Wawancara Hadits of the Day Dengan Nouman Ali Khan


Pada tahun 2012 Hadits of the Day (HOTD) melakukan wawancara dengan ustadz Nouman Ali Khan. Berikut ini terjemahan wawancara tersebut.

Nouman Ali Khan merupakan seorang pemuda, da’i yang dinamis, yang melakukan pendekatan dakwah yang simpatik, mudah dimengerti dan praktis. Ia pindah ke Amerika Serikat pada usia muda, dan menemukan kembali keindahan Islam di perguruan tinggi. Yang kemudian membuatnya termotivasi untuk belajar Islam lebih mendalam. Setelah belajar bahasa Arab di Arab Saudi dan kemudian di Pakistan, ia mendirikan Bayyinah Institute, dimana ia sukses mengajari ribuan orang menguasai bahasa Arab.

Sementara kegiatan dakwahnya berpusat di Amerika Serikat, sesi ceramahnya, yang mencakup berbagai topik, tersedia di YouTube. Daya tarik ceramahnya berasal dari kemampuannya untuk menempatkan agama dalam konteks sosial yang relevan – pendekatan yang realistis dan pengakuan latar belakang sosialnya yang seperti kebanyakan orang – telah membuatnya populer terutama di kalangan anak muda.

HOTD: Apakah surah/hadits favorit Anda?

Sekarang (pada saat wawancara -red) adalah Surah Al Qashash.

HOTD: Manakah dari sahabat Nabi yang paling mirip dengan Anda atau sahabat Nabi favorit Anda?

Mush’ab bin Umair, duta Al-Qur’an!

HOTD: Siapa panutan jaman modern Anda?

Orang yang tidak kalian kenal. Teman-teman yang jauh lebih tua dan telah membesarkan anak yang hebat dan aku hanya berharap untuk mencapai apa yang mereka miliki dengan anak-anak mereka.

HOTD: Seseorang ingin kembali ke Islam tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Apa yang akan Anda katakan padanya?

Fakta bahwa mereka membaca ini berarti mereka sudah mulai. Bicaralah kepada Allah dan katakan kepada-Nya situasimu. Mintalah nasihat kepada-Nya. Dia (Allah) akan membawa orang dan kesempatan dalam hidupmu, yang bahkan kamu tidak bisa membayangkannya.

HOTD: Apa yang membuat Anda menonjol dari da’i terkemuka lainnya adalah usia Anda yang relatif muda. Apa yang membuat Anda memutuskan untuk mengambil jalan ini begitu awal dalam hidup?

Pertama-tama aku tidak menganggap diri saya menonjol. Ini lucu, Anda mengatakan usia yang relatif muda karena aku merasa tua. Alhamdulillah saya berusia 34 tahun dan ayah dari enam anak yang hebat. Jujur saja dengan Anda, ketika melihat kembali pada beberapa keputusan penting yang aku buat dalam hidup, aku akan sangat tidak bersyukur bila mengatakan bahwa, “Aku memutuskan untuk mengambil jalan ini.” Titik balik bagiku adalah ketika Allah, cinta-Nya yang tak terbatas dan rahmat-Nya, memberkatiku dengan teman-teman luar biasa yang menyebabkan aku dapat menemukan beberapa guru yang luar biasa.

HOTD: Jadi bagaimana orang-orang ini mempengaruhi arah hidup Anda?

Orang-orang Arab mengatakan apa yang datang dari hati sampai ke hati. ما يخرج من القلب يصل إلى القلب Ketulusan beragama sahabat saya telah mempengaruhiku. Cinta pada Qur’an dan bahasa Arab (dalam urutan prioritas) yang diajarkan guru kesayanganku mempengaruhiku. Aku hanya dapat berdoa pengaruh ini tetap kuat dan berlangsung sampai hembusan napas terakhir sementara hanya Allah yang mengetahui dan telah mengetahui di mana saja selama ini aku berdiri.

HOTD: Sekarang Anda mendedikasikan diri penuh waktu untuk menyebarkan Islam – baik melalui Bayyinah Institute atau ceramah Anda. Apa yang menyebabkan perubahan ini?

Keputusan untuk beralih karier adalah karena passion. Saya berada di industri teknologi seperti kebanyakan orang lain. Saya memiliki pekerjaan penuh waktu dalam satu bentuk atau lainnya sejak saya berusia 16 tahun. Saya benar-benar bersyukur dapat menemukan pekerjaan teknologi pada tahun pertama kuliah (dari 4 tahun kuliahku) sehingga dapat membiayai pendidikanku. Aku tidak ingin membebani orang tuaku dengan uang kuliah dan karena aku tidak datang dari keluarga kaya, aku mengerti tanggung jawab ayahku yang membesarkan dan akhirnya menikahkan tiga putrinya. Aku ingin mendukung keluarga, bukan menjadi beban keluarga. Pekerjaanku berjalan baik, sekolah juga berjalan dengan baik namun setelah beberapa lama belajar bahasa Arab yang benar-benar mengagumkan dengan guruku dan diekspos dengan Al Qur’an lagi dan lagi, saya mengembangkan beberapa perasaan yang sangat kuat.

