengan dewasa. Umat muslim adalah para intelektual. Kita adalah orang-orang cerdas. Kita adalah orang-orang pintar. Kita bukan orang-orang yang emosional. Sekarang ini, dunia menganggap kita sebagai orang-orang yang emosional. Itu kesalahan kita, karena kita belum belajar dari kitab Allah bagaimana cara merespon dengan cerdas. Kita hanya belajar merespon dengan emosional. Kita harus meningkatkan status kita.

Wa jaadilhum billatii hiya ahsan.” (QS An Nahl: 125)

Sekarang di akhir dari semua ini. Semua ini. Menyeru orang dengan hikmah, membantu seseorang, menasihati seseorang. Kalian tahu apa yang terjadi? Ada masalah yang sangat besar.

Ketika saya menasihati seseorang, kadang muncul masalah. Saya menganggap diri saya lebih baik dari mereka. Saya pikir saya lebih baik dari mereka, mereka butuh nasihat saya. Dan ini masalahnya, terutama jika kau terbiasa memberikan nasihat, kemudian kau berpikir kau jauh lebih baik dari orang lain.

Dengarkan, sekarang saya punya mikrofon di sini dan ada sekitar 18 juru kamera, menyorot ke arah saya. Tapi apa kalian tahu? Ini tidak berarti apa-apa. Saya tidak lebih baik darimu dan kau tidak lebih baik dari saya. Dan siapa yang lebih baik dari siapa? Hanya Allah yang tahu. Hanya Allah yang tahu. Ini bukan tentang superioritas, bukan, itu bukan (tentang superioritas). Jadi apa yang Allah firmankan?

Inna rabbaka huwa a’lamu biman dholla ‘an sabiilihi, wa huwa a’lamu bil muhtadiin.” (QS An Nahl: 125)

Tuhanmu, hanya Dialah yang mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya. Allah lebih mengetahui jika saya tersesat atau kau tersesat. Saya bahkan tidak tahu apakah saya benar-benar berada dalam bimbinganNya. Saya bahkan tidak mengetahuinya. Sebelum saya berpikir tentang membimbingmu, saya perlu mengetahui, Allah adalah satu-satunya yang tahu di mana saya berdiri, di mana posisiku sebenarnya. Jadi saya harus rendah hati kepada Allah. Sebelum saya menasihati orang lain, saya tidak berkata, “Subhanallah orang-orang ini sangat sesat saya harus menolong mereka.” Tunggu, tidak! Tunggu dulu, saya bahkan tidak tahu di mana saya berdiri.

Dan yang kedua, ketika kau menasihati orang lain dan mereka tidak mendengarmu, mereka tidak berubah sesuai arah yang kau harapkan, tidak bertransformasi. Ini tidak berarti mereka sesat, mungkin saja ada benih yang tumbuh dan kau tidak tahu. Allah tahu apa yang terjadi di dalam (hati). Kita hanya tahu yang terjadi di mana? Di luar. Dan kita merasa frustasi dengan yang kita lihat di luar. Kita tidak memperhatikan apa yang terjadi di dalam (hati).

Ini hal terakhir yang kusampaikan untukmu semua. Kali ini saya ingin menyimpulkan. Karena ini salah satu masalah terpenting yang terjadi pada umat muslim sekarang. Umat sekarang ini, salah satu masalah terbesarnya ialah kurangnya hikmah dan kurangnya hikmah menunjukkan bahwa kita hanya peduli pada apa yang ada di luar dan tidak peduli pada apa yang ada di dalam (hati). Bahkan dalam Islam, bahkan dalam Islam.

Anak yang baik ialah yang menghafal seluruh isi Quran, itu yang ada di luar. Orang yang baik adalah orang yang punya banyak ilmu, itu yang ada di luar. Itu bukan di dalam. Kau bisa saja punya banyak ilmu dan tetap menjadi orang yang buruk, apakah mungkin? Kau bisa saja menjadi hafizh Quran dan tidak peduli sama sekali dengan Allah dan RasulNya. Apakah mungkin? Yah, menjadi seorang hafizh tidak membuat orang itu menjadi baik. Menghafal (Quran) itu penting, anak-anakku juga menghafal. Tapi menghafal hanyalah satu bagian kecil. Kita harus memperbaiki apa yang ada di dalam, yang sangat sangat penting. Lebih penting dari yang lain, dari yang lainnya.

Orang mengatakan, “Hingga kau memiliki banyak ilmu, kau tidak berharga di mata Allah.” Saya katakan, “Saya tidak tahu Quran mana yang kau baca, tapi itu bukan kitab yang saya pelajari, bukan kitab yang saya pelajari.”

