[Transcript Kartun Islami] Pelajaran Dari Surat At-Takaatsur – Nouman Ali Khan

[Membaca surat At-Takaatsur 1 – 8]. Sedikit membahas tentang ayat pertama “al haakumut takaatsur“. “Alhaa” dalam bahasa arab adalah bentuk lampau. “Ilhaa” berasal dari kata “lahwun“. “Lahwu” adalah bentuk transletralnya. Sedangkan bentuk “tsulatsii maziid“nya adalah “ilhaa“. Itulah bentuk “masdar“-nya.

Jadi, “alhaa” – “yulhii” – “ilhaa“. Tapi kata dasarnya adalah “lahwu“. Lam, Ha, dan Waw. Yang secara harfiah berarti hiburan. Yang secara harfiah berarti hiburan. Dalam surah yang lain Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan, “I’lamuu annamal hayaatud dunyaa la’ibuw walahwun” (QS Al Hadid: 20). Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanya permainan dan hiburan semata. Jadi ini adalah salah satu arti yang dipahami dari kata “lahwun“.

Arti lain yang juga bisa dipahami dari kata “lahwun” ini adalah sesuatu yang membuatmu sibuk. Dan mengalihkanmu dari sesuatu yang seharusnya kamu lakukan. Dan sebenarnya itulah esensinya hiburan. Hiburan itu esensinya adalah membuang waktu. Dan kau harusnya dapat menggunakan waktu itu. Untuk sesuatu yang lebih produktif. Tapi kamu menghabiskan waktu tersebut untuk menghibur dirimu.

Itulah esensi dari kata “lahwu“. Tapi ketika kita bertemu kata “ilhaa“. Itu artinya adalah “untuk dialihkan/telah dialihkan (dilalaikan)”. Untuk ditarik/menjauh dari sesuatu. Dan di dalam kata itu sendiri. Sudah memiliki pesan bahwa sesuatu yang mengalihkanmu itu kurang penting. Dan apa yang kau teralihkan darinya adalah yang lebih penting. Itu sudah termasuk di dalam kata itu sendiri (“ilhaa“, red.).

Sekarang, kata ini juga banyak digunakan di dalam Al-Qur’an. Sebagai contoh di dalam surah Al-Munafiqun (ayat 9). Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan kita. “Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa TULHIKUM” kata kerja yang sama. Hanya saja di ayat ini bentuknya “fi’il nahi” (kata kerja larangan). Dalam bentuk present tense (masa kini). “Laa tulhikum amwaalukum wa laa awlaadukum ‘an dzikrillah” Jangan biarkan uangmu dan anak-anakmu, menjauhkanmu/mengalihkanmu dari mengingat Allah.

Jadi Allah sedang menekankan di sini. Ketika kita sedang mengingat Allah. Bahkan uang dan anakmu menjadi kurang penting. Mereka menjadi sesuatu yang melalaikan dari mengingat Allah. Padahal harusnya uang dan anak kita adalah salah satu sebab yang menjadi kita semakin ingat kepada Allah. Dan itulah yang akan kita pelajari di surah ini. Bagaimana caranya kau mengambil apa yang kau punya. Bukan sebagai sesuatu untuk melupakan Allah. Tapi justru untuk mengingat Allah. Itulah esensi pelajaran yang ada di surah ini.

Ada sebuah kejadian menakutkan dalam kehidupan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Beliau kelaparan, beberapa hari tidak makan. Kemudian Abu Bakar ash-shiddiq datang. Kalau melihat wajahnya, kita tahu dia juga kelaparan. Umar bin Khattab datang, kita bisa melihat di wajahnya. Dia juga tidak punya sesuatu untuk di makan. Dan dia tidak mengkhawatirkan dirinya.

Siapa yang para sahabat khawatirkan? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jadi mereka pergi ke rumah salah satu sahabat yang agak lebih kaya. Dan saat itu dia sedang tidak di rumah. Mereka mengucap “Assalamu’alaikum” beberapa kali dari luar pintu. Tapi tidak ada yang menjawab. Jadi ketika kau sudah mengucapkan “Assalamu’alaikum” dua kali. Apa yang akan kau lakukan? Beliau pergi.

Dan ketika beliau pergi, istri dari sahabat itu keluar dan berkata, “Kami mendengar salammu yang pertama. Kami hanya ingin mendengar ucapan salam dari Rasulullah di rumah kami lebih dari sekali. Itu sebabnya kami tidak
menjawab salam yang pertama.”

Jadi mereka memberikan Rasulullah sedikit makan. Makanan sederhana, sedikit air, sangat sedikit untuk di makan. Dan Beliau berkata kepada Abu Bakar Ash-shiddiq radhiallahu anhu. Beliau juga berkata kepada Umar bin Khattab radhiallahu anhu. Beliau berkata, “Nanti kita akan ditanya tentang kenikmatan ini.”

Hanya itu, dan bandingkan dengan kita. Mereka hanya mendapat sedikit air setelah dehidrasi beberapa hari. Bandingkan dengan apa yang kita makan sehari-hari dan bagaimana pakaian yang kita pakai dan bagaimana kita tidur. Bisa kau bayangkan? SubhanAllah.

Agama ini, pemikiran kita ditata ulang. Bagaimana cara kita berpikir ditata ulang. Kau tahu, sekarang kita mengalami banyak kebingungan di dalam umat. Semakin banyak dunia yang kau peroleh. Kau akan mengucapkan, “Alhamdulillah saya punya rumah yang nyaman.”