Kenapa aku tidak pernah mengalami pengalaman dengan Qur’an seperti ini sebelumnya? Mengapa aku dan semua orang yang pernah kukenal meremehkan Qur’an dan terlalu menggampangkan pesannya? Sesuatu harus dilakukan untuk mengatasi itu!

Aku mulai mengajar kursus bahasa Arab dan memberikan khutbah di sana-sini dan hatiku semakin tidak berada dalam karirku. Kursus singkat dimana aku mengajar sesekali di masjid lokal ternyata berhasil. Aku lebih terkejut oleh mereka daripada orang lain. Aku akan bercerita panjang untuk wawancara ini. Ketika aku memutuskan untuk mengambil lompatan iman dan bekerja penuh waktu untuk mengajar bahasa Arab sebagai karir, yang akan membiayai Sekolah Al Qur’an milikku sendiri, orang-orang yang terdekat dengan saya semua bersikap skeptis. Mereka punya alasan bagus untuk bersikap skeptis. Tapi aku yakin dengan rencanaku, rencana “bisnis” aku diserang kiri dan kanan oleh teman-teman dekatku dalam rangka untuk lebih menyempurnakan strategi dan berkat rahmat Allah, aku tetap melanjutkan.

HOTD: Kebanyakan orang, ketika mereka memutuskan untuk mendedikasikan diri mereka untuk Islam penuh waktu, menghadapi kesulitan di awal. Apakah itu sama dengan Anda?

Keberhasilan Bayyinah dan popularitasku sendiri di dunia online adalah apa yang kebanyakan orang lihat. Apa yang teman-teman terdekat dan keluarga ketahui dengan baik adalah kerja keras, kerja, pengorbanan dan kesulitan yang merupakan bagian besar untuk membuat semua itu berjalan. Aku melihat ke belakang dan bertanya-tanya bagaimana aku dan keluargaku selamat dari cobaan pada beberapa tahun pertama.

Sebelum pindah ke pertanyaan berikutnya, aku ingin mengatakan bahwa aku sangat menghormati kewirausahaan dengan tanggung jawab sosial. Aku menganggap diriku seperti itu. Aku tahu bahwa banyak kali pemuda kita melihat kisah sukses dan katakan kepada diri sendiri. “Jika dia bisa melakukannya, mengapa aku tidak bisa?” Meskipun aku menghormati antusiasme dan menghargai perasaan, aku ingin saudara-saudara muda (pemuda dan pemudi) mengerti bahwa aku tidak pernah bekerja keras dalam hidupku sampai aku mulai bekerja untuk diri sendiri. Dulu aku berpikir bekerja 40-50 jam seminggu penuh waktu disertai kuliah itu sulit. Ketika aku memulai proyek ini, hari-hari itu tampak seperti liburan! Aku bersyukur bahwa aku pernah mengantarkan surat kabar di tengah musim dingin di Queens NY ketika aku masih di SMA, aku berlari di sekitar toko sepatu membantu pelanggan mencoba ukuran yang berbeda, aku diteriaki setiap hari di agen perjalanan karena salah dan masih banyak. Aku senang bahwa aku bertanggung jawab atas keuanganku sendiri sejak usia dini karena membuatku belajar bekerja dan bertanggung jawab.

HOTD: Bagaimana rasanya menjadi begitu terkenal?

Aku tidak melakukan dakwah Islam penuh waktu dengan delusi keagungan dan ketenaran. Aku hanya ingin mengajar dan memberikan layanan yang berharga. Aku sejujurnya tidak mengharapkan popularitas yang – Alhamdulillah – aku dan organisasi kami telah menikmati. Dia (Allah) yang memberi kehormatan dan Dia yang dapat mengambilnya setiap saat. Tapi saya ingin menggarisbawahi bahwa pertolongan Allah datang kepada mereka yang tetap berkomitmen, serius, optimis dan yang paling penting tulus. Semoga Allah memasukkan kita semua bersama mereka (orang-orang yang memiliki komitmen, serius, optimis, tulus mendedikasikan hidupnya untuk Islam).

HOTD: Anda melalui periode membingungkan tentang Islam selama remaja, yang menyebabkan jauh dari Islam untuk sementara waktu. Alhamdulillah, Anda kembali di landasan yang kokoh (solid ground). Apa nasihat yang akan Anda berikan jika iman seseorang dalam Islam semakin goyah?

Aku tidak suka frase “landasan yang kokoh”. Aku senang Anda mengajukan pertanyaan ini karena sesuatu yang sudah lama ingin saya bicarakan dari beberapa sudut pandang.

Sebelum berbicara tentang orang-orang yang imannya goyah, biarkan aku bicara sedikit tentang diriku sendiri. Aku seorang muslim yang sangat biasa (seperti rata-rata muslim lainnya). Buang semua ketenaran YouTube dan konferensi dan seminar, dan aku hanya seorang Muslim. Kita dengan cepat berubah menjadi bagian budaya di mana orang terkenal di antara kita diasumsikan lebih baik daripada yang lain, entah bagaimana. Hal ini tidak sehat. Aku dan Anda harus diberikan manfaat yang sama dari keraguan dalam hal iman kita. Anda seharusnya tidak memiliki asumsi buruk tentangku dan aku pun juga harus demikian (tidak punya asumsi buruk tentangmu).