Kalian tahu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam sedang membaca Quran dan beberapa jin lewat. Kalian tahu cerita itu? Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam sedang membaca Quran dan beberapa jin lewat dan para jin mendengar ayat Qur’an yang dibacakan.

Wa idz sharofnaa ilayka nafaramminal jinni yastami’uunal quraan falammaa hadhoruuhu qooluu anshituu falammaa qudhiya wallaw ilaa qawmihim mundziriina.” (QS Al Ahqaf: 29)

Sekelompok jin lewat, Allah membuat mereka lewat dan ketika mendengar Quran, mereka berkata, “Ssssst sssst apa itu?” Dan ketika selesai dibacakan, mereka kembali ke bangsa mereka dan mulai berda’wah.

Berapa lama para jin itu mendengar Quran? Beberapa menit. Apakah mereka memiliki gelar dalam ilmu tafsir? Apakah memiliki gelar akademik? Dari mana mereka mendapat ijazah ilmu tajwid? Di mana jin ini belajar Quran dan berapa lama mereka ? Berapa lama? Beberapa menit. Dan apa yang terjadi setelahnya? Mereka kembali ke bangsanya dan mulai menyeru bangsa jin pada kitab Allah. Dan da’wah mereka sangat indah hingga Allah menjadikannya bagian dari ayat Quran. Dari Quran kita mengetahui pembicaraan mereka. Apakah para jin itu ulama? Apakah mereka ahli fiqh? Bukan. Mereka adalah jin biasa. Orang biasa di spesies mereka. Tapi kalian tahu apa yang membuat mereka istimewa di sisi Allah? Ketulusan mereka. Ketulusan mereka.

Kita suka membuat agama ini rumit. Allah menciptakan agama Allah ini sangat mudah, sederhana, indah, hingga para jin pun paham. Dan mereka bahkan tidak punya gelar Ph.D. Dan mereka bisa memahaminya. Kita sering memperumit sesuatu. Kenapa kita suka mengajarkan Islam dengan cara yang rumit. Padahal Allah senang mengajarkannya dengan cara yang sederhana. Itulah kebijaksanaan Allah, membuat sesuatu menjadi sederhana. Kita memperumitnya.

Seseorang membaca Quran dan kita bertanya, “Dari mana kau dapat ijazah? Apakah Hafs? Apakah Hafsil ‘asir? Atau Warsh? Oh, bacaan qalqalahmu harusnya lebih panjang, mad yang kau baca harusnya seperti ini.” Kau bisa menghabiskan tiga tahun mempelajari tajwid dan tidak yang lain. Kau membuat sesuatu… ini tidak pernah terjadi di masa lalu, ngomong-ngomong, tidak pernah terjadi. Kita suka memperumit sesuatu. Kita menjadi obsesif kompulsif terhadap sesuatu. Allah tidak melakukan itu. Allah tetap membuat sesuatu sederhana, mudah.

Seseorang bilang, saya Muslim.

Oh yah, kau Muslim? Apa aqidahmu?

Aa… saya Muslim.” 

Bukan bro’, apa yang kamu imani?

Aa… La ilaha illallah.”

Bukan, bukan, bukan. Kitab aqidah yang mana yang kau baca?

Aa…. saya tidak baca kitab aqidah, saya hanya tahu bahwa Allah itu satu.

Tidak akhi, kau harus belajar aqidah, kau harus memperdalamnya, kau harus memperdalamnya.”

Oh, tunggu sebentar. Mari melangkah mundur. Ibrahim ‘alaihi salam. Ibrahim ‘alaihi salam. Dengarkan perkataannya dalam Quran. Rumit atau sederhana? Sederhana. Apa yang sering kita lakukan? Memperumit bahkan hal-hal yang paling sederhana. Kita menyukainya. Kita suka memperumit.

Saya tidak mengatakan, jangan belajar aqidah. Untuk para “Tholabul ‘ilm” yang akan menjadi “Mutamayyiz” yang hendak memperdalamnya, pelajarilah! Tapi untuk orang lain, silahkan tinggalkan saja.

Jaga sesuatu tetap sederhana. Karena Ibrahim ‘alaihi salam menyederhanakannya. Shaleh ‘alaihi salam menyederhanakannya. ‘Isa ‘alaihi salam menyederhanakannya. Mereka adalah guru terbaik pilihan Allah. Mereka adalah guru terbaik dari semua guru, para nabi ‘alaihi washalawatu wassallam. Dan yang terbaik dari perkataan mereka dijadikan bagian dari Quran. Kau tidak akan datang dengan cara yang lebih baik untuk mengajarkan iman pada orang lain selain dari Quran. Ini tidak akan terjadi.