Yang sebenarnya baik, memang sudah seharusnya kau berkata begitu. Tapi kau juga bisa mengatakan, “Astaghfirullah, nanti aku juga akan ditanya tentang rumah yang nyaman.” Aku akan ditanya. Semakin banyak yang aku punya, semakin banyak aku akan ditanya. Semakin sedikit yang aku punya, semakin sedikit pula aku akan ditanya. Jadi orang yang punya kelebihan. Tidak ada yang salah dengan punya kelebihan. Tapi kau sebaiknya siap dengan apa? Kau sebaiknya siap untuk menjawab. Sebaiknya kau siap. Karena kau punya “Na’iim” yang lebih dari yang lain.

Tapi kau tau bagaimana pemikiran religius saat ini. Semakin banyak dunia yang kau miliki, itu artinya Allah semakin mencintaimu. Dunia ini bukan tanda apakah Allah mencintaimu atau membencimu. Dunia ini hanyalah cobaan. Dia adalah cobaan bagi yang kaya. Dan dia juga cobaan bagi yang miskin.

Orang-orang terkaya di dalam sejarah adalah sebagian orang-orang yang paling buruk. Fir’aun adalah orang yang sangat kaya, ya ‘kan? Dan orang-orang yang miskin, yang tidak punya rumah. Ibrahim alaihi salam diusir dari rumah. Dia kehilangan hak imigrasinya. Dan dia dibuang menjadi anak jalan. Tapi dia menjadi manusia terbaik yang pernah ada, ya ‘kan?

Dan kita tidak mengatakan bahwa kekayaan itu jahat. Kekayaan itu sama sekali tidak jahat. Tapi dia juga bukan sesuatu yang baik. Semuanya itu hanyalah cobaan. Dan semua cobaan yang datang dari Allah adalah nikmat. Semuanya itu adalah nikmat. Dan kita akan ditanyai satu per satu tentang nikmat yang kita terima.

Tsumma latus alunna yawmaidzin ‘anin na’iim” (QS At Takaatsur ayat 8). Makna lain dari “Na’iim” karena ada huruf “ya” di situ. Adalah nikmat yang terus-menerus. Nikmat yang dapat kau rasakan terus menerus. Kau membuka keran dan air langsung mengalir. Kau membuka mata dan kau bisa melihat. Kau tidak perlu mencari semacam aplikasi untuk bisa melihat. Mereka sudah disediakan sehingga kau dapat memakainya kapan saja. Jadi kau akan ditanya tentang nikmat-nikmat semacam ini.

Asy Syaukani berkomentar tentang hal ini. Dia berkata, sungguh menarik bagaimana dia menghubungkan hal ini, subhanAllah. “‘anin na’iim addunyaa alladzii alhaakum ‘anil amaalil aakhiraah.” Surah ini dimulai dengan apa yang dilakukan oleh “at-Takaatsur” terhadap kita. Mereka melalaikanmu. Apa hal-hal yang melalaikan kita? Na’iim… nikmat yang Allah berikan kepada kita. Menjadi sesuatu yang melalaikan kita. Jika kita ingat bahwa nikmat ini akan ditanya.

Nikmat itu bukan menjadi sesuatu yang akan melalaikan kita. Nikmat itu justru yang akan menjaga kita tetap di jalanNya. Nikmat dari Allah menjadi jalan untuk mengingatNya dan untuk bersyukur kepadaNya. Dan untuk mengingat bahwa kita nanti harus menjawab. Amanah yang sudah Allah titipkan kepada kita. Karena pada akhirnya apapun yang telah diberikan ke kita. Itu bukan milik kita. Itu adalah milik Allah.

Famaa uutiitum min syai-in famataa’ul hayaatid dunyaa” (QS Asy-Syura ayat 36). Maka apapun yang telah diberikan kepadamu adalah kenikmatan di dunia. Itu adalah pemberian, itu bukan milikmu. Apa kau paham maksudmu itu diberikan untukmu? Itu berarti bukan milikmu, itu milik orang lain, oke? Itu adalah milik Allah, dan Dia memberikannya kepadamu. Dan karena itu dititipkan kepadamu, maka dia juga akan diambil kembali nanti. SubhanAllah.

Tsumma latus alunna yawmaidzin ‘anin na’iim” (QS At Takaatsur ayat 8). Dalam kaitannya dengan “na’iim” bagi orang yang beriman. Ada sebuah pendapat lain yaitu, itu juga berarti kedatangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Itu juga termasuk Al-Qur’an. Itu juga termasuk kebenaran. Bukankah itu adalah nikmat yang paling besar di dunia ini?

Apa yang sudah kau lakukan dengan nikmat itu? Apa yang sudah kau lakukan dengan pengetahuan ini? Apa yang sudah kau lakukan dengan nikmat yang Allah berikan. Yaitu mengucapkan “Muhammadur Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” Itu bukan nikmat yang kecil. Sekitar 80% populasi dunia tidak menikmati itu.

Tapi kita menikmatinya. Kau juga akan ditanyai tentang hal itu.

===========

Transcript: https://nakindonesia.wordpress.com/2015/09/12/distractions-lesson-from-surah-takathur
YouTube: https://youtu.be/peOfGGvXG1M
Facebook: https://www.facebook.com/NoumanAliKhanIndonesia/videos/1665318313682102

Follow NAK Indonesia:

https://nakindonesia.wordpress.com
http://nakindonesia.tumblr.com

https://instagram.com/nakindonesia
https://www.facebook.com/NoumanAliKhanIndonesia
https://www.youtube.com/NAKIndonesia

Advertisements

One thought on “[Transcript Kartun Islami] Pelajaran Dari Surat At-Takaatsur – Nouman Ali Khan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s