Adapun orang-orang yang imannya goyah aku hanya bisa mengatakan beberapa hal dalam wawancara singkat ini. Aku bertemu dengan orang tua yang anaknya berhenti beribadah dan (berhenti) menggunakan hijab atau yang anaknya seorang hafiz Qur’an dan sekarang bergaul bersama teman-teman yang buruk. Situasi ini memilukan tapi aku akan menyarankan orang tua pemuda tersebut untuk tidak kehilangan harapan. Hanya saja, jangan bicara tentang agama kepada anak remajamu  untuk sementara waktu dan jadilah teman yang penuh kasih dan mendukung. Hati harus menjadi lembut sebelum menerima nasihat. Ini mungkin memerlukan waktu, tetapi cintamu sebagai orang tua akan memberikan kekuatan untuk menanggung tugas yang menyakitkan ini. Aku berencana untuk memberikan khutbah ditujukan kepada orang tua (yang memiliki situasi seperti ini) minggu ini.

Jika kamu berasal dari pemuda yang mengalami fluktuasi iman, lihatlah apa yang kamu lakukan dalam kesendirianmu, siapa teman-temanmu dan apa yang kamu lakukan untuk mengisi hari-harimu. Di mana matamu melihat? Apa yang mengisi telingamu? Kebiasaan buruk menghancurkan peluangmu menghargai iman. Akan datang suatu masa ketika hatimu tidak akan sanggup menerima hal-hal spiritual dan bahkan penyebutan Allah, akhirat atau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengganggumu. Allah (memang dapat) mengubah hati tapi setidaknya kamu perlu mengubah lingkunganmu.

HOTD: Sekarang ada budaya “da’i selebriti”. Apakah mereka korban dari popularitas mereka sendiri? Apa pandangan anda tentang hal ini?

Aku mengamati dua hal ekstrem dalam masyarakat kita. Entah kita mencintai tokoh tertentu ke titik di mana ia mulai menyerupai budaya selebriti pop atau kita sangat membenci mereka. Orang mengidolakan seseorang ke titik di mana harapan mereka menjadi tidak realistis dan saat mereka menemukan bahwa orang yang mereka begitu kagumi tidak jauh berbeda dari diri mereka sendiri, mereka kemudian mengembangkan kebencian ekstrim kepada orang yang sama dalam semalam! Manusia hanyalah manusia. Kamu dan aku melakukan hal-hal baik dan hal-hal yang baik tidak menjadikan kita malaikat. Kita melakukan beberapa hal-hal buruk dan hal-hal buruk tersebut tidak menjadikan kita setan.

Kita harus memiliki pendekatan yang seimbang dalam sentimen kita terhadap da’i kita terutama karena hal ini bisa mulai mengacaukan pikiran seorang da’i. Terlalu banyak pujian dan setan datang ke da’i dan berkata, “Bung kamu adalah orangnya (seperti apa yang dipujikan orang-orang)”. Dan saat seorang da’i setuju dengan bisikan itu, ketulusannya (dalam berdakwah) telah mati dan menghilang. Sejak saat itu dakwah Islam mereka tidak lebih dari kontes popularitas.

Aku berdoa Allah melindungi diriku, teman-temanku, ulama, khatib, lulusan muda dari universitas Islam dan semua yang mencoba untuk menyebarkan firman Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dari bentuk kejahatan yang dapat menyusup ke hati tanpa ada satupun menyadarinya.

HOTD: Bagaimana ibadah Islam memberikan dampak bagi karakter Anda?

Jawabanku terhadap pertanyaan ini bahwa hal itu telah membuatku optimis dan optimisme yang mendorong kesabaranku dengan keadaan yang sulit. Aku mohon Allah untuk membuatku lebih sabar dan bersyukur. Aku melihat setiap tantangan dalam kehidupan sebagai peluang. Aku tidak membiarkan perkataan yang menghancurkan, kata menyakitkan dan kritik menghalangi untuk melakukan apa yang perlu untuk dilakukan. Islam juga memberiku kebebasan untuk menerima kesalahanku tanpa ragu. Aku tidak merasa malu untuk meminta maaf ketika aku membuat kesalahan (dan aku banyak membuat kesalahan).

Juga Islam telah memberiku kesempatan untuk melihat gambaran yang lebih besar. Aku tidak bisa meremehkan nilai apa yang bagi orang lain mungkin menganggap hal itu kecil. Semuanya merupakan bagian dari rencana besar Allah dan bahkan upaya kecil yang dilakukan untuk dien (Islam) harus diperlakukan dengan hormat dan bernilai.

Sumber wawancara ini dari http://hadithoftheday.com/nouman-ali-khan. Dipersilahkan untuk mengoreksi, memberikan masukan bila dirasa ada terjemahan yang kurang pas atau sama sekali tidak tepat, melalui kolom komentar di bawah ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s