Dan Allah membuat sesuatu mudah, kita membuatnya sulit. Wallahi, kita melakukannya. Kita keras pada orang, Allah memudahkan orang. Pemikiran yang saya bagi dengan kalian di bagian akhir ini. Bagaimana kita tidak lagi memiliki keseimbangan dalam menampilkan Islam ialah membuat sesuatu menjadi sulit bagi umat muslim. Banyak sekali muslim mengira mereka tidak taat pada Allah dalam segala hal. Dan Allah akan menghukum mereka, Allah selalu marah pada mereka. Dan Allah sendiri berfirman,

Maa yaf’alullaahu bi ‘adzaabikum.” (QS An Nisa: 147)

Apa yang akan Allah dapatkan dengan menghukummu? Allah tidak ingin menghukummu.

Kita harus menyebarkan “Rahmah” agama ini, “Rahmah” kitab ini. Hujan harus turun kembali. Hujan juga adalah “Rahmah” dari Allah, ya atau tidak? Ya. Jadi Quran adalah rahmah dari Allah, ya atau tidak?

Poin terakhir. Mari saya kutunjukkan bahwa Quran adalah rahmah dari Allah. Saya baru saja memberi ceramah tentang surat Ar Rahman di Qatar. Saya akan berbagi sesuatu dengan kalian, hanya satu hal. Pikirkan ini ketika kalian pulang nanti.

Dalam Ar Rahman dimulai dengan “Ar Rahmaan.” Nama Allah yang sangat indah, benar? Nama Allah yang mengandung cinta, nama Allah yang mengandung kepedulian, nama Allah yang melekat dengan kata “Rahm,” nama Allah yang sangat indah.

Seseorang datang, gadis ini mendatangiku di Boston. Dia berkata, “Saya keluar dari Islam.” Dia berkata, “Saya keluar dari Islam.”

Saya bertanya, “Kenapa kau keluar dari Islam?

Dia menjawab, “Karena surat Ar Rahman.”

Saya berkata, “Kenapa? Apa yang surat Ar Rahman lakukan padamu?”

Dia berkata, “Di surat Ar Rahman, Allah memulai dengan ‘Ar Rahmaan,’ menunjukkan bahwa Dia sangat penuh cinta dan peduli dan pengasih. Dan di tengah surat, Dia mulai membahas neraka dan bagaimana orang-orang akan dibakar dan bagaimana mereka akan disiksa. Bagaimana bisa Allah yang sangat penuh cinta dan kasih sayang menyiksa orang-orang? Bagaimana bisa Dia melakukan itu?

Dan saya mengobrol panjang dengannya, tapi saya hanya berbagi satu hal dengan kalian. Deskripsi neraka Jahannam di surat Ar Rahman adalah salah satu deskripsi paling mengerikan di Quran. Deskripsi berikut ini berating R untuk gambaran kata-kata dan konten menakutkan. Kau akan mendengar perkataan di mana manusia direbus hidup-hidup dan ketika mereka direbus, mereka melihat api di sisi lain dan berkata, “Mungkin api itu lebih baik.” Jadi mereka meninggalkan air mendidih dan berlari menuju api tapi apinya membakar sangat panas, mereka melihat kembali ke air mendidih dan berkata, “Tidak, saya seharusnya pergi ke air yang mendidih itu kembali.”

Oh Tuhanku! Deskripsi yang sangat sangat mengerikan tentang apa yang akan terjadi di neraka Jahannam. Dan apakah ini menakutkanmu? Apakah itu menakutkanmu? Sebab itu sangat membuatku takut. Dan segera setelah kau menjadi takut, apa yang dikatakan Allah?

Wali man khoofa maqooma rabbihii jannataan.” (QS Ar Rahman: 46)

Siapapun yang takut akan saat menghadap Tuhannya, dia mendapatkan dua surga. Inti dari menakut-nakutimu adalah untuk menjaminmu surga. Itulah intinya. Dia menakutimu dan berkata, “Kau takut? Oke. Kau mendapat dua surga.” Subhanallah. Bahkan ketika Dia menakutimu, Dia memberimu sesuatu yang baik. Itulah yang Allah lakukan. Kita tidak lakukan itu, kita hanya suka menakuti orang. Kita hanya suka bersikap negatif pada orang lain.

Saat ini adalah masa depresi bagi umat. Hal ini membutuhkan pesan positif. Dan tidak ada nasihat yang lebih positif dibanding kitab Allah yang dimulai dengan “Alhamdulillah.” Kata “Alhamdulillah,” berarti kita bersyukur pada Allah dan kita berterima kasih pada Allah atas segalanya. Tidak peduli seberapa buruk hal tersebut, kita tetap bersikap positif karena setiap shalat kita mengawalinya dengan apa? Alhamdulillah. Itu berarti kita harus menjadi orang yang positif. Kita tidak boleh menjadi orang yang depresi, orang yang negatif dan orang yang marah dan orang yang menghakimi. Kita harus menjadi orang yang bersyukur dan bersikap positif. Inilah pesan dari kitab Allah, ini adalah hikmah yang harus kita resapi.

Saya berdoa agar Allah azza wajall memberi kalian kekuatan untuk memberikan manfaat dan bermanfaat bagi bagi orang lain melalui hikmah kitab Allah subhanahu wa ta’ala. Dan saya berdoa semoga Allah azza wajall memberi kita semua kemampuan untuk menjadi contoh bagaimana seharusnya kitab ini direpresentasikan, sebagai warisan berharga dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam.

Terakhir, saya hanya akan memberi pengumuman dan saya selesai untuk malam ini insya Allah ta’ala. Pengumuman yang hendak kusampaikan untuk kalian ialah untuk yang tertarik untuk belajar Quran bersamaku. Saya tidak bisa sering datang ke Dubai, tidak bisa sering datang ke Khaleej. Saya rindu sekali dengan anak-anakku dan saya punya banyak anak. Saya punya enam anak, itu banyak.

Saya tahu untuk seseorang dia akan bilang, “Heh, saya punya 12 (anak).”

Tidak, tidak, tidak, kalian tahu, bagi saya enam itu banyak. Ok? Bagi saya dan di Amerika itu terhitung banyak, ketika kami pergi ke taman, orang akan bertanya, “Mereka semua anakmu?

Yea, ini anak-anakku...”

Kau bisa kewalahan.”

Saya bilang, “Ya begitulah, teman.”

Kalian tahu (tertawa). Jadi saya merindukan anak-anakku, saya harus tinggal di rumah, saya ingin mengerjakan pekerjaanku dari rumah. Tapi itu tidak berarti saya tidak bisa memberi kalian manfaat.

Jika kalian mendapat manfaat dari yang saya kerjakan, itu karena sebagian besar apa yang kalian lihat saya lakukan, tidak saya kerjakan di sini. Itu saya yang duduk di Texas mencoba sampai ke kalian. Itulah apa yang saya coba lakukan.

Ada dua, terutama untuk para anak muda. Saya rekomendasikan dua pelajaran. Jika kalian dapat mempelajarinya, Itu akan menjadi awal yang baik dalam perjalananmu bersama Quran. Oke? Hanya dua pelajaran. Yang pertama berjudul “Divine Speech” ini tidak di YouTube. Di YouTube hanya ada satu atau dua video tapi pelajaran lengkapnya disebut “Divine Speech”. Dan pelajaran kedua berjudul “Quran for Young Adults” Apa pelajaran pertama? “Divine Speech”. Bagus. Dan yang kedua? “Quran for Young Adults”.

Saya rekomendasikan dua pelajaran ini, terutama untuk para anak muda, keluarga. Jika anakmu berumur 10 – 12 tahun, mereka bisa mempelajari keduanya, pelajarilah bersama-sama. Ini akan menjadi pengantar Quran yang baik dan kuat. Sebelum kalian mempelajari Quran insya Allah ta’ala. Karena kalian butuh sedikit pengantar sebelum masuk ke intinya, kalian tahu. Jadi itulah tujuan adanya “Divine Speech” dan “Quran for Young Adults”.

Saya akan kuberitahu sedikit tentang “Divine Speech”. Orang-orang bertanya, “Kenapa Allah menggunakan kata ‘“Kami’ dalam Quran?” Orang-orang bertanya, “Bagaimana bisa surat-surat dalam Quran berada dalam urutan yang berbeda?” Orang-orang bertanya, “Kenapa subjek dalam Quran berbeda-beda?” Ketika mereka menanyakan pertanyaan seperti itu, saya berusaha mengumpulkan semuanya dan menjawab setiap pertanyaan. Jadi kalian bisa memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kitab apa yang sedang kalian pelajari. Ketika kalian paham bahwa kalian sedang mempelajari Quran, kalian bisa mengapresiasinya dengan lebih baik.

Kedua pelajaran ini tersedia secara online, kalian bisa mengakses Bayyinah. Jika kalian tidak tahu cara mengeja Bayyinah, beristighfarlah, shalat dua raka’at dan sembelih seekor unta. Ok? Buka bayyinah [dot] tv dan kalian dapat mengakses kedua pelajaran ini insya Allah. Bayyinah [dot] tv.

Terima kasih banyak sudah menyimak malam ini, jazakumullahu khayran. Semoga saya bisa bertemu kalian kembali besok malam. Barakallahuli wa lakum. Assalamu’alaykum warahmatullahi.

Advertisements

2 thoughts on “[Transcript Indonesia] Diperlukan Kebijaksanaan Dalam Berdakwah – Nouman Ali Khan – Gulf Tour 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s